
Tak lama setelah kami menempuh perjalanan, akhirnya kami sampai di tempat Bu Linda. Dimana kami mulai menuju ke Apartemen nya.
Namun karena salah satu kaki ku sedang sakit sehingga aku kesulitan jalan, jadi Bu Nara menawarkan dirinya untuk membantuku dengan menggendong aku di belakang punggungnya.
Tentu saja awalnya aku tolak, bagaimanapun juga hal ini sangat memalukan bagiku yang di kenal sebagai orang yang paling di takuti di dunia.
Namun karena aku juga sadar. dengan kaki ku yang seperti ini agak sulit untuk menaiki tangga, sehingga mau tidak mau aku menerima bantuannya.
(Haa tetap saja ini sangat menyebalkan sih.)
Pikirku. Sementara itu PIX seolah menikmatinya dan mulai menertawaiku.
[Hahaha Master, yang sabar ya, setidaknya anda masih bisa menikmati tubuh mulusnya itu.]
(Kau,...di situasi seperti ini bisa - bisanya kau bilang begitu.)
[Memang kenapa? Bukankah anda sendiri sangat menikmati menyentuh tubuh mulusnya itu?]
(Yaa aku tidak bisa menyangkalnya sih.)
Balasku saat memgelus pundak Bu Nara, dimana membuat Bu Nara merasa tidak senang dan lansung menyentil dahiku.
"Leon hentikan itu, aku geli tau."
"~Aduh..du, du...Ba-Baik aku akan berhenti. Maafkan aku."
____________________________________
_________________________________
Setelah beberapa saat kami menaiki tangga tak lama kemudian akhirnya kami sampai di depan Pintu Apartemen Bu Linda.
Dimana di saat Bu Linda membuka pintunya, Gadis - Gadis itu lansung berlari masuk ke dalam.
"Astaga, kalian semua bisa tidak kalian lepas sepatu kalian dulu." ucap Bu Nara.
"Hah kami lupa."
Mereka semua mulai melepas sepatu mereka masing - masing, lalu setelah itu mereka masuk ke dalam. Di ikuti oleh Kana dan juga Sara dari belakang.
Melihat tingkah anak - anak itu membuat Bu Nara mengerutkan keningnya dan terlihat lelah.
"Haaa anak - anak itu,....Maaf yah, Bu Linda, sepertinya mereka benar - benar akan merepotkanmu."
"Tidak, itu tidak apa - apa. Lagi pula aku juga senang kok mereka datang ke sini. Selain itu melihat anakku bermain dengan para muridku membuat aku sangat bahagia."
"Benarkah, syukurlah kalau begitu."
Guman Bu Nara sambil tersenyum.
Sementara itu, aku yang masih di gendong oleh Bu Bara, menatap ia dengan datar, sambil mencoba meminta ia untuk menurungkan aku dari belakang punggungnya.
"Anu Bu Nara, kita sudah sampai, bisa tidak kau turungkan aku sekarang."
"Oh maaf, aku lupa."
Bu Nara buru - buru menurunkan aku, namun di saat ia melihat caraku berjalan, ia merasa khawatir lagi denganku.
"Leon, apa kau benar - benar tidak apa - apa, bukankah lebih baik aku menggendongmu sampai ke dalam?"
__ADS_1
"Tidak usah, aku bisa jalan sendiri ke dalam."
Jawabku, lalu setelah itu aku berjalan masuk ke dalam, dimana di saat aku sampai di ruang tamu Aku melihat Kana sedang mengajak Gadis - Gadis itu bermain monopoli.
Aku tidak melihat Sara, jadi aku mencoba mencarinya dan menemukan ia sedang baring - baring di atas sofa. aku menghampirinya dan duduk di dekatnya.
"Kenapa kau tiduran di sini? Apa kau tidak ikut main dengan mereka?" Tanyaku.
"Tidak, aku capek, aku mau tidur."
"Kalau kau capek, bukankah lebih baik kalau kau pulang saja dan tidur di rumahmu?"
"Jika aku bisa aku pasti sudah lakukan. Sayangnya gara - gara kau, kita sampai berada di sini.-
-Selain itu, masih ada hal penting juga yang ingin ku bicarakan dengan Bu Linda."
Aku sedikit penasaran dan bertanya...
"Hal penting? Apa itu?"
"Kamu tidak perlu tau."
Balas lansung Sara.
"Hmm Jangan bilang alasan kau ikut dengan kami karena itu?"
Seolah pertanyaanku tepat sasaran, Sara terkejut dan buru - buru memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Sudah cukup, aku tidak mau bicara lagi denganmu, aku mau tidur."
Aku masih ingin mengganggu nya tetapi aku lihat Bu Linda dan Bu Nara sudah masuk ke dalam, sehingga aku menghentikan niatku.
___________________________________
_________________________________
Aku penasaran apa yang ingin mereka bicarakan sehingga aku menajamkan indra pendengaranku agar bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Jadi Bu Linda-!!"
Sebelum Bu Nara selesai bicara, Bu Linda lansung memotongnya dan berkata...
"Panggil saja aku Linda, lagi pula kita tidak berada di sekolah sekarang."
"Baiklah kalau begitu Linda, aku tau kamu tidak ingin orang - orang mengetaui situasi yang kamu alami. Tapi meski begitu tetap saja aku ingin kamu memberitauku, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dengan suami mu?"
Awalnya Bu Linda diam saja dan tidak mau menjawab, namun ketika ia melihat wajah serius Bu Nara, ia memutuskan untuk memberitau nya.
"Baiklah, aku akan beritau."
"Benarkah?"
"Yah."
Bu Nara terlihat senang. Bu Linda mengabaikannya dan mulai menceritakan semuanya ke Bu Nara, apa saja yang terjadi dengan ia dan suami nya di masa lalu.
Menurut apa yang Bu Linda katakan, saat ia berumur sekitar 22 tahun, ia bertemu dengan suaminya di sebuah universitas tinggi, dimana Kebanyakan orang yang masuk di universitas itu adalah orang - orang kaya dan juga mempunyai status tinggi.
Tidak seperti sekarang, waktu itu suaminya adalah orang yang sangat kaya dan juga baik. meskipun ia dari kalangan atas tapi ia sering menolong Bu Linda dari orang - orang yang sering merendahkannya. Bahkan kadang juga membantunya.
__ADS_1
Suatu hari, ia ingin melamar Bu Linda dan Memohon ke keluarganya untuk bisa menikai Bu Linda.
Tetapi seperti yang kalian tau, Saat itu Bu Linda hanya rakyat jelata, meskipun suaminya berusaha keras untuk membujuk kedua orang tuanya untuk bisa menikai Bu Linda. Tetapi tetap saja mereka tidak menyetujuinya.
Sampai akhirnya suaminya pun memutuskan untuk meninggalkan semua yang ia punya. Mulai dari harta, kekayaan, Hak waris hingga Rumahnya dan pergi ke kota ini untuk bisa hidup bersama dengan Bu Linda.
Awalnya kehidupan mereka berjalan lancar dan baik - baik saja. perusahan yang suaminya bangun juga semakin besar.
Namun, suatu hari tiba - tiba perusahan ia mengalami kebangkrutan sehingga meninggalkan banyak sekali utang.
Tentu saja saat itu Bu Linda optimis, ia berpikir selama ia dan suaminya berkerja sama untuk mencari uang dan menabungnya, utang mereka pasti bisa lunas.
Namun Bu Linda saat itu tidak menyadari bahwa suaminya sangat tertekan. Ia(Suaminya) tidak hanya menginginkan utang mereka lunas tapi ia juga menginginkan perusahan yang ia bangun selama bertahun - tahun kembali padanya.
Sampai akhirnya ia pun mencoba untuk mencari jalan cepat, yaitu dengan Bermain Judi.
Selama ia mendapatkan banyak uang maka perusahan ia pasti akan kembali padanya. itulah suami Bu Linda pikirkan.
Sejak itulah suami Bu Linda mulai berubah, ia sering mengambil tabungan yang Bu Linda kumpulkan hanya untuk bisa bermain judi.
Padahal tabungan itu, Bu Linda kumpulkan untuk bisa melunasi utangnya.
Selain itu, ia tidak hanya mengambil sekali, tapi beberapa kali.
Meski begitu Bu Linda tidak menyerah, ia terus menabung uangnya. Walaupun ia merasa kesulitan juga karena harus menghemat uangnya untuk bisa membiayai beberapa hal. Seperti kebutuhan anaknya yang masih kecil, tempat tinggal, Listrik dan lainnya.
Bu Nara pun bertanya......
"Kenapa kamu harus melakukan semua itu?"
Bu Linda hanya menjawab. Itu Karena bagi ia, suaminya sudah berkorban untuknya di masa lalu dengan meninggalkan semua kekayaan yang ia punya dan juga Keluarganya hanya untuk bisa hidup bersama dengan Bu Linda.
Jadi setidaknya kali ini Bu Linda juga harus berkorban untuknya. dengan membantu suaminya melunasi semua utang nya.
Namun berapa kali pun Bu Linda membayar utangnya, utangnya tidak pernah Lunas, malahan terus bertambah.
Bahkan kadang ia juga sering marah - marah saat pulang dan meminta uang ke Bu Linda. Yang jika tidak di kasih, Bu Linda akan di pukuli.
Tentu saja Bu Linda tau, uang itu akan di gunakan untuk apa. Dan ia juga sudah sering memberitau suaminya bahwa tidak ada gunanya bermain judi Karena itu hanya akan memperburuk keadaan.
Namun suaminya tetap saja ngotok dan bilang kalau ia bisa melunasi semua utangnya jika ia berhasil menang.
Meskipun hal itu memang benar, tetapi bukan berarti itu bisa memecahkan masalah.
Karena selama kamu kalah, kamu pasti ingin terus bermain sampai modalmu kembali. Dan jika kamu melakukan itu tanpa kamu sadari sebetulnya kamu di tuntung ke dalam kegelapan hingga kamu tidak bisa keluar lagi dan terjebat terus di dalam sana.
(Karena itulah, aku sangat benci bermain judi.) pikirku.
[Anda bilang begitu, padahal kemarin, anda sendiri bermain.]
Aku merasa kesal, dan lansung membentak PIX.
(Diamlah.)
[Kenapa? Padahal permainan anda kemarin itu sangat hebat loh.]
(AKU BILANG DIAMLAH!)
Seolah tau suasana hatiku sedang tidak baik, PIX buru - buru minta maaf padaku.
__ADS_1
[Ba~Baik..maafkan aku.]
Ucapnya.