BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
BERTEMU SALAH SATU PENGELOLAH PASAR GELAP


__ADS_3

Tak lama setelah aku menunggu akhirnya Kak Rangga pulang juga. Dimana aku lansung meminta kunci motornya.


"Kak, Pinjam dong kunci motormu sebentar." ucapku


"Kau mau kemana?" tanya Kak Rangga.


"Aku mau pergi ke rumah temanku. Ada yang mau ku ambil di sana."


Tentu saja Kak Rangga tidak percaya begitu saja, ia kelihatan ragu untuk memberikan kunci motornya padaku, tapi setelah aku memintanya beberapa kali akhirnya ia pun memberikannya.


"Ini, ingat jangan pulang kemalaman."


"Aku tau."


Balasku.


Lalu setelah itu aku kembali ke kamarku dan memakai jaket hitamku yang ku gantung di dekat lemari.


Kemudian aku pergi mengambil hpku yang ku taruk di atas kasur dan ku masukkan ke dalam kantong celanaku.


Setelah semua persiapan selesai, aku mulai berjalan keluar dan meninggalkan kamarku.


"Yosh, waktunya kita pergi."


___________________________________


______________________________


Usai aku keluar dari rumah aku pergi ke bagasi dan mengeluarkan Motor Satria milik Kak Rangga, kemudian aku menaikinya.


Lalu setelah itu aku mengambil hpku dari dalam kantong celana dan mencoba membuka apk Map, dimana di situ aku memasukkan Koordinat yang sama persis dengan Koordinat yang ku terima dari pesan yang tadi.


Dan tak butuh waktu lama Map itupun menunjukkan titik lokasi dari Koordinat tersebut. Dimana lokasinya berada di dekat - dekat tepi laut.


"Hmmm jadi tempat pertemuannya di pelabuhan ya."


Tanpa menunggu lama aku lansung menyalahkan motorku dan mengenakan Helmku kemudian aku tancap gas dan pergi ke lokasi itu.


_____________________________________


________________________________


Setelah aku sampai di sana, aku memarkir Motorku di luar dan berjalan masuk ke dalam pelabuhan, Dimana aku melihat pelabuhan ini sangat luas namun sepi dan juga hampir tidak di rawat dengan baik.


Kemungkinan besar pelabuhan ini sudah di tinggalkan selama beberapa tahun.


Meski begitu aku masih bisa melihat ada banyak Kotak kontainer yang bertumpukan dan berjejer di sana.


Sebagian dari mereka ada yang sudah karatan sedangkan sebagian lagi masih ada yang baru.


Sementara aku memperhatikan kotak - kotak itu tiba - tiba PIX memanggilku.


[Master.]


(Hmmm ada apa?)

__ADS_1


[Dari tadi aku penasaran, memang siapa si yang ingin anda temui?]


(Oh itu salah satu pengelolah pasar gelap.)


[pengelolah?]


(Yah. Dengan kata lain orang yang akan kita temui hari ini adalah orang yang mengatur keluar masuknya barang ilegal di kota ini.)


[Hmm tapi untuk apa anda menemui dia?]


Karena PIX sepertinya masih belum paham, jadi aku mencoba menjelaskannya agar ia mengerti.


(Seperti yang kau tau, saat ini aku sedang mencoba pergi ke tempat Boktis tapi sayangnya lokasinya berada di luar negeri atau lebih tepatnya ia berada di salah satu desa terpencil yang ada di negara CN.-


-Jadi untuk bisa pergi ke sana setidaknya kita membutuhkan pesawat, tapi mengingat tubuhku saat ini hanyalah anak kecil jadi hal itu pastinya sangat sulit untuk di lakukan.-


-Karena itulah aku ingin menemui dia(pengelolah pasar gelap) supaya ia bisa membawaku ke sana.)


[Hmm jadi begitu, tapi Master bukankah itu sama saja anda masuk ke negara CN secara ilegal.]


(Yaa kalau itu aku tidak bisa menyangkalnya si. Tapi mau gimana lagi, lagi pula hanya ini satu - satunya cara agar kita bisa ke sana.-


-Yaa meskipun masih ada cara lain, tapi semuanya sangat merepotkan.)


[Hmm aku mengerti.]


Setelah aku selesai bicara dengan PIX tak lama kemudian tiba - tiba PIX merasakan ada keadiran seseorang tidak jauh di belakang ku.


[Master!]


Saat aku mencoba melihat ke arah sana, aku melihat seorang pria bertubuh besar dan kekar sedang berjalan menghampiriku.


Pria itu berumur sekitar 40 tahun dan tak memiliki rambut di kepalanya alias botak, serta mengenakan jas hitam dan kacamata hitam di matanya.


"Maaf aku datang terlambat, apa mungkin anda Tuan Leon?"


Berbanding terbalik dengan wajahnya yang menakutkan, pria ini bicara sopan padaku.


"Yah itu benar...aku Leon. Kalau kamu?"


"Hah maaf aku lupa memperkenalkan diriku.-


-Perkenalkan namaku Guntur, aku adalah salah satu bawahan lansung dari Bos Genus. Orang yang ingin anda temui."


(Begitu, jadi nama Bos mereka adalah Genus ya. Tapi Entah kenapa aku kayak pernah dengar nama itu, tapi dimana?)


Sementara aku memikirkan itu, Guntur merasa ada yang aneh denganku dan lansung memanggilku.


"Tuan Leon, apa anda tidak apa - apa? Anda terlihat sedang melamun."


"Hah maaf, aku tidak apa - apa. Aku tadi hanya sedang memikirkan sesuatu.-


-Yang lebih penting, bisa tidak kau antar aku sekarang ke tempat Bosmu."


"Oh tentu, kalau begitu tolong ikuti aku."

__ADS_1


Guntur mulai berjalan sambil aku mengikutinya dari belakang.


____________________________________


_______________________________


Di saat kami sudah sampai di tempat tujuan, aku melihat sebuah gudang yang sangat besar. Gudang itu terlihat sudah tua meski begitu aku bisa dengar suara bising dari dalam sana.


"Baiklah, mari kita masuk."


Ucap Guntur.


Ketika aku mengikuti Guntur masuk ke dalam, aku melihat ada banyak sekali orang yang sedang bekerja, setidaknya ada lebih dari 15 orang yang mengangkut barang - barang ke dalam mobil.


Kemungkinan besar barang itu adalah barang yang akan di selundupkan ke luar negeri.


"Tuan Leon, silahkan lewat sini."


Guntur mulai menuntungku masuk ke sebuah ruangan. Dimana di dalam sana terdapat seorang pria tua berumur sekitar 50 tahun sedang membelakangi kami.


Pria itu sedang memandang keluar jendela sambil melihat pemandangan laut di luar sana.


"Bos, aku sudah membawa tuan Leon kemari." Ucap Guntur.


"Begitu, kerja bagus kau sudah boleh pergi."


"Baik, kalau begitu aku permisi dulu."


Setelah Guntur menundukkan kepalanya ia pun berjalan pergi meninggalkan ruangan ini, dimana sekarang hanya tersisa aku dan Pria itu di dalam ruangan. Dimana Pria itu menutup jendelanya kembali dan berbalik melihat ke arahku.


"Nak, kita bertemu lagi ya."


"Tu-Tunggu!! Kau kan...!"


Pada saat aku melihat wajah pria tua itu aku merasa sangat kaget sebab pria itu tidak lain adalah pria yang pernah ku lawan bermain judi saat aku pergi menjemput suami Bu Linda di Kasino bawah tanah.


Kalau tidak salah, nama dia adalah......


"Genus."


Genus seolah terlihat senang karena aku masih mengingat namanya.


"Hahaha Syukurlah kamu masih ingat namaku. Kalau tidak aku akan lansung melemparmu keluar dari sini."


"Huh Serius?"


"Tentu saja aku hanya bercanda Hahahaha!!"


Aku seolah sedang di permainkan olehnya dan itu membuat aku kesal. Meski begitu aku mencoba melupakannya dan berahli ke topik utama.


"Haaa sudahlah, yang lebih penting bisa tidak kita mulai pembicaraannya?"


Dalam sekejab ekspresi Genus lansung berubah menjadi serius.


"Tentu saja, silahkan duduk."

__ADS_1


__ADS_2