
Di pagi hari tepatnya di jalan perumahan. Di sana terlihat Bulan sedang Berjalan sambil membawa tasnya untuk pergi ke sekolah.
Namun, saat ia berjalan tiba - tiba ia lansung berhenti dan matanya melebar.
Sebab tepat di depan matanya, di sana ia melihat Leon. Bocah yang pernah ia buli, sedang bersandar di tembok, sambil melipat kedua tangannya.
"~Le-Leon!"
Pada saat Bulan menyebut namanya, perlahan Leon mengalihkan pandangannya ke arah Bulan. Sambil menatap matanya dengan tenang namun tajam.
"Yo, aku sudah menunggumu BULAN."
Ucapnya sambil seringai
__________________________________
_______________________________
Setelah beberapa saat Bulan bertemu dengan Leon. Saat ini ia sedang duduk di ruang kelasnya.
Dimana ia sedang dengar Obrolan 2 temannya yaitu Felik dan Erina. Tepat di sampingnya.
"Hei, kalian sudah dengarkan Insiden kemarin?"
Saat Erina bertanya, Felik menjawab..
"Yah, aku sudah dengar. aku dengar mereka semua sedang di rawat di rumah sakit."
"Benar, coba kau lihat ini, aku dapat beberapa Foto dari temanku saat ia berkunjung di sana." ucap Erina sambil mengulurkan Hpnya ke arah Felik.
"Eh Benarkah, coba aku lihat."
Ucap Felik sambil mengambil Hp Erina yang di ulurkan dan mulai melihat beberapa foto yang terdapat di Hp itu.
Dimana, di situ terlihat jelas ada banyak sekali Anak yang wajahnya sedang di perban,
bahkan Felik bisa lihat kalau wajah mereka di penuhi oleh benjolan akibat Pukulan yang mereka terima.
Namun, bukan berarti semua anak mendapatkan luka seperti itu. Sebab Felik juga melihat ada sekitar 7 atau 8 anak yang lukanya berada di dahi. Dan dahinya itu sedang di perban juga.
Di tambah lagi mereka kelihatannya sudah sadar, di bandingkan anak yang wajahnya di perban, belum sadar sama sekali.
Melihatnya saja, Felik lansung tau kalau perkelaian yang mereka alami bukanlah perkelaian biasa, melainkan perkelaian yang sangat Brutal.
Sebab di Lihat dari manapun Luka yang mereka terima sangatlah parah, bahkan ada dari mereka yang wajahnya terlihat Hancur. Di tambah lagi Hidungnya terlihat patah.
Sehingga Felik yang melihat itu merasa Ngeri saat melihatnya, bahkan ia sampai meneteskan keringat dingin.
"Aku tau kalau mereka semua mengalami luka parah, tapi tidak ku sangkah akan separah ini. di tambah lagi bukankah mereka ada banyak? Siapa yang melakukan ini pada mereka?"
Saat Felik Bertanya - tanya. Di sisi lain Erina terlihat terkejut, sebab ia tidak menyangkah kalau Felik belum tau siapa awal mula dari insiden ini.
"Nah Felik, jangan bilang kau belum Lihat pesan di Grup?"
Ketika Erina Bertanya, Felik terlihat Bingun dan bertanya balik.
"Pesan di Grup?...hah, maksudmu di Grup itu yah?"
"Umm!"
angguk Erina, setelah itu Felik menjawab..
"Maaf, sebetulnya kemarin aku terlalu sibut latihan jadi..."
".. Kau tidak melihatnya yah?"
Sambung Erina
"Y-yah!"
Jawab Felik. Setelah itu ia bertanya..
"Jadi ada apa di Grup itu?"
Saat Felik bertanya, Erina tidak mengatakan apapun. Sebab ia pikir sangat merepotkan jika menjelaskan hal ini padanya jadi....
"Sini, Hp itu."
Saat Erina meminta Hpnya yang di pegang Felik. Felik lansung memberikannya.
Setelah itu, Erina mulai mainkan Hpnya dan lansung masuk Ke dalam Chatting Grup. Dimana memperlihatkan sebuah pesan Yang mengatakan Kalau SMA Xxxxx, sedang mencoba mengambil permintaan Luis dan mereka semua sedang mencari keberadaan Leon.
Awalnya Erina terlihat senang saat melihat pesan tersebut. Sebab ia pikir Jika mereka ada sebanyak itu, maka Orang yang melindungi Leon sampai sekarang kemungkinan besar akan di habisi juga. Namun sayangnya ia salah besar.
Sebab meskipun mereka sudah banyak, mereka tetap saja kalah, di tambah lagi mereka semua malah mendapatkan luka parah. Sehingga Membuat Erina lansung merinding ketakutan.
"Erina, kau kenapa?"
__ADS_1
Saat Erina sedang memikirkan itu, tiba - tapi ia di panggil oleh Felik dari samping, hingga membuatnya sadar kembali.
"Ti-tiddak, aku tidak apa - apa.."
Ucapnya, setelah itu ia megulurkan Hpnya ke arah Felik dan melanjutkan lagi.
"Omong - omong, coba kau lihat ini."
Saat Felik mengambil Hp tersebut, di situ terlihat sebuah pesan yang mengatakan...
SMA XX sedang merencakan untuk mengambil Permintaan Luis dan saat ini mereka semua sedang berpencar untuk mencari Leon di segala tempat.
Melihat hal itu, membuat Mata Felik lansung melebar karena terkejut. Sebab jika ini memang benar itu berarti....
"Oi Erina, jangan bilang pesan ini..."
"Kau Benar, pesan itu berhubungan lansung dengan insiden ini. Selain itu coba kau lihat di bawahnya lagi."
Saat Felik mulai melihat beberapa pesan yang ada di bawahnya. Di sana mereka semua sedang membicarakan bahwa Rumor yang mengatakan kalau Leon sedang di lindungi oleh seseorang mungkin saja benar.
Meskipun Felik masih tidak ingin mempercayainya namun ketika melihat luka anak - anak itu. Mau tidak mau Felik harus mempercayainya juga.
"Jadi begitu, Bocah itu benar - benar punya pelindung."
Saat Felik mengatakan itu. Erina lansung jawab.
"Yah. Karena tidak mungkin Leon bisa mengalahkan mereka semua. Selain pelindung-!!"
'Nya' ingin ucap Erina. Namun saat ia ingin mengucapakan itu. Bulan yang dari tadi hanya diam dan menunduk saja tiba - tiba lansung teriak di dalam kelas...
"I-ITU TIDAK BENAR!"
Mendengar teriakannya tersebut, membuat semua Siswa yang ada di kelas ini lansung melihat ke arahnya. Tanpa kecuali 2 temannya itu.
"Bulan, apa maksudmu tidak benar?"
Saat Erina bertanya, dengan mulutnya yang gemetar Bulan mau menjawab namun....
"~i-itu,...sebetulnya-!"
Sesaat ia mau jawab tiba - tiba ia lansung berhenti saat ingat ucapan Leon Kemarin.
Dimana Leon mengatakan....
Erina yang melihat itu, merasa bingun dan memcoba bertanya lagi, namun...
"Bulan, apa yang ingin kau katakan tadi?"
"~Ti-Tidak, bukan apa - apa kok. Tolong lupakan saja."
Meskipun Bulan mengatakan itu. Tetapi baik Erina ataupun Felik merasa ada sesuatu yang aneh dengan Bulan Hari ini. Seolah - olah ia sedang menyembunyikan sesuatu.
Namun, ketika Erina perhatikan kalau Tubuh Bulan terlihat agak Gemetar, ia lansung hentikan niatnya untuk bertanya.
Sebab ia merasa tidak enak jika bertanya lebih jauh lagi.
Sedangkan Di sisi lain. ketika Bulan terus di tatap oleh 2 temannya. Bulan tidak pedulikan hal itu, melainkan ia sedang mengingat lagi, apa yang ia bicarakan dengan Leon pagi tadi.
Dimana, Saat itu mereka berdua sedang bicarakan soal.....
________________________________
__________________________
"Yo, aku sudah menunggumu BULAN."
Saat Leon mengatakan itu, Bulan terlihat sangat marah. Sebab ia merasa seperti sedang di ledek oleh Leon.
"Kau, apa yang kau inginkan?"
Sambil bertanya, Bulan menatap Leon dengan sangat marah.
Namun, meskipun Leon di tatap seperti itu. Bukannya ia takut malahan ia terlihat senang.
"Oi tidak usah menatapku seperti itu, aku hanya ingin bicara denganmu saja Bulan."
"Bicara? Maaf aku tidak punya waktu bicara denganmu, aku harus cepat pergi ke sekolah."
Sambil mengucapkan itu bulan lansung berjalan melewati Leon dan mencoba menjauh darinya. namun saat ia mencoba menjauh tiba - tiba....
"BULAN JIKA KAU PERGI DARI SINI, AKU BISA PASTIKAN KELUARGAMU AKAN DI TIMPAH KESULITAN."
Mendengar ucapan Leon, membuat Bulan lansung berhenti berjalan sambil meremas tangannya dengan kuat.
"~~Leon, apa maksudmu mengatakan itu?"
__ADS_1
"Apa kau tidak dengar, aku bi-!"
Sebelum Leon menyelesaikan kata - katanya, Bulan lansung berlari kearahnya sambil menarik bajunya ke atas. Dimana wajah mereka Hampir berdekatan satu sama lain.
"LEON, AKU TAU KAU MEMBENCIKU TAPI, JANGAN MELIBATKAN KELUARGAKU!"
Sambil meneriakkan itu, Bulan menatap Leon dengan sangat marah. Namun bukannya takut Leon dengan tenang melihat Bulan sambil menatapnya dengan tajam.
"Kau bilang Jangan libatkan keluargamu. Hehehe jangan membuatku tertawa..."
"YANG DULUAN MELIBATKAN KELUARGA DI SINI ITU KALIAN, BUKAN AKU BRENGSEET!"
Ucap Leon sambil meremas Tangan Bulan dengan kuat. Hingga membuat Bulan merinti kesakitan.
"~aghhh, Le~Lepaskan, ini sakit."
Namun tanpa pedulikan itu, Leon terus meremas tangannya. Sambil mulai membisikkan sesuatu tepat di telingannya.
"SEKARANG PILIH LAH, KAU INGIN PERGI DARI SINI ATAU BICARA DENGAN KU."
Setelah membisikkan itu, Leon lansung melepas tangannya, hingga membuat Bulan lansung terjatuh duduk di tanah.
Saat bulan duduk di situ, untuk sementara ia mengelus - ngelus tangannya yang sakit.
Namun, setelah beberapa detik kemudian ia melihat ke arahku dengan ekspresi kesal.
"~Ba~Baiklah, aku akan bicara denganmu, tapi jangan lama - lama aku harus pergi sekolah."
"Tenang saja, aku tau kok. Lagi pula aku juga mau pergi sekolah."
Ucap Leon sambil terlihat senang.
Namun sesaat ia terlihat senang Tiba - tiba ekspresinya berubah serius saat menatap Bulan.
"Kalau begitu, pertama - tama kau pasti sudah Lihat kan, berita tadi malam?"
Saat Leon bertanya, dengan suara gemetar Bulan menjawab...
"Y~yah, aku lihat."
"Nah, kalau begitu kau pasti sudah tau kalau saat ini, Para Polisi sedang menyelidiki soal insiden itu kan?"
"~So-Soal itu, tentu saja aku ta-!!"
'U' ingin ucapnya, namun Bulan lansung berhenti dan melihat ke arahku dengan takut.
"-Tu-tunggu dulu, Leon jangan bilang.."
"Benar, kemungkinan besar para Polisi itu akan mendatangimu nanti."
"Hah, kenapa hanya aku saja, bukankah kau yang terlibat?"
Saat Bulan bertanya. Dengan tenang aku jawab.
"Soal itu kau tidak perlu tau, yang jelas para polisi itu hanya mendatangimu saja. Dan kau tau kan apa yang harus kau lakukan?"
Sambil mengucapkan itu, Leon menatap tajam Bulan hingga membuat tubuh Bulan terlihat gemetar.
"~y-yah, aku mengerti,...A-aku cuma perlu tutup mulut soal insiden itu kan?"
"Baguslah kalau kau mengerti."
jawab Leon yang terlihat senang. Setelah itu perlahan Bulan berdiri sambil mencoba berpikir.
(Jika aku mengatakan yang sebenarnya ke para Polisi itu, bukankah yang di tangkap hanya Leon? Dan jika itu terjadi, maka baik aku ataupun keluargaku akan-!!)
'Selamat' pikirnya.
Namun sesaat Leon memperlihatkan Hpnya ke Bulan. Tiba - tiba ia lansung berhenti berpikir.
Sebab apa yang ia lihat di hp itu, Benar - benar bisa menghancurkan kehidupan damainya. Bukan hanya itu saja, bahkan besar kemungkinan keluargannya pun ikut juga terlibat.
Dengan eskpresi yang pucat dan wajah di penuhi keringat dingin, Bulan mencoba bertanya...
"~~Le~Leon, bagaimana kau bisa mendapatkan itu?"
"Soal itu Kau tidak perlu tau. Yang jelas kau pasti sudah mengerti, apapun yang kau pikirkan atau mau lakukan, semuanya akan tetap sama. KELUARGAMU AKAN DI TIMPAH KESULITAN."
Mendengar hal itu, membuat Bulan lansung menundukkan kepalanya
Sebab apa yang dikatakan Leon bukan hanya sebuah Gertakan saja. Melainkan itu benar - benar Bisa saja terjadi pada keluargannya.
Sehingga satu - satunya jalan yang Bulan punya saat ini adalah....
"~Ba~Baiklah, akan ku lakukan apa yang kau suruh." Bisik Bulan Sambil menahan Ke kesalannya.
Di sisi lain, ketika Mendengar Bisikan tersebut, membuat Bibir Leon lansung melengkun seperti bulan sabit. Sambil tatapannya memancarkan cahaya Di balik Pony nya.
__ADS_1
"Heh."