
Setelah aku berhasil kabur dari wanita itu, saat ini aku Berlari masuk di sebuah lorong sempit yang gelap.
Dimana aku sedang menuju ke sebuah bangunan terbengkalai yang pernah aku pakai untuk menghajar anak - anak berandalan.
Sesampaiku di sana aku lansung masuk ke dalam dimana di dalamnya terlihat sangat gelap dan hanya di terangi oleh cahaya Bulan yang masuk dari sela - sela jendela yang rusak.
"~Haa..haaa Akhirnya kita sampai juga, sekarang....."
Tanpa menunggu lama aku lansung menuju ke arah tangga dan berlari naik ke atas. Dimana di tengah perjalanan aku mencoba bicara dengan PIX.
"PIX, Sebelum aku lawan wanita itu, aku ingin konfirmasi sesuatu terlebih dahulu."
[Apa?]
"Jujur ini hanya perkiraanku saja tapi apa mungkin Kelemahan kekuatan(Teleportasi) Wanita itu adalah...xxxxxxx"
PIX sentak kaget setelah ku beritau, lalu ia melihatku...
[Astaga Master, tidak ku sangka anda bisa Menyadarinya secepat ini. Bagaimana anda bisa tau?]
"Itu karena ia sering kali Loncat setiap kali mau menggunakan kekuatan itu, jadi..."
[Begitu, aku mengerti.]
Balas lansung PIX, seolah ia sudah tau apa yang ingin aku katakan. Lalu ia pun mulai menjelaskan.
[Seperti yang anda katakan. memang benar kelemahan dari Kekuatan Teleportasi dia adalah itu-.
-Tapi meski begitu, tetap saja anda pasti akan kesulitan untuk mengalahkannya, Karena selama ia masih bisa menggunakan kekuatannya maka anda tidak akan pernah Bisa menang. Kecuali anda Bisa mencari cara untuk menghentikan pergerakan Wanita itu.]
"Yaa Kalau itu aku juga tau. Masalahnya bagaimana caranya agar kota bisa menghentikan pergerakan dia?"
Ucapku sambil terus berlari naik ke atas tangga dan menuju ke atap Bangunan.
_____________________________
___________________________
TAP!!...TAP!!...TAP!!!....
Setelah beberapa saat aku berlari naik ke tangga tak lama kemudian akhirnya aku sampai di atap bangunan.
Dimana Angin di sini terlihat sangat kencang dan membuat pakaianku serta rambutku berterbangan. Bahkan tubuhku merasa sedikit kedinginan.
"~Huu tidak ku sangka ternyata di sini dingin juga."
[Benarkah? untunglah aku tidak punya bentuk Fisik, jika tidak aku pasti akan kedinginan juga.]
"Yaaa Kau benar juga."
Balasku saat melihat PIX yang bentuknya emoji di kaos tanganku. lalu aku menghela nafas sambil meratapi langit malam di angkasa.
"~Haaa pasti enak ya jika saja aku menjadi seperti dirimu?"
[Enak? Master apa anda Serius mengatakan itu?]
"Aah Tentu saja tidaklah bego, aku hanya bercanda, Lagi pula siapa juga yang mau punya bentuk Konyol seperti dirimu."
[😠KONYOL KAU BILANG! MASTER APA KAU NGAJAK BERANTEM?]
"Oh itu bagus juga, tapi sayangnya untuk kali ini aku pas saja. Lagi pula ada yang lebih penting yang harus ku lakukan terlebih dahulu."
Ucapku sambil mengarahkan pandanganku ke arah depan, dimana Tidak jauh di depanku muncul sebuah cahaya yang menyinari atap bangunan ini.
Dan dari dalam Cahaya itu Keluar Seorang Wanita Yang berpakaian Hitam ketat serta Topeng putih yang menutupi wajahnya.
Ia adalah salah satu orang dunia bawah yang mencoba mengincar nyawaku.
"Bocah, tidak ku sangkah kau mengundangku di tempat seperti ini. Jangan bilang kau ingin bertarung denganku di sini?"
"Ya Begitulah."
Jawabku dengan santai. Lalu aku mengeluarkan belatiku dan mengarahkannya ke Wanita itu.
Begitupun dengannya ia juga mengarahkan belatinya padaku, hingga membuat suasana di tempat itu menjadi tegang serta di penuhi oleh aura niat membunuh. Baik dari wanita itu maupun dariku.
"......."
"......."
Di saat kami berdua terus saling menatap, PIX buru - buru melihatku dan bertanya...
[Master apa anda yakin ingin melawan dia di sini secara lansung? Bukankah anda tadi bilang Anda belum cukup kuat untuk bisa menahan serangannya?]
"Memang benar, aku tidak bisa menahan serangannya tapi setidaknya aku masih bisa tepis semua serangannya agar serangannya itu tidak mengenaiku."
[Itu memang benar sih, tapi...]
"Tenang saja, aku pasti bisa melakukannya. Kau tidak usah khawatir."
Balasku sambil menunjukkan Ekspresi serius.
Lalu Setelah pembincaraanku dengan PIX selesai, Beberapa detik kemudian tiba - tiba wanita itu Seringai di balik Topengnya, lalu ia lansung berlari ke arahku.
Tak tinggal diam aku juga lansung berlari ke arahnya, kemudian aku loncat tinggi ke atas dan mencoba melayangkan sebuah tebasan berputar Vertical ke arah Tubuhnya.
Tetapi Sayangnya Ia berhasil menangkis seranganku menggunakan belatinya, sehingga membuat aku untuk sesaat terhenti di udara.
Tak membiarkan kesempatan itu pergi, Wanita itu lansung Mencoba mencengkran leherku untuk menangkapku.
Namun, aku Dengan cepat menendang kedua Bahunya sekuat tenaga, agar tubuhku bisa terlempar ke belakang dan berhasil menghindari Cengkramannya.
"Fuuu itu hampir saja"
Seusai aku mundur aku mencoba mengatur posisiku kembali. tetapi Wanita itu tidak membiarkan aku istirahat. Ia lansung meluncur ke arahku dan mencoba menyerangku.
Secara reflek aku lansung Tepis serangannya itu ke arah samping, lalu dengan Tajam aku mencoba melakukan serangan Balik padanya.
Namun ia menangkisnya lagi sehingga membuat pertarungan di antara kami berdua menjadi inteks.
Serangan demi serangan terus di lancarkan wanita itu tetapi tetap saja tidak ada satupun yang mengenaiku.
Bahkan semua serangannya itu berhasil aku tepis, sampai - sampai membuat Wanita itu kaget sekaligus terlihat senang.
"HAHAHAH BOCAH KAU BENAR - BENAR KUAT. TIDAK KU SANGKA KAU BISA MEMBUATKU KESULITAN SAMPAI SEPERTI INI."
"Makasih pujiannya."
__ADS_1
Balasku dengan santai. Lalu aku tambahkan...
"Kalau begitu. Bagaimana kalau kita lanjutkan pertarungan jarak dekat ini terus? Lagi pula kau pasti juga penasarankan Seberapa kuat aku menggunakan belati ini?"
"Yaa itu memang benar sih, tapi..."
Seolah tau apa yang ingin Wanita itu katakan, aku lansung berkata...
"Tenang saja aku tidak akan menggunakan Pistolku kok. Lagi pula menggunakan Pistol di pertarungan jarak dekat adalah sesuatu yang tidak adil."
"Ooh sepertinya kau tau hal itu yah Bocah. Baiklah jika kau berkata begitu, kalau begitu mari kita lakukan."
Setelah pembicaraan kami selesai, Pertarungan dekat antara aku dan wanitu itu pun di mulai.
Dimana kami berdua lansung saling melancarkan serangan satu sama lain.
Beberapa seranganku sepertinya berhasil mengenai tubuhnya tetapi itu tidak membuat pergerakan Wanita itu terhenti. malahan ia tambah terlihat senang seolah ia menikmati pertarungan ini.
"HAHAHA INI SANGAT MENYENANGKAN,...INI BENAR - BENAR SANGAT MENYENANGKAN BOCAAAAAH."
______________________________
___________________________
Setelah beberapa saat kami bertarung, tak lama kemudian akhirnya Aku lihat wajah wanita itu mulai sedikit pucat di tambah lagi ia juga kelelahan.
Mungkin karena ia sudah Terlalu banyak kehilangan darah sehingga ia seperti itu.
(Bagus, sepertinya sudah waktunya aku mengakhiri pertarungan ini.)
Pikirku. Lalu sesaat Serangan terakhir Wanita itu berhasil aku tepis aku lansung memutur tubuhku.
Dimana ketika Tubuhku kembali menghadap padanya, Wanita itu sentak kaget dan shock.
Sebab di tanganku sudah mengenggam Sebuah Pistol mematikan, terlebih lagi pistol itu mengarah lansung ke jantungnya sehingga membuat ia panik sekaligus marah.
"BOCAH BRENGSEET BERANI - BENARINYA KAU MENIPUKU, BUKANKAH TADI KAU BILANG KAU TIDAK AKAN MENGGUNAKAN PISTOL?"
"Hahaha dasar wanita bodoh, kau pikir aku serius mengatakan itu? Lagi pula mana mungkin aku biarkan diriku tidak menggunakan Pistol saat melawan Orang Dunia Bawah, apa lagi orang yang punya kekuatan aneh seperti dirimu."
"KA~KAU...."
Wanita itu mencoba menggunakan kekuatan teleportasinya, tetapi ia lansung berhenti dan buru - buru lompat ke arah kiri sesaat melihat aku sudah menekan pelatuknya.
Hingga suara Tembakan pun terdengar...
DORR!!
Untungnya Wanita itu berhasil menghindar di detik - detik terakhir sehingga ia masih bisa selamat.
"Sialan itu hampir saja."
Guman Wanita itu sambil mendecatkan lidahnya.
Lalu ia mencoba menggunakan Kekuatan Teleportasi nya sekali lagi sayangnya Tanpa ia sadari tepat di bawahnya ada sebuah Granat.
Dimana Granat itu lansung meledak sesaat Sebelum Wanita itu menggunakan kekuatan Teleportasi nya.
BOOMMMMM!!
Hingga membuat Wanita itu lansung terlempar keluar dari kumpulan asap dan menabrak tiang Pembatas.
Wanita itu Terbatuk - batuk sambil mengeluarkan darah dari mulutnya. Pakainnya pun terlihat Hancur dan robet dimana - mana.
Meski begitu ia tidak mau menyerah ia mencoba untuk bangkit, sayangnya....
DORRR!!
Tanpa Ragu sedikitpun aku lansung melepaskan sebuah Tembakan dan mengenai Kakinya, hingga membuat ia lansung jatuh dan Berlutuk.
"~~Ughhh Sial,..Berani - Beraninya kau Bocah, aku pasti akan membunuhmu."
"Oh cobalah kalau kau memang bisa."
Balasku sambil melepaskan sebuah tembakan lagi ke Arah kakinya. Hingga Membuat Wanita itu lansung merintih kesakitan.
"~~ARGHHHHHHHHHH!!"
Meski begitu, ia tetap saja tidak mau menyerah ia berusaha untuk bangkit kembali.
Pada Akhirnya aku pun memutuskan untuk melepasakan Tembakan ke arah kedua Kakinya sebanyak 6 kali. sampai akhirnya ia tidak bisa bangkit lagi dan jatuh terbaring di lantai.
"~~Ughhhhh!! Sial..Sial..Siaaaal Ini Sakit Sekali."
aku lihat wanita itu terus merintih kesakitan, meski begitu aku mengabaikannya dan lansung pergi mendekatinya. Tidak lupa aku juga Mengisi kembali Peluruku yang udah Kosong.
tap!!...Tap!!....TAP!!...
Setelah aku sampai di dekatnya, aku perhatikan sepertinya ia sudah tidak bisa melawan lagi.
Meski begitu ia masih bisa mengakat wajahnya dan melihatku.
"~~Ughhh!..aku tidak pernah menduga aku akan kalah dari Bocah Seperti mu. Ini benar - benar sangat memalukan."
"Yah kau mungkin benar, apa lagi dengan keadaanmu yang sekarang, sudah pasti kau tidak bisa lari, apa lagi menggunakan Kekuatanmu(Teleportasi)."
"Eh? Apa yang kamu bicarakan?"
Wanita itu mencoba untuk pura - pura Bodoh, tetapi aku tetap tenang dan mencoba menjelaskan...
"Tidak usah pura - pura bodoh aku sudah tau semuanya. Alasan kenapa kau sering kali loncat Setiap kali mau menggunakan kekuatan Teleportasimu, itu karena tubuhmu tidak boleh menyentuh apapun saat menggunakan Kekuatan itu, sebab jika tidak maka Benda itu akan Hilang juga dan ikut bersamamu.-
-Contohnya saja saat kau bersentuhan dengan Mobil, jika kau menggunakan kekuatanmu maka otomatis Mobil itu akan hilang juga bersamamu.-
-itulah sebabnya saat ini kau tidak bisa menggunakannya karena jika tidak bisa - bisa kau akan menghilangkan bangunan ini juga."
"~Ughh jadi begitu. Itulah kenapa semua tembakan yang kamu lepaskan tadi mengarah ke kaki ku, supaya aku tidak bisa lagi Loncat dan pergi dari sini."
"Yah."
Balasku secara singkat. Lalu setelah itu tiba - tiba wanita itu tertawa dengan sangat keras sambil menatap diriku dengan tajam.
"Bocah aku mengakuimu kau ini benar - benar kuat. Bahkan baru kali ini aku bertemu anak kecil sepertimu.-
-Aku bertanya - tanya kau ini sebenarnya siapa? Kenapa anak ingusan sepertimu bisa melakukan hal ini semua sampai - sampai kau bahkan berhasil mengetaui kelemahan Kekuatanku ini?"
"Oh Kalau itu kau tidak perlu tau, yang jelas dengan keadaanmu yang sekarang maka kekalahanmu sudah di pastikan."
__ADS_1
"Hahahah kau benar juga. Sepertinya aku memang sudah kalah."
Meskipun ia berkata seperti itu tetapi entah kenapa aku masih merasa curiga dengannya, sebab tatapannya itu seolah masih punya niat tersembunyi yang tidak ku ketaui.
Jadi untuk jaga - jaga aku menodongkan Pistolku padanya.
"Um, Bocah apa kau ingin membunuhku?" tanya Wanita itu.
"Yah aku memang ingin membunuhmu.-
-Lagi pula apa kau pikir aku akan biarkan orang yang mengincar nyawaku pergi begitu saja? Tentu saja tidak-.
-Aku pasti akan melubangi seluruh bagian badanmu(Di Tembak) itu hingga kau mati."
"~Ughh melubangiku ya,...Bocah tidak ku sangkah, ternyata kau ini mesum juga."
"....."
Aku diam saja dan tidak membalas apapun terhadap perkataannya.
Melihat hal itu, Wanita itu lansung mendesah dan berkata..
"Haaa sudahlah sepertinya kau tidak bisa di ajak bercanda."
Ucapnya, lalu ia melihatku dan menatapku dengan Serius..
"Neh, sebelum kau membunuhku bisa tidak beritau aku, Kapan kau Lempar Granat itu ke arahku? Waktu itu aku tidak lihat sama sekali."
"Tentu saja kau tidak lihat, lagi pula aku lempar dari titik butamu."
"Titik Butaku?"
Tanya Wanita itu yang terlihat kebingungan. Jadi aku mencoba menjelaskan nya..
"Yah Saat itu ketika aku berputar sebetulnya bukan hanya Pistol ini saja yang aku ambil tapi aku juga mengambil salah satu Granatku.-
-Lalu kemudian aku mengarahkan Pistolku ke jantungmu supaya kau panik dan pandanganmu akan Fokus ke Pistol ini. Dan dari situlah aku mengambil kesempatan untuk melempar Granatku ke arah kiri dari belakang punggungku, agar kau tidak bisa melihatnya."
"~hmm Jadi Begitu. Ta~Tapi meski begitu bagaimana kau bisa tau kalau aku akan lompat Ke arah sana?"
"Oh itu karena kau Kidal."
Mendengar jawabanku membuat mata wanita itu lansung melebar karena terkejut.
"Eh kidal?"
"Yah, jika kau loncat ke belakang sudah pasti tembakanku akan mengenaimu. Begitupun dengan Loncat ke atas, pastinya kau tidak ****** menghindarinya.-
-Jadi satu - satunya cara untuk bisa menghindari tembakanku adalah dengan Lompat ke arah Kiri atau kanan. Namun karena Kamu ini kidal, jadi...."
"Kamu lemparlah Granatmu ke arah Kiri." Sambung Wanita itu.
"Benar. Yaa meskipun prediksiku salah aku hanya perlu bertarung lagi dengan mu." Balasku dengan santai.
Lalu setelah itu, Wanita itu menghelas nafasnya sambil berkata..
"Haaa Meski begitu, kenapa kau terlihat tidak senang begitu? Padahalkan kamu sudah mengalahkanku."
"Senang? Buat apa aku senang, lagi pula jika sejak awal kau tidak terima tawaranku (Bertarung di jarak dekat) apa kau pikir aku bisa mengalahkanmu semudah ini?"
"Heh tentu saja tidak."
Jawab Wanita itu dengan percaya diri.
"Benar Selain itu, kau juga masih punya kekuatan Teleportasi, Jika saja kau gunakan kekuatan itu terus saat bertarung denganku, aku yakin kau pasti bisa membunuhku. Jadi kenapa kau tidak melakukan itu?"
Kenapa? Tentu saja itu karena aku harus hemat, lagi pula Kekuatan ini harus menggunakan Kristal Monster agar bisa di aktifkan. Dan jika itu habis maka Aku tidak akan bisa meninggalkan negara ini.
Selena ingin mengatakan itu, tetapi ia lansung hentikan sebab tidak ada gunanya memberitaukan hal ini pada seorang Bocah.
"Bocah kau tidak perlu tau soal itu."
"Hmmm ya sudah kalau begitu matilah."
Aku mendekatkan Pistolku di dekat dahinya lalu aku mencoba menekan pelatuknya.
Tetapi tiba - tiba wanita itu mencengkram tanganku dengan erat yang membuat aku sedikit kaget.
"W-woy apa yang kau lakukan?"
"APA? TENTU SAJA AKU INGIN MEMBUNUHMU."
"Hah Membunuhku? Apa kau gila. Percuma saja kau melakukan itu, kau bahkan sudah tidak bisa bergerak."
"Kau benar, aku memang sudah tidak bisa menggerakkan tubuhku tapi setidaknya aku bisa membunuhmu dengar cara seperti ini!!"
Wanita itu lansung mengeluarkan Benda kotak dari dalam bajunya, dimana Benda itu memiliki sebuah Tombol merah di tengahnya.
"Tombil itu? Apa mungkin!!"
Aku mempunyai firasat buruk soal tombol merah itu. Dan seperti yang aku pikirkan sesaat Wanita itu menekannya Tepat di bawah kami Terjadi sebuah ledakan yang sangat besar.
Dimana ledakan itu membuat Atap Bangunan ini Runtuh dan kami berdua lansung jatuh ke bawah..
UWAAAAAAAAAAAA!!
(Sial, tidak ku sangkah ia memasang Bom di tempat seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?)
Aku mencoba melihat sekitar dan menemukan sebuah batu besar yang jatuh bersamaku.
aku mengambil batu tersebut agar bisa ku gunakan sebagai pijakan untuk lompat keluar dari bangunan ini.
Sayangnya sebelum aku melakukan itu, Wanita itu lansung mencengkram kaki ku dengan erat sehingga membuat aku berhenti bergerak.
"BOCAH, KAU PIKIR KAU INGIN KE MANA?"
"CIH, LEPASKAN KAKI KU SIALAN!
Aku mencoba menendang Wajahnya, tetapi sebelum aku melakukan itu Tiba - tiba Tubuh wanita itu bersinar Terang hingga membuat pandanganku sedikit sakit.
(~Ughh Cahaya inikan!)
Dalam sekejap mata, kami berdua lansung Hilang dari tempat itu dan muncul tepat di atas langit malam dengan ketinggian beberapa ratus meter dari tanah.
"Tu-Tunggu ini, jangan Bilang..."
"BENAR, SEBENTAR LAGI AKU AKAN MEMBUANGMU DARI SINI. AKU INGIN TAU KIRA - KIRA KAU BISA SELAMAT APA TIDAK YAH?"
__ADS_1
Ucap Wanita itu dengan senyuman seringai di balik topengnya.