
Di sebuah jalanan sebelum masuk ke dalam Hutan. Dari dalam Mobil Bulan melihat terdapat 3 Mobil polisi yang sedang terpakir di tepi jalan.
Dimana Mobil - Mobil itu tidak jauh dari lokasi tempat Leon Membuang Mobil Luis ke dalam Jurang.
(Sudah kuduga, Mobil itu di temukan.)
Ucap Bulan di pikiran, sambil melihat Segel Polisi yang terdapat di tepi Jurang.
Setelah itu, mereka pun mulai masuk ke jalan menuju Hutan.
_________________________________
_____________________________
Setelah beberapa saat perjalanan, tak lama kemudian akhirnya mereka pun sampai di Lokasi.
Dimana Tepat di Luar Hutan, Bulan bisa melihat ada banyak sekali Mobil Polisi yang sedang terparkir dan para anggotanya sedang melakukan Penyelidikan.
Dimana mereka bukan hanya melakukan penyelidikan di sekitar sini saja, melainkan ada juga yang masuk ke dalam Hutan.
"Tidak ku sangkah ada banyak Sekali polisi di sini, bukankah ini terlalu berlebihan?"
Tanya Bulan sambil berahli ke arah Isty dan Firdaus yang baru keluar dari dalam Mobil, dimana Isty menjawab...
"Kamu benar, jujur saja aku pikir juga ini terlalu berlebihan hanya untuk mencari anak Hilang.-
-tapi mau gimana lagi. Lagi pula Anak yang Hilang kali ini adalah anak dari Seorang Pembisnis Terkaya yang Punya banyak uang dan juga Koneksi dari orang kalangan Atas.-
-Sehingga mau tidak mau mereka pun pasti akan membantunya jika Orang itu(Ayahnya Luis) memintanya."
Ucap Isty dengan Serius. Di sisi lain Firdaus yang dengar itu menambahkan juga...
"Kau benar, aku juga dengar orang itu(ayahnya Luis) sepertinya telah menyogok beberapa Petinggi, Sehingga penyelidikan ini sangat Di Prioritaskan."
"Eeeeh, aku baru tau itu."
Ucap Isty yang sangat terkejut.
"Yaa Itu Tentu saja, lagi pula aku juga tidak sengaja dengar, Waktu ingin membawa Laporanku ke mereka.-
-Hah!! Tolong rahasihakan ini, mengerti?"
Tanya Firduas Sambil melihat Isty dan Bulan, dimana mereka berdua menjawab Dengan anggukkan.
""Umm.""
"Bagus, kalau begitu ayo kita masuk."
Ucap Firdaus sambil mulai berjalan masuk ke dalam Hutan, diikuti isty dan Bulan dari Belakang.
______________________________
___________________________
Pada Saat mereka berjalan ke dalam Hutan, Bulan sesekali melihat Ada beberapa Tanda hasil penyelidikan para Polisi yang tertempel Di Pohon.
Dimana Pohon - Pohon itu adalah Pohon yang pernah Leon Tandai juga Waktu dia dan Bulan menelusuri Hutan ini.
(Apa ini hanya kebetulan?...tidak, ini pasti bagian dari Rencana dia.)
Pikir Bulan, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Firdaus dan bertanya...
"Omong - omong Dari tadi aku Lihat ada beberapa tanda yang tertempel Di Pohon, Tanda apa itu?"
"Oh itu adalah tanda Tempat kami menemukan sidik Jari dan Bekas Darah."
"A~Apa Darah!"
"Yah."
Balas Firduas dengan Tenang, kemudian ia mulai menjelaskan..
"kamu masih ingatkan, sebelum kita memasuki Lokasi ini. Di pinggir jalan ada Segel Polisi berada di tepi Jurang?"
"Y-ya aku masih ingat."
"Nah, di bawah sana, kami menemukan Mobil yang sudah hancur, kami menduga bahwa Mobil itu adalah milik temanmu."
Mendengar itu Bulan lansung mencoba Pura - Pura Shock...
"A-APA KALAU BEGITU, TEMAN - TEMANKU..."
"Tenang saja, mereka tidak ada di sana, kemungkinan mereka Berhasil Loncat Keluar sebelum Mobil mereka jatuh Ke dalam Jurang."
__ADS_1
Ucap Firdaus dengan Serius, dimana Bulan yang dengar itu lansung Pura - Pura merasa lega dan berkata...
"begitu, Syukurlah...Jadi, apa kalian Sudah menemukan Teman - temanku?"
Di saat Bulan menanyakan itu, wajah Firdaus terlihat kesulitan, dimana ia menjawab...
"Tidak, kami belum bisa menemukannya. Saat ini kami hanya menemukan jejak - jejaknya saja."
"Begitu."
Ucap Bulan dengan Sedih.
Namun saat itu juga, tiba - tiba ia menyadari sesuatu dan lansung melihat Firdaus.
"Anu, tadi anda bilang baru menemukan jejak - jejak mereka kan? Jangan Bilang bekas darah Tadi..."
"Benar itu adalah darah mereka"
Sambung lansung Firdaus dengan ekspresi serius, kemudian ia melirik Bulan dan melanjutkan lagi...
"Namun, sayangnya bekas darah yang kami temukan selama ini hanya Milik temanmu yang bernama Luis, sedangkan dua temanmu yang Lainnya, kami belum temukan."
"Begitu yah,.....itu berarti, setelah Luis berhasil loncat dari Mobil ia mengalami Luka parah dan masuk ke dalam Hutan, dan di situlah kalian menemukan Bekas darahnya."
Ucap Bulan seolah mencoba menganalisanya. Namun Firdaus yang dengar itu hanya bisa tersenyum tipis dan berkata...
"Yah awalnya kami juga berpikir seperti itu tapi, jika ia mengalami Luka Parah kenapa Dia Harus masuk ke dalam Hutan, Bukankah lebih baik jika ia menunggu Mobil di Pinggir jalan dan minta bantuan?"
"Setelah di pikir - pikir benar juga."
Balas Bulan seolah sependapat dengannya. Namun tidak berhenti sampai di situ Firdaus melanjutkan lagi..
"Selain itu, apa yang membuatku tidak yakin adalah, kami tidak menemukan Sedikipun Bekas darah di sana-
-Padahal jika ia memang Luka parah(waktu Loncat keluar), Seharusnya di sana ada bekasnya kan?"
"I-itu benar juga."
Balas Bulan lagi yang setuju dengan Firduas, kemudian Firdaus melihat ke arah depan dan mulai menjelaskan...
"ini hanya perkiraanku saja, kemungkinan teman - temanmu itu Sebetulnya tidak mengalami kecalakaan, melainkan mereka sedang di Kejar oleh seseorang."
Bulan yang dengar itu lansung mencoba pura - pura terkejut...
"Apa!! D-Di kejar?"
-Sehingga dengan panik, mereka Semua pun lansung Loncat keluar dari dalam Mobil dan membuat Mobil mereka itu jatuh ke dalam Jurang."
Isty yang dengar itu lansung ikutan juga....
"Di lihat dari apa yang kita tidak temukan di sana Selain Mobil Hancur di bawah jurang, aku pikir itu benar."
Guman Isty, seolah sependapat dengan Firdaus. Kemudian Firdaus pun melanjutkan Lagi...
"Nah yang kedua, setelah mereka berhasil Loncat. Selain Luis kemungkinan dua temannya itu mengalami patah Tulang, Sehingga mereka pun berhasil di tangkap oleh orang - orang yang mengejarnya dan di bawah pergi."
"Hmm itulah sebabnya kita tidak bisa menemukan jejak mereka di manapun?" tanya Isty.
"Yah."
Jawab Firdaus secara singkat.
Namun, Bulan yang dari tadi hanya diam dan mendegarkan saja merasa sangat Kaget, sebab apa yang Firdaus perkirahkan itu benar - benar sangat berbeda dengan apa yang sudah Leon lakukan di hutan ini.
Ini seolah Leon sedang menuntun mereka semua ke Rute yang salah.
(Ini gila, mereka semua benar - benar sudah tertipu. bagaimana bisa Leon melakukan ini? Apa yang sudah Leon lakukan?)
Setiap pertanyaan demi pertanyaan terus di tanyakan di dalam Pikiran Bulan tetapi ia tetap saja tidak bisa menemukan jawabannya.
Hingga akhirnya ia pun menyerah, dan mencoba melanjutkan lagi pembicaraan Firdaus.
"Anu, tadi anda Bilang Selain Luis, dua temanku yang lainnya mengalami Patah tulang kan? Kalau begitu kenapa bisa Bekas darah Luis ada di dalam Hutan ini?"
Di saat Bulan menanyakan itu, Firdaus merasa sedikit jengkel, dimana ia berkata...
"Makanya, dengarkan aku sampai Selesai."
"Ba~Baik Maafkan aku."
Balas Bulan yang terlihat ketakutan. Si Isty yang melihat itu lansung melotot Firdaus dengan tajam.
"PAK, ANDA TERLALU BERLEBIHAN."
__ADS_1
"~Hii"
Di saat Firdaus menjerit ia buru - buru melihat Bulan dan minta maaf.
"Ma-maaf sudah memarahimu."
"Ti-Tidak, itu tidak apa - apa."
Balas Bulan yang mulai merasa tenang. Setelah itu Firdaus pun mencoba menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya.
"Haaa!!..."
Setelah ia tenang, ia kembali melihat mereka berdua dan berkata..
"Kalau begitu ayo kita lanjutkan lagi...-
-Setelah dua temanmu itu Berhasil di tangkap, Luis yang tidak mengalami luka apapun mencoba kabur dari mereka dengan masuk ke dalam Hutan.-
-Namun, Sayangnya ia Masih di kejar dan berhasil di lukai oleh mereka dengan Senjata tajam, Sehingga bekas darah yang kita lihat saat ini adalah karena itu."
"Ta-tapi, ini hanya dugaan anda semata kan?" tanya Bulan.
"Benar, ini hanya dugaanku saja, tetapi setidaknya kami berhasil menemukan barang Bukti, Berupa Belati yang di duga milik pelaku yang telah menusuk Korban(Luis)."
Ucap Firdaus sambil mengeluarkan sebuah Foto dari Saku bajunya, dimana Foto itu memperlihatkan Sebuah Belati Militer yang di penuhi oleh Darah.
"I~Ini kan...."
Bahkan Bulan pun terlihat sangat terkejut, sebab dari apa yang ia ingat, ia tidak pernah sekalipun melihat Leon mengeluarkan Belati seperti ini saat Menyiksa Luis, Felik dan Erina. Jadi Belati siapa ini....
Karena Bulan sangat penasaran ia pun mencoba bertanya...
"Anu,...apa anda yakin, senjata ini yang telah menusuk temanku?"
"Yah, kami sudah mengeceknya dan menemukan Bekas Darah yang sama persis dengan temanmu yang bernama Luis."
"Hmm,....Hah! Bagaimana Dengan sidik jarinya! Seharusnya Sidik jari pelaku ada di belati ini juga kan?"
Tanya Bulan yang sangat penasaran, apa benar ini Belati Leon atau tidak. tetapi....
"Maafkan aku, Selain Sidik jari temanmu, kami tidak menemukan Sidik jari lain di belati ini.-
-Bukan hanya di belati ini saja, Bahkan di Hutan ini pun kami tidak bisa temukan, seolah - olah..."
"Si Pelaku sudah menghapusnya."
Jawab lansung Bulan sebelum Firdaus selesai bicara. dimana Firdaus membalas.
"Benar,...Kemungkinan Pelaku menggunakan semacam Cairan ***** untuk menghilangkan Sidit jarinya, atau mungkin ia memakai Pelindung tangan."
Di saat Bulan dengar itu, ia lansung mengingat kaos tangan plastik yang di lepaskan Leon waktu masuk ke dalam Mobil, dimana Kaos tangan itu di penuhi oleh darah.
(Sudah ku duga, Belati ini adalah milik dia.) Pikir Bulan.
Setelah itu ia melihat Firdaus dan bertanya....
"Jadi,...apa kalian sudah tidak bisa menemukan Temanku?"
"Bukannya tidak bisa, hanya saja kasus ini bukan kasus anak Hilang seperti biasanya, melainkan ini kasus yang sangat Sulit."
Ucap Firdaus dengan tatapan Serius, kemudian ia menengok ke atas, dimana daun Pohon terlihat masih basah karena air Hujan.
"Seandainya saja beberapa Hari yang lalu tidak Hujan Deras, kami pasti bisa menemukan Jejak kaki mereka atau mungkin menggunakan anjing pelacak untuk melacak mereka.-
-bukan hanya itu saja bahkan kami juga bisa memprediksi Lintasan Mobil mereka, waktu mereka di kejar.-
-Sayangnya Gara - Gara Hujan deras ini, Sehingga Semua jejak mereka pun Hilang."
Ucap Firdaus sambil terlihat kesal. Di sisi lain Bulan yang dengar itu lansung menundukkan kepalanya dimana ia mencoba pura - pura sedih.
"~Begitu."
Melihat hal itu, Isty pun buru - buru mencoba menenangkan Bulan...
"Tenang saja, tidak usah khawatir kami pasti bisa menemukan temanmu, kamu hanya perlu bersabar menunggu, mengerti?"
"Um, aku mengerti."
Jawab Bulan sambil mengangguk.
Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanan, dimana di tengah perjalanan Bulan mencoba mencari topik pembicaraan dan bertanya...
"Omong - Omong sudah dari tadi kita berjalan, Emang kita mau kemana?"
__ADS_1
"Yaa Kita akan pergi ke tempat titik terakhir, dimana Temanmu(Luis) itu Hilang."
Jawab Firdaus sambil menatap lurus ke depan, dimana tanpa ia sadari di belakang Bulan melihat ia dengan tatapan perkirahkan it