
Setelah Roh TUPXION nya setuju untuk membantu Valdo. Valdo lalu memberitahukan apa yang ia inginkan.
Dan tak lama kemudian Roh TUPXION nya pun berguman sambil berkata....
[Hmm jadi begitu, dengan kata lain kamu ingin menjauhkan pria itu(Gregori) dari tempat ini kan?]
Secara singkat Valdo menjawab dengan tatapan serius.
(Yah.)
[Baiklah, kalau begitu tolong ulurkan tanganmu ke depan.] Kata Roh TUPXION nya.
Valdo mengikuti instruksi Roh TUPXION nya dan mengulurkan tangannya ke depan. Saat itu juga serpihan cahaya biru muda muncul di hadapannya dan berkumpul di tangannya.
Serpihan cahaya itu menyatu dan membentuk sebuah tombak silver yang mengkilap dan juga memancarkan cahaya.
"Tombak?"
Guman Valdo, dimana Roh TUPXION nya langsung membalas...
[Yah, kau lempar saja tombak itu ke arah orang itu, sisanya biar aku yang urus.]
Valdo tidak tau apa yang ingin Roh TUPXION nya lakukan. Yang jelas karena ia sudah di suruh jadi ia harus melakukannya.
(Baik, aku mengerti.) Balas Valdo.
Setelah itu Valdo mengambil ancang-ancang dan bersiap melempar tombaknya.
Saat salju yang berterbangan sudah mulai reda, Valdo akhirnya bisa melihat keberadaan Gregori dengan jelas.
Begitupun sebaliknya Gregori juga bisa melihat keberadaan Valdo.
Untuk sementara mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"......" Valdo.
"......" Gregori.
Lalu tak lama kemudian Gregori tiba - tiba berlari ke arah Valdo dan mulai mencoba menyerangnya.
Di sisi lain Valdo tetap terlihat tenang. Ia dengan kuat melemparkan tombaknya ke arah Gregori.
Pada awalnya Gregori tidak berniat menghindari tombak itu karena ia merasa bahwa tombak itu sama saja dengan senjata yang lainnya yang tidak bisa melukai tubuhnya, namun begitu tombak itu sudah hampir mencapai dirinya Gregori tiba - tiba merasakan firasat buruk dan secara spontan langsung menahan tombak itu dengan kedua tangannya.
Sayangnya, tombak itu tidak berhenti dan terus bergerak maju ke depan.
Gregori pun berusaha memegangnya sekuat tenaga agar tombak itu bisa berhenti tapi semakin kuat ia tahan, Aura di Tombak itu juga semakin kuat melaju ke depan hingga Gregori tampak mulai kesulitan menahannya.
Pada akhirnya Gregori pun berhasil di dorong mundur ke belakang.
__ADS_1
"~Ughhhh!!"
Meski begitu Gregori tidak menyerah ia masih berusaha menahan tombak itu.
Lalu tiba - tiba muncul sebuah lingkaran sihir di samping kiri dan kanan Gregori.
Warna dari lingkaran sihir itu agak sedikit berbeda di bandingkan sebelumnya dimana warnanya Biru muda.
Lingkaran sihir itu juga tidak mengeluarkan pedang melainkan dua rantai silver.
Rantai - rantai tersebut melilit tangan Gregori dan menariknya agar bisa melepaskan tombak itu dari genggamannya.
Gregori mencoba melawan tarikan dari rantai itu. Tapi semakin ia melawan tarikan dari rantai itu juga semakin kuat hingga akhirnya Gregori tidak bisa lagi menahannya dan genggamannya pun lepas dari tombak itu.
Saat itu juga tombak itu langsung menghantam perut Gregori, hingga membuat tubuh Gregori melengkung seperti huruf C.
BUUURKKK!!
~UGHHHHHH!!
Gregori terlihat kesakitan, meski begitu tombak tersebut tidak berhasil melukai atau menembus tubuhnya.
Namun, tombak itu tetap bergerak tanpa henti dan terus mendorong tubuh Gregori ke belakang, Sampai akhirnya ketika rantai yang melilit tangan Gregori lepas, tombak itu lansung membawa Gregori menjauh dari tempat ini.
Daya dorongan dari tombak itu sangat kuat hingga menyebabkan salju di sekitar lenyap seketika.
"Kau benar, tapi apa - apaan angin barusan. Aku sampai hampir terlempar lagi." Ucap Vincent
"Sama aku juga." Balas Sherlie.
Sementara mereka berdua sedang berbicara, Alexei berdiri dan memperhatikan sekeliling dimana ia tidak melihat Amaliya di manapun.
Yang ia lihat hanya Carla serta juga Valdo yang sedang berdiri di antara dua lubang raksasa di dekatnya.
Kemungkinan besar lubang itu di sebabkan oleh pukulan kuat dari Gregori.
"Valdo."
Alexei mencoba memanggil Valdo namun ia tidak merespon sama sekali, Matanya terus memandang jauh ke depan.
Alexei merasa penasaran akan apa yang dilihat Valdo, lalu dia mengikuti pandangannya.
Di kejauhan, samar - samar Alexei melihat Gregori di bawa terbang oleh sebuah tombak yang terus mendorong tubuhnya menjauh dari tempat ini.
"Va-Valdo itu-!!"
Alexei ingin mengatakan sesuatu namun Valdo segera memotong nya dan berkata..
"Tuan Alexei."
__ADS_1
"Ah! A-apa?"
"Izinkan saya mengurus orang itu(Gregori), orang itu sangat berbahaya. Saya harus menghalangi dia agar ia tidak kembali ke sini."
Tentu saja Alexei sadar dan mengerti maksud dari perkataan Valdo. Ia tau jika Gregori bertarung terus di tempat seperti ini maka ada kemungkinan gunung ini akan hancur, apa lagi setelah melihat kerusakan yang telah Gregori buat sebelumnya.
Karena itulah Valdo memutuskan untuk membawa Gregori menjauh dari tempat ini agar bisa menghindari kerusakan yang lebih jauh lagi.
"Baiklah, kau bisa pergi." Kata Alexei.
"Makasih, kalau begitu aku pergi dulu."
Setelah Valdo mengatakan itu. Valdo menjentikkan jarinya dan Satu pedang besar keluar dari lingkaran sihir dan melayang tepat di depan kaki Valdo.
Valdo menaiki pedang itu dan berdiri di atasnya, layaknya berdiri di atas sebuah skateboard.
Tak lama Kemudian pedang itu terbang dan membawa Valdo menjauh dari tempat ini.
(Mereka sudah pergi sekarang sisa dia saja.)
Alexei mengalihkan pandangannya ke arah Carla yang cuma tinggal seorang diri di sana.
Alexei setidaknya tau alasan Amaliya hilang kemungkinan besar karena ia telah di bawa oleh Selena ke suatu tempat.
Tentu saja Alexei khawatir dengan keadaan Amaliya tapi ia rasa Amaliya akan baik - baik saja karena Amaliya masih mempunyai Roh TUPXION yang akan melindungi dirinya jika ia dalam bahaya.
Yang menjadi masalah di sini adalah Mael. ia tidak ada di manapun.
Pada Awalnya Mael mungkin di tugaskan untuk membantu Gregori menghadapi Valdo. Tetapi sekarang Valdo dan Gregori sudah tidak ada, jadi kemana Mael?
Alexei terus menanyakan itu pada dirinya, dan saat itu juga dari jauh Alexei memperhatikan Carla menunjukkan senyuman seringai di bibirnya.
Alexei tidak tau alasannya namun ia seolah - olah memiliki firasat buruk.
Alexei menjadi waspada. Dan tak lama kemudian Carla pun mendekat dan mencoba berbicara dengan mereka.
"Hei kalian masih ada tiga orang sedangkan aku cuma sisa seorang diri saja. Kenapa kalian diam saja di situ, Bukankah ini kesempatan kalian untuk menyerang ku?"
"Menyerang mu? Carla apa kamu pikir kami bodoh, aku tau kau itu sedang merencanakan sesuatu."
Balas lansung Alexei. Meski begitu Carla tidak marah sama sekali, ia malah merespon dengan tawa dan berkata..
"Astaga, otakmu itu sedang memikirkan apa si, padahal aku itu tidak sedang merencanakan apapun loh."
"Sudahlah, tidak ada gunanya kau mengatakan itu padaku. Aku tidak akan pernah termakan oleh provakasi mu itu."
"Hmm baiklah, lagi pula aku sudah memberitau mu."
Setelah Carla mengatakan itu ia lalu menghela nafasnya dan mulai terdiam tanpa mengatakan apa - apa lagi.
__ADS_1