BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
SIAPA SI X INI?


__ADS_3

Setelah beberapa Saat mereka berjalan, tak lama kemudian akhirnya Bulan pun bisa melihat Tebing yang pernah Leon tandai.


dan Di atas tebing itu adalah tempat dimana Leon Mengubur kedua teman Bulan yaitu Luis dan Felik.


(Tidak ku sangka, pencarian mereka bahkan berhasil sampai di tebing ini. Jangan bilang mereka juga menemukan Jejak Luis di atas sana?)


Di saat Bulan memikirkan itu, ia merasa takut dan Pucat.


Sebab ia tau, jika Para Polisi itu sampai menemukan Jejak Luis di atas sana, maka sudah pasti mereka Akan menfokuskan penyelidikan mereka di area itu.


yang artinya, kemungkinan besar mereka bisa menemukan tempat Luis dan Felik di kubur.


memikirkannya saja, membuat Bulan terus meneteskan keringat dingin.


(Cih, ini benar - benar gawat, aku harus mencari cara untuk menghentikan mereka, jika tidak...KAMI BERDUA BISA -BISA TERTANGKAP.)


Pikir Bulan sambil terlihat ketakutan.


Setiap kali Bulan melangkah ke sana ia merasa jantungnya makin cepat berdetak, Seolah ingin meledak...


Namun, di saat mereka sudah hampir mendekati Tebing itu, Tiba - tiba Firdaus dan Isty berbelok ke arah samping, dimana membuat Bulan merasa sangat terkejut.


"Ehh!"


Isty yang menyadari itu, lansung bertanya...


"Ada apa?"


"Ti-tidak, bukan apa - apa."


Balas Bulan dengan Gugup.


kemudian ia mencoba melirik Ke arah Tebing dan bertanya - tanya...


(Ke~Kenapa...kenapa kita malah berbelok ke Arah samping? Bukankah Tebing itu ada di depan sana? Apa yang sebenarnya Terjadi?)


Satu demi satu pertanyaan terus di tanyakan di dalam Pikiran Bulan, tetapi tetap saja ia tidak bisa menemukan jawabannya.


Hingga akhirnya ia pun menyerah dan melanjutkan mengikuti Firdaus dan Isty di depannya.


Setelah beberapa saat mereka berjalan, tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di Titik terakhir Hilangnya Luis.


"Baiklah, kita sudah sampai."


Ketika Bulan melihat ke arah depan, ia sentak kaget dan kebingungan. "i~inikan..." sebab apa yang di hadapannya saat ini adalah sebuah Danau Luas yang mengalir dengan Deras.


di tambah lagi Danau ini tidak pernah sekalipun Bulan Lihat waktu menelusuri Hutan ini bersama dengan Leon.


jadi bagaimana bisa mereka bisa sampai di tempat seperti ini.


(Kau pasti bercandakan, Apa - apaan ini, kenapa penyelidikan mereka bisa sampai di tempat seperti ini, Apa yang sudah Leon lakukan?)


_______________________________


____________________________


>Di Waktu Bersamaan.


Di sebuah Ruangan Mewah di pangkalan Militer, Di sana Terdapat seorang Pria Tua sedang mengerjakan beberapa Dokumen yang ada di atas mejanya, dimana Pria itu adalah Seorang Perwira Tinggi berpangkat Letnan bernama Bamantara.


Ia berumur 56 Tahun, mempunyai rambut Keputihan Yang di Sisir ke arah belakang, di tambah Ia juga Memilik Tubuh yang kekar dan tatapan tajam, dimana tatapannya itu Seolah bisa mengitimidasi seseorang saat melihatnya.


dan ketika Bamantara lagi Fokusnya mengerjakan Dokumennya, tiba - tiba ia dengar suara Ketokan dari arah Pintu.


TOK!!...TOK!!...TOK!!...


Bamantara lansung melihat ke sana dan bertanya....


"Siapa?"


"Ini aku pak, Rangga."


Balasnya dari balik Pintu.


"Ooh kamu sudah datang, masuklah."


Setelah mendapatkan Izin dari Bamantara. Rangga pun membuka Pintu dan lansung masuk ke dalam.


Dimana Ia mendekati Bamantara dan memberi Hormat.


"Maaf Sudah mengganggu waktu anda pak."


"Hahaha, tidak usah sekaku itu. Cepat duduk di sana dulu."


Ucap Bamantara yang terlihat senang, sambil memandu Rangga untuk duduk di Sofa yang ada di Ruangan.


Setelah Rangga Duduk, Bamantara memanggil salah satu Prajuritnya untuk membuatkan Rangga Dan Dirinya Teh.

__ADS_1


"Tolong, buatkan kami teh."


"Baik pak."


Setelah Prajurit itu pergi untuk membuat Teh, Bamantara melihat Rangga dan bertanya...


"Ini sudah lama yah, Bagaimana keadaanmu akhir - akhir ini?"


"Y-Yah, aku baik - baik saja pak."


"Begitu."


Ucap Bamantara sambil tersenyum.


Di saat Teh mereka udah selesai, Bamantara lansung meminumnya, setelah ia minum ia kembali melihat Rangga dan bertanya...


"Omong - omong aku dengar beberapa hari yang lalu kamu buat keributan ya-


-kalau tidak salah, kau menghajar salah satu anak Pembisnis terkaya di negara ini?"


"Oh Jadi, anda sudah tau?"


Tanya Rangga dengan Serius.


"Tentu saja aku tau,..lagi pula, Ini juga berkaitan alasan kenapa aku memanggilmu kemari."


Rangga Yang Dengar itu lansung menyipitkan matanya dan bertanya...


"Apa maksudmu?"


"Um, sepertinya kamu belum tau yah, alasan aku memanggilmu kemari, itu karena beberapa Hari yang lalu, aku dengar bahwa anak yang kau hajar sepertinya telah menghilang dan sampai saat ini masih belum di temukan."


Rangga yang dengar itu lansung terkejut, namun beberapa detik kemudian ia kembali tenang dan bertanya.


"Pak, apa anda Serius?"


"Yah,...bukan hanya itu saja, bahkan lebih parahnya lagi, para Polisi yang menyelidiki kasus ini sepertinya telah mencurigaimu dan mereka memintaku untuk menyerahkanmu ke mereka untuk di selidiki."


Mendengar hal itu, Rangga terlihat biasa - bisa saja, seolah ia sudah tau akan hal ini.


"Hmm..Begitu."


ucap Rangga.


"Sepertinya kamu tidak terkejut ya?"


"Eh..Benarkah?"


ketika Bamantara mengatakan itu, Rangga mengabaikannya dan lansung bertanya dengan Serius.


"Jadi, apa yang akan anda lakukan, apa anda ingin menyerahkan aku ke Mereka(Polisi)."


"Tidak, untuk saat ini aku menolaknya, lagi pula aku ingin tau dulu kejadian sebetulnya yang terjadi di sana, apa kamu benar - benar bersalah atau tidak, sebelum aku buat pilihan-.


-itulah sebabnya Rangga,...beritau aku, apa yang sebenarnya terjadi di sana dan kenapa kamu melakukan itu?"


Di saat Bamantara menanyakan itu, untuk sementara Rangga tidak menjawab apapun dan hanya diam dan menatap Bamantara.


"......."


Setelah beberapa detik menatap Bamantara, tak lama kemudian Rangga menghela nafasnya "Haaa.." kemudian ia menjawab...


"Baiklah aku akan beritau, Sebetulnya....."


______________________________


____________________________


Setelah beberapa saat Rangga memberitau semua apa yang terjadi di sana dan alasan kenapa ia melakukan itu.


Bamantara merasa kaget kemudian melamun, dimana ia seolah - olah sedang memikirkan sesuatu.


"....."


Setelah beberapa detik ia berpikir, tak lama kemudian ia kembali melihat Rangga dan berkata...


"Begitu aku mengerti, jadi gara - gara adekmu di ganggu, kamu pergi kerumahnya untuk beri ia pelajarankan?"


"Yah, awalnya aku hanya ingin agar ia tidak menganggu Adekku lagi. tapi tidak ku sangkah malah jadi begini."


Bamantara yang dengar itu lansung membalas...


"kau benar, terlebih lagi pesan yang membuat Adekmu di jadikan Target juga telah di hapus-


-Haaa...Seandainya saja anak itu(Luis) tidak menghapus Pesannya yang Di Grup, mungkin kita masih punya kesempatan untuk tidak menyerahkanmu pada Kepolisian."


"Eh Benarkah? kalau begitu, aku akan berikan."

__ADS_1


Bamantara yang dengar itu terlihat kebingungan. "Eh!!" dimana ia mencoba bertanya....


"Apa yang ingin kamu berikan?"


"Yaaa sebetulnya, Sebelum aku berangkat ke rumah anak itu(Luis), aku mendapatkan pesan dari Seseorang, yang menyebut dirinya X."


"X?"


"Yah, orang itu mengirimkanku Sebuah Foto hasil ScreenShot, yang di ambil dari pesan anak itu(yang di Grup), sebelum anak itu menghapusnya."


Bamantara yang dengar itu sentak terkejut. Sebab ia tau, jika Foto itu memang benar - benar ada maka sudah pasti masalah ini akan mudah di atasi.


"Rangga apa itu benar, bisa kamu perlihatkan foto itu?"


Ketika Bamantara meminta Foto tersebut, Rangga lansung membalas "Tentu saja." kemudian ia mengeluarkan Hpnya dari saku dan memperlihatkannya ke Bamantara, dimana Bamantara terlihat kaget sekaligus senang.


"Bagus dengan Foto ini, seharunya kita bisa Buat para Polisi itu diam dan tidak Bisa menangkapmu."


"Baguslah, kalau gitu, aku serahkan Foto ini padamu pak."


"Yah, Aku mengerti."


Balas Bamantara dengan senang, sambil mulai mengirim foto tersebut ke Hpnya. Setelah Foto itu terkirim ia mengembalikkan Hp itu ke Rangga "ini.." dan berguman....


"Meski begitu, siapa Si X ini? Tidak ku sangka ia mengirimkanmu Foto seperti ini."


Rangga yang dengar itu lansung membalas...


"Anda benar,...jujur saja aku juga tidak tau siapa Si X ini, aku pernah berpikir untuk mencari tau soal dia, tapi...."


"Kamu merasa bersalah."


Jawab Lansung Bamantara, seolah sudah tau apa yang ingin Rangga katakan. kemudian Rangga pun membalas..


"Yah, karena jika bukan berkat dia, maka sudah pasti anda akan mendapatkan masalah kan?"


"Bukan cuma aku tapi kau juga. lagi pula gara - gara siapa aku bisa mendapatkan masalah seperti ini?"


Tanya Bamantara sambil Melihat Rangga dengan kesal. Dimana Rangga yang sadar akan hal itu lansung merasa bersalah dan Buru - buru menundukkan kepalanya.


"Ma~Maafkan aku."


________________________________


______________________________


Di sore hari, di tempat duduk di sebuah taman, di sana Terlihat aku(Leon) sedang bersantai sambil memainkan salah satu Hp yang ku ambil dari anak berandalan.


Dimana Hp itu memperlihatkan sebuah pesan yang berisikan Sebuah Foto ScreenShot yang ku kirimkan ke Kak Rangga waktu itu.


dan Foto tersebut tidak lain adalah Foto pesan yang Luis buat di Grup untuk menargetkan diriku.


(Bagus, Sekarang Semuanya masih berjalan sesuai rencana.-


-yang tersisa hanyalah dia(Rangga),...Aku harap, dia berhasil menahan Penyelidikan para Polisi itu dengan Foto ini.)


Di saat aku memikirkan itu, PIX memperhatikan diriku dan bertanya...


[Master, ada apa anda dari tadi melamun terus?]


"Hah...tidak, bukan apa - apa."


Balasku sambil mencoba berdiri, kemudian aku buang Hp itu ke tanah dan lansung kuinjak - injak hingga retak.


Setelah Hp itu Retak aku membuangnya ke Selokang agar tidak Bisa di temukan.


[Master, apa tidak apa - apa anda membuang Hp itu?]


Ketika PIX menanyakan itu, aku dengan tenang menjawab...


"Yah, lagi pula cepat atau lambat dia(Rangga) pasti akan mencoba mencari tau siapa yang kirimkan Foto itu.-


-jadi sebelum itu terjadi sebabnya kita buang saja."


[Hmm begitu.]


Ucap PIX sambil menatap Hp itu yang mulai tenggelam di Kotornya air Selokang.


Setelah Hp itu sudah tidak kelihatan, aku pun mencoba meregangkan kedua tanganku sambil berkata...


"Baiklah, kalau gitu sudah saatnya kita pergi."


[Kemana?]


"Menemui Bulan, seharusnya sebentar lagi ia akan Pulang."


Setelah mengucapkan itu aku pun lansung berjalan pergi meninggalkan taman itu.

__ADS_1


__ADS_2