
ketika aku memberitau Rusli dan Lia bahwa Kak Rangga akan pulang hari ini. entah kenapa ekspresi mereka terlihat sangat terkejut.
bahkan aku yang melihat itu merasa bingun dan mencoba bertanya. namun, sebelum aku bertanya, dengan cepat Rusli bicara.
"Leon, Apa benar, Kakakmu Rangga akan pulang hari ini?"
"eh, yah itu benar." jawabku
namun, ketika aku mengatakan itu, ekspresi Rusli terlihat senang, bukan hanya ia bahkan Lia pun ikutan juga senang.
meskipun aku bingun kenapa suasana mereka berdua tiba - tiba berubah. tetapi aku tetap mencoba bertanya.
"Omong - omong, apa kalian kenal Kak Rangga?"
"apa yang kau katakan Leon, tentu saja kami kenal. bukankah kita bertiga ini adalah Muridnya."
"hah Murid? siapa?"
"Aku, Lia dan kamu."
mendengar apa yang di katakan Rusli membuatku lansung melebarkan mata Karena terkejut.
sebab, jika kita perhatikan baik - baik.
baik Tubuhku maupun tubuh kedua bocah di depanku. kami ini seperti tidak pernah mendapatkan pelatihan apapun. baik dalam belajar maupun Latihan fisik.
itu berarti, guru yang mereka maksud bukan Dua hal yang aku katakan tadi melainkan sesuatu yang lain. artinya...
"Rusli, jika Benar kita muridnya Kak Rangga. itu berarti apa yang Ia ajarkan?"
saat aku bertanya, Rusli terlihat sangat senang. sampai - sampai ia menunjukkan jari jempolnya ke arahku.
"Bukankah sudah jelas. ia mengajarkan kita cara bermain Game untuk masuk ke dunia ESPORT"
(sudah kuduga.)
jawabku lansung di dalam pikiran. sambil melihat ekspresi mereka, seolah - olah sudah Pro dalam bermain game.
(haaa, Otak mereka sepertinya sudah rusak, harus di bawah nih para Bocah ke rumah Sakit.)
[kau Betul sekali Master.]
saat PIX menjawabnya, tiba - tiba kami bertiga mendengar suara Mobil di depan Pintu Gerbang sekolah.
ketika kami melihat ke arah sana, kami melihat sebuah mobil mewah Lamborghini. tanpa penutup di atasnya.
melihat Mobil itu, aku lansung tau siapa Orang yang menaikinya. yaitu Kakaknya Sara, bernama Firdaus.
"Hah, Bukankah anak itu temannya Sara."
ketika Firdaus melihatku, ia lansung memanggilku.
"OI, LEOOOOON, SINI, SINI!"
saat ia menyuruhku pergi ke sana. perlahan aku mendekatinya sambil di ikuti Lia dan Rusli di belakangku.
sesampainya kami di sana. Firdaus lansung menatapku dan mulai bertanya.
"Leon, apa kau lihat Sara?"
"kalau kau Cari Sara, dia sepertinya masih membersihkan kelas."
"membersihkan kelas?"
ketika Firaus terlihat bingun dan mencoba bertanya. dengan santai aku menjawabnya.
"ya, hari ini dia yang bertugas bersih - bersih."
"hmmm, begitu ya,....omong - omong, apa mereka berdua temanmu?"
saat Firdaus bertanya sambil melihat ke arah Rusli dan Lia. dengan cepat aku menjawabnya.
"yaa, bisa di bilang begitu."
setelah aku mengatakan itu, Rusli lansung megenggam pundakku sambil mulai membisikkan sesuatu.
"Leon, siapa kakak kaya ini?"
"oh, ia,....ia adalah Kakaknya Sara."
"SARA? MAKSUDMU SARA TEMAN KELASMU YANG DINGIN ITU?"
Ketika Rusli tanpa sadar meneriakkan itu. Lia lansung memukul kepalanya.
BUK!!
"~ughh,..APA YANG KAU LAKUKAN LIA?"
"....."
Tanpa menjawab Lia lansung melirik ke arah samping. ketika Rusli mengikuti pandangan Lia. disana Ia melihat Firdaus Ekspresinya terlihat bermasalah.
"hah, ma- maafkan aku."
__ADS_1
"tidak, kau tidak perlu minta maaf, lagi pula, aku mengerti kok apa yang kamu katakan."
meskipun Firdaus mengatakan itu, namun ia tetap terlihat sedih saat mendengar apa yang di katakan Rusli.
sebab meskipun ia tau kalau adiknya kurang berintraksi dan tidak mempunyai teman karena sifatnya yang sangat dingin.
namun, mendengar murid yang satu sekolah dengan adiknya mengatakan itu, tetap saja sebuah pukulan baginya.
(haaa, ini benar - benar sangat merepotkan)
ucapku di dalam pikiran, setelah itu perlahan aku melihat ke arah Firdaus sambil menatapnya dengan tatapan tenang.
"Oi Firdaus."
"umm, ada apa Leon?"
"jujur saja, aku tidak peduli apa yang dikatakan para murid tentang adikmu. tapi yang aku tau, adikmu adalah orang yang sangat baik dan rajin belajar, bahkan ia sering membantuku dan membantu Bu Linda membawakan barang - barangnya ke ruang Guru."
"eh, be- benarkah?"
saat Firdaus terkejut dan mencoba bertanya. dengan tenang aku menjawabnya.
"tentu saja. selain itu, meskipun para Murid sekolah ini mengatakan kalau adikmu Orang yang sangat dingin dan suka marah. namun, dari pandanganku ia hanyalah seorang gadis yang sangat cantik."
mendengar apa yang aku katakan membuat, Rusli, Lia dan juga Firdaus lansung melebarkan mata karena Terkejut.
sebab dari pandangan mereka, ia tidak pernah melihat Sara seperti itu, melainkan hanya seorang gadis yang sangat dingin dan susah untuk di dekati.
ketika memikirkan hal itu, tiba - tiba Firdaus terlihat kaget sambil mulai Tersenyum.
"Oh Sara, kapan kamu ada di situ."
mendengar apa yang dikatakan Firdaus membuat Rusli dan Lia Lansung kaget dan melihat ke arah belakang.
"~~Le~Leon dia ada di sini."
ucap Rusli sambil meneteskan keringat dingin dan menarik - narik lengan bajuku.
perlahan aku melihat ke arah belakang dari balik pundak. dimana Sara Sedang berdiri tepat di belakangku sambil melipat tangannya.
"Sara ya, apa kau sudah selesai bersih - bersih?"
"yah, aku dah selesai dari tadi."
"dari tadi? kapan kamu berdiri di situ."
"saat temanmu bilang. aku adalah gadis Dingin."
"~Hiii!!"
namun, tanpa pedulikan itu. aku mencoba bertanya lagi ke Sara.
"Sara, apa kamu marah?"
"tidak, aku sudah biasa di bilangin seperti itu."
"begitu yah." jawabku dengan santai.
namun, berbeda dengan kami berdua.di sisi lain. baik Rusli, Lia maupun Firdaus. terlihat shock.
sebab mereka tidak pernah menyangkah, kalau aku bisa - bisanya bicara normal dengan Sara, setelah di dengar mengatakan itu.
meski begitu, tanpa pedulikan tatapan mereka, aku bicara lagi dengan Sara.
"omong - omong Kakakmu sudah menunggumu dari tadi?"
"yah, aku dah tau."
"apa kamu tidak naik?"
ketika aku bertanya, untuk sementara Sara tidak mengatakan apapun dan hanya menatap tatapanku yang tenang.
namun, setelah beberapa detik kemudian, ia mulai berjalan ke arah Mobil dan lansung masuk ke dalam.
"Kak apa yang kau lakukan, jangan diam saja ayo kita jalan."
"eh, ta- tapi kau dengarkan tadi apa yang di katakan Leon."
"yah, aku dengar itu."
"kalau gitu, bukankah kalian berdua harusnya saling tersipu ma-!!"
sebelum Firdaus menyelesaikan kata - katanya dengan kuat Sara mencubit tangannya, sambil menatapnya dengan tajam.
"AKU BILANG CEPAT JALAN!"
"~~aghh, ba- baik - baik, Kakak akan jalan sekarang."
Setelah itu, Firdaus lansung menyalahkan Mobilnya, sambil melihat ke arah kami.
"kalau begitu, kami pergi dulu."
"yaa, hati - hati di jalan."
__ADS_1
jawabku dengan tenang. setelah itu Firdaus lansung menjalankan Mobilnya.
namun, sesaat Mobil itu berjalan, aku melihat Sara sedang melirik ke arahku. hingga akhirnya Mobil itu malaju dan meninggalkan Sekolah.
"haaa, akhirnya mereka pergi juga,...sekarang."
ketika aku melihat ke arah Rusli dan Lia. mereka berdua masih saja terkejut.
"Oi, jangan diam saja, ayo cepat pergi ke warnet."
ucapku sambil berjalan meninggalkan mereka.
sesaat itu juga Mereka berdua lansung sadar dan mencoba mengejarku.
"OI LEON TUNGGU KAMI"
___________________________________
___________________________
di rumah Leon
ketika Rangga sudah Sampai di rumah. ia lansung membantu para pelayan membawa Barang - Barangnya ke dalam Kamar, yang sudah di bersihkan tadi malam.
setelah mereka menaruk barangnya di dalam kamar, saat ini ia sedang duduk di ruang tamu bersama dengan istri, anak, dan kedua orang tuanya.
"haaa, akhirnya selesai juga."
ucap Rangga sambil bersandar di sofa dan melihat ruangan sekitar. setelah itu ia melanjutkan lagi.
"meskipun sudah dua tahun, tapi interior Rumah ini belum berubah sama sekali ya?"
ketika Rangga sedang bertanya, ayah yang lansung menjawabnya.
"yah, awalnya kami pernah berpikir untuk mengubah Interior rumah ini. tapi karena kerjaan di luar kota sangat banyak. jadi kami membatalkannya."
"begitu yah,.....omong - omong mereka berdua ada di mana?"
"maksudmu Siska, Leon?"
"yah."
jawab Rangga secara singkat setelah itu, Ibu yang sedang memangku Fira di Sofa. lansung menjawabnya.
"kalau kau cari Leon sama Siska mereka belum pulang sekolah."
"hmm, kapan mereka pulang."
"kalau Siska sekitar jam 1 atau jam 2 siang, sedangkan Leon, seharusnya ia akan pulang sebentar lagi..."
"benarkah, kalau gitu aku akan tunggu ia di sini."
setelah Rangga mengatakan itu, ia mulai menunggu Leon pulang sambil bicara panjang lebar dengan ayah dan ibunya.
namun, setelah beberapa saat mereka menunggu. entah kenapa Leon tetap saja tidak kunjung pulang.
hingga Akhirnya pada saat jam 1 siang, ketika Rangga masih asik ngobrol dengan ayah dan Ibu, tiba - tiba....
"aku pulang."
terdengar suara Gadis di pintu Rumah yang sedang terbuka.
namun, ketika mendengar suara itu. tanpa melihat ke arah sana, Rangga lansung tau siapa pemilik suara itu.
"suara ini? jangan bilang Siska sudah pulang?"
ketika Rangga mencoba bertanya. Ibu yang sedang bemain - main dengan Fira, lansung berhenti dan melihat ke arah jam di dinding.
dimana sudah menunjukkan jam 1 siang.
"kau benar. sepertinya kita Sangat asik ngobrol, sampai - sampai Lupa waktu."
"Hahah, ibu benar juga..."
ucap Rangga, setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke arah Airani, dan mencoba bertanya.
"Omong - omong Rani, apa kamu tidak lelah. jika kamu lelah, kamu bisa kok pergi ke kamar istirahat. biar aku yang jaga Fira."
"tidak, aku tidak apa - apa kok. lagi pula sudah lama juga aku tidak melihat mereka berdua."
"begitu ya."
jawab Rangga sambil tersenyum.
di sisi lain, ketika Siska sedang berjalan ke Ruang Tamu, ia mendengar suara yang sangat bising.
"Ibu apa kau ada di dalam. aku sudah pu-!!"
sesampainya Siska di Ruang tamu, tiba - tiba ia lansung berhenti. Sebab di depan matanya, ia Melihat Kakak pertamanya yang sudah meninggalkan Rumah ini selama 2 Tahun sedang duduk di Sofa, sambil melihat ke arahnya dengan Senyuman.
"Oh Siska, selamat Datang."
"Ka~Kak Rangga!"
__ADS_1