
Setelah aku selesai membunuh kedua anak itu(Luis, Felik.), aku kembali ke tempat Bulan, dimana ketika aku masuk ke dalam, aku melihat Bulan sedang terbaring di sudut Ruangan.
bukan hanya itu saja, bahkan Erina tidak ada di Tempat ini.
"Gadis itu....apa ia melarikan diri?"
Di saat aku menanyakan itu, aku pergi ke dekat Bulan, dimana aku mencoba membangunkannya....
"Oi Bulan bangun."
"~Um...oh Leon ada apa?"
Tanya Bulan yang masih Menguap dan mencoba untuk bangun.
"Kau, kenapa kau tiduran disini? Apa kau tidak ingat yang ku suruh tadi?"
"Yang kau suruh?......"
Di saat Bulan mengumankan itu, tiba - tiba ia ingat kalau ia saat ini ku suruh menjaga Erina.
Namun, ketika Bulan mencoba melihat Tiang di ruangan tengah, Tempat Erina tadi terikat, Ia tidak menemukan Erina dimanapun.
Bahkan saat ia mencoba mencari ruangan sekitar ia tetap tidak bisa menemukannya, sehingga membuat ia mulai terlihat panik dan buru - buru bersujut di hadapanku.
"~Le~Leon maaf,....aku benar - benar minta maaf, tidak ku sangkah ia melarikan diri saat aku ketiduran."
Ucap Bulan, dimana aku perhatikan ia terlihat gemetar...
Meskipun memang benar saat ini aku marah padanya karena membiarkan Erina melarikan diri. Tetapi tidak ada gunanya Menghukum ia sekarang jadi......
"Haaa sudahlah, cepat kemasi barang - barangmu, kita akan pulang sekarang."
Ucapku sambil menghela nafas. Bulan yang dengar itu lansung terlihat terkejut...
"Eh,..Le-Leon, apa kau yakin?"
"Yah."
Jawabku dengan santai. Kemudian aku melihat dia dan bertanya...
"Ada apa? Apa kau mau di hukum."
"Ti-Tidak,...aku tidak mau."
Jawab lansung Bulan.
"Kalau begitu, cepat Pergi sana kemasi barang - barangmu."
"Ba-Baik aku mengerti."
Balas Bulan sambil pergi memasukkan kembali semua barangnya yang ia keluarkan tadi ke dalam tas.
Setelah ia selesai ia memakai jas hujannya dan pergi mendekatiku, dimana saat ini aku sedang menuangkan Bensin di setiap sudut Ruangan..
"Leon, Apa yang sedang kau lakukan?"
Ketika Bulan bertanya, aku dengan tenang menjawab...
"Apa kau tidak lihat, aku mau membakar tempat ini."
"Apa...bakar! Apa itu baik - baik saja?"
"Apa maksudmu?"
Di saat aku bertanya, Bulan mulai menjelaskan...
"Yah kau tau sendirikan saat ini kita berada di tengah hutan, jadi jika kamu membakar tempat ini, maka sudah pasti Hutan ini akan terbakar juga."
Setelah mendengar penjelasan Bulan, aku melirik ia kemudian aku membalas...
"Oh soal itu kau tidak usah khawatir, lagi pula apa kau lupa saat ini di luar sedang hujan deras.-
-Jadi, meskipun aku membakar tempat ini, seharusnya hanya di dalamnya saja yang terbakar, sedangkan di luarnya tidak."
"Eh benarkah? Baguslah kalau gitu."
Ucap Bulan yang terlihat lega.
Setelah beberapa saat aku menungkan bensin di setiap sudut ruangan, tak lama kemudian akhirnya aku selesai.
__ADS_1
Dimana aku lansung merengankan kedua tanganku sambil terlihat lelah.
"Fuuu..akhirnya selesai juga, sekarang...."
Sesaat aku berhenti aku mengalihkan pandanganku ke arah Bulan dan bertanya....
"Bulan, kau masih ingatkan, jalan kembali ke tempat Mobil?"
"Yah aku masih ingat."
"Bagus, kalau begitu kau pergilah duluhan dan tunggu aku di sana. Masih ada yang ingin ku lakukan di sini."
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
Ketika Bulan bertanya, aku berahli ke arah tiang yang berada di Tengah ruangan, dimana Tiang tersebut tempat Erina tadi terikat, namun ia sudah tidak ada, karena ia sudah melarikan diri.
"Pertama - tama aku akan coba kejar Erina. Aku yakin ia masih ada di sekitar hutan ini."
"Be-Begitu ya."
Balas Bulan yang terlihat Gelisah.
Mungkin ia berpikir, bahwa aku ingin menyakiti Erina lagi setelah ku temukan. sehingga ia merasa kasihan.
Mengetaui itu, aku lansung menghela nafas kemudian aku berkata....
"Bulan, tidak usah sekhawatir itu, lagi pula aku sudah bilang aku sudah tak berniat menyakitinya."
"......a-apa kau bisa janji?"
"Yah, aku berjanji. Jadi cepat pergilah sana."
Ucapku sambil mendorong Punggung Bulan untuk keluar dari tempat ini.
"Baik - baik aku akan pergi jadi berhentilah mendorongku."
Ucap Bulan sambil berjalan keluar dari tempat ini.
Setelah ia keluar, aku kembali melihat sekeliling, dimana aku menemukan sebuah Pisau kecil berada tidak jauh dari tempat Bulan terbaring.
Dimana Pisau tersebut adalah Pisau yang kugunakan waktu memutus tali yang mengikat tangan Luis dan Felik.
Tanpa menunggu lama, aku lansung pergi mengambil pisau tersebut dan ku masukkan ke dalam kantong celanaku.
[Pisau itu, bukankah pisau yang kau berikan ke Erina untuk membantu ia melarikan diri?]
"Hah! Apa maksudmu?"
[Jangan pura - pura bodoh, aku tau apa yang kau bisikkan tadi ke dia(Erina). KAU MENYURUH DIA MEMBUNUH BULAN MENGGUNAKAN PISAU ITU KAN?-
-ITULAH SEBABNYA ANDA SENGAJA MENINGGALKAN PISAU ITU DI BELAKANGNYA."
Di saat PIX mengatakan itu Sorot mataku lansung melirik ia dengan Tajam, dimana aku bertanya...
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
[Yaaa karena di lihat dari manapun, Erina sangat membenci Bulan. Di tambah lagi Bulan beberapa kali mencoba melawan anda tadi. Jadi sudah pasti anda ingin membunuhnya.-
-itulah sebabnya anda menggunakan Erina dan memberikan Bulan Air botol yang sudah di campur dengan Obat tidur. Supaya ketika Bulan sudah tidak sadarkan diri, Erina bisa membunuhnya.]
Ucap PIX sambil menatapku dengan tatapan serius. Untuk sementara aku terdiam dan tidak mengatakan apapun..
"......"
Namun beberapa detik kemudian aku mendesah "haaa..!!" dan menjawab...
"Yah. Kau benar aku memang berniat menggunakan dia(Erina) untuk membunuh Bulan. Tapi bukan hanya itu saja."
[Apa masih ada lagi?]
Tanya PIX.
"Yah, alasan aku ingin menggunakan dia(Erina), itu karena jika ia benar - benar berhasil membunuh Bulan, maka otomatis ia akan jadi tersangka dari insiden kali ini.-
-Sebab semua barang bukti yang ku tinggalkan di sini dan jejakku sudah ku hilangkan, jadi yang tersisa adalah...."
[Milik Gadis itu(Erina).]
Jawab Lansung PIX.
__ADS_1
"Benar."
Ucapku sambil tersenyum. Kemudian aku berahli ke Tempat Erina tadi terikat dan berkata...
"Yaaa itu hanya jika ia berhasil membunuh Bulan. Tapi sayangnya ia tidak melakukan itu.-
-Padahal jika ia membunuh Bulan, maka aku tidak perlu melakukan bagianku yang lain."
PIX yang dengar ucapanku lansung menatapku dengan tajam dan bertanya....
[Master, ucapanmu itu terlalu kasar bagi dia(Bulan), apa kau tidak punya hati?]
"Hah, tentu saja aku punya tolol. Tapi beda lagi ceritanya jika mereka adalah Musuhku atau orang yang mencoba melawan perintahku.-
-ORANG SEPERTI ITU LEBIH BAIK DI BUNUH SAJA."
[Di bunuh kah?..walaupun beberapa hari ini anda sudah sangat dekat dengannya(Bulan)?]
"mau aku dekat dengannya atau tidak yang jelas...IA HANYALAH SEBUAH PION."
Jawabku dengan tenang namun tajam. PIX yang dengar itu lansung mendengus dan bertanya...
[Jadi, apa yang akan anda lakukan? Apa anda masih ingin membunuh gadis itu(Bulan)?]
"Tidak, untuk sekarang aku lepaskan saja. Lagi pula ia masih bisa di gunakan."
[Begitu, masih bisa di gunakan yah,......Master, Kamu ini benar - benar sangat jahat yah.]
"Memang aku penjahat."
Balasku dengan santai.
____________________________________
________________________________
sememtara itu, saat Hujan deras masih turung dan beberapa Sambaran petir menghantam Hutan ini.
Jauh di pedalaman Hutan, di sana terlihat Erina sedang berlari terbirik - birik sambil hujan - hujanan Di dalam hutan yang Gelap, dimana sesekali ia juga terjatuh dan melukai siku dan lututnya.
Meski begitu, Erina tetap berusaha untuk bangkit dan lanjut berlari. Walaupun ia kecapean dan terlihat sangat lelah.
"~Haaa.....~Haaa....~haa....~haaaa..."
Alasan ia memaksakan dirinya seperti ini. Itu karena beberapa saat yang lalu, ia melihat sesuatu yang sangat mengerikan, dimana anak itu..atau Leon, telah membakar dua teman Erina hidup - hidup yaitu Luis dan Felik.
Bahkan jeritan mereka berdua masih terdengar di kepala Erina, seolah ia tidak bisa melupakan Jeritan tersebut.
(Sial...sial...sial, anak itu sudah gila, aku harus kabur sejauh mungkin, jika tidak..aku akan di bunuh seperti itu juga.)
Pikir Erina dimana ia sangat merinding dan terlihat sangat Pucat.
Namun saat itu juga tiba - tiba ia keseleo oleh ranting Pohon yang ada di depannya dan tanpa sengaja ia terjatuh ke jurang, dimana ia terguling - guling beberapa kali hingga akhirnya sampai ke bawah.
Setelah ia sampai di bawah, ia mencoba memaksakkan dirinya untuk bangun. Namun saat itu juga tiba - tiba ia merasakan rasa sakit yang amat parah di bagian kaki kirinya.
"~Ughhh...sial, kenapa kakiku sakit sekali?"
Saat Erina mencoba melihat ke arah sana, di situ ia menyadari bahwa kaki kirinya sedang patah. Sentak ia merasa sangat shock dan ingin menjerit kesakitan.
Namun ia lansung hentikan dan menutup Mulutnya rapat - rapat, Sebab ia tau jika ia menjerit di sini maka sudah pasti Leon akan tau keberadaannya sehingga ia hanya bisa diam dan menahan jerintanya itu.
"~Hmphhhhhhh...~a~aku...aku harus tahan,...bagaimanapun caranya aku harus bertahan dan keluar dari tempat ini hidup - hidup."
Bisik Erina yang terlihat sangat kesakitan.
~Ughhh!!
meski begitu ia juga tidak bisa berdiam saja di tempat ini, karena ia bisa saja di temukam oleh Leon, sehingga ia mencoba menyeret tubuhnya ke dalam semak - semak dan bersembunyi di balik pohon.
Setelah Erina sembunyi, ia mencoba melihat ke atas langit, dimana Bintang - Bintang indah yang sering ia lihat di malam hari saat ini sudah tak terlihat karena di tutupi oleh Gelapnya awan.
Hujan deras dan angin kencang yang menimpah hutan ini membuat Sekujur tubuh Erina basah dan merasa sangat kedinginan.
"~~Fuuuu!!....i~ini sangat dingin."
Guman Erina sambil memeluk dirinya sendiri. Namun saat itu juga tiba - tiba sebuah Cahaya Putih muncul tidak jauh di depan Erina.
Cahaya itu sangat terang, sampai - sampai hampir menerangi seluruh bagian Hutan ini.
__ADS_1
Bahkan Erina yang tadinya merasa sangat kedinginan dan ketakutan sekarang tidak lagi, Seolah Cahaya itu telah menghilangkannya.
"Cahaya apa itu?"