BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
UCAPAN YANG BELUM AKU MENGERTI


__ADS_3

di sebuah Masion Mewah, dimana halamannya sangat luas, dan sangat indah.


di dalam Masion itu, terdapat 2 pria dan 2 seorang gadis sedang duduk di ruang tamu.


mereka adalah Anak - anak yang pernah Membuli Leon, waktu kejadian di lorong itu.


"SIAL, KENAPA,.......KENAPA SEKARANG TIDAK ADA YANG MAU, MEMBERI PELAJARAN KE BOCAH ITU!"


Ucapnya. ia bernama Luis, sekaligus Ketua dari kelompok itu.


"omong - omong Luis, bagaimana dengan pesan yang kau buat di Grub, apa tidak ada lagi yang mau menerimanya?"


saat Pria bernama Felik, mencoba untuk bertanya. dengan cepat Luis menjawabnya.


"ya, awalnya banyak yang berminat,....tapi, setelah mendengar Rumor kalau setiap Orang yang mengincar Bocah itu, pasti akan terluka parah. jadi banyak yang tidak berminat lagi."


"eh, memang kenapa?"


"yaa, mereka mengirah kalau Bocah itu sedang di lindungi oleh seseorang!?"


"di lindungi? Hah, kalau tidak salah, Bocah itu dari keluarga Militer kan?"


ucap salah satu gadis yang duduk di situ. ia bernama Erina sekaligus gadis yang pernah menyiksa Siska saat Di Lorong.


"benar. jika bukan karena bantuan ayahku kita Tidak akan pernah tau, kalau ternyata Bocah itu dari keluarga militer."


"ka-kau benar juga." jawab Erina


setelah itu, untuk beberapa saat Suasana di tempat itu menjadi sunyi. namun, setelah beberapa detik kemudian.


Bulan, salah satu gadis yang duduk di situ, mencoba untuk bertanya.


"jadi, apa yang akan kau lakukan Luis?"


saat di tanya seperti itu. untuk sementara Luis tidak mengatakan apapun.


namun. setelah beberapa detik kemudian, ia mulai bicara.


"untuk saat ini, aku ingin kalian bertiga mengawasi Bocah itu terlebih dahulu."


"mengawasinya? buat apa?"


saat Erina mencoba untuk bertanya. perlahan Luis menyandarkan punggungnya ke sofa.


setelah itu ia memainkan Hpnya selama beberapa detik dan lansung menyerahkannya ke Erina.


"coba kau lihat ini."


saat Erina, Felik dan Bulan melihat ke Hp itu, ia melihat sebuah Chatting Grup, yang berisikan beberapa Rumor yang mengatakan kalau Leon sedang Hilang ingatan.


melihat hal itu, mereka bertiga lansung terkejut.


"i-ini,...Luis apa ini beneran?"


saat Felik mencoba untuk bertanya, dengan tenang Luis menjawabnya.


"aku belum tau apa ini benar atau tidak,...tapi, menurut anak - anak yang satu sekolah dengan Bocah itu, besar kemungkinan kalau Rumor itu mungkin saja benar."


"tapi, Bukankah itu hanya sekedar Rumor saja?" ucap Bulan


"itulah sebabnya aku menyuruh kalian mengawasi Bocah itu, aku ingin kalian cari tau apa Bocah itu benar - benar Hilang ingatan atau tidak."


"ta- tapi, bagaimana caranya?"


saat Erina mencoba untuk bertanya, Luis lansung tersenyum menyeringai sambil melihat ke arah mereka bertiga.


"bukankah itu sangat gampang, kalian dekati saja Bocah itu dan lihat reaksinya, apa dia takut atau tidak. jika dia takut itu berarti ia masih ingat saat kita membulinya dulu. dan jika ia tidak takut, itu berarti ia benar - benar hilang ingatan. mudah kan?"


"ba-baiklah, kami mengerti."


setelah Erina menjawabnya dengan gugup. perlahan Luis mengalihkan pandangannya ke arah Felik dan mencoba untuk bertanya, tentang Kondisi salah satu temannya yang bernama Endru. yang saat ini di rawat di Rumah sakit, karena Luka yang ia terima dari Leon saat itu.


"omong - omong Felik, bagaimana keadaan Endru sekarang, apa ia sudah lebih baik?"


"sayangnya Saat ini kondisinya masih kurang baik dan ia masih di rawat di Ruang ICU."


"begitu ya." jawab lansung Luis.


untuk sementara Ruangan itu menjadi sunyi kembali. namun, setelah beberapa detik kemudian, mereka bertiga mulai berdiri dan mencoba meninggalkan Ruangan.

__ADS_1


"kalau begitu Luis, kami pergi dulu mencari Bocah itu." ucap Felik


"hah, sebelum itu, aku ingin kalian ingat satu hal lagi."


"a-apa?"


"INGAT, JANGAN PERNAH SEKALIPUN KALIAN MEMUKUL BOCAH ITU. JIKA TIDAK KALIAN TAU SENDIRIKAN APA YANG AKAN TERJADI."


sambil mengatakan itu, Luis menatap tajam mereka bertiga, sehingga membuat mereka menjadi merinding dan ketakutan.


"y~ya, kami mengerti kok."


jawab Felik. setelah itu mereka bertiga mulai meninggalkan Ruangan itu.


___________________________________


_________________________


di kelas Leon.


ketika Jam kelas sudah berakhir dan waktunya kami Pulang. aku melihat ke arah samping, dimana Bu Linda masih saja duduk di sampingku sambil memperhatikanku terus.


"Bu Linda, bukankah ini sudah waktunya kelas berakhir?"


"hah, kau benar juga,....baiklah, anak - anak Kumpulkan catatan dan tugas kalian di depan, setelah itu kalian bisa Pulang."


ucap Bu Linda sambil melihat ke arah para Murid.


"yeah, Waktunya pulang."


"haaa, akhirnya selesai juga."


"soal No 5 sangat susah ya."


"yaa, tapi, syukurlah aku berhasil menjawabnya."


"eh, benarkah?"


saat aku mendengar pembicaraan para Murid. aku melihat mereka semua mulai berjalan ke depan sambil menaruk buku catatan dan tugas mereka di meja Bu Linda.


setelah menaruk buku mereka di sana, mereka lansung meninggalkan kelas.


begitupun dengan Sara yang mulai memakai tasnya di bangku, sambil melihat ke arahku.


"eh, y-ya, hati - hati di jalan."


setelah aku menjawabnya, Sara mulai berjalan ke arah Pintu kelas.


namun, sebelum ia membuka Pintu kelas, ia melihat ke arah belakang dari balik pundaknya, dimana Leon dan Bu Linda masih duduk berdekatan di sana.


setelah beberapa saat memperhatikan mereka berdua, perlahan Sara membuka Pintu dan mulai meninggalkan kelas.


di sisi lain, Leon yang masih duduk di situ sambil di lihatin terus oleh Bu Linda mencoba untuk bertanya.


"anu, Bu Linda bisa kau pindah dari situ, aku tidak bisa pulang."


"apa yang kau katakan Leon, kau belum selesai, menulis catatan di atas kan?"


"eh, yaa itu memang benar sih, tapi bukankah ini waktunya untuk pulang?"


"tidak, kau belum bisa pulang sebelum mencatat yang ada di atas."


mendengar apa yang dikatakan Bu Linda lansung membuatku jengkel.


"HAH, OI APA KAU BELUM PUAS MENGGANGGUKU TIDUR TADI?"


"Ini dan tadi sangat beda."


"BEDA APANYA? APA KAU TIDAK LIHAT KELOPAK MATAKU SUDAH HITAM BEGINI."


saat aku memperlihatkan kelopak mataku di depan wajahnya, dengan cepat Bu Linda lansung menusuk salah satu mataku menggunakan jarinya.


"~~~MATAKU, MATAKU. SAKIIIIIT. WOI APA YANG KAU LAKUKAN!"


"Wajahmu terlalu dekat, jika ada orang yang Lihat nanti, itu bisa jadi salah paham."


"salah paham apanya. bukankah kau yang duduk di situ juga, bisa jadi salah paham."


"kau tenang saja. kalau begini menurutku tidak apa - apa."

__ADS_1


mendengar apa yang di katakan Bu Linda, membuatku tambah jengkel.


(JADI KAU TIDAK APA - APA SEDANGKAN AKU BERMASALAH YA. DASAR WANITA SIALAN.)


saat aku memikirkan itu, aku lansung mengambil tasku dan mencoba kabur dengan melompat ke belakang kursiku.


namun. sesaat aku sedang melompat, dengan cepat Bu Linda lansung megenggam kakiku. hingga akhirnya aku terjatuh tepat di belakang kursiku.


BUKK!!


"~~Aduh!....Sial ini sakit sekali."


saat aku mencoba untuk duduk di lantai, Dari belakang aku merasakan sebuah Tangan sedang megenggam pundakku.


dan ketika aku melihat ke arah belakang. di Sana aku melihat Bu Linda sedang menatapku. sambil menunjukkan senyum menyeramkan di bibirnya.


"KAU PIKIR, MAU PERGI KEMANA, LE...ON💗"


"ma~maafkan aku, aku akan mencatatnya."


___________________________________


___________________________


setelah aku selesai mencatat semua yang ada di papan tulis. aku lansung menyerahkannya ke Bu Linda.


dimana ia saat ini masih duduk di sampingku sambil memperhatikanku dengan senyuman Licik di bibirnya.


"Nih aku dah selesai, sekarang kau puas kan?"


"hmm, kerja bagus Leon."


ucapnya sambil mengelus kepalaku.


meskipun biasannya aku tidak suka kalau di perlakukan seperti ini, namun, saat ini aku tidak punya tenaga untuk melakukan itu.


"haaa,..kalau begitu, bisa kau pergi dari situ, aku tidak bisa lewat."


"hmm, bagaimana kalau aku tidak mau."


"WOI, APA KAU NGAJAK BERANTEM!"


"Fufufu, tidak usah marah begitu, aku cuma bercanda kok."


(BERCANDAMU TIDAK LUCU SAMA SEKALI.)


saat aku memikirkan itu, Bu Linda mulai minggir dari tempat ia duduk, sehingga aku bisa lewat dan keluar dari bangku ku.


"kalau begitu, aku pulang dulu Wanita sia-....maksudku Bu Linda."


"kau, apa yang barusan kau katakan tadi?"


"Ti~Tidak, bukan apa - apa kok. kalau begitu aku pergi dulu."


setelah aku mengatakan itu, aku mulai berjalan ke arah Pintu Kelas.


"Hah Leon, ingat jangan tiduran lagi besok di kelas, mengerti?"


"terserah gue mau apa, itu bukan urusanmu!"


sambil meninggalkan kata - kata itu, aku lansung membuka Pintu dan keluar dari kelas. setelah itu aku menutupnya kembali.


di sisi lain, Bu Linda terus melihat ke arah pintu kelas, tempat Leon keluar.


namun, setelah beberapa detik ia melihat ke arah sana, perlahan ia mengalihkan pandangannya ke arah Buku catatan yang ia genggam.


dimana, tatapannya terlihat sedih saat membelai Buku catatan Leon.


"Haaa, aku melakukannya lagi,....sepertinya, aku tidak cocok jadi seorang guru ya."


ketika suara Bu Linda bergema di ruang Kelas yang kosong.


di balik Pintu kelas, Leon sedang bersandar di sana, sambil mendengarkan apa yang di katakan Bu Linda di dalam.


"Tidak cocok jadi Guru kah."


ucapku dengan ekspresi tenang.


[Master, apa yang sedang kau pikirkan?]

__ADS_1


"Tidak, Bukan apa - apa kok. ayo kita pulang."


sambil mengucapkan itu, aku mulai berjalan dan meninggalkan sekolah.


__ADS_2