
"A-Anu,....bisa tidak kamu lepaskan saja Erina? Aku pikir itu terlalu berlebihan untuk menghukumnya."
Di saat Bulan mengatakan itu, mataku lansung menyipit, kemudian aku bertanya
"Huh! Apa yang kau katakan?"
"Leon kamu masih ingatkan, kau pernah bilang padaku kalau kau tidak suka menyiksa atau melihat perempuan di sakiti.-
-tapi, apa yang kau lakukan saat ini, bukankah sama saja?"
"......"
Untuk sementara aku tidak menjawab apapun dan hanya diam dan menatap Bulan terus.
Namun setelah beberapa detik kemudian, perlahan aku berdiri dan berjalan ke arahnya. Kemudian aku berkata...
"Bulan,..memang benar aku tidak suka menyiksa atau melihat wanita di sakiti tapi, beda lagi ceritanya jika mereka adalah musuhku.-
-Mau itu Wanita, anak kecil, atau Orang tua sekalipun, aku tidak segang menyiksa bahkan membunuh mereka. Apa lagi para berandalan seperti kalian."
Ucapku dengan nada tajam. Kemudian aku menarik kerah baju Bulan ke bawah dan mendekatkan bibirku di dekat telinganya. Dimana aku berbisik...
"Selain itu apa kau lupa, kau itu masih ku anggap sebagai musuhku. Jika saja saat itu(Waktu kejadian) kau melukai Kakak ku seperti yang ia(Erina) lakukan, maka sudah pasti kau akan bernasip sama seperti mereka. Jadi sadarilah dirimu sendiri, mengerti?"
Tanyaku sambil melirik Bulan dengan tajam, dimana wajahnya terlihat sangat Pucat dan tubuhnya Gemetar karena ketakutan.
"~......."
Meski begitu. bulan tidak menjawab apapun dan hanya diam dan menutup mulutnya Rapat - rapat.
Menyadari tidak ada gunanya berlama - lama lagi di sini, sehingga aku lepas kerah bajunya, kemudian aku membelakangi Bulan dan melihat ia dari balik Pundak...
"Bulan Ingatlah,...kau itu masih punya Keluarga yang harus di jaga, jika kau bertindak berlebihan,..KAU TAU SENDIRI KAN APA YANG AKAN TERJADI."
Setelah mengucapkan itu, aku berjalan dan kembali ke belakang Erina, kemudian aku jepitkan lagi tangku di Kuku jempolnya.
"Hmm?"
Namun, di saat aku ingin jepit, ada sesuatu yang berbeda dengan Erina yang sekarang dengan Erina yang tadi. Dimana saat ini ia terlihat tidak takut sedikitpun.
Bahkan aku menyadari, kalau tatapannya mengarah terus ke arah Bulan. Dimana wajah Bulan tidak bisa di lihat karena di tutupi oleh bayangan.
Mengetaui itu, aku lansung menghentikan mencabut kuku Erina, kemudian aku menatap ia dan bertanya..
"Ada apa? Apa kau sudah putus asa karena dia(Bulan) tidak bisa membantumu?"
"Huh! Apa kau gila, siapa juga yang berpikir seperti itu."
Ucapnya sambil terlihat jengkel. kemudian ia lanjutkan lagi..
"aku hanya berpikir, betapa bodohnya aku takut dengan Bocah pengecut sepertimu."
"Apa kau bilang."
Ucapku sambil mataku menyipit dengan tajam dan terlihat kesal. Namun tanpa pedulikan itu Erina menambahkan...
"Kau tau, dari tadi aku terus berpikir Ancaman apa yang kau berikan pada Bulan, sampai ia menghianati kami.-
__ADS_1
-tapi, setelah mendengar pembicaraan kalian barusan, akhirnya aku mengerti alasan ia melakukan itu."
"Oh, setelah mengetauinya,..jadi, apa kau ingin bilang, kau sudah tidak membenci dia(Bulan) lagi?"
"Hah! Tentu saja aku masih membencinya, hanya saja...."
Sesaat Erina berhenti ia merenun, setelah itu ia berbalik ke arahku dan berkata...
"Hanya saja,...di bandingkan dia aku jauh lebih membenci pengecut sepertimu."
"Pengecut?"
"Yah,..kau menggunakan Cara seperti itu untuk mengancam Bulan. Kalau bukan pengecut namanya, kalau gitu apa lagi?"
Tanya Erina sambil menatapku dengan tajam, dimana Senyum Seringai terpancar juga di bibirnya.
Tidak senang dengan tindakannya itu, tanpa segang aku lansung mencabut Kuku jempolnya.
CRACKK!!
Merasakan kesakitan yang amat parah membuat Erina lansung menggigik Bibirnya hingga berdarah, agar jeritannya tidak keluar.
~~Ughhhhh
(~Si-Sialan,..i~ini..ini sakit sekali!!)
Pikir Erina.
Setelah beberapa detik Rasa sakitnya mulai meredah, tak lama kemudian Erina mendesah 'haaa..!!' setelah itu ia melihat ke arahku, Dimana Tatapannya Seolah sedang mau menantangku.
"~Ughhhh!!...A~Ada apa, apa hanya ini saja yang kau bisa."
"~heh..i-itu tentu saja, lagi pula mau berapa kalipun kau cabut kuku ku, aku tetap akan bersikap seperti ini.-
-kalau kau mau, kau bisa juga kok cabut Kuku kaki ku, bagaimana BOCAH PSIKOPAT?"
Tanya Erina sambil Seringai. Dimana Membuat Bulan dan Felik terlihat sangat terkejut dengan tindakannya itu, Bahkan aku pun juga sama.
(Gadis ini.....)Leon
Namun, Meskipun Erina mengatakan itu, Tetapi bukannya aku marah aku malah terlihat sangat tenang.
Sebab tatapan dia saat ini mengingatkanku pada salah satu Musuh yang pernah ku siksa di kehidupanku sebelumnya.
Yang dimana, musuh tersebut aku tangkap dan ku siksa agar mendapatkan Informasi dari Organisasinya.
Namun, tetap saja ia tutup mulut, bahkan ia masih ****** memprovikasi dan menantangku, seolah ia tidak punya Rasa takut sedikitpun, akan Siksaan yang ku berikan.
Meski aku tidak tau kenapa Erina, yang hanya Gadis SMA bisa memiliki tatapan seperti itu, yang jelas.....
(Gadis ini sangat menarik!)
Pikirku sambil Seringai.
Setelah itu, aku kembali menjepit salah satu Jarinya menggunakan Tang, kemudian aku berkata...
"Baiklah, karena kau sangat percaya diri mengatakan itu, kalau gitu mari kita lihat."
__ADS_1
Sesaat mengucapkan itu, aku lansung mencoba mencabut Kukunya. Namun, tiba - tiba Bulan yang dari tadi hanya diam saja lansung berlari ke arahku, dimana ia mencoba melayankan sebuah pululan, menggunakan tasnya ke arah wajahku.
Tentu saja aku lansung menghindarinya dengan melompat ke arah samping, namun....
"BULAN APA YANG KAU LAKUKAN?"
Sesaat aku melihat ke arahnya, tiba - tiba sebuah balok meluncur ke arahku. Hingga aku tidak punya waktu menghindar, dan akhirnya menggunakan tanganku untuk menahan balok tersebut.
"~Ughh...Sial!"
(Gadis itu, apa yang ia pikirkan?)
Tanyaku di dalam pikiran.
Di sisi lain, ketika aku masih terkejut dengan kejadian barusan. Di sana Terlihat Bulan mencoba melepaskan tali yang mengikat tangan Erina.
Dimana Erina terlihat sangat terkejut dengan tindakan Bulan..
"KAU...APA YANG KAU LAKUKAN?"
"Aku akan lepaskan ini."
"HAH! APA KAU GILA? CEPAT PERGI SAJA KE SANA, AKU TIDAK BUTUH BANTUAN PENGHIANAT SEPERTIMU."
"......"
Mendengar apa yang di ucapkan Erina membuat Bulan tidak bisa mengatakan apapun, bahkan ekspresinya sesaat terlihat sedih.
Meski begitu, ia tetap tidak berhenti dan masih berusaha melepaskan Erina. Namun...
(Kenapa,...kenapa ini susah sekali di lepas.)
pikir Bulan yang terlihat kesusahan untuk melepaskan ikatan Erina. Menyadari itu Erina lansung mendecatkan Lidahnya sambil berkata...
"CIH, BULAN APA KAU TIDAK DENGAR, AKU BILANG AKU TIDAK BUTUH BANTUAMU."
Meskipun Erina terus meneriaki Bulan, tetapi Bulan mengabaikannya dan terus berusaha melepaskan ikatan Erina...
"......"
"SIALAN KENAPA KAU DIAM SAJA, CEPAT PERGI SANA."
"......"
"AKU BILANG PERGI SANA, APA KAU TIDAK DEN-!!"
'Gar' ingin ucap Erina. Namun sebelum mengucapkan itu, Erina melihatku sedang meluncur ke arah Bulan, dimana tanganku menangkap Leher Bulan dan lansung menjatuhkannya ke tanah.
~Aghhhh!!
Erina yang lihat itu terlihat sangat Shock, bukan hanya ia Felik pun juga sama. Namun tanpa pedulikan mereka, aku lansung duduk di atas Bulan yang berbaring di tanah. Kemudian aku cekit lehernya dan berkata...
"BULAN, BERANI - BERANINYA KAAAU!"
ucapku sambil Melotot Bulan dengan sangat tajam dan aura intimidasi keluar dari tubuhku.
Bulan yang merasakan itu lansung terlihat gemetar dan ketakutan. Sebab bagaimanapun juga ia tau bahwa ia sudah berlebihan melakukan hal itu padaku.
__ADS_1
Meskipun Bulan tidak tau kenapa ia melakukan hal itu, tetapi ia harus memikirkan cara agar Lolos dari situasi ini.
Sebab jika tidak, bisa - bisa...DIA AKAN MATI DI TANGANKU.