
Ketika Firdaus sedang memikirkan apa mau menerima tawaranku atau tidak, tiba - tiba di tengah ruangan muncul sebuah cahaya yang sangat terang, Dimana cahaya itu menerangi seluruh ruangan ini.
Lalu di saat cahaya itu mulai memudar terlihat seorang wanita di sana.
"Selena akhirnya kau kembali juga, kenapa kau lama sekali?"
Tanyaku sambil mendekatinya, dimana aku perhatikan ekspresi Selena terlihat rumit.
"Yaa sebetulanya waktu aku mau kembali ke sini, aku mendapatkan pesan dari Brid, ia menyuruhku melakukan sesuatu jadi....."
Dari perkataannya aku lansung bisa tau apa yang terjadi..
"Tidak usah di katakan, aku sudah mengerti."
"Benarkah? Haaa syukurlah jika kamu bilang begitu.-
-Jadi Leon, kamu tidak akan menghukumku kan?"
"Apa kau mau di hukum?"
"Ti-tidak, tolong lupakan saja apa yang ku katakan tadi."
"~Haaa sudahlah, yang lebih penting ayo kita antar ia(Firdaus) pulang ke rumahnya."
"Aku mengerti, tapi pertama - tama aku harus isi ulang Senjata S Gearku dulu, karena energinya sudah habis."
"Ya udah kalau begitu, cepat isi sana."
Sementara Selena sedang mengisi Senjata S Gearnya dengan energi dari kristal Monster.
Aku kembali ke tempat Firdaus, dimana Firdaus saat ini sedang memperhatikan Cincin(Senjata S Gear) Selana yang sedang bersinar - sinar. Kemungkinan besar itu adalah effek dari pengisian dari Kristal Monster.
"Leon, apa yang wanita itu lakukan?"
Tanya Firdaus.
"Oh dia sedang mengisi Senjata S Gearnya, sepertinya energinya sudah habis."
"Hmm itu berarti Cincin itu....."
"Yah itulah Senjata S Gearnya."
Jawabku lansung.
"Begitu,......kau memang hebat ya Leon, kau bisa mengetaui banyak hal yang bahkan seorang polisi sepertiku tidak ketaui."
"Yaa itu karena aku orang dunia bawah, segala sisi gelap dunia ini bisa diketaui di sana, karena semua informasi di sana tidak di tutup - tutupi."
__ADS_1
"Seperti keberadaan makhlut dunia lain?" Tanya lagi Firdaus.
"Yah."
Jawabku.
Meskipun pada kenyataannya orang - orang dunia bawah juga masih belum mengetaui keberadaan mereka(Para Monster itu).
(Yaa tak apalah aku berbohong sedikit padanya, lagi pula ini juga di butuhkan untuk membuat ia menjadi pionku.)
Pikirku, dan saat itulah aku baru ingat kalau masih ada yang ingin ku tanyakan pada Firdaus, sehingga aku melihat ke arahnya.
"Oh iya Kak Firdaus, bisa aku menanyakan sesuatu?"
"Apa?"
"Bagaimana kau bisa tau kalau aku adalah dalang di balik hilangnya anak - anak berandalan itu? Padahal dari yang aku tau, seharusnya wajahku tidak pernah tertangkap oleh CCTV, jadi bagaimana?"
"Memang benar gara - gara alat yang kau pasang itu, hampir seluruh CCTV di kota ini tidak bisa menangkap wajahmu karena mengalami gangguan.-
-Tapi kau lupa satu hal Leon. CCTV tidak hanya ada di tiang - tiang kota ini saja, melainkan masih ada lagi, dan itu berada di tengah jalan."
Ketika aku mendengar itu, aku bisa lansung tau dari mana ia bisa menangkap wajahku.
"Begitu...jadi wajahku tertangkap dari Camera CCTV yang ada di mobilkan?-
-Kemungkinan besar kau mungkin memeriksa semua mobil yang lewat di tempat itu, di waktu yang bersamaan saat CCTV di jalanan mengalami gangguan. Sehingga kau berhasil menemukan wajahku.-
Firdaus yang dengar penjelasanku merasa kagum, sebab ia tidak menyangkah kalau aku mengetaui semuanya sedetail itu, seolah - olah aku melihat semuanya apa yang sudah ia lakulan selama ini untuk mencariku(Si Pelaku).
"Seperti yang di harapkan, kau ini memang hebat Leon. Aku bertanya - tanya kau ini sebenarnya siapa? Tidak mungkin anak kecil sepertimu bisa mempunyai pemikiran luas seperti itu."
"Kau benar, tapi kau tidak perlu tau siapa aku, lagi pula terlalu cepat bagimu untuk mengetaui identitasku yang sesungguhnya."
Firdaus yang dengar itu merasa kebingungan dan bertanya - tanya...
"Identitasmu yang sesungguhnya? Apa mungkin yang kau maksud itu dirimu yang orang dunia bawah? Astaga Leon aku sudah tau itu."
"Tidak, bukan itu tapi masih ada lagi, dan hanya beberapa orang saja yang mengetauinya."
"Hmm......"
Firdaus terus memperhatikan wajahku, seolah - olah ia ingin sekali tau soal itu.
Karena sangat merepotkan jika ia menanyakan itu, jadi aku buru - buru mencoba mengganti topik pembicaraan..
"Oh iya dari pada itu, Kak Firdaus bisa aku bertanya sesuatu lagi?"
__ADS_1
"Apa?"
"Jika wajahku berhasil tertangkap, itu berarti seharusnya wajah Bulan berhasil tertangkap juga?..tidak, bahkan kau mungkin sudah mengetaui kalau ia kaki tanganku. Tapi kenapa kau tidak menangkap ia?-
-Padahal jika kau tangkap ia dan mengintrogasinya maka kau mungkin saja bisa menemukan sedikit bukti yang bisa menuntungmu ke langkah selanjutnya untuk menangkapku." ucapku.
Awalnya Firdaus diam saja dan wajahnya terus memandang jauh ke depan, namun tak lama kemudian tiba - tiba ia menghela nafasnya dan kembali melihatku.
"Leon, apa yang kau katakan itu memang tidak salah, tapi jangan pikir aku tidak tau apa yang akan kau lakukan pada gadis itu jika aku menangkapnya.-
-Aku memang begini tapi setidaknya aku tau sedikit cara kerja orang - orang dunia bawah.-
-Mereka akan melakukan apa saja demi menghilangkan segala jejak dan bukti yang menuntung mereka ke dalam bahaya. Meskipun harus membunuh orang yang ia kenal sekalipun.-
-Karena itulah aku tidak menangkap gadis itu, karena aku tau ada kemungkinan kau pasti akan membunuhnya.-
-Apa lagi melihat gadis itu salah satu orang yang pernah membulimu juga, jadi tak menutup kemungkinan kalau kau akan membunuhnya."
"Hmm jadi begitu."
Gumanku. Lalu kemudian aku berdiri dan merentangkan kedua tanganku. setelah itu aku kembali melihat Firdaus.
"Tapi sayang sekali ya Kak Firdaus, padahal jika kau menangkap Gadis itu dan menemukan bukti yang bisa memasukkan aku ke dalam penjara, aku yakin kau pasti akan naik pangkat."
Aku pikir Firdaus akan merasa senang mendengar itu tapi malah sebaliknya. Ia kelihatan sangat kesal sampai - sampai memberikan aku tatapan tajam.
"Naik pangkat kau bilang? Leon, bagiku nyawa wargaku lebih berharga dari pada naik pangkat. Jadi berhentilah mengatakan sesuatu seperti itu."
"!......Kau benar juga, maafkan aku."
Ucapku.
Jujur saja aku sedikit terkejut ia mengatakan itu, Sebab kebanyakan polisi di luar sana yang ku kenal lebih mementingkan diri mereka sendiri dari pada warga mereka.
Tentu saja yang ku maksud itu adalah para Polisi yang korupsi dan juga yang suka memeras uang rakyatnya.
Karena itulah aku senang Firdaus tidak seperti mereka.
(Sudah kuduga, aku tidak salah memilih ia sebagai Pionku.)
Pikirku dengan senyuman yang terpancar di bibirku.
Firdaus yang memperhatikan itu merasa kebingungan dan bertanya - tanya...
"Ada apa Leon, kau senyum - senyum begitu?"
"Hmm bukan apa - apa, tidak usah di pikirkan.-
__ADS_1
-Yang lebih penting, sepertinya dia(Selena) sudah selesai mengisi Senjata S Gearnya. Ayo kita ke sana."
Tanpa menunggu lama Firdaus lansung membalas dengan anggukkan kuat..."Um"...Setelah itu kami berdua pergi mendekati Selena.