
Setelah Kak Siska mendapati Selena tidur di kasurku dengan hanya mengenakan dalaman saja. Ia tetap berdiri di dekat pintu sambil terus memperlihatkan senyuman menyeramkan yang terpancar di bibirnya.
Jujur saja itu membuat aku sedikit ketakutan, namun meski begitu aku tetap berusaha untuk tenang dan mencoba menghadapi Situasi ini.
"~Hah Ka~Kak Siska, sejak kapan kau ada di situ?"
"TAK LAMA SETELAH RINA KELUAR DARI KAMARMU."
(Tak lama setelah Rina keluar! itu berarti ia melihat semuanya waktu aku menendang Selena dari kasurku!?-
-Arghh sial, aku harap ia tidak berpikir kalau aku pencinta M.)
Sementara aku memikirkan itu tiba - tiba Kak Siska memanggil namaku "LEON." Yang dimana membuat aku kaget dan buru - buru melihatnya.
"A~Ada apa Kak Siska?"
"YAA AKU HANYA INGIN TAU SAJA, BAGAIMANA RASANYA SETELAH SEKIAN LAMA KAMU TERUS BERUSAHA MENCOBA MENGGODA KAKAKMU INI DAN AKHIRNYA KAMU BERHASIL MENEMUKAN SATU WANITA YANG BERHASIL KAU TIDURI.-
-LEON, BAGAIMANA RASANYA? APA RASANYA ENAK?"
Meskipun Kak Siska mengatakan itu dengan senyuman tetapi entah kenapa aku bisa merasakan aura membunuh keluar dari tubuhnya. Dan aura itu di arahkan padaku.
Saking takutnya aku buru - buru mencoba menjelaskan agar ia mengerti dan tidak terjadi kesalahpahaman.
"Ka~Kak Siska tolong dengarkan, aku bisa menjelaskannya padamu."
"FUFUFU ADEK KECILKU, KAMU TIDAK PERLU MENJELASKAN APAPUN PADAKU, AKU SUDAH MENGERTI SEMUANYA KOK APA YANG TERJADI DI SINI."
"Tidak, kau tidak mengerti sama sekali, dengar aku tidak melakukan apapun seperti yang kau pikirkan dan aku juga tidak meniduri wanita ini, jadi-!!"
"UM, UM SUDAH CUKUP AKU MENGERTI KOK, SEMUA ORANG YANG KETAHUAN PASTI AKAN MENGATAKAN HAL YANG SAMA, JADI KAMU TIDAK PERLU MENGATAKAN APAPUN LAGI."
"Tidak, tolong dengarkan lah, aku-!!"
"FUFUFU ADA APA, APA KAMU TAKUT? TIDAK PERLU TAKUT AKU TIDAK AKAN MENGGIGITMU KOK.-
-TAPI EKSPRESIMU YANG SEPERTI ITU ENTAH KEMAPA SUNGGUH MANIS SEKALI LEON."
Kak Siska benar - benar sudah mengabaikanku sampai - sampai ia tidak mau lagi mendengarkan apa yang ku katakan.
(Sial, di situasi seperti ini apa yang harus ku lakukan?)
Di saat aku sedang memikirkan itu, Kak Siska perlahan mulai berjalan mendekatiku sambil terus memperlihatkan senyum menyeramkannya itu padaku.
Aku yang semakin terpojok berusaha mencari cara. Dan akhirnya aku memilih untuk minta bantuan pada Selena.
Jika Selena yang menjelaskan semuanya pada Kak Siska aku yakin kemarahan Kak Siska pasti bisa direda sedikit.
"Selena jangan diam saja, cepat kau bantu juga jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di...si....ni.....😨!!"
Aku shock dan tidak tau harus berkata apa, sebab aku tidak melihat Selena dimanapun. Sepertinya ia sudah kabur duluhan lewat jendela ketika aku dan Kak Siska sedang bicara.
"GRRRRH DASAR WANITA SIALAAAAN? BERANI - BERANINYA KAU KABUR SENDIRI, LIHAT SAJA AKU PASTI AKAN MEMBALASMU!"
Aku teriak dan di penuhi oleh kemarahan, dan saat itulah Kak Siska yang sudah berada di depanku lansung menutup mulutku menggunakan jari telunjut agar aku berhenti teriak.
"SSHHH!! TENANGLAH TIDAK USAH TERIAK BEGITU, SEMUANYA AKAN BAIK - BAIK SAJA."
__ADS_1
(Tidak, kau Bohong, semuanya tidak baik - baik saja, aku yakin kau pasti akan membunuhku.)
Pikirku. Lalu kemudian Kak Siska mengeluas - ngelus wajahku dengan lembut sambil mengangkat wajahku ke atas agar tatapan kami bisa saling bertemu.
"Ka~Kak Siska aku..."
"HMM ADA APA? APA KAMU INGIN MENGATAKAN SESUATU?"
"Y~Yah, dengar aku tidak pernah sekalipun meniduri wanita itu, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa pertama kaliku akan ku berikan padamu."
Kak Siska yang dengar itu lansung membatu begitu juga dengan PIX, sebab mereka berdua pasti tidak pernah menyangkah kalau aku akan mengatakan hal itu.
[Master, anda sungguh berani ya, bisa - bisanya anda berkata seperti itu di situasi seperti ini.]
(Yaa mau gimana lagi, lagi pula aku juga tidak tau harus apa untuk menangani situasi ini.-
-PIX apa kau mempunyai cara untuk menangani situasi ini?)
[Tidak, karena dari yang aku lihat sepertinya anda sudah tidak memiliki cara lagi untuk bisa lolos dari situasi ini. Dengan kata lain anda sudah skatmat.]
(Lihat, kau sendiripun sudah tau tapi kau masih saja bertanya. Jika kau tidak bisa membantuku sebaiknya kau diam saja di situ, mengerti?)
[Baik, maafkan aku.]
Setelah aku bicara dengan PIX, aku kembali melihat Kak Siska, dimana aku perhatikan ia senyum seringai padaku.
"HEH!."
Lalu tak lama kemudian tiba - tiba ia mulai tertawa sambil mendorongku ke kasur dan menaiki badanku
Aku melihat Kak Siska mengangkat tangannya tinggi - tinggi ke atas, seolah - olah ia sedang bersiap ingin menamparku.
"~a-anu Kak Siska, tolong tenanglah, aku minta maaf karena sudah mengatakan hal itu tadi, karena itulah tolong lepaskanlah adek imutmu ini ya - ya."
"FUFUFU LEON KAMU INI MEMANG ADEKKU YANG PAAAALING IMUT, TAPI SAYANG SEKALI SEMUANYA SUDAH TERLAMBAT, SEKARANG KAU TERIMA SAJA HUKUMANMU INI YA - YA DASAR ADEK MESUM!!"
Dengan kuat Kak Siska menampar pipiku yang dimana membuat aku lansung menjerit sekeras - kerasnya karena kesakitan.
PAATTT!!!!!
"~ARGHHHHHHHH SAKIIIIIIIIIIIIT!! INI SAKIT!! AYAH, IBU TOLONG AKU, KAK SISKA INGIN MEMBUNUHKUUUUUU!!"
"DIAMLAH DASAR MESUM!"
PATT!!
"~ARGHHHHHHHHHHHHHHHHH!!"
______________________________________
_________________________________
>Satu jam kemudian di ruang makan.
Saat ini kami semua sedang sarapan bersama. Namun di sisi lain aku terlihat kesulitan untuk makan, sebab kedua pipiku sangat sakit sehingga aku kesulitan untuk membuka mulutku.
"Leon ada apa? Kenapa kamu tidak memakan sarapanmu?"
__ADS_1
Ibu bertanya padaku dengan ekspresi khawatir.
"Hah maaf Bu, sepertinya aku tidak punya nafsu makan hari ini."
"Eh apa kamu baik - baik saja?"
"Yah aku baik - baik saja, tidak usah khawatir."
Balasku. Lalu kali ini Kak Rani penasaran dengan kedua pipiku yang merah akibat tamparan Kak Siska.
"Omong - omong Leon, pipimu kenapa merah begitu?"
"Hah ini, tadi pipiku di gigit sama serangga sehingga merah begini."
"Hmm begitu,...apa sakit?"
"Tidak, ini tidak sakit sama sekali."
Jawabku sambil memberikan ia senyuman ceria agar tidak membuat ia khawatir.
Lalu kemudian aku mencoba mengalihkan pandanganku ke arah Kak Siska, dimana saat ini ia sedang asik menyantap sarapannya.
namun ketika ia menyadari kalau aku sedang memperhatikannya, mata Kak Siska lansung berubah menjadi tajam seolah ingin membunuhku.
Sontak saja hal itu membuat aku merinding dan buru - buru mengalihkan pandanganku ke arah lain.
(Uwaah itu sungguh menakutkan, Sebaiknya aku lekas - lekas pergi dari sini.)
Aku minum dan buru - buru berdiri dari tempat dudukku, kemudian aku pergi mengambil tasku dan ku gantung di belakang punggungku.
"Kalau begitu Ibu, Ayah aku pergi dulu ke sekolah."
"Eh tapi Leon, ayahmu belum selesai makan." ucap Ibu.
"Tenang saja hari ini paman Brid yang akan mengantarku ke sekolah, benarkan paman Brid?"
"Eh aku?"
"Um."
"Ta-tapi Leon...."
Aku belum menghabiskan makananku.
Aku yakin Brid pasti ingin mengatakan itu, tapi aku tak peduli sama sekali dan lansung menarik bajunya, kemudian aku seret ia keluar dari tempat itu.
"Sudahlah, ayo kita pergi."
Ucapku.
"Leon tunggu dulu, aku belum selesai bicara."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, ayo nanti aku terlambat ke sekolah."
"Leon tolong dengarkan aku!"
Brid berusaha melawan meski begitu aku terus menyeretnya, sampai akhirnya kami berdua keluar dari tempat itu.
__ADS_1