
Sesampainya kami Di ruang Tunggu, kami melihat Haira sepertinya sedang bicara dengan Seorang Gadis berumur Sekitar 16 Tahun.
Dia mengenakan pakaian Kasual dan memiliki rambut biru gelap yang panjang yang di ikat Ponytail.
Ia juga memiliki paras yang cantik, yang membuat aku merasa mengenalnya.
"Tunggu,..Gadis itu, Bukankah dia Putri!"
Benar, Gadis yang bicara dengan Haira itu adalah Putri, kakak Perempuan Rusli.
Sementara itu, Haira yang Merasakan Keadiran kami lansung berkata. "Oh itu mereka." kemudian melambaikan Tangannya ke arah kami.
"Oii kenapa kalian lama Sekali."
"Memang kenapa kalau kami lama? Apa kau takut di tinggal sendirian?" tanyaku.
"Tentu saja tidaklah, Bodoh."
Bentak Lansung Haira.
Namun di sisi lain ketika Putri mendengar suaraku ia terkejut dan buru - buru melihat ke arahku.
"Eh Le-Leon. Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Yaa seperti yang kau lihat, aku sedang membawa anak ini Berobat."
"Hmm Begitu,...Tunggu, itu berarti Bocah mesum yang di maksud anak ini adalah kamu."
"Huh Bocah Mesum😧."
Aku kaget lalu aku buru - buru melihat ke arah Haira dimana aku menatapnya dengan Tajam.
"WOY HAIRA, APA MAKSUDMU BILANG BEGITU?"
"A-aku tidak bilang apapun."
"MASIH KECIL UDAH BOHONG, AMBIL NIH."
BUK!!
Aku mengetuk kepala Haira, dimana membuat ia kesakitan dan buru - buru mengelus kepalanya.
"~Aduh..Duh, ini sakit sekali."
Aku mengabaikannya dan mengalihkan pandanganku ke arah Putri.
"Omong - omong Kak Putri, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Ah aku,...Aku sedang membawakan Dompet ibuku yang lupa ia Bawa."
"Ibumu?"
"Yah, kamu tau sendirikan Ibuku kerja di sini."
Aku terkejut mendengar itu.
"Eh Ibumu kerja di sini? Aku tidak tau sama sekali."
"Yaa itu tak bisa di pungkiri, Lagi pula Sebagian Ingatanmu telah Hilang kan?"
"Kalau di pikir - pikir itu benar juga."
Ucapku sambil tertawa sediki, setelah itu aku kembali melihat Putri dan bertanya..
"Jadi, apa Kak Putri pergi Sendirian di sini?"
"Yaa sebetulnya aku ingin membawa Rusli juga untuk menemaniku, tapi karena ia ingin pergi ke warnet sama Lia, jadi aku Sendirian deh."
"Hmm Begitu."
(Yah aku rasa itu lebih baik dari Pada Bocah itu(Rusli) datang kesini menggangguku.)
Pikirku. Lalu setelah itu Putri melihatku dan ia yang bertanya lagi padaku.
"Omong - omong Leon, tadi kamu bilang kamu membawa anak itu(Rusli) kesini untuk berobatkan?"
"Ya itu benar."
Balasku sambil mengangguk. Kemudian Putri bertanya lagi.
"Apa nama dia sudah di panggil?"
__ADS_1
"Aku rasa belum."
"Benarkah, Kalau begitu bagaimana jika aku meminta ibuku untuk mengobati dia."
"Eh."
Aku terkejut mendengar itu. bukan hanya aku saja Haira dan Rusli juga sama. Dimana Haira bertanya - tanya..
"Anu Kak, apa kakak yakin ingin membantu kami?"
"Tentu saja."
Jawab Putri sambil tersenyum. Kemudiam ia kembali melihatku dan bertanya sekali lagi...
"Bagaimana Leon, apa kamu mau?"
Jujur saja aku rasa ini tawaran yang sangat bagus, karena kami tidak perlu menunggu lagi untuk mengobati Rezvan, Namun....
"Maaf, aku rasa aku tidak bisa menerimannya. Aku berterima kasih karena kamu sudah mau menawarkan kami untuk mengobati dia lebih dulu. Tetapi aku rasa itu tidak adil bagi mereka semua yang sudah datang ke sini lebih awal dari kami, dimana mereka semua menunggu puluhan Menit atau bahkan sampai satu jam hanya untuk bisa berobat, Karena itulah aku tidak bisa terima tawaranmu."
"Hmm, yah sudah kalau kamu memang tidak mau aku tidak akan paksa. Tapi tidak apa - apakan aku temani kalian di sini-
-Lagi pula aku juga masih ingin bicara dengan Haira dan juga denganmu Leon."
"Yaa aku tidak masalah si, bagaimana dengan kalian?"
Tanyaku kepada Haira dan Rezvan, dimana Rezvan menjawab....
"Um aku tidak masalah."
....kemudian di ikuti Oleh Haira yang terlihat senang.
"Sama aku juga."
Lalu Setelah semuanya sudah setuju, Kami pun mulai Ngobrol dengan Putri sambil menunggu Nama Rezvan di panggil.
______________________________________
__________________________________
Seusai Rusli di obati. saat ini kami berada di Halaman Puskesmas. Dimana Tempat Motorku terparkir.
"Leon. Jangan bilang kau datang ke sini naik Motor?" Tanya Putri yang terkejut.
"Kau tanya kenapa, apa kamu tidak takut di tilang?"
"Bodoh amat, Penjahat sepertiku mana mungkin Takut."
Benar, di kehidupanku sebelumnya aku sering kali keluar masuk ke Negara Orang Secara ilegal, bahkan sudah tak terhitung berapa kali aku melakukan itu. Jadi sesuatu seperti ini mana mungkin aku takuti.
Pikirku. Sementara itu Putri yang dengar Kata - kataku barusan merasa penasaran dan bertanya...
"Penjahat? Apa maksudmu?"
"Hah, itu bukan apa - apa tidak usah di pikirkan."
Balasku seolah menghindari pertanyaannya. Lalu kemudian aku menyalahkan Motorku dan menyuruh Rezvan, Haira naik.
"Naiklah."
Mereka berdua pun Naik. Dimana Rusli duduk di depan sedangkan Haira duduk di belakang.
Lalu setelah itu Aku melihat Putri dan mencoba menanyakan sesuatu..
"Omong - omong Kak Putri, apa urusanmu di sini sudah Selesai?"
"Eh y-yah, memang kenapa?"
"Apa kamu mau ikut bersama kami."
Putri Sontak terkejut mendengar itu dan bertanya - tanya...
"Eh ikut? a-apa yang kamu katakan? Apa kau ingin bilang akan Menggonceng kami bertiga?"
"Yah."
"Ta-tapi, Bukankah itu sangat berbahaya?"
"Tenang saja Aku akan hati - hati kok. Selain itu aku juga akan merasa Lega jika kamu ikut dan duduk di belakang, karena Kamu bisa menjaga Loli ini agar tidak jatuh."
Mendengar hal itu, Haira merasa marah dan lansung menampar kepalaku.
__ADS_1
BUK!!
"Leon, siapa yang kamu panggil Loli?"
"~ughh!...Memang siapa lagi. Tentu saja kamu lah."
Haira mengertakkan Giginya dan ia terlihat sangat kesal. Namun tanpa pedulikan itu aku kembali melihat Putri dan bertanya lagi..
"Bagaimana Kak Putri, apa kamu mau ikut?"
"Hmmm...Baiklah aku akan ikut, jika itu memang tidak merepotkanmu."
"Tentu saja itu tidak merepotkanku sama sekali."
Ucapku. lalu kemudian aku serahkan Helm yang seharusnya Haira pakai kepada Putri.
"Nih pakailah."
Ucapku, dimana Putri lansung mengambil nya dan memakainya.
Setelah itu ia Naik ke atas Motor dan duduk di belakangku bersama dengan Haira.
Lalu tanpa menunggu lama Kami semua pun berangkat dan Lansung meninggalkan tempat itu.
______________________________________
__________________________________
Tak lama setelah kami menempuh perjalanan akhirnya kami sampai di depan Pintu Halaman tempat tinggal Bulan.
"Baiklah kita sudah sampai sekarang turung lah."
Mulai dari Rezvan, lalu kemudian Haira yang turung.
Setelah mereka berdua turung, Rezvan melihat ke arahku, Dimana wajahnya yang masih pucat mulai terlihat ceria.
"Leon, terima kasih banyak karena sudah membawaku berobat."
"Tidak usah di pikirkan. Lagi pula ini balasan karena Kakak mu sering membantuku juga.-
-Sekarang masuklah ke dalam istirahat dan minum obatmu."
"Um."
Rezvan mengangguk kuat, lalu setelah itu ia berlari masuk ke dalam Rumahnya dimana ia meninggalkan Haira yang masih berdiri Di depanku.
"Woy Loli, kenapa kau masih disini, apa kau tidak masuk ke dalam?"
"Hah! Tentu sajalah aku mau masuk, hanya saja.."
"Ada apa?"
Tanyaku, dimana Wajah Haira entah kenapa tiba - tiba tersipu malu.
"Le~Leon Untuk kali ini saja, aku akan berterima kasih padamu karena sudah mengantar saudaraku berobat. Karena itulah kau harus bersyukur, karena dapat terima kasih dariku."
Aku lansung membatu dan mematap ia dengan datar.
"Hah kau ini bilang apa sih😧? Sana cepat masuk saja kerumahmu, aku tidak butuh Terima kasihmu.-
-Selain itu, jika kau tinggal terus di situ bisa - bisa kau di culik sama Om - om mesum loh."
Haira merasa sangat kesal dan wajahnya sangat merah di karenakan malu.
"K~K~K~Ka~Kau...apa yang barusan kau katakan? Apa kau tidak malu mengatakan itu?"
"Sayangnya tidak, lagi pula aku ini hanya Bocah mesum seperti yang kamu katakan sebelumnya."
"Ka~Kau Dasar bajingan. baiklah aku mengerti aku akan masuk sekarang. Tapi ingat ini baik - baik aku pasti akan membalasmu suatu hari nanti."
Sambil meninggalkan kata - kata itu, Haira lansung berlari masuk ke dalam rumahnya, dimana Wajahnya masih merah karena malu.
"Pffftt Hahaha..kamu lihat Kak Putri, anak itu merasa malu dong.-
-Sudah kuduga, mempermainkan anak Kecil seperti dia sungguh sangat menyenangkan."
Ucapku yang merasa sangat senang.
Sementara itu Putri yang duduk di belakangku merasa aku seperti Bocah yang sangat jahil, dan ia menatap aku dengan tatapan datar.
"Leon kau...apa kau suka melakukan ini?"
__ADS_1
"Hmm ya sedikit."
Jawabku sambil seringai.