
"Pi~Postol anda bilang?'
"Yah."
Jawab Bajradaka secara Singkat, lalu kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Pintu, dimana ia memanggil salah satu Prajurit nya yang sedang berjaga di Luar.
"Arwan."
Prajurit itu pun masuk ke dalam dan lansung menghampiri Bajradaka.
"Apa anda memanggilku Pak?"
"Yah, tolong bawah semua barang yang kita temukan di lokasi tempat anak itu terjatuh, dan taruk semuanya di atas meja ini."
"Siap Pak."
Balas Perajut itu sambil memberi Hormat, lalu kemudian ia berbalik dan lansung Keluar dari ruangan ini.
_____________________________
___________________________
Setelah beberapa saat ia pergi tak lama Kemudian Prajurit itu pun kembali dengan membawa beberapa Barang di kedua tangannya seperti,..Tas, Hp, Perisai, Belati dan juga Pistol.
Setelah membawa itu semua ia lansung meletakkannya di atas meja yang berada tepat di hadapan Ayah dan juga Bajradaka.
Setelah menaruk barang - barang itu, ia pun keluar dari ruangan.
"Hmm, Jadi ini barang - barang yang anda temukan di tempat anak ku terjatuh?" tanya ayah.
"Yah, alasan aku membawa anda kemari itu karena aku ingin menanyakan Beberapa hal, salah satunya adalah apa anda Pernah mengajari anak anda caranya untuk menembak?"
Tanya Bajradaka sambil menatap ayah dengan Serius.
bukan hanya Bajradaka, Rangga pun sama Dimana Sorot matanya terus Melirik ayah seolah ia juga ingin tau akan hal itu.
Di sisi lain Ayah yang dari tadi hanya diam saja dan menatap pistol yang ada di atas meja mulai mengarahkan pandangannya ke arah Bajradaka.
Dimana ia tidak lansung Menjawab pertanyaan Bajradaka, melainkan ia mencoba bertanya balik.
"Boleh aku tau, Kenapa anda berpikir bahwa akulah yang telah mengajari anak ku caranya untuk menembak?"
"Itu karena kami sudah mencari tau dan mengetaui bahwa anda bukanlah warga biasa, melainkan anda adalah mantan Tentara yang pernah bergabung di kesatuan Khusus.-
-Itulah kenapa kami mengirah, mungkin saja anda lah yang telah mengajari anak itu."
"Hmm, Tapi bukankah anakku(Rangga) yang di sana juga sama, lagi pula ia juga seorang Tentara, jadi bisa saja dia yang ajari adeknya cara untuk menembak."
Ucap Ayah sambil menunjuk Rangga, tetapi Bajradaka lansung membantahnya.
"Maaf saja kalau itu tidak Mungkin."
"Kenapa Bisa?"
"Itu karena menurut laporan dari salah satu Informanku. Setelah Anak anda yang di sana(Rangga) Lulus dari Akademi Militer ia Sering di Tugaskan ke Luar Negeri, jadi tidak mungkin ia punya Waktu mengajari adeknya cara untuk menembak.-
-Selain itu Aku dengar juga ia tinggal di Luar Kota setelah menikah jadi sudah jelas hal itu tidak mungkin."
"Astaga kau benar - benar mencari Informasi kami dengan sangat baik yah.-
-Tapi memang benar sih ia tidak Punya waktu untuk mengajari Adeknya cara untuk menembak itu berarti Satu - satunya orang yang bisa mengajari anak itu adalah..."
"BENAR, ANDA SEORANG."
Sambung lansung Bajradaka dengan Tegas. Lalu Rangga yang sejak dari tadi hanya diam dan mendengar Permbicaraan mereka berdua mulai ikutan Juga.
"Ayah, apa kau benar - benar mengajari Leon?"
Untuk sementara Ayah tidak menjawab Pertanyaan Rangga dan hanya diam dan menatap Pistol di depannya(di atas meja).
__ADS_1
"....."
Namun beberapa menit kemudian Ayah menghela nafasnya "Haaa.." kemudian ia jawab.
"Yah kau benar, aku memang mengajari Adekmu caranya untuk menembak."
"Ke-Kenapa,...kenapa Ayah melakukan itu?"
"Kau bilang Kenapa, bukankah itu hal yang biasa bagi seorang Tentara untuk mengajari anaknya. Lagi pula aku juga mengajarimu dulu kan?"
"So-Soal itu...."
Rangga lansung terdiam dan tidak bisa berkata apa - apa seolah ia tidak bisa membalas perkataan ayahnya. Di sisi lain ayahnya tidak berhenti sampai di situ ia melanjutkan lagi.
"Selain itu, Bukan hanya aku saja yang melakukan hal seperti itu(Mengajari Anak - anaknya cara Menembak) aku yakin anda pasti juga melakukan hal yang sama, benarkan Bajradaka, atau mungkin aku harus memanggil anda Laksamana?"
Tanya Ayah sambil mengalihkan pandangannya ke arah Bajradaka, dimana Bajradaka terlihat tidak senang.
"Yah kau benar, aku memang mengajari anak - anakku caranya untuk menembak, tapi bukan berarti anda harus memberikan Barang - barang seperti ini kepada mereka. Apa lagi anak anda itu masih di bawah umur."
Ucap Bajradaka sambil menunjuk 3 barang yang ada di atas meja, dimana Ketiga barang itu tidak lain adalah Perisai, Belati dan Juga Pistol.
Tentunya bagi ayah, Ia tidak pernah ingat sekalipun memberikan barang - barang seperti ini kepada Leon.
Tetapi jika ia memberitaukan hal itu kepada Bajradaka sudah pasti Leon akan kena masalah, jadi satu - satunya yang bisa ia lakukan saat ini adalah Pura - pura saja agar Leon tidak mendapatkan masalah.
"Anda benar, sepertinya kali ini aku yang salah, aku benar - benar minta maaf."
"Tidak, Itu tidak apa - apa, yang jelas lain kali tolong jangan berikan barang - barang seperti ini lagi kepada anak Anda terutama Bocah itu."
"Um, aku mengerti."
Balas Ayah sambil mengangguk.
Setelah pembicaraan mereka selesai Rangga dan Ayah lansung berjalan keluar dari Ruangan.
Dimana mereka berdua bertemu dengan Brid yang sedang bersandar di Koridor sambil menyapa mereka.
Rangga Buru - buru menghampiri Brid dan bertanya...
"Paman Brid, apa yang kau lakukan di sini?"
"Yaa Sebetulnya ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu."
"Denganku?"
"Yah. Ini berhubungan dengan adekmu."
Mendengar hal itu Tiba - tiba mata Rangga lansung terlihat serius dan berahli ke arah Ayah..
"Ayah, kau kembali saja duluan, aku ingin bicara dulu sebentar dengan paman Brid."
"......baiklah, kalau begitu cepatlah kembali."
"Um, aku mengerti."
Balas Rangga sambil mengangguk. Lalu di saat ayah baru saja mau berjalan, Tiba - Tiba Brid ingat ada sesuatu yang ingin ia beritaukan ke ayah sehingga ia buru - buru memanggilnya.
"Oh iya Bagas."
"Um, ada Apa?"
"Aku lupa memberitaumu ini, sebaiknya kau cepat - cepat pergi ke sana karena Loli it-!..Maksudku istrimu sedang dalam masalah?"
"Eh Apa maksudmu?"
"Kau akan tau sendiri setelah sampai di sana." Balas Brid.
Lalu tanpa menunggu lama Ayah lansung berbalik dan buru - buru pergi meninggalkan tempat ini dan hanya Menyisahkan mereka berdua saja(Rangga dan Brid).
__ADS_1
"Omong - omong Paman Brid, masalah apa yang Ibuku alami? Sampai anda terlihat serius begitu?"
"Hah itu bukan masalah besar kok tidak usah di pikirkan, yang lebih penting ayo ikuti aku, kita bicara di Luar."
Tanpa banyak tanya Rangga lansung mengikuti Brid dari belakang.
_________________________________
_____________________________
Setelah Mereka sudah berada di luar, mereka lansung pergi duduk di tempat duduk yang ada di halaman, dimana mereka berdua sedang memperhatikan Orang - orang yang keluar masuk dari Rumah sakit.
"Jadi, apa yang ingin Paman Brid bicarakan?"
Ketika Rangga menanyakan itu, untuk sesaat Brid merokok. "~Fuuuu..." setelah Ia merokok ia melihat Rangga dan menjawab..
"Seperti yang aku katakan tadi, ini Soal Adekmu."
"Adek ku?...sudah kuduga anda Dengar juga pembicaraan mereka tadi di dalam kan?"
"Yah, aku dengar."
Balas Brid dengan Tenang. Lalu ia mulai menjelaskan...
"Menurut apa yang ia(Bajradaka) katakan, Kemungkinan besar alasan kenapa adekmu bisa terluka parah itu karena DIA MUNGKIN TELAH DI SERANG OLEH SELENA."
Rangga yang dengar itu tidak kaget dan terlihat tenang Seolah ia sudah tau dan setuju dengan pendapat Brid.
"Um, Aku juga berpikir seperti itu. Selain itu di lihat dari bagaimana Leon bisa jatuh dari atas langit, kemungkinan besar itu di sebabkan oleh kekuatan Selena, atau lebih tepatnya Kekuatan S Gearnya."
"Kau benar."
Balas Brid sambil menghisap Rokoknya kembali. Lalu Ia melihat ke atas Langit malam dan menambahkan.
"Tapi untung saja Adekmu di Buang tepat Di atas laut, Jika tidak adekmu mungkin saja sudah...MATI."
Meski Brid mengatakan itu dengan nada pelan, tetapi kata - kata itu entah kenapa tergian di kepala Rangga, sekaligus membuat tatapannya berubah dan terlihat tajam.
"Mati?...Kau benar, jika saja wanita itu membuang Leon tepat di atas daratan, Leon pasti sudah tidak ada di dunia ini lagi.-
-TIDAK BISA DI MAAFKAN, WANITA ITU TIDAK BISA DI MAAFKAN."
Rangga mengatakan itu dengan nada yang benar - benar sangat dingin dan aura membunuh keluar dari tubuhnya.
Meski Brid merasakannya tetapi ia mencoba untuk pura - pura tidak terlalu dengar dan bertanya..
"Eh Rangga, Apa kau mengatakan sesuatu tadi?"
"......Tidak, aku tidak mengatakan apapun."
"Benarkah?"
"Yah."
Jawab Rangga yang mulai kembali sedikit tenang. Lalu kemudian ia Berdiri dari tempat duduk dan melihat Brid.
"Omong - omong sudah saatnya kita kembali."
"Eh y-yah kau benar. Kalau begitu kau kembali saja duluan, aku mau menghabiskan Rokok ku dulu."
"Hmm baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."
Setelah Rangga meninggalkan tempat itu, Brid lansung menghela nafasnya "Haaa..!" kemudian ia Menghisap Rokoknya.
~Fuuuu!!
Setelah ia menghisap Rokok, ia meratapi Bulan yang bersinar di atas sana dan mengingat lagi Kata - kata yang di ucapkan Rangga tadi, dimana ia berkata....
__ADS_1
Meski ia belum tau pasti apa arti dari kata itu, namun yang jelas ada kemungkinan bahwa Rangga ingin membunuh Selena.
walaupun Kemungkinan itu belum bisa di pastikan, tetapi bagaimana pun caranya Brid harus menghindari hal itu terjadi, meski ia mungkin harus berhadapan dengan Rangga sekalipun.