
Setelah Gregori berhasil menghancurkan kuba es itu, ia lalu menggunakan puing - puing dari kuba es yang hancur sebagai pijakan agar bisa menerjang Amaliya yang berada di depannya.
Gregori mencoba memukul Amaliya, namun pukulannya langsung dihentikan oleh sebuah tembok es besar yang muncul tepat di depannya.
[Sudah ku bilang, tak akan ku biarkan kalian menyentuh Masterku.] ucap ELSIE.
Gregori tidak berhenti, ia mencoba menghancurkan tembok es itu dengan kekuatan penuhnya, namun tiba-tiba ada sesuatu yang menyerangnya dari arah samping.
"Ughhh!"
Gregori tidak bisa melihat apa yang menyerangnya, tetapi setidaknya ia merasakan bahwa yang menyerangnya itu sama seperti sebuah tebasan pedang.
Kemungkinan besar, tebasan itu berasal dari udara kosong yang dikeluarkan dari Pedang Valdo.
Gregori tak bisa menahan kekuatan dari tebasan itu dan akhirnya terlempar dan jatuh ke tanah.
ELSIE pikir sudah selesai, tetapi...
"INI BELUM SELESAI!"
ELSIE tiba-tiba mendengar suara wanita di atasnya, dan saat ELSIE menengok ke atas, kali ini ia melihat Selena meluncur dengan kedua belati di tangannya.
[Kenapa kalian terus saja melawan, apa kalian tidak mengerti artinya menyerah?]
Kata ELSIE sambil mengerutkan keningnya dan terlihat kesal. ELSIE lalu menjentikkan jarinya, 10 duri es tercipta dan langsung menyerang Selena.
Selena berhasil menghancurkan 6 duri es dengan kedua belatinya, sedangkan 4 duri es lainnya berhasil menggores tubuh Selena, salah satunya tertancap di paha.
"Ughhhh!"
Selena terlihat kesakitan, meski begitu ia terus terjun ke bawah.
(Bagus, sebentar lagi aku sampai,)
pikir Selena.
Meskipun Selena terus di serang dan telah banyak mengalami luka goresan di tubuhnya tetapi Selena tidak berhenti. itu karena ia pikir luka-lukanya itu bisa diobati nanti dengan heal potion.
Tapi...
[Sayang sekali, kamu sudah terlambat, Masterku telah menyelesaikan penyerapannya.]
Setelah ELSIE mengatakan itu, Amaliya perlahan mulai membuka matanya yang sudah memjadi es, diikuti dengan auranya yang meledak - ledak dan menghempaskan udara di sekitarnya, termasuk Selena.
Gregori segera berlari di bawah dan berhasil menyelamatkan Selena sebelum ia jatuh ke tanah.
BUSKKK!
"~Aduh, itu sakit sekali, terima kasih sudah menolongku," ucap Selena.
Gregori hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
"Meski begitu dari mana ledakan tadi? aku sampai terhempas."
__ADS_1
Selena mencoba berdiri namun ia merasa kesakitan di bagian pahanya, Ini semua di karenakan pahanya masih tertusuk oleh duri es dari serangan sebelumnya, sehingga ia kesulitan berdiri.
Melihat hal itu, Gregori segera membantu Selena berdiri.
"Hahaha, maaf sudah merepotkanmu,"
kata Selena dengan nada bercanda. kemudian Selena melihat ke atas dan memperhatikan Amaliya di penuhi oleh aura kuat yang mengelilingi dirinya.
Aura itu kemudian menyatu di tangannya dan membentuk sebuah lingkaran sihir putih salju dengan pola Kristal Es.
"ELSIE, mari kita mulai," kata Amaliya.
[Baik, Master.] jawab ELSIE.
Tangan ELSIE di angkat ke atas. Di saat bersamaan Lingkaran sihir itu juga terangkat naik ke atas mengikuti gerakan tangan ELSIE.
lalu kemudian lingkaran sihir itu melebar dengan sangat luas hingga memenuhi seluruh wilayah di tempat ini. Bahkan pegunungan sekitar sampai tertutupi oleh lingkaran sihir itu.
Melihat hal itu, Noel merasa terkejut sekaligus kaget..
[Gawat! Master, ia sudah mulai mengaktifkan Area Bekunya. Kita harus kembali ke sana dan menghentikannya.]
"....."
Carla tidak mengatakan apa-apa, namun ia menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
Lalu, Carla berbalik dan mencoba kembali ke tempat Amaliya, namun di perjalanan ia langsung dihalangi oleh 20 lebih pedang Valdo yang sedang terbang di depannya.
"Kau mau kemana? Bukankah kau ingin menahanku?" tanya Valdo.
"Cih, minggir sana!"
Carla maju ke depan dan mencoba melewati pedang-pedang itu, tapi ia merasa kesulitan karena hampir tidak ada satupun ruang yang bisa ia lalui, bahkan meskipun ia sudah dibantu beberapa Drome nya sekalipun.
(Ini buang-buang waktu saja, pedangnya tidak pernah habis. Jika begini terus, gadis itu akan keburu mengaktifkan Area Bekunya.) Pikir Carla.
[Setuju, kalau begitu bagaimana jika kita cari jalan lain saja?] Tanya Noel.
(Terserah kau, yang penting kita bisa menghentikan Area bekunya.) jawab Carla.
Tanpa berlama-lama, Noel langsung memutar balik Drome yang di naiki Carla, diikuti oleh 4 Drome yang masih tersisa di belakangnya.
"Oh, apa kamu mau lari? Takkan ku biarkan!" kata Valdo.
Valdo menerbangkan 15 pedangnya untuk mengejar Carla. Pedang-pedang itu bergerak mengikuti gerakan tangan Valdo.
[Master, mereka mengejar kita.] kata Noel.
"Aku tahu," balas Carla.
Lalu ke-15 pedang Valdo mulai menyerang Carla.
Carla berhasil menghindarinya sambil dibantu oleh 4 Drome yang mengikutinya di belakang serta Artileri dan kendaraan tempur anti udaranya yang di darat.
__ADS_1
Meski begitu Carla masih terus di kejar oleh pedang - pedang Valdo yang secara terus - menerus ia keluarkan dari lingkaran sihirnya. Sampai - sampai Carla di buat lelah olehnya.
"Sial ini tidak kelar - kelar. Mereka terus saja berdatangan. ini tidak ada habisnya." kata Carla.
[Sepertinya ia tidak punya niat mengalahkan anda. Ia hanya ingin menahan anda di sini sampai Area Beku gadis itu di aktifkan.]
Ucap Noel, kemudian ia lanjutkan lagi...
[Rencana kita yang awalnya ingin menjauhkan ia dari sana malah jadi bumeran bagi diri kita sendiri.]
"....."
_________________________________
_____________________________
>Sementara itu, di tempat Amaliya.
Saat ini Selena dan Gregori terlihat sangat terkejut melihat luasnya lingkaran sihir yang Amaliya buat di atas sana. sampai - sampai lingkaran sihir itu menutupi seluruh wilayah ini.
Bahkan Lingkaran sihir itu, sampai mencakup lokasi tempat dimana Anggota KSP yang lainnya(Greg, Mavra dan Betris) bertarung.
"Ini benar-benar gawat, ia telah menyelesaikan Area Bekunya,"
Gumam Selena, Lalu dari samping Mael mendekat...
"Selena, sepertinya kau terluka parah. Ambillah ini,"
Kata Mael sambil melempar satu kapsul potion ke arah Selena. Selena menangkapnya dan segera meminumnya. Dalam sekejap, semua luka goresan di tubuh Selena sembuh, termasuk luka tusukan di pahanya.
"Sepertinya semua luka ku sudah sembuh. Gregori, kau sudah bisa melepaskanku sekarang," kata Selena.
Gregori segera melepaskan Selena. Selena lalu melihat ke atas dan menatap lingkaran sihir Amaliya dengan tatapan serius.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Jika kita tidak melakukan apapun, semua alutsista yang telah Carla ambil akan dibekukan," kata Selena.
Mendengar hal itu, Alexei yang sedang berlindung di dalam penghalan Vincent, mengeluarkan tawa sedikit.
Menyadari hal itu Selena tidak senang dan langsung menyipitkan matanya yang tajam ke arah Alexei.
"Ada apa? Apa yang kau tertawakan?" tanya Selena.
"Hah, tidak, aku hanya berpikir sepertinya kalian telah salah paham," kata Alexei.
"Salah paham?" tanya lagi Selena.
"Yah, sebetulnya Area Beku ini tidak hanya dimaksudkan untuk membekukan semua Alutsista yang telah kalian ambil saja, melainkan Area beku ini juga di maksudkan untuk membekukan kalian."
"APA!"
Sontak saja hal itu membuat Selena merasa sangat shock, tanpa kecuali Gregori dan Mael yang berada di sampingnya.
"Mem~Membekukan kami? apa maksudmu?" Tanya Mael.
__ADS_1
"Kau seharusnya sudah tahu sendiri, pertarungan ini tidak akan pernah berakhir sampai Carla mencapai tujuannya, yaitu membunuh kami, terutama Sherlie.-
-Karena itulah satu-satunya cara yang bisa kita ambil untuk mengakhiri pertarungan ini adalah dengan membekukan kalian. Selama kalian dan juga Alutsista-Alutsista yang telah Carla ambil dibekukan, maka Carla tidak akan punya apa-apa lagi yang bisa ia gunakan untuk melawan kita, yang dimana pada akhirnya mau tidak mau, ia harus menyerah dan mengakhiri pertarungan ini," jelas Alexei dengan tatapan serius.