
Setelah beberapa saat kami berjalan di Koridor, dimana aku mengikuti Kak Siska di belakang.
tiba - tiba Kak Siska berhenti berjalan. tepat di depan Pintu, salah satu ruangan yang ada di Lantai dua.
melihat itu, aku pun berhenti berjalan, dimana Kak Siska berahli ke arahku.
"Leon, ini adalah Kamarmu.-
-saat kamu berada di Rumah sakit. aku sering membersihkan kamar ini, jadi, Kau bisa lansung istirahat di dalam."
ucap Kak Siska dengan senyuman. namun, ketika aku mendengar itu, aku merasa ada sesuatu yang aneh.
sebab, Rumah sebesar ini, apa tidak memiliki pelayan sama sekali sehingga ia yang harus bersihkan.
"Kak Siska, kenapa kamu yang harus bersihkan kamar ini? apa di Rumah ini tidak ada pelayan?"
"tidak, sebenarnya ada banyak kok pelayan di rumah ini."
"kalau begitu...kenapa??"
tanyaku yang kebingungan.
(jujur aku tidak mengerti sama sekali, kenapa ia harus bersihkan kamar ini, kalau memang punya pelayan?-
-apa ia punya alasan kenapa ia melakukan itu?)
saat memikirkan itu, aku melihat ke arah Kak Siska.
dimana aku perhatikan Kak Siska sedang menundukkan kepalanya. sambil megenggang pergelangan tangannya dengan Erat.
meskipun aku tidak bisa lihat wajahnya(Karena menunduk) tetapi aku bisa tau kalau ia saat ini keliatan Sedih.
"Kak Siska?"
saat aku memanggil namanya, Kak Siska seperti tidak mendengarkanku dan malah berkata..
"hanya saja...."
"umm?"
"hanya saja, saat aku membersihkan kamarmu, itu seperti mengurangi rasa bersalahku, jadi..."
meskipun aku tau Rasa bersalah yang ia maksud kemungkinan Pembulian yang di bicarakan PIX.
namun, untuk saat ini aku pura - pura saja tidak tau.
"Rasa bersalah? boleh aku tau, memang Kak Siska salah apa denganku??"
tanyaku sambil memiringkan kepalaku. Seolah - olah tidak tau apapun.
namun, ketika aku menanyakan itu, aku perhatikan tubuh Kak Siska terlihat sangat gemetar, bahkan ia memegang pergelangan tangannya lebih kuat dari yang tadi.
seperti ia sedang berusaha bicara sesuatu, yang tidak ingin ia katakan.
"i~itu,....se~ sebelum itu, bisa tidak aku tanya?..a~ apa kamu ingat kenapa kamu bisa di rawat di rumah sakit??"
saat Kak Siska menanyakan itu, aku perhatikan ia terlihat sangat ketakutan. seolah - olah ia takut mendengar jawabanku.
mengetaui hal itu, aku mengira jika aku mengatakan yang sebenarnya di sini, maka ia pasti tambah menyalahkan dirinya sendiri, jadi untuk saat ini aku akan bearkata....
"tidak, aku tidak ingat apapun."
mendengar itu, membuat Mata Kak Siska lansung melebar karena terkejut
"eh"
"ada apa Kak Siska??"
saat aku tanya, Kak Siska lansung melihat ke arahku dan mencoba bertanya balik.
"a~anu Leon, apa kau Benar - benar tidak ingat apapun??"
"yah, aku tidak ingat apapun, meskipun aku masih ingat beberapa hal. namun, aku tidak ingat sama sekali kenapa aku bisa berada di rumah sakit?"
"be~Begitu."
ucap Kak Siska, dimana wajahnya yang tadinya terlihat ketakutan dan tubuhnya gematar. sekarang sudah tenang kembali.
melihat itu, aku lansung tersenyum dan perlahan membuka pintu kamarku.
"kalau begitu, aku masuk dulu?"
"y-yah, istirahatlah di dalam."
"umm."
jawab aku dengan anggukkan.
setelah itu, Kak Siska lansung tersenyum dan mulai berjalan meninggalkan Tempat ini.
namun, ketika ia berjalan melewatiku, aku perhatikan kalau senyumannya itu terlihat seperti bercampur dengan kesedihan.
(Gadis ini, apa ia masih memikirkan soal Tadi.)
saat memikirkan itu, aku ingin mencoba untuk membuatnya sedikit lebih baik,....jadi.....
"Kak Siska, apa kau sudah mau pergi?"
ketika aku memanggilnya, Kak Siska lansung berhenti berjalan dan melihat ke arahku.
"yah, memang kenapa?"
"tidak, bukan apa - apa, hanya saja apa Kak Siska, tidak mau masuk ke dalam??"
mendengar itu, Kak Siska lansung menyipitkan matanya, dan bertanya..
"Hah, buat apa aku masuk kedalam?"
"yah, Kak Siska tau sendirikan jika Pria dan Wanita berduaan di dalam Kamar??"
"Pria?..wanita?...apa maksudmu Leon??"
tanya Kak Siska. dimana ia terlihat kebingungan, seperti ia tidak mengerti apa maksudku.
mengetaui hal itu, aku lansung menutup wajahku dengan tangan, sebab aku tidak menyangkah, kalau Gadis ini belum tau hal - hal yang seperti ini.
(Sepertinya ia belum dewasa.)
saat aku memikirkan itu. aku lansung mendasah "haaa.." dan melipat kedua tanganku. dimana aku menutup mataku sambil menjawab....
"maksud aku itu, tentu saja. saat kita berada di dalam kamar kita akan melakukan ****** atau ******, Kak Siska sudah paham kan?"
__ADS_1
"tidak,....aku tidak paham sama sekali?"
jawab Kak Siska, dimana wajahnya tidak bisa di lihat karena di tutupi oleh bayangan.
"begitu."
ucapku.
(yah, tidak bisa dipungkiri. lagi pula ia masih dimasa puber, jadi tidak mungkin ia mengerti hal - hal yang biasa di lakukan orang dewasa seperti aku.)
ucapku di dalam pikirkan sambil tersenyum.
namun ketika aku memikirkan itu, tiba - tiba Kak Siska mengucapkan lagi apa yang ia katakan tadi, dimana ia berkata...
"Leon,...aku tak paham?"
..mendengar itu, sentak membuat aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya.
sehingga aku membuka salah satu mataku untuk melihat ke arahnya dan mencoba bertanya, namun..
"ada apa Kak Sis-!!"
sebelum aku selesai bicara, Kak Siska lansung berteriak dan dengan cepat melayankan sebuah Pukulan tepat di mataku yang Terbuka.
"AKU TAK PAHAM, KENAPA KAU BISA MENGATAKAN ITU DENGAN GAMPANGNYA, DASAR ADEK MESUM."
BUUKK!!!
setelah mataku di hantam dengan pukulan tersebut aku lansung terlempar masuk ke dalam kamarku.
"~AGHH!!"
hingga aku terbaring di lantai. dimana salah satu mataku yang dipukuli terlihat sedang benjol seperti donat.
di sisi lain, Kak Siska yang melihatku dari Luar kamar, wajahnya terlihat sangat merah, dimana ia dengan malu - malu mencoba berkata...
"K~ K~ K~ K~ KA~ KAU, KAU ITU MASIH ANAK KECIL, SE~SEHARUSNYA TIDAK BILANG SESUATU, S~ S~ S~ SE~ SEPERTI..."
Kak Siska tiba - tiba terdiam karena terlalu malu untuk mengatakannya dan wajahnya pun sangat merah, sampai - sampai di atas kepalanya pun terlihat seperti keluar asap.
melihat itu, aku lansung seringai jahat dan perlahan aku mencoba bangun untuk duduk.
setelah itu, aku mencoba mempermainkan gadis ini dan bertanya..
"ada apa Kak. kenapa Kak Siska tiba - tiba diam? memang apa yang tadi aku katakan??"
"K~ K~ K~ K~ K~ KA~ KAU,..KAU BILANG-!!"
wajah Kak Siska tambah merah, dan asap terus keluar dari atas kepalanya.
melihat itu membuat aku merasa bersenang - senang mempermainkan gadis ini.
sehingga aku mencoba bertanya lagi..
"ada apa Kak, coba bilang apa yang aku katakan tadi??"
"K~ K~ KA~ KAU,..TADI BILANG..."
"......."
"......."
setelah beberapa detik suasana menjadi Sunyi. tiba - tiba Kak Siska mengertakkan Giginya dan berteriak dengan sangat keras....
..dan lansung menutup pintu kamarku dengan kuat..
PAAATT!!
setelah itu, di balik pintu, Kak Siska mulai mengocehku. dimana ia berkata...
"Le-Leon, aku akan lupakan apa yang barusan kamu katakan tadi jadi, berhentilah mengatakan sesuatu seperti itu, lagi pula kau itu masih kecil, kenapa kau bisa mengatakan itu dengan wajah tenang, apa kau suka mempermainkan Kakakmu?"
tanya Kak Siska, dimana ia terus mengocehku di balik Pintu.
namun bukannya marah aku malah senang melihat dirinya yang sekarang di bandingkan dengan dirinya yang tadi, dimana ia kelihatan sedih,...itulah kenapa, aku....
saat memikirkan itu, perlahan bibirku melengkun seperti bulan sabit sambil menjawab...
"yah, tentu saja aku suka, lagi pula apa salah jika aku mengatakan itu??"
"TENTU SAJALAH SALAH, DASAR ADEK BODOOOOH!!"
teriak Kak Siska dimana ia lansung berlari meninggalkan Pintu kamarku.
TAP!!....Tap!!...tap!!......
setelah suara langkah kakinya tak terdengar lagi, aku langsung membuang diriku kelantai untuk berbaring sambil menghela nafasku.
"haaaaa....Syukurlah, sepertinya ia sudah baik - baik saja."
Bisikku. dan saat aku berbaring di lantai, tiba - tiba PIX bicara di dalam pikiranku.
[Master, sepertinya kau mendapatkan donat ungu di mata, pasti enak kan mendapatkan itu dari gadis cantik?]
"ENAK PALA LU!"
bentak aku lansung.
[.......!]
PIX tiba - tiba berhenti bicara di dalam pikiranku. merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. sehingga aku mencoba bertanya.
"ada apa PIX??"
[tidak, bukan apa - apa, hanya saja sepertinya apa yang di katakan Kakak Master tadi itu memang benar.]
"Hah, apa maksudmu?"
[maksudku kalau Master ini ternyata memang orang bodoh-
-coba Master pikir baik - baik, aku ini tidak punya bentuk fisik jadi mana mungkin aku punya kepala, Dasar Master tolol.]
ucap PIX dimana ia menatapku dengan tatapan jijik. melihat itu membuat aku kesal dan berkata..
"WOY, BISA KAU BERHENTI MEMANGGILKU TOLOL, ASAL KAU TAU, AKU INI JADI KETUA KELOMPOK SERIGALA PEMBURU BUKAN HANYA KARENA AKU INI KUAT. TAPI, AKU INI JUGA SANGAT CERDIK DALAM MEMBUAT TAKTIK, JADI BERHENTILAH MEMANGGILKU BEGITU SIALAN."
tanpa sadar aku banyak bicara karena terlalu marah, namun PIX yang dengar itu hanya menatapku dengan tatapan datar...
[......]
setelah beberapa detik ia menatapku seperti itu, tak lama kemudian ia bertanya...
__ADS_1
[apa Master sudah selesai bicara?]
"eh..y-yah, aku sudah selesai."
jawabku, dimana aku tidak suka saat PIX berkata begitu, namun tanpa pedulikan itu, PIX melanjutkan lagi..
[baiklah, kalau begitu aku akan mulai memberitau Master, kalau anda itu memang Orang Bodoh.]
"WOOOY!!"
[tadi anda bilang, anda adalah orang yang kuat dan juga sangat Cerdik, atau apalah itu....]
"CERDIK DALAM TAKTIK, WOY."
Bentak aku lansung. mendengar itu untuk sementara PIX menatapku terus [....] namun setelah beberapa detik kemudian ia menjawab...
[yah, itu dia. Sebetulnya tadi aku ingin mengatakan itu, tapi karena Master duluan jadi...yah sudahlah.]
(bilang saja kalau kau lupa tolol.)
ucapku di dalam pikiran sambil menatap PIX dengan Jengkel. di sisi lain PIX yang dengar itu lansung berkata...
[Master, aku bisa dengar apa yang kau ucapkan barusan.]
"......."
[yaa, kalau Master tidak mau bicara yah sudah. kalau begitu kita kembali saja ke topik sebelumnya.]
ucap PIX, setelah itu ia menatap Lurus ke arahku dan mulai bicara...
[tadi anda bilang, anda adalah orang yang kuat dan sangat Cerdik dalam membuat Taktik kan?-
-tapi, apa anda Lupa, semua kehebatan dan kecerdikan yang anda katakan tadi itu hanya berasal dari kehidupan anda sebelumnya. namun, saat ini berbeda.]
"Hah, apa maksudmu??"
tanyaku yang kebingungan. mendengar itu PIX menjawab...
[saat ini, Master hanyalah seorang Bocah lemah di bandingkan dengan kehidupan anda sebelumnya-
-contohnya saja hanya karena di pukuli seorang wanita, mata master bahkan sampai sebenjol itu.-
-adapun juga Soal kecerdikan anda.-
-memang benar aku mengakui kalau anda itu Orang yang Cerdik. namun itu hanya berlaku di kehidupan anda sebelumnya dan tidak di sini-
-alasannya, itu karena sekarang anda hanyalah seorang Bocah Le-!!]
'Mah' ingin ucap PIX, namun sebelum ia mengucapkan itu, aku lansung memotongnya dan berkata...
"tu-tunggu,...tunggu dulu PIX, aku bisa mengerti kalau yang pertama. tapi, yang kedua itu aku tidak mengerti sama sekali-
-lagi pula, Hubungan antara seorang Bocah dengan kecerdikan itu sangatlah berbeda."
[tidak, Master salah, Hubungan antara seorang Bocah dengan kecerdikan itu hampir sama.]
ucap PIX, setelah itu ia melanjutkan lagi....
[sebagai Contoh. jika umur seseorang bertambah tua, maka otak mereka pasti akan bertambah besar dan Data(Ingatan/pengetauan) yang tersimpang di dalamnya pun makin banyak.-
-begitu pula dengan seorang Bocah, jika tubuh mereka masih anak - anak, sudah pasti otak mereka juga masih kecil dan Data(Ingatan/pengetauan) yang tersimpang di dalamnya pun hanya sedikit. jadi...]
sesaat PIX berhenti. ia menatap mataku dengan ekspresi kasihan sambil berkata.
[..Sudah jelas kan. Master yang saat ini hanyalah seorang Bocah, tidak mungkin punya kecerdikan seperti Tubuh anda yang dewasa di kehidupan sebelumnya.]
ucap PIX dengan nada mengejek. mendengar itu aku lansung terlihat kesal.
meskupun aku mengerti apa yang di katakan PIX. namun aku tetap tidak mau terima.
"Maaf PIX, bisa kau jelaskan lebih sederhana, sepertinya aku hanya bisa mengerti sedikit."
ucapku seolah - olah ingin menantangnya. mengetaui hal itu PIX lansung berkata.
[baiklah, kalau Master memang segitunya tidak mau terima, Kalau anda Bodoh, aku akan menjelaskannya lagi.]
"WOY!"
bentak aku dengan marah. namun tanpa pedulikan PIX terus melanjutkan..
[kalau begitu, supaya anda bisa mengerti Coba jawab pertanyaan ini.-
-Seandainya saja ada seorang Bocah yang ukuran tubuhnya sama persis dengan tubuh anda yang sekarang melawan orang Dewasa yang ukuran tubuhnya sama dengan Kehidupan anda sebelumnya dalam hal matematika, kira - kira siapa yang akan menang?]
tanya PIX dengan senyuman seringai. mendengar itu, tanpa perlu pikir panjang pun semua orang pasti sudah tau jawabannya.
"tentu saja paman itu yang menang, jangankan matematika, pelajaran yang lain pun ia pasti akan tetap menang." jawabku
[itu, Master sudah tau jawabannya.]
saat PIX mengatakan itu, untuk sementara aku menatapnya terus, dimana ia seperti mengatakan.
setelah aku mengetaui itu, aku lansung mendesah "haaaa..." dan berkata...
"baiklah, kali ini aku yang kalah dan kau yang menang."
[baguslah kalau Master sudah mengerti.]
ucap PIX, dimana aku lansung berdiri dan berjalan ke kasurku.
yaa, sebetulnya dari tadi kami bicara seperti itu, itu karena aku ingin tau apa aku bisa membodohi PIX atau tidak, tapi sepertinya dia lebih pintar dari yang aku pikirkan.
pada saat memikirkan itu, tak lama kemudian akhirnya aku sampai di kasurku, dimana aku lansung membuang tubuhku di kasur sambil membalik badanku dan melihat ke arah atas.
"fuuu...hari ini aku sangat capek"
ucapku di mana aku menghembuskan nafasku. setelah itu aku melihat telapat tanganku di depan wajah.
dimana aku ingat lagi apa yang sudah di beritaukan PIX. bahwa...
TANGAN BOCAH INI SUDAH MENGAMBIL NYAWA SESEORANG. TAPI..
(Kenapa Keluarga Ini Terlihat Biasa - Biasa Saja, Seolah - Olah, Mereka Tidak Menganggap Kalau Bocah Ini Sudah Mengambil Nyawa Orang.)
ketika aku memikirkan itu, aku membuang tanganku kembali ke kasur. sambil mendesah "haaa.." dan berbisik...
"Sudahlah, tidak ada gunanya memikirkan itu."
setelah membisikkan itu, perlahan aku mencoba untuk menutup kedua mataku untuk tidur.
__ADS_1
namun sesaat aku menutup mataku, sebuah sengatan Listrik mengalir di mataku yang Benjol. hingga membuat aku teriak kesakitan
"~~ARGHHHH!! MATAKU SAKIIIIIIIIT!!"