
Setelah aku memenangkan Game Kedua. orang - orang di sekitar ku tidak menertawaiku lagi, melainkan mereka semua merasa tercengan.
Sebab aku bisa memenangkan permainan ini tanpa melihat Kartuku sama sekali.
"Ba-Bagaimana bisa Bocah itu melakukan hal ini?"
"Apa bocah itu curang?"
"Itu tidak mungkin, lagi pula Meskipun itu benar, kalau begitu bagaimana cara ia melakukannya?"
"Kalau itu mana mungkin aku tau."
Sementara orang - orang sekitar berbisik soal kemenanganku. Aku melihat Reyna, dimana ia sepertinya shock atas kekalahan Ia kali ini.
"I-ini tidak mungkin, bagaimana mungkin aku bisa kalah, aku yakin ini hanya sebuah kebetulan anak itu bisa menang. Di Game selanjutnya aku pasti yang akan menang."
Guman Wanita itu. Namun sayangnya di Game Ketiga, kali ini aku yang menang lagi. Begitupun dengan di Game ke empat.
Melihat hal itu membuat orang - orang sekitar yang tadinya meledekku menjadi bersemangat dan mulai mendukung ku.
"Ooh Bocah kau menang lagi."
"Kau sangat hebat bocah, aku salah menilaimu tadi."
"Benar, bagaimana bisa kau menang tanpa melihat kartumu sedikitpun."
Sementara orang - orang di sekitar memujuki, di sisi lain terlihat Reyna mengerutkan Keningnya karena kesal dan lansung mendecatkan lidahnya.
"Cih, bagaimana bisa anak ini menang lagi, apa yang ia lakukan?"
(Selain itu, orang - orang ini tidak berguna sama sekali.)
Pikir Reyna sambil melihat ke arah dua orang yang berada di belakangku. Dimana kedua orang itu adalah orang - orang yang pura - pura bercampur dengan orang di sekitar agar bisa mengintip kartuku dan memberitaukan ke Reyna dan Genus.
Namun sejak Game Kedua di mulai, mereka tidak pernah lagi bisa memberitau Reyna dan Genus kartu apa yang ku miliki.
Alasanya itu karena sejak tadi aku tidak pernah sekalipun melihat kartuku apa lagi mengambilnya.
Aku hanya menggeser kartuku ke tepi meja setelah itu aku dorong kembali ke depan dan tidak akan ku ganggu sama sekali, kecuali ada kartu yang ingin ku turungkan baru aku ganggu.
Karena itulah mereka tidak akan pernah bisa melihat Kartuku.
Aku yakin Selama ini mereka pasti bisa memenangkan permainan ini dengan menggunakan cara Curang seperti ini.
Namun di hadapanku cara seperti ini tidak berguna sama sekali. Jika kalian ingin mengalahkan ku setidaknya kalian memerlukan cara curang yang lebih licik dariku. Dengan begitu kemenangan kalian setidaknya bukan 0% lagi melainkan 10%.
(Yaa itu lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.)
[Anda benar - benar sangat licik Master.]
(Diamlah.) balasku lansung.
Lalu setelah itu permainan pun di lanjutkan, Dimana di Game kelima, aku yang menang lagi....
Melihat hal itu bukan hanya Reyna saja yang kesal, tapi Genus juga mulai ikutan kesal.
__ADS_1
"Sial Kenapa.....Kenapa bocah ini bisa menang lagi?"
Tak berhenti sampai di situ, di Game ke enam, aku yang menang lagi...
"Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang bocah ini lakukan? Sampai bisa mendapatkan kemenangan secara berturuk - turuk seperti ini?" Ucap Reyna
Sampai akhirnya tibalah pada Game kedua belas, dimana aku melihat Chip mereka sudah Habis.
Sedangkan aku, di hadapanku ada banyak sekali chip yang saling bertumpuk. sampai - sampai wajahku hampir tidak bisa dilihat karena saking banyaknya Chip yang ku menangkan.
Adapun orang - orang di sekitar yang mendukungku, dimana mereka semua sangat bersemangat sekali, bahkan di antara mereka ada beberapa wanita yang lansung mendekatiku dan mencoba menggodaku.
"Nak, kamu hebat sekali."
"Benar, kamu jago sekali memainkan ini, apa kamu sering memainkannya?"
Bukan aku yang jawab pertanyaannya melainkan wanita lain yang lansung jawab.
"Itu tentu sajalah, jika tidak mana mungkin ia bisa menang secara berturuk - turuk seperti ini."
"Kau benar juga."
"Oh iya dek, habisi ini mau gak pergi dengan Kakak minum - minum? Tenang saja, aku tidak akan memberimu alkohol kok."
"Hah kalau begitu aku juga ikut."
"sama aku juga."
Sementara wanita - wanita itu berusaha mendekatiku, aku mengabaikan mereka dan mengalihkan pandanganku ke arah Brid.
"Brid, tolong tukar semua chip ini."
"Kau benar, kalau gitu Kakak - kakak cantik sekalian bisa tidak kamu bantu ia membawa semua Chip ini ke tempat penukarang?"
Seolah tidak mrnolak permintaanku, semua wanita yang mendekatiku menjadi senang. Bahkan di antara mereka ada yang sampai loncat dan memelukku.
"Yah, tentu sajalah dek, kakak akan membantu pamanmu membawa semua Chip ini."
(PA~PAMANš§!)
Aku merasa tidak senang mendengarnya namun untuk kali ini saja aku akan biarkan.
Lalu setelah itu para wanita itu pun mulai membantu Brid membawa semua Chip yang ada di depanku untuk menukarnya ke uang.
____________________________________
________________________________
Sementara aku menunggu Brid dan yang lainnya. Aku duduk di kursiku dengan tenang tanpa bicara sedikipun.
Namun beberapa orang di sekitar yang memperhatikan diriku merasa penasaran, bagaiman aku bisa memenangkan permainan ini secara berturuk - turuk.
Bahkan di antara mereka ada juga Reyna yang sepertinya tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya dan bertanya padaku.
"Nak, bisa beritau aku bagaimana kamu bisa memenangkan permainan ini secara Berturuk - turuk?"
__ADS_1
Aku tidak lansung menjawab pertanyaannya melainkan bertanya balik terlebih dahulu.
"Kenapa kau ingin tau itu?"
"Tentu sajalah aku ingin tau, bagaimanapun juga kamu itu telah menghabiskan semua uangku tau."
Balas Reyna yang terlihat sangat ngambek. Kemudian di sambung lagi oleh Genus yang mencoba memohon padaku.
"Benar, aku juga ingin tau itu. Bocah aku mohon tolong beritaukan kami bagaimana kau bisa terus memenangkan permainan ini?"
Jika ia sampai memohon seperti itu mau tidak mau aku harus memberitau mereka. Selain itu, meskipun aku beritau mereka, tidak ada juga yang akan berubah. Jadi....
"Aku mengerti aku akan membaritau kalian bagaimana aku bisa memenangkan permainan ini secara berturuk turuk."
Orang - orang di sekitar lansung menjadi senang tanpa kecuali Genus sendiri.
"Bocah, apa kau serius?"
"Yah, namun dengan satu syarat."
"Apa?"
Tanya Genus. Dimana aku lansung mengalihkan pandanganku ke arah Reyna dan menjawab...
"Aku ingin Wanita ini menciumku."
Mendengar hal itu sontak semua orang yang ada di sini lansung membatu. Tanpa kecuali Reyna sendiri.
"~Da~Dasar Anak kurang ajar, apa - apaan yang kau katakan itu."
"Ada apa, apa kamu tidak mau?"
"Tentu sajalah, mana mungkin aku mau mencium anak kecil sepertimu."
"Yaa udah, kalau begitu aku tidak akan memberitau kalian bagaimana caranya aku bisa menang terus."
Reyna seolah tidak menginginkan hal itu, bagaimanapun juga selain Genus ia adalah salah satu orang yang paling ingin sekali tau cara aku bisa memenangkan permainan ini, jadi ia pun buru - buru mencoba menghentikanku.
"Hah Nak tunggu dulu, ta-tadi aku hanya bercanda saja, tidak usah terlalu ngambek begitu."
"Hmm itu berarti apa kau menerima syaratku?"
Tanyaku, dimana dengan wajah yang memerah Reyna pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Um."
Melihat hal itu, semua orang lansung menjadi heboh, bahkan di antara mereka ada yang sampai cemburu padaku.
"Waaaah kalian lihat itu? Bocah itu akan mendapatkan ciuman dari si Ratu judi."
"Kau benar. Sial aku cemburu sekali."
"Sama aku juga."
Sementara semua sedang membicarakan hal itu, Di sisi lain Genus berahli ke arahku dimana ia menatapku dengan serius.
__ADS_1
"Jadi, bisa beritau kami sekarang bagaimana kau bisa memenangkan permainan ini secara berturut - turut?"
"Heh Tentu saja."