
Kami berdua berada di atas langit malam dengan Ketinggian beberapa ratus meter dari tanah.
Saat ini kami sedang meluncur ke bawah dimana aku sedang menggenggam kaki wanita itu dengan Erat agar ia tidak bisa menggunakan kekuatannya.
Sebab jika ia menggunakannya, maka Otomatis aku juga akan ikut Hilang bersama dengannya. Yang artinya Rencana Ia untuk membuangku dari sini pun gagal.
Maka dari itu sebisa mungkin aku tidak ingin melepaskannya.
(Meski begitu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak mungkin aku akan begini terus.)
Pikirku. Lalu aku mencoba melihat sekitar untuk mencari sesuatu, apa ada yang bisa ku gunakan untuk menyelamatkan diriku dari situasi ini atau tidak.
Tetapi Sayangnya aku tidak menemukan apapun. Sehingga aku pun menyerah dan mengalihkan pandanganku ke arah Wanita itu.
"Hey apa kau benar - benar akan membuangku dari sini?"
"Tentu saja, memang kenapa apa kamu takut?"
Tanya wanita itu dengan tatapannya yang seolah sedang mengolok - ngolokku.
Meski begitu aku tetap tenang dan membalas...
"Dasar bodoh siapa juga yang takut, Aku hanya ingin tau saja. Lagi pula Bukankah kamu ingin bertarung denganku secara adil?"
"Adil kau bilang? Bocah apa kau lupa, yang pertama kali melanggar aturan itu adalah kau jadi buat apa aku melakukan itu?-
-Selain itu, aku juga ingin sekali lihat seberapa hebat kamu ini, Apa kau benar - benar bisa selamat dari ketinggian ini atau tidak."
"DASAR WANITA GILA, MANA MUNGKIN ADA ORANG YANG BISA SELAMAT DARI KETINGGIAN INI."
Benar Di lihat dari manapun sudah pasti aku tidak akan selamat, lagi pula Ini benar - benar sangat tinggi di tambah lagi aku tidak punya peralatan apapun yang bisa ku gunakan untuk menyelamatkan diriku, seperti parasut.
Meskipun ada, Namun itu hanya beberapa peralatan dan juga senjata yang hanya di gunakan untuk melawan Wanita ini.
Seperti Pistol, Granat, Bom Cahaya, Belati dan Juga Perisai Lipat yang bisa ku bawah pergi kemana - mana.
Namun semua Itu tidak ada gunanya karena peralatan - peralatan itu hanya bisa ku gunakan sebagai alat pertempuran....Mungkin!.
(Walau begitu aku juga tidak boleh diam saja begini, bagaimanapun caranya aku harus cepat - cepat memikirkan cara untuk bisa selamat dari situasi ini.-
-Meskipun aku tidak tau cara apa itu, namun untuk sekarang Setidaknya aku akan gunakan cara itu terlebih dahulu.)
Aku buru - buru lihat wanita itu lalu aku Pura - pura jadi anak kecil. Dimana tatapanku yang tadinya terlihat tajam sekarang ku ubah menjadi Polos.
"Anu Neh Mbak Cantik, a-aku,..aku minta maaf yah karena sudah melemparimu petasan(Granat) tadi, jujur aku tidak sengaja waktu itu jadi bisa tidak kamu bawah aku kembali ke tempat sebelumnya, aku sangat takut dengan ketinggian. Aku mohon dong Mbak cantik."
Aku mengatakan itu dengan nada lembut dan ekspresi yang benar - benar polos. Tetapi Wanita itu tidak termakan, ia malah menatapku dengan tatapan jijik.
"Bocah, Bisa tidak kau jangan pura - pura jadi anak kecil sekarang, jujur Kau sangat menjijikkan."
"APA!!"
Aku shock dan terbatu. Meski begitu aku tidak menyerah dan mencoba sekali lagi.
"Mbak Cantik apa yang kamu katakan, aku tidak pura - pura jadi anak kecil kok, sejak awal aku memang seperti ini, anak yang imut."
"Ooh kalau begitu bisa beritau aku, kenapa anak imut sepertimu bisa menembak Kaki seseorang tanpa belas kasihan. Apa itu yang di sebut anak imut."
"Hah Ka~Kalau itu...anu, sebetulnya anda Telah salah Paham Kakak Cantik."
"Aaah Salah paham😦?"
"Y-yah, waktu itu sebenarnya aku tidak menembak Kaki anda menggunakan Pistol beneran tapi aku hanya Menggunakan Pistol air yang di beri pewarna merah agar terlihat seperti darah.-
-Alasan Kaki anda sakit saat itu Kemungkinan itu karena anda di Gigit oleh Serangga atau mungkin keseleo."
"~Ka~Kau Beraninya kau, apa kau Pikir Aku Ini Wanita Bodoh."
"Mungkin😮."
"GRRRRH DASAR BOCAH SIALAAAAAAAN!!"
Wanita itu lansung teriak padaku dengan tatapannya yang benar - benar terlihat sangat marah.
Sementara di sisi lain, PIX yang dari tadi hanya mendengar pembicaraan kami berdua lansung menatapku dengan sinis.
[Seperti yang di harapkan dari Master. Bukannya memadamkan api malah anda menambah baham bakar.]
__ADS_1
(Woy aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin terlihat seperti anak kecil saja.)
[Anak Kecil? Sayangnya anda tidak terlihat seperti itu Master. Malahan anda Terlihat seperti penjahat yang sedang mencoba memprofokasi wanita itu,...Tidak, jika di pikir lagi sejak awal anda ini memang sudah Penjahat.]
(Woy apa maksudmu bilang begi-!!)
Sebelum aku menyelesaikan kata - kataku, tiba - tiba aku merasa ada sebuah serangan yang datang dari atas kepalaku. Dan saat aku menengok ke atas sana aku lihat Wanita itu Sedang mencoba menginjak wajahku.
Tentu saja tanpa melepaskan genggamanku dari kakinya yang
Terluka, aku lansung hindari serangannya itu dengan pergi ke belakang kakinya. Dimana membuat Wanita itu terlihat kesal.
"BOCAH KENAPA KAU MENGHINDAR?"
"kenapa? Tentu saja lah, lagi pula siapa juga yang mau kena."
"KA~KAU..~~ARGHHH WOY BERHENTI PEGANG KAKI KU, ITU SANGAT SAKIT TAU."
Wanita itu mencoba menendang wajahku lagi tetapi karena aku berada di belakang kakinya sehingga ia kesulitan.
"DASAR BOCAH SIALAN. AKU BILANG LEPASKAN KAKI KU ~UGHH!!"
"Tidak mau, jika aku lepaskan kau pasti akan Hilang lagi."
"ITU TENTU SAJALAH, LAGI PULA SIAPA JUGA YANG MAU MATI DI SINI BERSAMA DENGANMU."
Ucap Wanita itu yang terus mencoba menendang wajahku tetapi ia tetap saja kesulitan, hingga akhirnya ia pun menyerah.
(Cih percuma saja aku melakukan ini, aku tidak bisa menendang nya.) pikir wanita itu.
Sebetulnya jika ia menggoyang - goyangkan kakinya dia bisa saja melepaskan Genggamanku dari kakinya.
Namun karena saat ini Kakinya sedang terluka parah di karenakan tempakan yang ia terima tadi, sehingga ia tidak bisa melakukan itu.
(Yosh Kalau begitu....)
Wanita itu mengeluarkan belati dari dalam bajunya lalu ia mencoba menusuk tangan ku, sayangnya...
DORR!!
Tiba - tiba terdengar suara tembakan yang membuat Belati wanita itu lansung terhempas dan terjatuh ke bawah.
-Aku sarankan sebaiknya kau Hentikan saja perlawananmu itu dan Bawah aku kembali ke tempat sebelumnya, jika tidak maka....AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU DAN KITA BERDUA AKAN MATI DI SINI."
Mendengar kata - kataku membuat Wanita itu lansung mengerutkan dahinya dan terlihat sangat kesal.
"BOCAH JANGAN MAIN - MAIN DENGANKU, KAU PIKIR AKU TAKUT DENGAN ANCAMANMU? JANGAN MIMPI. YANG MATI DI SINI HANYA KAU SAJA BUKAN AKU."
"Oh kalau begitu lakukanlah kalau kau memang bisa. Lagi pula selama Aku menggenggam Kakimu kau tidak mungkin bisa menggunakan Kekuatan-!!"
'Mu' ingin ucapku. Namun sebelum mengucapkan itu tiba - tiba aku berhenti saat lihat Wanita itu mengeluarkan Sebotol minyak rambut dari kantong bajunya.
Lalu Minyak tersebut ia tuangkan ke dalam Bajunya. Yang dimana membuat minyak itu mengalir dan mengolesi setiap bagian Badannya, mulai dari dada, Perut, paha hingga kedua kakinya yang sedang terluka.
"Sensasi ini...Jangan bilang!"
"Benar, Jika kau tidak mau melepaskan kaki ku maka aku hanya perlu melepaskan ini."
Tanpa Ada rasa malu sedikitpun, Wanita itu lansung melepas semua pakaiannya mulai dari baju hingga celana dan hanya menyisahkan pakaian dalam. Kemudian ia mencoba membuangnya.
Tetapi aku tidak menyerah begitu saja, aku berusaha sekuat tenaga untuk bertahan agar ia tidak bisa melepaskan Celananya.
Namun karena saat ini celana Serta kakinya sudah di lumuri oleh Minyak Rambut sehingga membuat genggamanku jadi licin dan lepas yang pada akhirnya aku pun terjatuh bersama dengan pakaiannya.
UWAAAAAAAAAAAAA!!
Aku Terjung bebas ke bawah dan aku merasa sedikit panik.
"SIAL..SIAL..SIAL JANGAN BERCANDA DENGANKU, KAU PIKIR AKU AKAN BIARKAN KAU PERGI BEGITU SAJA."
Aku buru - buru membalikkan badanku ke atas Dan mencoba melepaskan sebuah tembakan ke arah Kepala wanita itu.
DORR!!
Sayangnya karena saat ini sedang malam di tambah lagi angin nya sangat kuat sehingga membuat tembakanku meleset dan hanya bisa Menghancurkan sebagian Topengnya saja.
"CIH, DIA TIDAK KENA."
__ADS_1
Ucapku yang terlihat kesal, tetapi di saat Cahaya Bulan menyinari wajah Wanita itu sentak saja aku lansung kaget dan shock.
Sebab Wajah wanita itu sangat mirip dengan seseorang yang ku kenal di kehidupanku sebelumnya, dimana orang itu tidak lain adalah....
"SELENA."
Benar, meskipun hanya sebagian saja wajahnya yang terlihat tetapi aku sangat kenal dengan tatapan dan luka irisan yang ia miliki di pipinya itu.
Dimana Luka itu aku sendiri yang berikan waktu di kehidupanku sebelumnya, ketika ia sok - sokkan mencoba melawanku.
"KA~KAU.....APA KAU SELENA?"
Ketika aku bertanya, Selena lansung melebarkan Matanya karena terkejut "Eh!" lalu ia mencoba bertanya balik..
"Ba-Bagaimana kau bisa tau namaku?"
"Itu-!!"
Sebelum aku menyelesaikan kata - kataku tiba - tiba Kekuatan Selena Aktif dan tubuhnya mulai bersinar terang.
"EH TUNGGU JANGAN MENGHILANG DULU, AKU INGIN BICARA DENGANMU."
Meskipun aku mencoba menghentikannya tetapi ia tidak mendengarkan.
Hingga akhirnya Cahaya itu mulai mereda di ikuti oleh Selena yang sudah tidak ada di sana.
"Cih, Kau pasti bercanda. Kenapa,...Kenapa dari semua orang dunia bawah, harus dia yang datang ke sini?"
[Master, aku mengerti perasaanmu tapi pertama - tama ada yang lebih penting yang harus anda lakukan terlebih dahulu.]
"yah aku tau itu."
Balasku sambil membalikkan badanku ke Bawah, dimana aku lihat sepertinya sebentar lagi aku akan mendekati kota dan menabrak Salah satu Gedung Pencakar langit yang ada di bawah sana.
________________________________
_____________________________
Di sebuah Gudang Terbengkalai, Di dalam sana terdapat sebuah Cahaya Terang yang sedang menyinari Gudang itu. Dan dari dalam cahaya itu muncul Seorang Wanita dengan Kondisinya yang tidak baik.
Ia adalah Selena salah satu anggota yang baru bergabung ke KSP sekaligus buronan yang sedang di cari - cari oleh dunia ini.
Saat ini ia terbaring di lantai dimana ia Hanya Mengenakan Pakaian Dalam di karenakan pakaian yang ia kenakan tadi sudah ia lepaskan, Sehingga membuat beberapa Luka tembakan yang ia dapatkan di kakinya pun terlihat.
"~Ughhh Sial, ini benar - benar sangat menyedihkan, tidak ku sangka aku di lukai sampai seperti ini oleh bocah itu."
Ucap Selena yang terlihat kesakitan. Meski begitu Selena mencoba untuk berdiri tetapi ia lansung terjatuh sebab ia sudah tidak memiliki kekuatan, apa lagi kakinya saat ini sedang terluka parah. Jadi mau tidak mau Selena pun memilih untuk menyeret tubuhnya Dan mencoba menuju ke salah satu Ruangan yang ada di Gudang ini.
Dimana Ruangan itu adalah tempat dimana Selena tinggal untuk sementara.
SHIIIIT!!....SHIIIT!!...SHIIIT!!....
Setiap kali Selena Menyeret tubuhnya, Kakinya terus mengeluarkan Darah dan darahnya itu membekas di lantai.
Lalu beberapa menit kemudian setelah Selena sampai di ruangan itu, ia lansung masuk ke dalam dan pergi mengambil tasnya yang ia simpan di samping kasur.
Dimana Kasur itu Terlihat sudah Rusak dan tua akibat Usia.
Lalu, setelah Selena mengambil tasnya, ia lansung buka Dan Mengambil beberapa barang dari dalam Tas Seperti Obat penghilang rasa sakit, Alkohol dan Perban.
Pertama - tama Selena meminum obat Penghilang rasa sakit. Kemudian ia menggunakan Alkohol untuk menghentikan pendarahannya. Setelah itu ia tutup luka - lukanya itu dengan Perban.
"~Fuuuu akhirnya selesai juga. Dengan begini seharusnya sudah tidak apa - apa."
Ucap Selena. Lalu ia menghela nafas "Haaa..." dan entah kenapa tatapannya tiba - tiba berubah menjadi serius.
"Meski begitu siapa anak itu sebenarnya? Kenapa ia sangat berpengalaman sekali dalam Bertarung?-
-Bukan hanya Hebat dalam menggunakan Belati tapi semua tembakan yang ia lepaskan tadi juga tepat sasaran.-
-jika saja waktu itu anginnya tidak kuat, besar kemungkinan aku pasti sudah Mati sekarang."
Ucap Selena sambil menyentuh Topengnya yang sebelahnya sudah Hancur akibat tembakan yang ia terima tadi..
Lalu setelah itu, Selena mencoba sandar ke sebuah Tembok, dimana ia memandang ke arah langit - langit dan berkata...
"Selain itu, Bagaimana bisa anak itu tau namaku? Dari yang aku ingat aku tidak pernah sekali pun memberitaukan nya, jadi bagaimana?"
__ADS_1
Selena terus menanyakan hal itu pada dirinya tetapi ia tetap tidak bisa menemukan jawabannya, hingga akhirnya ia pun menyerah dan memilih untuk istirahat di kasur.