
Ketika Kami Sedang makan, aku tiba - tiba berhenti makan dan berbisik "sudah waktunya." kemudian aku berdiri dari tempat duduk, dimana membuat Kak Rangga kebingungan dan bertanya - tanya....
"ada apa Leon? Apa kau sudah kenyang?"
"Tidak, aku ingin pergi ke toilet dulu sebentar."
Jawabku dengan tenang. Mendengar itu Kak Rangga lansung mendengus dan bertanya lagi..
"Begitu, apa kau tau tempatnya?"
"Yah, aku tau." jawabku.
"Baiklah, kalau gitu cepatlah kembali."
"Aku mengerti."
Seusai aku mengatakan itu, aku lansung berjalan dan pergi meningglkan Tempat itu.
______________________________________
____________________________________
Di saat aku berjalan di koridor, tempat dimana beberapa Tokoh terbuka. Aku merasakan ada beberapa keadiran seseorang yang sedang mengikutiku dari belakang.
Dimana keadiran tersebut berasal dari anak - anak berandalan yang sudah mengikutiku dari tadi.
(Bagus, mereka mengikutiku.)
Ucapku di dalam pikiran, PIX yang dengar itu lansung bertanya..
[Apa yang akan anda lakukan?]
(Pertama - tama, sebaiknya kita mencari tempat sepi terlebih dahulu. Setelah itu..)
[Anda akan menghabisinya?]
(Yah.)
Jawabku dimana tatapanku terlihat sangat tajam.
Kemudian aku menuju ke arah Lift dan masuk ke dalam sana, dimana Terdapat seorang Wanita Kantoran berumur sekitar 26 tahun.
"Permisi."
Di saat aku mengucapkan itu dengan sopan, si wanita lansung tersenyum dan memberiku Ruang untuk lewat.
Namun, Sesaat itu juga beberapa anak berandalan yang mengikutiku dari tadi lansung berlari dan mencoba menerobos masuk ke dalam. Dimana Membuat Wanita itu lansung menarikku ke pinggiran agar tidak di tabrak.
"minggir, minggir kami mau masuk."
setelah mereka semua masuk, mereka lansung berdiri tepat di belakangku dan Juga si Wanita.
Dimana mereka semua melotok padaku dengan tajam. Sayangnya aku tak mempedulikan hal itu dan hanya melihat si wanita.
"makasih Kak sudah menolongku."
__ADS_1
"um, Sama - sama."
balas Wanita itu. Namun, di saat Lift sudah mulai berjalan turung, aku mencoba melirik ke arah Wanita itu, dimana ia terlihat sedikit ketakutan.
Mungkin ia juga bisa merasakan hawa permusuhan antara anak - anak berandalan itu denganku, sehingga tanpa ia sadari tubuhnya merespon hal itu dan mulai ketakutan..
(Haaa, Sepertinya aku harus menenangkannya, lagi pula ini salahku.)
Ucapku di dalam pikiran, kemudian aku melihat wanita itu dan bertanya...
"Anu,..Kak, apa kamu baru pulang kerja?"
Si Wanita yang tiba - tiba di tanya seperti itu lansung terlihat terkejut.
"Eh Y-yah, aku baru pulang kerja."
Jawabnya dengan gugup.
"Begitu,...omong - omong Kakak ini kerja apa?"
"Hmm,..aku seorang manager Di Restoran xxxx yang ada di Lantai 2."
Di saat Wanita itu memberitaukan identitasnya, Tiba - tiba aku terlihat senang dan bertingkah Polos layaknya anak kecil, kemudian aku berkata...
"Eeeh Kakak seorang manager, itu sangat hebat Kak."
"Benarkah?"
Tanya Si Wanita yang terlihat malu dan tidak ketakutan lagi. Melihat itu aku tersenyum dan menjawab..
"Yah itu benar, di tambah Kakak juga Sangat Cantik, itu benar - benar luar biasa."
"Eeeeeeh, a-aku Cantik."
...dan Buru - buru mengalihkan pandangannya ke arah Lain.
Melihat tingkahnya yang seperti itu, membuat aku lansung tersenyum Tipis dan menjawab...
"Yah, Kakak benar - benar Sangat Cantik, benarkan?"
Tanyaku sambil mengalihkan pandanganku ke arah Anak - anak Beradalan yang ada di belakang. Dimana mereka Semua terlihat panik, saat tiba - tiba aku menanyakan itu.
Namun karena mereka tidak mengatakan apapun dan hanya diam saja, sehingga aku bertanya sekali lagi...
"Woy, aku tanya Kakak Ini sangat cantik kan?"
Tanyaku dengan nada kasar, dimana mereka semua lansung terlihat marah. Namun di saat Wanita itu melihat ke arah mereka. Mereka semua lansung tersenyum dan mengangguk setuju.
"Umm. Dia memang sangat Cantik."
"Lihatkan?"
Ucapku sambil kembali melihat Wanita itu, dimana ia terlihat tidak senang sama sekali saat Di puji oleh mereka.
Yaa itu tidak bisa di pungkiri, lagi pula mana mungkin ia bisa senang saat melihat tampang mereka yang kasar, di tambah celana mereka yang Robet - robet.
__ADS_1
Malahan, ia tambah ketakutan saat melihat itu.
Di saat aku memikirkan itu, aku mencoba menarik - narik lengan Baju si wanita, dimana ia lansung melihat ke arahku.
"Anu Kak, boleh kamu berjongkok sebentar."
"Eh, memang kenapa?"
"Ada sesuatu yang ingin ku beritaukan padamu."
Ketika si Wanita mendengar itu, ia lansung berjongkok dan mendekatkan telinganya ke arahku. Kemudian aku bertanya...
"Kak, sejak dari tadi, kamu pasti ketakutan kan? Gara - gara abang - abang di belakang?"
Tanyaku dengan suara Keras, dimana aku sengaja melakukan itu untuk membuat anak - anak itu mendengarnya.
Sedangkan di sisi lain, ketika Wanita itu mendengar apa yang aku katakan, ia terlihat sangat terkejut dan bertanya - tanya...
"Eh,...Bagaimana bisa kau tau?"
"Yah itu karena, sejak dari tadi mereka terus saja melotok ke arah kita, di tambah wajah mereka sangat Jorok dan ada banyak, Sedangkan Kakak Satu - satunya Wanita Cantik di sini. Sudah pasti Kakak akan ketakutan, jika suatu saat mereka bisa saja menyeranmu kan?"
Tanyaku, dimana membuat para berandalan yang dengar itu lansung terlihat marah.
Namun tanpa pedulikan itu, aku terus menatap si Wanita, dimana ia terlihat ketakutan. seolah - olah ia tidak menyangkal dengan apa yang aku katakan barusan.
Mengetaui itu, bibirku lansung melengkun seperti bulan sabit sambil megenggam pundaknya dengan erat, dimana membuat Si wanita lansung kaget dan melihat ke arahku..
"Kak, kau tidak usah khawatir, lagi pula aku berjanji akan melindungimu, sampai Kakak keluar dari tempat ini."
Ucapku dengan wajah Polos namun tatapan yang sangat serius. Melihat itu membuat mata si wanita lansung melebar karena terkejut.
Namun setelah ia mendapatkan ketenangannya, ia lansung tersenyum padaku dan mengelus kepalaku.
"Terima kasih Dik, Kakak Senang kamu bilang begitu."
"Umm, baguslah kalau kakak senang."
Balasku sambil mengangguk dengan ekspresi Polos.
Yaa, meskipun aku tetap tidak senang jika kepalaku di elus - elus seperti ini, tetapi,.....
(Haaa, sudahlah tidak usah di pikirkan.)
Sambil memikirkan itu, aku berahli ke arah Anak - anak berandalan yang ada di belakang. kemudian aku berkata...
"Kalian semua, sebaiknya kalian tidak memikirkan hal - hal yang jorok ke kakak Cantik ini, itu perbuatan yang tidak baik."
Seolah - olah aku mencoba meledeknya Anak - anak itu lansung terlihat kesal dan salah satu di antara mereka lansung membentakku dengan Keras.
"BOCAH KAU TIDAK USAH BILANG, KAMI SUDAH TAU ITU."
"Baguslah kalau begitu."
Balasku dengan tenang. Sambil mengalihkan pandanganku ke wanita itu lagi, dimana aku memperlihatkan Gigi putihku saat tersenyum dan memberinya sebuah jari jempol.
__ADS_1
Melihat tingkahku yang seperti itu membuat Si wanita lansung tertawa sedikit "pffft!!" dan tersenyum indah padaku.
Setelah itu kami pun mulai Ngobrol sambil menunggu Lift berhenti di tempat parkiran yang berada di Bawah tanah.