BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
KEDATANGAN BRID DI RUMAH


__ADS_3

20 menit yang lalu, di Rumah Leon tepatnya di Ruang tamu. Di sana semua Orang sedang Berkumpul sambil Nonton Sinetron dan Ngobrol satu sama lain.


Dimana Mereka juga sedang menunggu kedatangan seseorang yang sebentar lagi akan Tinggal di Rumah ini. Dia adalah....Brid.


"Oh iya Rangga Kapan Ia datang?"


Tanya Rani.


"Seharusnya sebentar lagi ia akan datang."


Jawab Rangga, lalu saat itu juga tiba - tiba dari depan Pintu Rumah terdengar suara Seseorang yang lagi mengetok pintu serta menekan Bel.


TEN!!...TEN!!...TEN!!...


"Oh baru saja di omongin sepertinya ia sudah datang."


Rangga Buru - buru berdiri dari tempat duduknya lalu ia pergi ke depan pintu, dimana Sesaat ia membuka Pintu Ia melihat Seorang Pria Dengan setelan Jaket Hitam serta 1 Koper Hitam yang ia bawa di tangannya.


Ia adalah Brid seorang Tentara Bayaran sekaligus Salah satu Dari Kelompok Serigala Pemburu.


"Paman Brid akhirnya anda datang juga, aku sudah menunggumu."


"Maaf ya aku lama, Ada urusan yang harus ku lakukan tadi jadi..."


"Tidak, itu tidak apa - apa. Yang lebih penting ayo Masuk ke dalam, di Luar sangat dingin."


"Kau benar, kalau begitu maaf mengganggu."


Setelah Brid masuk ke dalam, Rangga Lansung menutup Pintunya Kembali lalu ia tuntun Brid menuju ke Ruang tamu Dimana Semua Orang sedang menunggu ia disana.


______________________________


___________________________


Setelah Brid sampai di Ruang tamu, pertama - tama ia memperkenalkan dirinya. Lalu setelah itu ia duduk di sofa dan Bicara dengan Rangga beberapa Hal.


Mulai dari Apa saja yang ia lakukan setelah tiba di Kota ini sampai Rencana ia Ke depannya terhadap Selena yang saat ini ia cari.


Setelah pembicaraan mereka selesai, Beberapa menit kemudian dari dapur Rina Keluar dengan membawa beberapa Minuman, Salah satunya ia serahkan Ke Brid, sedangkan yang lainnya lagi ia serahkan Ke Ayah, Rangga, Siska, Ibu dan juga Rani.


Setelah menyerahkan Minuman - minuman tersebut Rina lansung kembali ke dapur.


TAP!!...Tap!!...tap!!...


Setelah Rina Kembali, Brid mulai Meminun minumannya Namun dari samping tiba - tiba Rangga ingat ada sesuatu yang ingin ia tanyakan ke Brid sehingga ia lansung memanggilnya.


"Oh iya Paman Brid aku lupa bertanya, bagaimana kondisi mereka semua di sana(Anggota KSP) apa mereka semua baik - baik saja?"


"Eh y-yah, Kecuali Carla mereka semua baik - baik saja."


"Begitu."


Guman Rangga.


Lalu Di sisi lain Ayah yang sejak dari tadi hanya diam saja dan mendengar pembicaraan mereka berdua. mulai ikutan juga.


"Omong - omong boleh aku tau berapa lama kamu akan tinggal di Rumah ini?"


"Kalau itu Aku juga kurang tau, mungkin setelah Tugasku di sini selesai aku baru pulang."


jawab Brid.


"Ooh Tugas yah, BOLEH AKU TAU TUGAS APA ITU?"


Ayah Menanyakan itu ke Brid dengan matanya yang menyipit dengan tajam di balik kacamata.


Baik Rangga dan Brid mengetaui hal itu, meski begitu Brid mengabaikannya dan dengan Tenang menjawab..


"Maaf kalau soal itu aku tidak bisa beritau."


"Kenapa?"


"Itu karena ini Rahasia."


"Hmmm."


Ayah terus menatap Brid dengan tatapan Curiga. Melihat hal itu Ibu lansung mencubit Pipi ayah untuk membuatnya berhenti.


"Hey berhentilah melihat dia seperti itu, kau membuatnya terganggu tau."


"Hah Ma~Maafkan aku."


Setelah ayah minta maaf, Ibu lansung melepaskan Pipi ayah lalu ia turung dari sofa dan pergi ke dekat Brid.


"Anu Namamu Brid kan. Kamu tidak perlu ya dengarkan perkataan dia(Ayah) tadi. Kamu bisa tinggal di Rumah ini selama mungkin, jadi tidak perlu di pikirkan?"


"Ba-Baik, makasih banyak."


Balas Brid yang merasa senang. Lalu ia mulai menepuk - nepuk kepala Ibu. Dimana bukannya Gembira Ibu malah terlihat tidak senang.


Sayangnya Brid tidak menyadari itu dan lansung mengalihkan pandangannya ke arah Rangga.


"Rangga tidak ku sangkah ternyata kau punya adik baik dan Imut seperti dia(Ibu), kamu benar - benar sangat beruntung yah."


Sesaat Brid Mengatakan itu semua orang di ruangan ini lansung kaget dan membatu.

__ADS_1


Melihat hal itu Brid kebingungan dan bertanya - tanya...


"Ada apa? Ke-kenapa kalian semua melihatku seperti itu. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"


"Yah anu Paman Brid sebetulnya, gadis itu adalah Ibuku." jawab Rangga.


"Eh ibumu, yang mana?"


"Itu yang kau tepuk - tepuk kepalanya."


"Tepuk?....eh!...Eh!...EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEH!!"


Brid Shock dan ia lansung Teriak dengan sangat keras, sebab ia tidak menyangkah bahwa Ibu Rangga adalah Gadis kecil ini.


(Kau pasti bercandakan.)


Pikir Brid.


_______________________________


____________________________


Beberapa Menit kemudian, Setelah suasana sudah kembali tenang, di sana Brid terlihat sedang duduk di Sofa dengan Kepalanya yang terus menunduk ke bawah dan minta maaf ke ibu.


"A-Aku,..Aku benar - benar minta maaf, aku tidak Menyangkah Anda adalah Ibunya Rangga."


"Itu tidak apa - apa tidak usah di pikirkan."


"Ta-Tapi aku sudah mengatakan sesuatu yang tidak sopan kepada anda tadi, jadi-!!"


"Sudah ku bilang itu tidak apa - apa. Jika anda tetap bersikeras kalau begitu tolong panggil aku Nyonya, Bagaimana?"


"Nyonya?"


"Yah. apa kamu tidak mau?"


"Ti~Tidak, Bukannya aku tidak mau hanya saja...."


"Hanya saja apa?"


"Ti~Tidak bukan apa - apa.


baiklah, aku mengerti Nyo~Nyonya."


Brid mengatakan itu dengan Wajahnya yang terlihat sangat Rumit, meski begitu Ibu tak memperhatikan nya dan tetap terlihat senang.


"Hahaha Bagus, aku senang kamu memanggilku begitu.-


-Baiklah, kalau gitu sudah waktunya mengangkat barang - barang mu ke atas. Seharusnya para pelayan juga sudah selesai membersihkan kamarmu."


"Umu, sama - sama."


Balas Ibu yang wajahnya terlihat sombong.


Lalu Brid berdiri dari sofa dan mencoba pergi mengambil Barang - barangnya bersama dengan Rangga.


Namun, di saat ia baru saja mau jalan tiba - tiba ia berhanti sesaat mengingat tujuan ia datang ke sini adalah untuk melindungi Adek Rangga yaitu Leon.


Sehingga Brid mencoba melihat - lihat sekitar untuk mencari keberadaannya, tetapi tetap saja ia tidak melihat anak itu di manapun. Jadi ia pun memutuskan untuk bertanya Ke Ibunya.


"Oh iya Nyonya, ke mana anak anda yang satunya lagi? Apa ia tidak ada?"


"Maksudmu Leon, Kalau ia belum pulang ke rumah sejak tadi pagi."


"Eh sejak tadi pagi? apa anda tidak khawatir?"


"Tentu saja aku khawatir. Tapi mau gimana lagi. Lagi pula kami juga sudah berulang kali peringati dia untuk tidak pulang malam - malam tapi tetap saja ia tidak mendengarkan.-


-Bahkan beberapa hari yang lalu ia Pulang saat tengah malam."


"Hmm sepertinya anak anda sedang dalam masa pemberontakan?"


"Sepertinya begitu."


Balas ibu yang tersenyum sedih.


Lalu saat itu juga tiba - tiba Telepon rumah berbunyi. Dimana membuat Semua pandangan orang lansung melihat ke arah sana.


"Siapa yang telpon malam - malam begini?" tanya ibu.


"Saa aku juga tidak tau."


Balas Siska.


Lalu Ibu berahli ke arah Ruang Dapur dimana ia Mencoba memanggil Rina..


"Rina bisa tidak kamu angkat telepon nya."


"Baik, tunggu sebentar."


Balas Rina yang berada di dapur. Lalu beberapa detik kemudian Rina pun keluar dan lansung pergi mengangkat telepon itu.


BIP!!..


"Yah di sini kediaman xxxx ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


{.........}


"Yah. Itu benar."


{................}


"EH! APA ANDA YAKIN?"


{...........}


"Baik - Baik.."


{.........}


"Yah, Kami kami akan segera ke sana."


Setelah panggilan itu berakhir, Rina buru - buru pergi ke tempat Ibu dengan wajahnya yang di penuhi Rasa cemas.


Merasa ada sesuatu yang aneh pada Dirinya, Ibu lansung bertanya.


"Rina ada apa? Siapa yang menelpon tadi."


"A-anu aku tidak tau siapa yang menelpon, hanya saja orang itu bilang...Tu~Tuan muda sepertinya sedang mengalami kecelakaan dan ia sedang di rawat di Rumah sakit xxxxx."


Sentak saja semua Orang lansung kaget dan shock mendengar hal itu...."""""APA!!"""""....Tanpa kecuali Brid yang berada di belakang.


"....."


_______________________________


____________________________


>Rumah Sakit Xxxxx


Di sana Ibu, Siska, Rani, Ayah. Brid dan juga Rangga serta anaknya(Fira) yang ia gendong sedang berlari di sebuah Koridor, dimana mereka semua sedang mencoba menunju ke Ruangan tempat Leon Di Rawat.


TAP!!...TAP!!...TAP!!...


Di saat mereka semua sudah hampir sampai, tidak jauh di depan mereka Ayah dan Rangga melihat ada dua Prajurit yang sedang berjaga di depan Pintu ruangan Leon.


Salah satu di antara mereka sepertinya sedang menghubungi seseorang, sedangkan yang satunya lagi sedang menghampiri mereka dan bertanya...


"Permisi, Apa anda keluarga Leon?"


"Ya~Yah aku Ibunya. Anu apa mungkin anda..."


"Yah, kamilah yang telah menelpon anda tadi dan memberitaukan soal Situasi anak anda saat ini."


"Be-Begitu, yang lebih penting..."


Seolah tau apa yang Ingin Ibu katakan Prajurit itu lansung berkata.


"Yah aku mengerti, tolong ikuti aku."


Setelah Mengatakan itu, Prajurit tersebut mulai menuntung Ibu dan yang lainnya untuk masuk ke dalam.


Dimana Di dalam sana mereka Melihat Leon sedang terbaring di sebuah kasur dengan Tangan Kanan dan Kedua kakinya Di lilit oleh Perban dan di gantung menggunakan kain.


Awalnya mereka semua khawatir melihat Kondisi Leon yang seperti itu, tetapi di saat mereka semua memperhatikan Leon sedang asik nonton Video di Hpnya, mereka semua lansung merasa sedikit lega.


Sebab dari wajahnya Leon terlihat baik - baik saja, di tambah lagi ia tidak menunjukkan tanda - tanda Rasa sakit sedikitpun, malahan ia terlihat bersemangat seolah - olah ia tidak memiliki Luka Serius.


"Dasar, padahal kita semua sangat khawatir dengannya tapi dia malah Asik - asiknya nonton." ucap Rangga.


"Kau benar. Tapi untunglah ia baik - baik saja." Balas Rani.


Lalu di saat mereka semua mulai mendekatiku, aku lansung mematikan Hpku dan melihat ke arah mereka.


"Oh kalian semua sudah datang?"


"Apanya kami semua sudah datang. Gara - gara kau aku harus berhenti nonton Sinetron kesukaanku di tengah jalan tau."


Kak Siska lansung mengetok kepalaku, dimana membuat kepalaku sedikit kesakitan.


"~Aduh,..Kak itu sakit tau."


"Hehehe Maaf - maaf. Ini bayaran karena sudah membuat Kakakmu Khawatir."


Balas Kak Siska yang terlihat senang. Lalu kemudian Tiba - tiba sorot mataku melirik ke arah Seorang Pria yang ada di belakang mereka semua, dimana Pria itu tidak lain adalah Brid.


(Oh Sudah lama aku tidak bertemu dengannya tapi wajah dia tetap saja sangat menyebalkan.)


[Master, apa itu kata - kata pertama Yang harus anda ucapkan setelah lama tidak Bertemu?]


(Tentu saja memang kenapa, apa ada masalah?)


[Tidak, aku hanya berpikir bahwa Hati anda sepertinya sudah Busuk juga.]


(Heh, memang kenapa kalau hatiku busuk, yang jelas dengan ini semua Pion sudah terkumpul, sekarang aku cuma perlu menunggu untuk menggerakkannya saja.)


[Menggerakkan nya? Apa maksudmu?]


Di saat PIX menanyakan itu, aku hanya diam dan Menatap Brid terus. Dimana Tatapanku terlihat memancarkan cahaya di balik bayangnya, di iringi dengan Senyuman seringai di Bibirku.


"Heh."

__ADS_1


__ADS_2