BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
WAKTUNYA BERANGKAT


__ADS_3

Setelah aku berpisah dengan ayah, aku lansung pergi ke tempat Guntur, dimana ia sedang menungguku di depan rumah.


"Maaf membuatmu menunggu." ucapku.


"Itu tidak apa - apa. Yang lebih penting boleh aku tau siapa pria yang barusan kau temani bicara?"


"Ooh itu ayahku."


"Ayahmu?"


"Yah, memang kenapa?"


"Hah tidak bukan apa - apa, hanya saja entah kenapa aku pernah lihat dia, tapi aku tidak ingat dimana?"


"Hmmm....!"


Aku tidak tau apa ia kenal Ayahku atau tidak tapi aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu jadi aku pikir lebih baik mengakhiri pembicaraan ini sampai di sini.


"Sudahlah, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Yang lebih penting ayo kita berangkat."


"Hah kau benar, kalau begitu tuan Leon tolong silahkan masuk ke dalam."


Guntur membuka kan aku pintu mobilnya dimana aku lansung masuk ke dalam. Lalu kemudian di susul oleh Guntur yang duduk di kursi depan.


Dan setelah itu Guntur mulai menyalahkan mobilnya dan kami berdua pun meninggalkan tempat itu.


______________________________________


_________________________________


Setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Dimana aku melihat sebuah tanah yang sangat luas di serta dengan landasan dan juga beberapa dermaga untuk penyimpanan pesawat.


Di bagian landasan itu juga terdapat sebuah pesawat, dimana pesawat itu sepertinya sudah siap untuk di terbangkan.


"Tuan Leon, tolong ikuti aku."


Aku mengikuti Guntur dari belakang. Dimana Guntur membawaku ke pesawat itu.


Guntur melihat sekeliling dan mendekati salah satu pekerja yang sedang memasukkan barang - barang ke dalam pesawat.


"Kamu, apa kamu melihat Bos Genus dan Nyonya Reyna?"


"Aku rasa mereka sedang istirahat di dalam sana pak."


Pekerja itu menunjuk ke sebuah bangunan kecil yang terletak di samping landasan. Dimana ukurannya sederhana.


"Makasih sudah memberitauku, kalau begitu Tuan Leon mari kita ke sana."


"Um."


Aku membalas dengan anggukkan. Lalu setelah itu kami berdua menuju ke bangunan itu.


"Omong - omong bisa tidak kau berhenti memanggilku tuan Leon, aku tidak terbiasa di panggil seperti itu." ucapku.


"Kalau begitu aku harus memanggil anda seperti apa?" Tanya Guntur.


"Kau bisa memanggilku Leon saja."


"Baiklah jika itu yang tuan Le-!!..maksudku Leon minta aku akan lakukan.-


-Kalau begitu anda juga bisa memanggilku Guntur saja."


"Ok guntur, mulai sekarang mohon bantuannya."


"Siap."


Melihat tingkahnya yang sangat tegas dan juga sopan, berbanding terbalik dengan wajahnya yang menakutkan, membuat aku tertawa..

__ADS_1


"Hahahah tidak usah setegas itu bodoh, santai saja."


"Ba-Baik."


_____________________________________


_________________________________


Setelah kami sampai di bangunan itu kami pergi ke salah satu ruangan. Dimana Guntur mencoba mengetuk pintu ruangan tersebut...


TOK!!....TOK!!.....TOK!!....


....Lalu tak lama kemudian terdengar suara wanita dari dalam sana.


"Siapa?"


"Ini aku...Guntur."


"Ooh apa kamu bawahan nya pak tua itu(Genus)?"


"Benar."


"Hmm yaa udah kalau begitu masuk saja, pintunya tidak terkunci kok."


Karena sudah mendapatkan izin jadi Guntur mulai membuka pintu itu dan kami berdua masuk ke dalam. Dimana kami melihat ada seorang pengawal serta juga seorang wanita berumur sekitar 30 tahun sedang duduk di sofa.


Wanita itu memiliki Rambut Hijau tua dan matanya berwarna emas serta mengenakan pakaian Dress hitam yang cukup terbuka hingga memperlihatkan tubuhnya yang sexy.


Dia bernama Reyna, wanita yang pernah ku lawan main judi bersama Genus waktu itu.


"Ooh bocah ternyata kamu sudah datang, sini duduklah di dekatku."


Reyna mempersilahkan aku untuk duduk di sampingnya tetapi aku tolak dan lebih memilih duduk di sofa yang satunya. Alasannya itu karena pengawal dia terus saja melotot padaku seolah mengatakan kalau aku tidak pantas untuk duduk di samping nyonya nya.


Karena itulah aku memilih untuk menghindar.


(Baru juga datang lansung di tatap seperti itu. Ini sungguh menyebalkan.)


[Master, Apa anda ingin membunuhnya?]


(Hah tidak mungkinlah bodoh.)


Aku lansung membentak PIX.


Lalu setelah aku duduk di sofa aku perhatikan sekeliling ruangan dan tidak melihat Genus di manapun.


"Omong - omong dimana Genus?"


"Oh dia keluar dulu sebentar, ada yang ingin ia ambil di rumahnya."


"Hmm begitu."


Jujur aku sedikit canggung jika hanya berduaan saja dengannya. Meskipun di sini masih ada pengawalnya tetapi ia hanya diam saja di situ.


Adapun Guntur, tanpa ku sadari ia ternyata sudah keluar dari ruangan ini.


Karena tidak baik jika diam saja terus seperti ini jadi aku mencoba memulai pembicaraan.


"Oh iya omong - omong..un-!!"


Ketika aku baru saja mau bicara tiba - tiba aku berhenti saat memperhatikan Reyna terus melirik wajahku sambil senyum - senyum.


Jujur itu membuat aku tidak nyaman jadi aku mencoba menegurnya agar ia berhenti melakukan itu.


"Anu bisa tidak kau berhenti melirikku terus?"


"Hah maaf, apa kamu tidak suka?"

__ADS_1


"Bukannya tidak suka hanya saja aku tidak merasa nyaman di lihatin terus seperti itu."


"Ara Begitu, Fufufu sepertinya kamu punya sisi imut juga ya."


"Apa maksudmu bilang begitu?"


"Tidak, bukan apa - apa aku hanya ngomong sendiri saja."


Balas Reyna dengan santai, lalu kemudian tatapan Reyna lansung berubah menjadi serius....


"Oh iya omong - omong aku sudah dengar semuanya dari pak tua itu, sepertinya kamu juga ingin pergi ke negara CN ya?"


Tanpa pikir panjang aku lansung mengangukkan kepalaku sebagai balasan.


"Yah."


"Kalau begitu ini ambillah, aku sudah menyiapkan beberapa dokumen palsu untukmu."


Reyna menyodorkan beberapa dokumen palsu padaku, mulai dari dokumen identitas, paspor, Visa perjalanan, Asuransi perjalanan, serta surat izin mengemudi.


Dengan adanya ini semua maka aku tidak perlu lagi takut jika berurusan dengan pihak berwajib di sana.


Tapi kalau boleh Jujur sebetulnya aku tidak terlalu butuh ini semua, karena tanpa ini pun aku masih bisa bergerak bebas di sana, sebab di kehidupanku sebelumnya aku sudah terbiasa melakukan hal itu.


Namun karena ia sudah menyiapkan ini semua dengan susah payah hanya untuk ku jadi aku rasa lebih baik aku menerimannya.


"Makasih. Ini sangat membantu."


"Sama - sama."


Balas Reyna sambil tersenyum. Lalu kemudian aku mengeluarkan hpku dan melihat jam di hpku sudah menunjukkan pukul 00 : 37. Yang artinya ini sudah lewat jam 12 malam.


"Omong - omong ini sudah lewat jam 12, kapan kita akan berangkat?"


"Tunggu sampai Pak Tua itu datang."


Lalu tak lama setelah kami menunggu akhirnya Genus pun datang, dimana ia lansung menerobos masuk ke dalam dan wajahnya terlihat kelelahan.


"~Haaa...Haaa maaf aku lama!!"


"Tidak apa, lagi pula aku juga tidak merasa bosan kok karena di temani bicara sama dia(Leon)."


Genus baru menyadari keadiranku dan lansung menghampiriku.


"Oh Nak ternyata kamu sudah datang? Kapan kamu tiba di sini?"


"Beberapa menit yang lalu."


Aku hanya menjawab itu. Lalu setelah itu Genus mengalihkan pandangannya ke arah Reyna dan menyerahkan sebuah Dokumen padanya.


"Oh iya ini dokumen rahasia yang ku bicarakan tadi siang, tolong berikan padanya setelah kamu sampai di sana."


Reyna mengecek dokumen tersebut. Sesekali ia juga menganggukkan kepalanya sambil mengumankan sesuatu.


"Hmm jadi begitu....ooh ini sangat menarik."


Reyna terlihat senang. Lalu setelah Reyna selesai mengecek dokumen itu ia kembali melihat Genus dan berkata...


"Baiklah..aku mengerti, aku akan antarkan dokumen ini padanya."


Reyna menyerahkan dokumen itu pada pengawalnya, dimana pengawalnya lansung menyimpan dokumen itu ke dalam tas.


Lalu setelah itu Reyna berbalik melihat ke arahku.


"Kalau begitu bocah ayo waktunya kita berangkat."


Dengan kuat aku menganggukkan kepalaku. Lalu setelah itu kami semua mulai meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2