
Di tengah malam, aku baring - baring di dalam kamarku. Namun karena aku tidak bisa tidur sehingga aku bangun dan pergi membuka jendela kamarku kemudian aku duduk di atas sana sambil memandang Bulan yang bersinar di malam hari.
"~Haaa..."
Aku menghela nafasku. Sementara PIX yang melihat itu lansung bertanya...
[Master ada apa? Apa anda tidak bisa tidur?]
"Yah."
Jawabku dengan singkat.
[....Apa mungkin anda khawatir dengan mereka berdua?]
Tentu saja yang di maksud PIX di sini adalah Selena dan Brid.
"Yah, aku sedikit khawatir, apa mereka bisa melakukan apa yang ku suruh atau tidak.-
-Karena seperti yang kau tau, pertemuan itu bukan hanya sebuah pertemuan biasa saja tapi itu bisa membahayakan mereka(Carla dan lainnya) dan juga pihak Alexei.-
-Apa lagi di pihak Alexei punya 4 Pengguna Tupxion. jika mereka berempat sampai mati maka dunia ini pastinya akan mengalami situasi yang sangat buruk."
[Ma-Master tunggu dulu sebentar, anda bilang keempat Pengguna Tupxion itu akan mati? Master apa anda berpikir Wanita itu(Carla) bisa membunuhnya?]
Tanpa ada keraguan sedikitpun, aku menjawabnya dengan tegas.
"Yah, jika perkirahanku benar maka Carla bisa membunuh ke empat pengguna Tupxion itu.-
-Bukan hanya itu saja bahkan Carla bisa membunuh Alexei sekalipun jika ia mau namun dengan dua syarat."
PIX merasa sangat penasaran dan bertanya...
[Apa itu?]
"PERTAMA DIA HARUS MENGORBANGKAN DIRINYA DAN YANG KEDUA DIA HARUS BERSIAP UNTUK MENGAMBIL RESIKO MENYERET DUNIA INI KE DALAM KEKACAUAN.-
-Di lihat dari kondisi Carla saat ini, aku yakin Carla pasti tidak akan ragu menggunakan Cara tersebut."
[Hmm yang artinya, pertemuan itu bisa di bilang akan menjadi pertemuan yang sangat berbahaya, yang akan menentukan nasib dunia ini?]
"Mungkin."
Aku hanya menjawab itu. Karena aku juga belum terlalu yakin apa perkiraanku ini benar atau tidak.
Lalu setelah itu untuk sementara suasana menjadi sunyi namun tiba - tiba terdengar suara teriakan dari lantai bawah.
"Kyaaaaa!!"
"Apa itu?"
Aku penasaran, jadi aku lansung turung dari sana dan memutuskan meninggalkan kamarku.
___________________________________
_______________________________
Setelah aku menuruni tangga, aku melihat semua ruangan di lantai bawah lampunya sudah di matikan. Meski begitu aku masih bisa melihat sebuah cahaya dari arah ruang tamu. Kemungkinan besar cahaya itu berasal dari Tv.
(Sepertinya masih ada orang yang nonton.)
Aku penasaran siapa itu jadi aku pergi ke sana dan melihat, ternyata yang nonton adalah Kak Siska.
Ia sedang nonton Film Horor sambil seluruh badannya di tutupi oleh selimut karena ketakutan.
"Sial, sebetulnya aku tidak mau nonton Film ini, tapi karena Putri merekomendasikan ku untuk menontonnya jadi aku pun mau.-
__ADS_1
-Namun tidak ku sangka ternyata Film ini sangat menakutkan. Sampai - sampai membuat seluruh badanku gemetar dan tidak bisa lagi kembali ke kamarku.-
-Putri, lihat saja besok aku pasti akan membalas-!!"
'Mu' ingin ucap Kak Siska. Namun sebelum ia mengucapkan itu tiba - tiba adegan Jumpscare di tampilkan di tv yang membuat Kak Siska kaget dan buru - buru menutupi wajahnya.
"~Kyaaaa!! Sudah cukup, aku tidak mau menonton ini lagi, aku ingin kembali ke kamarku dan tidur."
"~YAA UDAH, KALAU BEGITU SANA PERGI TIDUR."
Aku berbisik di dekat telinganya yang dimana membuat Kak Siska sekali lagi kaget dan lansung lompat dari tempat duduknya.
"~Tidaaak!! Siapa,...siapa itu tadi yang berbisik di telingaku?"
Kak Siska melihat sekeliling dengan ketakutan dan akhirnya ia menemukan keberadaanku.
Ia lansung menyipitkan matanya dan memberikan aku tatapan tajam.
"Leon, jadi itu kamu. Apa kamu senang menjahili Kakakmu?"
"Maaf aku tidak punya maksud begitu, aku hanya merasa seru aja melihat Kak Siska ketakutan begitu."
"Ka-Kamu...."
Kak Siska mengerutkan keningnya dan terlihat kesal. Lalu ia menghampiriku dan menarik telingaku kemudian ia memaksaku untuk duduk di sofa.
"~Aduh..du..du!! Kak Siska aku minta maaf, itu sakit."
"Baiklah, aku akan memaafkanmu tapi sebagai gantinya kamu harus menemaniku nonton film ini."
"~A-aku mengerti, karena itulah cepat lepaskan telingaku."
Kak Siska mulai melepaskan telingaku dan duduk di sampingku.
Aku mengelus telingaku beberapa kali. Setelah aku merasa telingaku sudah baikan. Aku tiba - tiba memikirkan sesuatu dan melihat Kak Siska.
"I-itu memang benar sih...tapi, aku harus tetap nonton Film ini."
"Mengapa?"
"Itu karena aku harus kasihkan pendapatku soal Film ini pada Putri. Jadi aku harus tetap menonton nya dan mengikuti alur ceritanya."
"Hmm aku mengerti."
Gumanku. Kemudian aku tatap Kak Siska dan bertanya lagi...
"Jadi aku hanya perlu menemanimukan?"
"Yah."
Kak Siska menganggukkan kepalanya. Setelah itu kami berdua mulai nonton bersama, dimana setiap kali ada adegan jumpscare tanpa sadar Kak Siska lansung memelukku.
"Kyaaa! Itu menakutkan sekali."
"Apa kamu tidak apa - apa Kak?"
"Yah, aku tidak apa - a...pa!!"
Kak Siska menyadari kalau ia sedang memelukku, dengan cepat Kak Siska buru - buru menjauhkan dirinya dariku.
"Ada apa? Apa kamu malu? Astaga tidak usah malu begitu cepat sini, peluk aku kembali."
"DIAMLAH."
Kak Siska dengan jengkel lansung mengetok kepalaku dimana membuat aku kesakitan.
__ADS_1
"Aduh!!"
Sementara aku sedang mengelus - ngelus kepalaku, Kak Siska terlihat seperti sedang merenungkan sesuatu.
Lalu setelah beberapa saat kemudian ia menatapku dan bicara denganku.
"Le-Leon."
"Un?"
"A-anu aku minta maaf."
"Maaf? Apa yang kau maksud pukulan barusan? Tidak apa, aku tidak terlalu peduli kok soal itu."
Aku pikir itu tapi Kak Siska membantahnya dan berkata...
"Tidak bukan itu, tapi yang tadi pagi. Maaf karena tiba - tiba menampar pipimu.-
-Sebetulnya tadi sore tante Selena datang ke kamarku. Dan ia sudah menjelaskan semuanya padaku alasan kenapa ia bisa berada di dalam kamarmu dan tidur denganmu."
(Ooh tidak ku sangka Selena melakukan itu.)
Pikirku. Sedangkan Kak Siska tak berhenti sampai di situ, ia terus bicara.
"Jujur saja setelah mendengar itu semua, aku merasa bersalah karena telah menghukum mu secara sepihak. Aku sungguh benar - benar minta maaf."
"Sudahlah Kak. Aku juga tidak terlalu peduli kok. Lagi pula itu hal yang wajar bagi seorang Kakak untuk marah saat melihat adeknya tidur berduaan dengan seorang wanita.-
-Itu menandakan bahwa Kakaknya sangat mencintai adeknya."
Kak Siska tersipu malu. Ia seolah tidak terima dan lansung mencubit pipiku.
"Dasar Adek bodoh, siapa juga yang mencintaimu."
"Aduh!!..du..du!! sakit Kak, ampun."
"Diamlah Bodoh."
"Ba~Baik."
Setelah pipiku di lepaskan, aku menghela nafasku dan terlihat lelah.
"Haaaa..!!"
[Master, anda sangat suka ya membuat Kakakmu marah?]
(Kau benar, Tapi setidaknya ia tidak ketakutan lagi kan?)
PIX melirik Kak Siska dan melihat Kak Siska memang sudah tidak ketakutan lagi seperti tadi.
[Anda benar juga.]
____________________________________
_______________________________
Setelah satu jam lebih kami nonton akhirnya Film ini selesai juga.
"Fuuu akhirnya selesai juga. Meskipun Filmnya sangat menakutkan tapi ini sangat seru, benarkan Kak Siska?"
Aku mengalihkan pandanganku ke arah samping dan melihat Kak Siska sedang tidur sambil menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Ternyata ia sedang tidur."
(Tapi apa yang harus ku lakukan. Jika aku pindah dari sini maka Kak Siska pasti akan lansung jatuh dan bangun. Setidaknya aku ingin menghindari itu.)
__ADS_1
Karena aku tidak ingin membangunkannya jadi aku memilih menunggu ia hingga bangun.
Namun pada akhirnya aku malah ikutan tidur juga.