
Setelah Gennadius mengantar Carla dan yang lainnya ke tempat Alexei. Ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan ini.
"Kalau begitu tuan Alexei aku permisi dulu."
"Yah, makasih telah mengantar mereka ke sini." Balas Alexei.
Gennadius menundukkan kepalanya sedikit lalu setelah itu ia mulai berjalan keluar meninggalkan ruangan ini. Dimana sekarang hanya tersisa enam orang saja di dalam.
Alexei berdiri dari tempat duduknya dan mencoba mendekati Carla.
"Maaf tidak menyambut kalian di luar. aku yakin kalian pasti capek setelah melakukan perjalanan panjang. Silahkan duduklah dulu."
Alexei mencoba menuntun Carla untuk duduk di sofa. Awalnya Carla diam saja dan menatap sinis Alexei begitu pun dengan Mael.
Namun beberapa detik kemudian Carla memutuskan untuk duduk di sofa yang saling berhadapan dengan tempat duduk Amaliya.
Sedangkan Brid dan Mael tidak ikutan duduk mereka lebih memilih berdiri di belakang Carla seolah - olah mencoba menjadi pengawalnya.
"Hey Brid." Mael
"Un ada apa?"
"Aku penasaran apa mungkin salah satu dari dua orang itu(Valdo, Amaliya) yang telah membunuh Ketua?"
"Hmm aku rasa tidak. Sebab jika salah satu dari mereka adalah orang yang telah membunuh Ketua maka sudah pasti Carla akan mengeluarkan niat membunuhnya pada mereka berdua saat kita memasuki ruangan ini. Tapi sampai sekarang ia belum melakukannya kan? Itu berarti mereka bukan pelakunya." Jawab Brid.
Sementara Brid dan Mael sedang membisikkan hal itu. Di sisi lain Alexei kembali duduk di meja kantornya dan melihat ke arah Valdo yang masih berdiri di sampingnya.
"Valdo, Bukankah sebaiknya kamu duduk juga di sana?"
Alexei menyarankan Valdo untuk duduk di sofa tetapi Valdo dengan tegas menolak dan berkata...
"Tidak, aku di sini saja. Aku sudah di perintahkan oleh atasan untuk melindungi anda dari bahaya."
"Astaga kamu kaku sekali, padahal ini hanya pertemuan biasa saja. Tidak ada bahaya sama sekali di sini."
"Aku rasa tidak begitu."
Sambil mengatakan itu, sorot mata Valdo melirik ke arah Carla dan lainnya, dimana samar - samar Valdo merasakan ada aura permusuhan antara mereka bertiga terhadap Alexei. Terutama Mael dan juga Carla.
*********
Di sini Brid sudah tidak terlalu memusuhi Alexei karena ia sudah tau bahwa Alexei tidak menghianati mereka.
*********
Alexei seolah tau apa yang Valdo pikirkan dan ia langsung menghela nafasnya.
"Haaa baiklah jika kamu bersikeras ingin tetap di sini maka aku tidak akan mengatakan apa - apa lagi."
__ADS_1
Setelah Alexei mengatakan itu, ia lalu mengalihkan pandangannya ke depan dan melihat semua orang.
"Omong - omong bagaimana kalau kalian memperkenalkan diri kalian masing - masing dulu?"
Alexei menyarankan hal itu pada Amaliya dan Carla yang sejak tadi diam saja. Tetapi Carla langsung menolak dan berkata..
"Maaf Alexei aku rasa itu tidak perlu, lagi pula aku sudah tau mereka ini siapa.-
-Selain itu aku yakin kamu pasti juga sudah memberitahu mereka soal kami jadi aku rasa tidak ada gunanya melakukan perkenalan seperti ini."
Ucapan Carla sangat tidak sopan yang dimana membuat Valdo dan juga Amaliya tidak senang dan langsung menyipitkan matanya.
"Apa - apaan wanita gila ini, ia tidak punya rasa sopan sama sekali pada Jendral Alexei." Bisik Amaliya.
Carla tentu mendengar itu tetapi ia lebih memilih mengabaikannya karena ia sadar tidak ada gunanya meladeni Amaliya.
Selain itu Carla juga tidak ingin membuang - buang waktunya di sini jadi ia langsung mencoba masuk ke topik utama.
"Yang lebih penting Alexei dimana mereka? Bukankah hari ini kau akan mempertemukan aku dengan orang - orang itu?"
"Ah maksudmu Vincent dan Sherlie, tenang saja sebentar lagi mereka akan datang kok."
Baru saja Alexei bilang begitu tiba - tiba muncul sebuah gerbang tidak jauh di samping kiri Alexei.
Gerbang itu bercahaya dan mempunyai wujud seperti lubang serta warnanya silver.
Dengan sigap semua orang di ruangan itu langsung bersiaga, kecuali Alexei. Mereka semua bersiap - siap jika kawanan monster keluar dari gerbang itu.
Brid membisikkan itu sambil mengeluarkan belatinya. Sementara itu Mael melihat ke arah Carla kemudian bertanya.
"Carla, apa yang harus kita lakukan?"
Carla diam saja dan matanya terus mengarah ke gerbang itu. Namun tak lama kemudian tiba - tiba mata Carla melebar karena terkejut, di iringi dengan senyuman menyeramkan yang terpancar di bibir indahnya itu.
"Begitu, akhirnya mereka datang juga."
Awalnya Brid dan Mael tidak mengerti sama sekali apa yang Carla katakan. Namun tak lama kemudian tiba - tiba muncul dua sosok yang berjalan keluar dari gerbang itu.
Dimana kedua sosok itu adalah seorang gadis kecil dan juga seorang pria berumur 35 tahun.
Gadis itu mempunyai rupawan seperti Boneka dan nama dia adalah Sherlie. Meskipun ia terlihat seperti anak kecil tetapi ia sebetulnya sudah berumur 32 tahun.
Adapun pria itu namanya Vincent, biasanya ia terlihat sangat berantakan dan rambutnya acak - acakan serta memakai kaca mata Bundar untuk menutupi kelopak matanya yang hitam. Tetapi kali ini ia terlihat sangat berbeda dimana ia sangat rapi bahkan rambutnya yang acak - acakan sudah di sisir dengan baik sehingga membuat dirinya terlihat tampan.
"Un! Ooh Jendral Alexei jadi kamu di situ."
Sherlie dengan ceria berlari menghampiri Alexei dan berkata...
__ADS_1
"Maaf ya kami datang terlambat."
"Tidak apa - apa, aku senang kalian datang." Balas Alexei.
"Begitu syukurlah."
Guman Sherlie yang terlihat senang. Lalu dari samping Vincent mendekat juga.
"Omong - omong Alexei apa yang terjadi di sini? Kenapa mereka semua menatap kami seperti itu?"
Vincent mengalihkan pandangannya ke arah Sofa, dimana di sana bukan hanya kelompok Carla yang menatap mereka dengan tajam tetapi Amaliya dan Valdo juga sama.
Sherlie seolah baru menyadari itu juga dan buru - buru bersembunyi di belakang Vincent karena ketakutan.
"~Hiii apa - apaan ini, kenapa mereka semua menatap kita seperti itu, apa yang sudah kita lakukan?"
"Itu juga yang ingin ku tau."
Balas Langsung Vincent, lalu Kemudian Vincent buru - buru melihat ke arah Alexei dan mencoba meminta penjelasan.
"Jendral Alexei, bisa anda jelaskan apa maksudnya ini?"
"Hmm aku rasa mereka hanya waspada saja gara - gara gerbang yang tiba - tiba kau munculkan itu."
"Gerbang? Ah jadi begitu, dengan kata lain mereka mengirah kalau gerbang ini adalah Lubang para Monster."
"Benar. Lagi pula ini pertama kali mereka melihatnya jadi tak bisa di pungkiri jika mereka sewaspada itu padamu, apa lagi saat mereka melihat kalian keluar dari dalam sana."
"Hmm aku mengerti."
Setelah Alexei selesai bicara dengan Vincent, ia lalu mengalihkan pandangannya ke depan dan mencoba menenangkan mereka semua.
"Baiklah kalian semua tenanglah, tidak usah waspada begitu, lagi pula Gerbang ini bukanlah Lubang para Monster. Ini adalah salah satu alat yang di buat oleh pria ini untuk bisa berpindah tempat ke tempat lainnya dalam waktu singkat. Dan alat ini di sebut dengan PORTAL."
Yang pertama kali merespon perkataan Alexei adalah Brid.
(Portal! Jangan bilang alat ini sama dengan kemampuan teleportasi Selena?)
Sementara Brid memikirkan hal itu, di sisi lain Amaliya mengangkat satu tangannya ke atas dan mencoba mengajukan pertanyaan.
"Yah, ada apa Amaliya?" Alexei.
"Jendral Alexei, anda bilang bahwa alat itu(Portal) di buat oleh pria ini(Vincent), jangan bilang mereka ini...."
Seolah tau apa yang ingin Amaliya katakan, Alexei langsung menjawab..
"Yah, sama seperti kalian, mereka ini adalah pengguna TUPXION."
Mendengar hal itu sontak membuat kelompok Carla langsung melebarkan mata karena terkejut.
__ADS_1
Terutama Carla yang langsung mengeluarkan niat membunuhnya pada mereka berdua.