
Aku berdiri di ujung Lorong dan melihat ke dalam sana. dimana aku memperhatikan ke 7 Anak berandalan yang sedang menindas Kana dan yang lainnya.
di saat Aku terus memperhatikan mereka. salah satu di antara mereka mencoba bertanya...
"Kau,...Siapa kau Bocah? Kenapa kau mengganggu kami?"
"Yaa kau tau, anak - anak itu sebetulnya adalah kenalanku jadi jika kau menindas mereka, maka tidak mungkin aku diam saja."
Jawabku sambil menunjuk Haira dan yang lainnya, dimana mereka bertiga terlihat terkejut.
Setelah itu aku berahli ke arah Salah satu anak Berandalan yang tadi ku lempar Batu.
Dimana Dahinya itu terlihat masih berdarah dan mengalir turung di Wajahnya.
"Woy apa dahimu baik - baik saja?"
tanyaku, yang entah kenapa membuat anak itu jengkel.
"Huh😠?"
"Maaf yah, sebetulnya tadi aku tidak punya niat mengenai dahimu, hanya saja karena dahimu itu terlalu besar jadi yaa malah kena."
Meskipun aku mengatakan itu dengan nada minta Maaf, tetapi aku tidak punya rasa bersalah sedikitpun, Malahan aku Seringai saat mengatakan itu, yang Membuat anak itu tambah kesal dan terlihat sangat marah.
"~Kau...Kau,.....BERANINYA KAU MENGOLOK - NGOLOKKU."
"Hei - hei tidak usah semarah itu lagi pula Dahimu itu memang besarkan Pfftt😜!"
"K~KAU...AKU AKAN MEMBUNUHMU."
Teriak anak itu yang lansung berlari ke arahku dan mencoba Melayankan sebuah Pukulan tepat di wajahku.
Namun Sayangnya aku dengan tenang menghidari pukulannya itu dengan mundur satu langkah ke belakang, kemudian Aku mencoba melancarkan Serangan balik dengan loncat ke arah depan dan melayankan Sebuah Tendangan berputar tepat Di wajahnya Hingga membuat Anak Itu terlempar Dan Menabrak Tembok di Sampingnya.
"~Aghhhh!!...Sial,..Sial, bagaimana bisa aku di kalahkan."
Guman anak itu yang terlihat kesakitan, meski begitu ia berusaha untuk tetap berdiri kembali, sayangnya karena tendangan keras yang ia terima barusan sehingga membuat kepalanya pusing dan tidak bisa jalan dengan Benar.
"~Sial ini sakit sekali dan juga pandanganku Agak kabur."
Tidak membiarkan kesempatan itu pergi, aku lansung berlari ke arahnya lalu Menggunakan kaki kananku, aku menendang perutnya dengan Kuat hingga membuat Ia muntah darah dan jatuh terbaring di tanah.
Sementara itu di sisi lain, Melihat pemandangan di depannya membuat anak - anak berandalan yang lainnya merasa terherang - herang. Sebab mereka tidak menyangkah bahwa aku mengalahkan teman mereka semudah ini.
Begitupun dengan Rezvan, Haira dan Kana.
"Baiklah, satu sudah tumbang,...Sekarang Giliran kalian."
Ucapku Sambil berahli ke arah Anak Berandalan yang lainnya dimana Mereka semua lansung melototku dengan sangat marah.
"Dasar Bocah Sialan, jangan terlalu Sombong hanya karena kau mengalahkan dia."
"Benar. Meskipun kau mengalahkan dia, tidak mungkin kau bisa mengalahkan kami."
"Sudah Cukup bicaranya, cepat serang saja dia." ucap Si Pemimpin
__ADS_1
"kau benar, kalau gitu ayo kita hancurkan dia, biar dia tau rasa!!"
Di saat 3 anak berandalan maju dan mencoba menyerangku. Untuk sesaat Sorok mataku melirik ke arah Rezvan, Haira dan Kana.
Dimana tatapanku terlihat tajam seolah ingin memperingati mereka.
"Kalian bertiga, sebaikanya kalian tidak melarikan diri lagi dan diam saja di situ. aku akan selesaikan ini secepat Mungkin. Mengerti?"
Tanyaku, dimana Mereka bertiga buru - buru menjawab dengan Anggukan.
"""Um...Umm."""
Setelah mereka menjawab, saat itu juga Aku merasakan salah Satu dari 3 anak Berandalan yang maju ke depan sudah dekat dariku dan mencoba Melayankan sebuah Pukulan di wajahku.
Namun aku hindari pukulan itu dengan menepis Tangannya ke samping, kemudian Aku tendang rahannya ke atas, dimana membuat kesadaran anak itu perlahan menghilang dan Jatuh pingsan ke tanah.
Melihat satu temannya Tumbang lagi, Membuat mereka semua tambah marah dan dua anak berandalan yang maju tadi mencoba menyerangku secara bersamaan.
Satu serangan mengarah ke wajahku sedangkan satunya lagi mengarah ke leherku.
"TERIMALAH INI BOCAAAAAH!!"
"MATILAAAAAH!!"
Sayangnya dengan gerakan cepat aku lansung Tepis salah satu serangannya itu sedangkan yang satunya lagi aku tahan.
Kemudian Serangan Yang kutahan itu aku remut tangannya hingga patah, yang dimana membuat anak itu lansung Menjerik Kesakitan..
"~~ARGHHHHHH...Ta~Tanganku...Tanganku..~Arghhhh!!"
Ucapku sambil menarik rambutnya ke bawah dan mengahatam wajahnya menggunakan lututku dimana membuat hidung anak itu lansung mengeluarkan darah dan jatuh terpapar di tanah.
"Di~Dia mengalahkan satu lagi."
Guman Rezvan yang merasa tercengan.
Namun tidak berhenti sampai di situ aku mencoba menyerang anak yang satunya lagi dengan menendang wajahnya.
Sayangnya anak itu menahan dengan tangannya yang tersilang, yang membuat aku sedikit terkejut.
"Oh, sepertinya kau tau beladiri yah?"
"Begitulah."
Balas anak itu dengan nada Sombong.
Namun tanpa pedulikan itu, aku lansung memutar tubuhku layaknya gasing di sertai sebuah tendangan yang tadinya berada di kanan sekarang mengarah ke kiri.
Sentak saja anak itu lansung merasa sangat terkejut sekaligus panik.
"APA!"
Namun, karena Tidak ****** menghindar atau menahan serangan itu, Akhirnya serangan itupun mengenai wajahnya yang membuat anak itu lansung terlempar dan menabrak tembok di sampingnya.
"~Ughhh...Sial, apa - apaan tendangan barusan, aku tidak bisa lihat sama sekali."
__ADS_1
Guman anak itu yang kesakitan dan mencoba untuk bangkit. sayangnya ia tidak bisa meskipun ia berusaha sekuat tenaga.
"~Sial...Bangkitlah a~aku...Aku masih belum kalah, aku masih bisa bertarung."
Di saat Anak itu terus berusaha untuk bangkit.
di sisi lain, aku merasa sedikit kagum melihat Usaha yang anak itu lakukan. Sebab bagaimanapun juga aku ini adalah orang yang suka dengan Orang yang tidak mudah menyerah.
Contohnya saja Gadis itu(Erina), meskipun aku terus menyiksa dia saat itu, tetapi ia tetap saja tidak mau menyerah malahan ia beberapa kali mencoba menantaku seolah ia tidak punya rasa takut sedikitpun denganku.
(Itulah sebabnya aku tertarik dengan nya dan tidak membunuhnya saat itu, karena aku ingin ia menjadi PION ku dan menggantikan posisi Bulan.-
-Sayangnya ia malah melarikan diri...haaa!)
Pikirku sambil menghela nafas.
Namun Meskipun usah keras yang mereka berdua lakukan terlihat sama tetapi ada satu hal yang berbeda.
Dimana Tujuan anak itu melakukan itu(Berusaha keras untuk Bangkit) itu karena bukan untuk melawanku atau menantangku seperti Erina, melainkan Ia hanya tidak terima Karena Di kalahkan oleh Seorang Bocah sepertiku.
Ini sama saja seperti ia lebih mementingkan reputasinya di bandingkan Mengakui kekalahan dari lawan sepertiku.
Memikirkan hal itu saja membuat aku merasa ingin membunuhnya.
"Maaf yah!"
Gumanku sambil berjalan ke arahnya lalu aku menarik rambutnya ke atas. Setelah itu tanpa ragu sedikitpun aku lansung membenturkan kepalanya ke tembok hingga Tombok itu retak dan membuat kepala anak itu berdarah.
"~~Ughhh,...~ka~kau...~beraninya kau melakukan ini padaku, aku pasti akan membunuhmu."
"Oh benarkah, kalau gitu lakukan kalau kau memang bisa."
Ucapku sambil membenturkan kepalanya lagi ke tembok.
BUKK!
"~~Aghhhh...~Sial...DASAR BOCAH SIA-!!
BUK!!
" ~Ughhhh...Tu~Tunggu aku minta ~Ma~Maaf....maafkan a-!!"
BUK!!
"~Ughhh.....to~tolong hentikan, a~aku mohon, aku mengakuh kalah jadi tolong hentikan."
Ucap Anak itu yang terus minta ampun setelah beberapa kali ku benturkan kepalanya ke tembok.
Tapi Jujur saja sebetulnya aku ini bukanlah orang yang bisa memberi ampun pada musuhku semudah itu, sebab saat ini pun aku masih berpikir untuk membenturkan kepalanya lagi ke tembok selama beberapa kali sampai wajahnya itu Rusak.
Namun karena di sini ada anak Kecil di tambah lagi aku tidak ingin menunjukkan diriku yang sadis kepada mereka(Rezvan, Haira dan Kana) jadi aku lepaskan lah anak itu. Kemudian aku berdiri dan berahli ke arah 3 anak Berandalan yang tersisa.
Dimana aku menatap mereka dengan tajam.
"Baiklah, 4 Temanmu sudah tumbang, sekarang sisa kalian bertiga....MAJULAH!"
__ADS_1