
Pada saat aku bersembunyi di balik tempok, di sisi lain, Terlihat Kak Rangga masih bicara dengan Carla yang ada di Laptop, dimana Kak Rangga berkata..
"Begitu, jadi Kak Carla belum tau yah, kapan Lubang ke 2 akan terbuka?"
{Yah.}
Jawab Carla dengan datar. Kemudian ia menatap Lurus Kak Rangga dan mencoba bertanya...
{Omong - omong, aku dengar kau akan memimpin pasukan baru yang di bentuk, untuk mengatasi Lubang ke 2 ini, apa itu benar?}
"Yah itu benar, untuk saat ini kami sudah mempersiapkan semuanya dan sedang bersiaga, jika Suatu saat Lubang 2 akan terbuka."
Jawab Kak Rangga yang terlihat senang, melihat itu, Carla lansung tersenyum dan berkata..
{Begitu, sepertinya kamu sudah berkembang yah?}
"Tidak, ini belum seberapa di bandingkan dengan Gu-!!"
'Ru' ingin ucap Kak Rangga, namun sebelum mengucapkan itu, ia lansung berhenti dan melihat ke arah Carla dengan Ekspresi bersalah.
"Ma-Maaf, aku tidak sengaja tadi."
{Itu tidak apa - apa. Yang lebih penting, apa kau ingin ku kirimkan Pasukan ke sana, untuk membantumu?}
"Eh, apa tidak apa - apa?"
Tanya Kak Rangga yang terlihat terkejut.
{Tentu saja, lagi pula, kau adalah murid ketua kami, sudah pasti kami akan membantumu.}
Ucap Carla dengan senang, namun sesaat kemudian tiba - tiba ekspresinya berubah sedih dan berkata...
{Tapi, sayangnya aku tidak bisa mengirimkannya sekarang, karena ada urusan yang harus kami urus terlebih dahulu.}
Ucap Carla dengan serak. mendengar itu, Kak Rangga lansung menyipitkan matanya sambil mencoba bertanya..
"Urusan, jangan bilang....."
{Yah kau benar, tak lama lagi kami akan bertemu dengan Orang itu,...ORANG YANG SUDAH MEMBUNUH KETUA KAMI.}
ucap Carla dengan serius. Kak Rangga yang dengar itu, membuat tatapannya lansung terlihat sangat tajam dimana Hawa membunuh terus keluar dari Tubuhnya.
Bahkan ia meremas tangannya sangat kuat, sampai - sampai, kukunya pun melukai telapat tangannya sendiri, hingga darah menetes dari tangannya.
Sedangkan di sisi lain tepat di balik Tembok, ketika aku merasakan hawa membunuh Kak Rangga. Bukannya aku takut atau merasa merinding, Aku malah terlihat tenang - tenang saja.
Alasannya itu karena aku tidak terlalu mempedulikan hawa membunuh tersebut melainkan, aku terus memikirkan apa yang aku dengar barusan, dimana Carla berkata..
Setelah mendengar itu, di ruangan yang gelap dimana hanya di terangi Cahaya bulan yang lewat dari Jendela. terlihat tatapanku Seperti memancarkan Cahaya di balik kegelapan dan berpikir...
(Dari apa yang Carla katakan barusan, itu berarti, sejak aku reinkarnasi ke tubuh ini, ia sudah mencari orang itu, selama ini-
Terlebih. Di lihat dari kelopak matanya yang Hitam saat aku mengintip. aku bisa tau kalau selama ini ia sudah memaksakan dirinya sendiri untuk mencari orang itu.)
Ucapku di dalam pikirkan, sambil wajahku terlihat tenang namun bercampur dengan kesedihan.
Di sisi lain, PIX yang dengar, apa yang barusan aku katakan lansung menjawab..
[Anda benar, tapi bukan hanya itu saja, dari pembicaraan mereka tadi, aku mengira kemungkinan Wanita itu juga Salah satu PENGGUNA TUPXION.]
__ADS_1
Tentu saja, mendengar hal tersebut membuat aku sangat kaget dan lansung melihat ke arah PIX, dimana aku bertanya..
(PENGGUNA TUPXION? APA MAKSUDMU PIX?)
Tanyaku di dalam pikiran, PIX yang mendapatkan pertanyaan itu, dengan tenang ia menjawab..
[Yaa, Master mungkin tidak tau, tapi di antara 7 TUPXION yang di bawah gadis itu kedunia ini, ada satu TUPXION dimana ia bisa mendeteksi dan tau kapan Fenomena Lubang akan terbuka.]
Pada saat aku dengar itu, aku lansung mengingat pembicaraan Kak Rangga dan Carla tadi, dimana mereka terus saja bicara Soal Lubang ke 2 akan terbuka.
Seolah - olah Carla tau kapan hal itu akan terjadi.
(Setelah di ingat - ingat benar juga.)
[Nah, itulah kenapa, aku mengirah kemungkinan ia adalah PENGGUNA TUPXION.]
(Tapi, jika Carla benar - benar PENGGUNA TUPXION itu berarti, yang beri ia kekuatan itu tidak lain adalah.....)
[Gadis itu.]
Jawab lansung PIX.
Setelah mendengar itu, aku kembali mengitip ke Ruang tamu, dimana aku mencoba mendengar lagi pembicaraan mereka.
"Omong - omong Kak, Boleh tidak aku ikut dengan kalian?" ucap Kak Rangga
{Kamu?...tidak, kamu tidak boleh, lagi pula ini masalah antara kelompok kami dengan orang itu, jadi kau tidak usah ikut campur.}
"Tapi kan aku ini Murid ketua kalian, jadi..."
{Mau kau murid ketua kami atau tidak, yang jelas aku tidak bisa membawamu ikut.}
{Selain itu, apa kamu lupa, Ketua kami sudah pernah memberitaumu, kalau ia tidak mau kau masuk ke dunia yang kami tempu, melainkan cari jalur yang lain-
-dan saat ini kamu sudah menemukan jalurmu sendiri kan?}
Tanya Carla dengan senyuman, Kak Rangga yang dengar itu, lansung menundukkan kepalanya ke bawah dimana ekspresinya terlihat sedih.
Melihat itu Carla lansung mendengus dan berkata...
{Yaaa, tidak usah sekhawatir itu, lagi pula, kami berjanji tidak akan gagal, kami Pasti akan membunuh Orang itu untuk membalaskan kematian ketua kami, jadi tidak usah khawatir, mengerti?}
Tanya Carla dengan Serius. Di sisi lain untuk sementara Kak Rangga tidak mengatakan apapun "......." namun setelah beberapa detik kemudian ia dengan lesu menjawab...
"Baik, aku mengerti."
Mendengar hal itu, Carla sekali lagi mendengus dan mengalihkan pandangannya ke arah belakang Kak Rangga.
dimana ia melihat mataku yang sedang mengintip di sana dan Membuat mata kami saling menatap satu sama lain.
hingga membuat aku lansung Shock dan kembali sembunyi di balik tembok...
(Sial, apa aku ketahuan?)
Ucapku didalam pikiran sambil mencoba menyembunyikan hawa kehadiranku setipis mungkin, agar keberadaanku tidak di ketaui, namun....
{Omong - omong Rangga, boleh aku tau siapa di belakangmu itu?}
Ketika Carla Menanyakan itu, membuat sekujur tubuhku lansung merinding.
Di sisi lain, Kak Rangga yang dengar itu, lansung berbalik dan melihat ke arah belakang. Dimana tidak ada siapapun orang di sana.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan, tidak ada siapapun di sini selain aku."
Ucap Kak Rangga sambil melihat sekeliling, namun...
{Itu Tidak benar, aku tadi lihat ia mengintip di situ.}
Ucap Carla sambil menunjuk tembok tempat aku bersembunyi. Melihat itu, Kak Rangga lansung mengarahkan pandanganya ke arah tembok tersebut dan berkata...
"Tidak ada siapapun di sana, bahkan aku tidak merasakan hawa kehadiran sedikitpun."
{Benarkah?}
Ucap Carla sambil bertanya - tanya apa benar tidak ada orang di situ.
Namun, tidak mau menyerah Carla lansung mengalihkan pandangannya ke arah tembok itu dan berkata..
{Woy Kau Yang Bersembunyi Di Situ Cepat Keluar.}
Kak Rangga yang dengar itu. Lansung berbalik ke arah Carla dan bertanya..
"Anu, apa benar ada orang di situ?"
{Yah, aku lihat tadi, bahkan mata kami sempat bertemu.}
Mendengar itu, Sekali lagi Kak Rangga melihat ke arah tembok, Tempat aku berembunyi, dimana ia mencoba bertanya juga....
"Apa ada orang di sana?"
"......"
Namun, sayangnya tidak ada Satupun jawaban, hingga membuat Kak Rangga jengkel dan lansung mengeluarkan Pistol yang ia selipkan di pinggangnya dan mengarahkannya ke sana.
"Aku akan tanya lagi, Siapapun yang ada di sana, cepat keluar, jika tidak aku akan menembak."
Ucap Kak Rangga sambil memompa Pistolnya dengan ekspresi serius.
mengetaui itu, aku yang berada di balik tembok lansung meneteskan keringat dingin. Dimana aku berkata..
(Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain keluar.)
[Sepertinya begitu.]
Jawab PIX.
Kemudian aku lansung mengeluarkan nafasku yang selama ini aku tahan "haaaaaa....." sambil mengangkat kedua tanganku ke atas dan berjalan keluar.
"Maaf Kak Rangga, ini aku."
Ucapku sambil menatap mereka dengan tenang. Namun berbeda denganku Kak Rangga yang melihatku keluar dari balik tembok terlihat sangat terkejut.
(Eh, Le-Leon, aku sama sekali tidak merasakan hawa kehadirannya.)
Bukan hanya Kak Rangga, bahkan Carla pun juga terlihat sangat kaget saat melihatku.
Alasannya itu karena, ia tidak menyangkah, orang yang tidak bisa Kak Rangga rasakan hawa kehadirannya, ternyata hanyalah seorang Bocah.
(Seorang Bocah bisa menghilangkan hawa kehadirannya tanpa di ketaui Rangga, siapa sebenarnya dia?)
Ucap Carla di dalam pikiran sambil menyipitkan matanya yang tajam ke arahku.
Namun bukannya takut, aku menatap balik mereka, dimana tatapanku terlihat sangat tenang tapi tajam.
__ADS_1