
Setelah aku menatap Kak Rangga dan Carla aku mencoba berjalan ke arah mereka, dimana ketika aku udah berada di dekat Kak Rangga ia mencoba bertanya padaku.
"Le-Leon, kapan kamu pulang?"
"Baru saja."
Jawabku dengan tenang.
"Be- begitu, aku pikir kau menginap di rumah Temanmu."
"Menginap? kapan aku bilang begitu. Aku hanya Bilang kalau malam ini aku akan pulang tengah malam."
Ucapku, setelah itu aku mengalikan pandanganku ke arah Carla. Dimana ketika aku melihat ia, aku merasakan kerinduan jauh di dalam hatiku.
Terlebih, jika aku tidak menahannya sekuat tengan, aku merasa bahwa Air mataku akan menetes keluar dan mengalir di wajahku.
(Carla, lama tidak bertemu.)
Ucapku di dalam pikiran sambil menatap ia dengan senyuman.
Carla yang lihat senyumanku itu, lansung memiringkan kepalanya ke samping, dimana ia merasa ada sesuatu yang aneh.
Namun tanpa pedulikan itu, aku lansung mendengus dan berbalik ke arah Kak Rangga dan bertanya...
"Omong - omong Kak Rangga boleh aku tau, siapa yang kau temani bicara."
Ucapku sambil menunjuk Carla yang berada di Laptop. Kak Rangga yang lihat itu, untuk sesaat ia terbatuk. "Cough!!" setelah itu ia menjawab..
"Oh dia,...dia adalah Kak Carla, teman dekat Guruku-.
-Dan Kak Carla, kenalkan ini adalah adekku, namanya Leon."
{Halo.}
Ucap Carla sambil melambaikan tangannya ke arahku. Tanpa menjawab aku hanya menatap dirinya.
"Hmmm."
namun setelah beberapa detik kemudian aku kembali melihat Kak Rangga dan bertanya.
"Anu Kak Rangga, dari tadi aku dengar kau terus saja memanggil wanita ini Kak Carla, apa ia anak Simpanan ayah?"
{"TENTU SAJA TIDAKLAH."}
Jawab Kak Rangga dan Carla secara serentak.
"Benarkah?"
Saat aku tanya lagi, Kak Rangga lansung menggaruk rambutnya dan dengan ekspresi rumit ia menjawab...
"Yah itu benar. Lagi pula Leon, kenapa kau bisa bilang begitu, apa kamu tidak takut jika ayah nanti dengar?"
"Tidak,..aku tidak takut sama sekali. Lagi pula, palingan ayah lagi asik main kuda - kudaan sama ibu di dalam kamar." Jawabku dengan datar.
Mendengar itu, baik Kak Rangga maupun Carla lansung membeku, terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun.
Sebab, mereka tidak pernah menyangkah, kalau aku bisa - bisanya berkata seperti itu dengan gampangnya.
"......."
"......."
Namun, tanpa pedulikan itu, aku berahli ke arah Carla, dimana aku menatap kelopak matanya yang Hitam dan mencoba bertanya..
"Omong - Omong, apa kamu baik - baik saja?"
Pada saat aku tanya, mereka berdua kembali sadar dan Carla lansung melihat ke arahku dengan ekspresi linglung.
"Eh, Y~Yah, aku baik - baik saja, memang kenapa?" Tanya Carla.
"Bukan apa - apa kok, hanya saja aku perhatikan wajahmu terlihat pucat, jadi...."
Seolah - olah tau apa yang ingin aku katakan, Carla lansung menjawab..
"Begitu,...yaa tidak usah khawatir, lagi pula aku hanya kurang tidur saja."
"Benarkah?"
"Umm."
Angguk Carla sambil tersenyum.
Namun ketika aku perhatikan senyumannya itu, entah kenapa aku bisa tau kalau senyumannya itu bercampur dengan kesedihan.
Sehingga tanpa aku sadari, aku lansung meremas tanganku dengan erat sambil menatap Carla dengan sedih.
__ADS_1
Di sisi lain, Kak Rangga yang lihat itu merasa ada sesuatu yang aneh denganku, sehingga ia mencoba bertanya...
"Leon, ada apa? menatap Kak Carla seperti itu?"
"Apa yang kamu katakan?"
Tanyaku sambil melirik Kak Rangga. kak Rangga yang dengar itu, lansung berkata...
"Yaa, kau tau, wajahmu terlihat sedih tadi."
"...."
Tanpa menjawab, untuk sementara aku hanya menatap ia terus. Namun setelah beberapa detik kemudian aku kembali melihat Carla dan berkata...
"Itu hanya hayalanmu saja."
Ucapku, sambil menutup kedua mataku. Untuk menenangkan diriku. Setelah aku udah tenang, perlahan aku membuka mataku kembali dan melihat ke arah Kak Rangga.
"Omong - omong aku sudah tau Kalau Carla bukan anak Simpanan ayah, tapi apa Kak Rangga tidak takut jika Kak Rani melihat ini?"
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, Jika Kak Rani melihat kau menghubungi wanita lain malam - malam begini, kira - kira apa yang terjadi?"
Tanyaku, seolah - olah ingin membuatnya ketakutan. Namun bukannya takut Kak Rangga malah terlihat biasa saja.
"Oh soal itu yah, kau tenang saja, lagi pula Rani juga sudah tau kok hal ini."
Mendengar jawabannya itu, entah kenapa membuatku terlihat kesal dan lansung mendecatkan lidahku.
"Cih😒"
"Ada apa?"
"Tidak bukan apa - apa."
Ucapku dengan datar.
Saat aku terus bicara dengan Kak Rangga, di sisi lain terlihat Carla menatapku dimana ia mencoba memanggilku..
{Anu,..Leon.}
"Hmm."
Ketika aku mengalihkan pandanganku ke arah Carla, aku perhatikan ia melihatku dengan serius.
"Ada apa?"
{Leon, aku ingin tanya, apa kau mendapatkan pelatihan dari kakakmu?}
"Pelatihan?"
Tanyaku lagi sambil memiringkan kepalaku ke samping.
{Yah, dari yang aku lihat sepertinya kau sangat hebat menyembunyikan hawa keadiranmu, bahkan Kakakmu pun sampai tidak tau kalau kau sedang bersembunyi di sana.}
Ucap Carla sambil terlihat serius, namun berbeda dengan dia, di sampingku aku bisa rasakan tatapan Kak Rangga, dimana ia sedang menatapku dengan tajam.
(Yaa, itu tidak bisa di pungkiri, lagi pula mana ada seorang Bocah yang bisa menyembunyikan hawa keadirannya sampai seperti itu-
-Bahkan ia(Kak Rangga) yang sudah mengalami pertempuran hidup dan mati pun tidak bisa merasakan hawa keadiranku-
-namun, jika kalian menganggapku Bocah, maka kalian sudah salah sejak awal. Sebat meskipun tubuh ini hanyalah anak kecil. Namun di dalamnya ada makluk yang kalian sangat kenal, yang tidak lain adalah-!!)
{Leon.}
Pada saat aku memikirkan itu, tiba - tiba Carla memanggilku. mungkin ia khawatir denganku, karena aku diam saja dari tadi sehingga ia mencoba bertanya.
{Kau,...Apa kau tidak apa - apa?}
Tanya Carla
"Eh yah, aku tidak apa - apa."
Jawabku dengan Linglung. Kemudian aku menatap Carla dan bertanya..
"Omong - omong tadi kamu bilang, apa aku mendapatkan pelatihan dari Kak Rangga atau tidak kan?"
{Eh Y-yah.}
"Kalau begitu aku akan jawab.."
Sambil menunjuk Kak Rangga aku berkata...
"Asal kau tau, orang ini tidak pernah melatihku sama sekali, bahkan ia meninggalkanku selama 2 tahun."
__ADS_1
{Be-Benarkah?}
"Yah."
Jawabku sambil terlihat ngambek.
Tentu saja aku melakukan ini karena aku mengikuti sifat asli Dari Leon. Alasannya itu karena Leon Asli punya kekesalan besar terhadap Kakaknya karena sudah di tinggalkan keluar kota. Sehingga aku menggunakan ini untuk menipu mereka.
Ketika aku memikirkan itu, di sisi lain, Terlihat Carla sedang melihatku dengan serius dan bertanya..
{Leon, jika bukan kakakmu yang melatihmu kalau begitu siapa dong?}
Saat aku di tanya seperti itu, aku lansung berpikir.
(Jika aku di tanya seperti ini dulu, mungkin aku susah untuk menjawabnya. Namun sekarang berbeda, alasanya itu karena aku punya Pion lain, selain Bulan yang bisa kugunakan jika kemampuanku sampai di pertanyakan, yaitu...)
"TENTU SAJA AYAHKU LAH YANG MELATIHKU."
jawabku dengan nada tajam.
Benar, berkat mengupin pembicaraan antara Kak Rangga dan Ayah saat itu. Aku bisa lihat kalau orang itu (Ayahku) bisa ku gunakan sebagai Pion, untuk mengelabui semua pertanyaan yang di lontarkan soal kempuanku ini.
(TANPA KECUALI KAK RANGGA, YANG UDAH TAU SENDIRI DARI AYAH.)
Ketika aku memikirkan itu, aku bisa rasakan kalau Kak Rangga, Masih menatapku dengan tajam. Seolah - olah ia sedang mencari tau, apa aku Bohong atau tidak.
Namun, tanpa pedulikan Itu, aku menatap Carla terus, dimana ia berkata..
{Begitu,..jadi ayahmu yang sudah melatihmu yah.}
"Umm."
Angguk ku. Melihat itu. Carla lansung tersenyum dan berahli ke arah Kak Rangga, dimana ia berkata...
{Seperti yang di harapkan dari Adekmu, mungkin ia akan melampauinmu di kemudian hari Rangga.}
Ucap Carla sambil terlihat senang. Namun berbeda dengan Carla, Kak Rangga terlihat diam saja terus, dimana ekspresinya tidak bisa di lihat karena di tutupi oleh bayangan.
Melihat itu, baik aku maupun Carla merasa Bingun dan mencoba bertanya..
{Rangga, ada apa?}
"Kak, apa kau tidak apa - apa?"
Ketika kami berdua bertanya, Kak Rangga lansung kembali sadar dan melihat ke arah kami.
"Eh y-yah, aku tidak apa - apa."
Ucapnya dengan nada pelang, kemudian ia berahli ke arahku dengan ekspresi rumit dan berkata..
"Omong - omong Leon, ini sudah tengah malam, bukankah sebaiknya kau pergi tidur."
Meskipun aku belum mengantuk sama sekali dan masih ingin bicara dengan Carla. Namun, karena berbahaya jika aku tidak mendengarkannya (Gara - Gara tingkah anehnya tadi.) jadi...
"Kau benar, kalau begitu aku naik dulu."
Ucapku sambil berjalan ke arah tangga. Namun saat aku baru berjalan beberapa langkah. Tiba - tiba aku berhenti dan melihat ke arah mereka.
Dimana aku menatap Carla dengan Serius dan berkata...
"Oh iyah, aku lupa mengatakan ini-
-CARLA, KAMU TAU WANITA YANG SERING BEGADANG ITU, BISA MERUSAK KECANTIKANNYA LOH."
Ucapku dengan nada Lembut, Kak Rangga yang dengar itu lansung terlihat kebingungan dan bertanya..
"Hah, Leon apa yang kau katakan tiba - tiba begitu?"
Namun berbeda dengan Kak Rangga. Di sisi lain terlihat Mata Carla sangat melebar, seperti ia sudah mendengar sesuatu yang tidak bisa di percaya.
Melihat itu, bibirku lansung melengkun seperti Bulan sabit sambil berkata...
"Kalau begitu, aku pergi dulu Tidur."
Setelah mengucapkan itu, aku lansung berjalan naik kelantai dua dan meninggalkan mereka.
Di sisi lain, Carla yang melihat aku berjalan di tangga, Menatap Lurus punggungku, Dimana ia seperti sedang memikirkan Sesuatu.
(Kata - kata itu,...tidak, itu tidak mungkin,...mana mungkin ia.....)
Pada saat ia memikirkan itu, wajahnya terlihat sangat Buruk. Melihat itu, Kak Rangga lansung bertanya..
"Kak Carla, apa kau tidak apa - apa?"
{Eh yah, aku tidak apa - apa.}
__ADS_1
Jawab Carla sambil melihat Kak Rangga, kemudian ia mengalihkan pandangannya lagi ke arah tangga, dimana aku sudah tidak ada di sana.
{.......}