
"~Le-Leon, kau barusan Bilang apa?"
Tanya Bu Linda yang masih shock, dimana aku sekali lagi mencoba memberitaunya.
"Aku bilang, aku akan paksa suamimu untuk menceraikanmu."
"Ka~Kau pasti bercandakan?"
"Tidak, aku serius."
Saking kagetnya, Bu Linda sampai tidak tau harus berkata apa. Namun ia berusaha untuk menenangkan dirinya lalu bertanya lagi padaku.
"Ke-Kenapa kamu ingin melakukan itu?"
"Kau tanya kenapa? Bukankah itu sudah jelas. Itu karena ia tidak pantas untuk menjadi suamimu. Apa lagi ada kemungkinan ia akan kembali lagi membawa masalah padamu seperti tadi, yang bisa saja menghancurkan kehidupanmu.-
-Karena itulah sebelum hal itu terjadi, aku sarankan sebaiknya kau ceraikan saja dia dan mencari pria lain yang benar - benar bisa membahagiakanmu."
BENAR, CONTOHNYA SAJA AKU.
Seolah tau apa yang ku pikirkan, PIX lansung menatapku dengan sinis dan berkata..
[Master, kau itu bukanlah Pria baik, kau itu hanya pria paling jahat di dunia.]
(Diamlah, aku tidak sejahat itu tau.)
[Apa anda yakin?]
(.....)
Aku lansung terdiam seolah tidak bisa membalas perkataannya, sebab apa yang di katakan PIX juga tidak salah.
Pertama aku ini adalah Pria yang sangat suka bermain dengan Wanita atau seorang Playboy. Di tambah lagi aku ini suka Membunuh orang tanpa pandang Bulu layaknya seorang Piskopat.
Lalu aku juga suka melakukam kelicikan untuk mempermainkan Hati seseorang, baik itu Wanita ataupun Pria, begitu juga dengan nyawa seseorang.
JIKA INI BUKAN PRIA JAHAT NAMANYA, LALU APA?
(Cih)
Karena saking kesalnya aku tidak bisa membantah perkataannya(Si PIX) aku lansung mendecatkan lidahku. Kemudian aku memutuskan untuk mengabaikannya dan kembali melihat Bu Linda.
Dimana aku mencoba mengajukan pertanyaan yang sama seperti tadi.
"Bagaimana Linda, apa kamu mau menceraikan suami mu?"
Bu Linda hanya diam saja seolah - oleh mengisyaratkan bahwa ia menolak saranku. Namun aku tak berhenti dan mencoba bertanya lagi..
"Apa kau tidak ingin menceraikan suami mu? Atau mungkin kau masih punya perasaan padanya? Contohnya saja kamu masih mencintainya."
Seolah pertanyaanku tepat sasaran Bu Linda kaget dan buru - buru memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Begitu, jadi kamu masih mencintainya ya?"
Gumanku. Kemudian aku lanjutkan lagi...
"Linda, aku tidak tau kenapa kamu masih mencintai orang seperti itu, tapi kamu harus ingat bahwa masalah ini bukan hanya sekedar perasaanmu saja. Tapi ini juga berdampat buruk pada anakmu. Yang jika tidak di atasi dengan cepat maka sewaktu - waktu bisa saja anakmu akan mendapatkan Trauma masa kecil."
"Ka-Kalau itu, Aku juga sudah tau itu."
"Jika kamu sudah tau maka aku tidak akan mengatakan apa - apa lagi. Yang jelas aku ingin kamu ingat saja apa yang barusan ku katakan. Mengerti?"
"U-um, Aku mengerti."
__ADS_1
Jawab Bu Linda sambil mengangguk.
Lalu setelah pembicaraan serius kami selesai. Bu Linda buru - buru menghela nafasnya seolah mencoba menenangkan dirinya "Haaa..!!" setelah itu ia melihat ke arahku.
"Meski begitu Leon, sikapmu itu benar - benar tidak terlihat seperti anak kecil ya? Entah kenapa kamu seperti orang dewasa yang sedang berusaha menghiburku."
'Tentu sajalah, lagi pula aku ini bahkan lebih tua darimu.' aku ingin mengatakan itu tapi aku lansung hentikan. Sebab ia pasti hanya menganggap aku ini sedang bercanda.
(Haa aku merasa ingin cepat - cepat dewasa agar bisa bermain dengan para wanita lagi.)
Sementara aku memikirkan itu, tiba - tiba pintu ruangan anak Bu Linda Terbuka, dan di sana terlihat Kana sedang menguap sambil berjalan keluar dari dalam kamarnya dan melihat ke arah kami.
"~Ibu kenapa ribut sekali di luar, apa ada Tamu-!!..Oh Kak Leon, ternyata kamu datang."
"Yo, apa aku mengganggu tidurmu?"
"Tidak."
Balas Kana yang lansung terlihat bersemangat, lalu ia buru - buru berlari ke arahku kemudian ia duduk di sampingku.
"Hey Kapan kamu datang?"
"Hmm mungkin beberapa menit yang lalu."
"Pffttt Apa - apaan jawabanmu itu."
Ucap Kana sambil tertawa. Kemudian ia melihat Tehku yang ku taruk di atas meja, seolah -olah ia ingin juga, jadi aku pun mencoba memberikannya.
"Apa kamu mau?"
"Eh, apa tidak masalah?"
"Tentu saja, ini"
"Fuuuu aku merasa segar kembali."
"Benarkah, Syukurlah kalau begitu."
Balasku. Kemudian Kana melihatku dan bertanya...
"Omong - omong Kak Leon, Habis ini kamu tidak ada kerjaan kan?"
"Yah, emang ada apa?"
"Kalau begitu ayo main Game sama aku, jujur aku sangat bosan karena tidak ada yang bisa di lakukan di rumah selain nonton, kamu mau kan?"
"Tentu, aku tidak masalah."
Mendengar itu Kana terlihat sangat senang sampai - sampai ia loncat - loncat di atas Sofa.
"Yeaaah, kalau begitu tunggulah di sini, aku nyalain PS4 ku dulu."
Kana turung dari Sofa dan buru - buru menyalahkan PS4 nya yang berada di Bawah TV analog di ruang tamu.
Sementara itu, Bu Linda yang memperhatikan anaknya yang terlihat bersemangat merasa sangat senang dan tersenyum, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Leon makasih banyak sudah membantuku. Dan juga maaf karena anakku sudah merepotkanmu."
"Itu tidak masalah, lagi pula saat di rumah aku juga merasa bosan karena tidak ada yang bisa di lakukan. Jadi aku senang karena ia mengajakku bermain Game di sini."
"Begitu, Aku senang mendengarnya."
Guman Bu Linda yang terlihat sangat senang hingga senyuman indah terpancar di bibirnya. Lalu Setelah itu aku dan Kana mulai bermain Game bersama.
__ADS_1
___________________________________
_______________________________
Saking asiknya Kami main Game, sampai - sampai kami tidak merasa bahwa hari ternyata sudah malam.
"Oh ternyata sudah malam."
Gumanku, dimana Kana mencoba melihat ke arah luar jendela juga dan membalas.
"Itu Benar ini sudah malam. Selain itu entah kenapa aku agak mulai lapar."
Ucap Kana sambil mengelus perutnya, kemudian ia melihatku dan bertanya..
"Kak Leon, kamu mau makan bersama kami kan di sini?"
"Eh yaa aku tidak masalah. Namun kita harus tanya Ibumu dulu, apa ia setuju atau tidak."
"Tenang saja, ibu pasti setuju kok. Benarkan Ibu?"
Tanya Kana sambil mengalihkan pandangannya ke arah Ibunya. Dimana Bu Linda saat ini sedang tidur nyenyak di Sofa.
"Astaga Ibu ternyata sedang tidur. Aku harus membangunkannya untuk menyiapkan Makan malam."
Kana Berdiri dan mencoba pergi membangunkan Bu Linda, tetapi aku lansung menghentikannya dengan manahan tangannya dari belakang.
"Kana. Tunggu dulu."
Kana berbalik dan melihat aku sedang mengelangkan kepalaku. Seolah - olah mengisyaratkan bahwa kamu tidak boleh membangukan Bu Linda.
Mengetaui itu Kana menjadi kebingungan dan bertanya..
"Ta-Tapi jika kita tidak membangunkan Ibu, siapa yang akan menyiapkan Makan malam?"
"Kalau itu...biar aku saja."
Kana sontak terkejut mendengar itu.
"Eh! Apa Kak Leon bisa masak?"
"Tentu saja. Karena itulah kamu tidak perlu membangunkan Ibumu.-
-Selain itu, aku yakin Ibumu pasti sangat lelah Gara - gara kejadian tadi."
Kana terlihat penasaran dan bertanya...
"Kejadian tadi? Memang apa yang terjadi saat aku tidur?"
"Tidak, itu bukan sesuatu yang besar kok, tidak usah di pikirkan."
Ucapku lansung, kemudian aku menambahkan...
"Sekarang kamu lanjutkan saja mainnya, aku akan pergi menyiapkan kalian dulu Makan malam, mengerti."
"Um, aku mengerti. Aku tidak sabar ingin mencoba masakan Buatan Kak Leon."
"Oh nantikan saja, aku yakin kamu pasti suka."
Balasku, dimana membuat Kana tersenyum.
Lalu Setelah itu aku meninggalkan Kana dan pergi mengambil Selimut, Kemudian aku tutupi tubuh Bu Linda dengan Selimut itu agar ia tidak kedinginan.
Setelah itu aku pergi ke dapur dan melihat bahan - bahan di dalam kulkas sangat sedikit. Jadi aku memutuskan untuk keluar untuk beli beberapa bahan terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah itu aku mulai menyiapkan makan malam.