
>Di tengah perjalanan.
Saat ini aku berada di dalam mobil dan sedang duduk di kursi depan tepat di samping Brid, sambil mengelus kedua pipiku yang merah akibat tamparan Kak Siska.
"Sial, ini sakit sekali, seberapa keras ia menampar pipiku?" Gumanku.
Aku menghela nafasku dalam - dalam lalu mengalihkan pandanganku ke arah Brid yang sedang menyetir Mobil.
"Brid."
"Un?"
"Apa kau punya Es batu?"
"Apa! Es batu? Mana mungkin aku punya. aku hanya bawa Air Es, apa kau mau?"
"Ya udah itu saja, sini berikan."
Brid mengambil Air botol Es yang ia simpan di samping tempat duduknya lalu ia berikan padaku.
Aku ambil Air Es itu lalu aku tempelkan ke pipiku yang merah agar rasa sakitnya menghilang sedikit.
"Haaa ini lebih baik."
______________________________________
__________________________________
Setelah Kami sampai di sekolah, aku lansung turung dari mobil dan masuk ke dalam, dimana ketika aku berjalan di koridor beberapa kakak kelas mencoba menghalangi jalanku, namun ketika mereka melihat tatapanku mereka semua sontak menjadi takut dan buru - buru minggir untuk memberikan aku jalan.
Aku pun melewati mereka dan dengan tenang berjalan menuju ke kelasku.
Setelah aku sampai di kelasku. aku membuka pintu dan masuk ke dalam. Dimana aku melihat Sara sedang duduk di bangkunya sambil mendengarkan lagu menggunakan headsed seperti biasanya.
Aku mencoba mendekatinya dan menyapanya, namun sebelum aku sapa Sara lebih dulu memperhatikan keadiranku. di tambah lagi ia juga kelihatan terkejut.
"Le-Leon!"
"Yo sara, ada apa kau kelihatan terkejut begitu?"
Ketika aku bertanya, Sara perlahan berdiri dari tempat duduknya dan menatapku terus.
Lalu tak lama kemudian tiba - tiba Sara berlari ke arahku kemudian memelukku yang dimana membuat semua orang sontak kaget, tanpa kecuali aku sendiri.
"Eh Sara apa yang kau lakukan?"
"Leon makasih,...makasih banyak, berkat dirimu Kakak ku sudah kembali ke rumah dengan selamat.-
-Yaa meskipun ia kelihatan sangat berantakan dan lemas namun ia baik - baik saja."
"Begitu syukurlah."
Balasku. Lalu kemudian Sara mengangkat kepalanya dan melihatku.
__ADS_1
"Semua ini berkatmu Leon, tanpa dirimu Kakak ku pasti tidak akan pernah bisa kembali ke rumah dengan selamat. Aku sungguh sangat berterima kasih padamu."
"Hahaha sudahlah kau terlalu berlebihan."
"Itu tidak benar aku serius, bahkan Kakak ku sendiri yang bilang bahwa semua ini berkatmu. Tanpa dirimu ia pasti akan dalam bahaya."
"Hmm begitu."
"Hanya saja...."
Sara tiba - tiba kelihatan sedih. aku penasaran dan bertanya...
"Ada apa?"
".....Tidak, bukan apa - apa, tolong lupakan saja."
Karena Sara tidak ingin melanjutkannya jadi aku pun berhenti.
(Tapi dari yang ku lihat Firdaus sepertinya masih belum menceritakan semuanya pada Sara? Itu berart ia melakukan itu untuk melindungi adiknya agar tidak terlibat dengan masalah ini.) Pikirku.
Aku merasa sedikit senang atas pilihan yang di ambil Firdaus. Hingga membuat bibirku tersenyum.
Melihat hal itu, Sara kebingungan dan bertanya - tanya..
"Leon ada apa? Kau senyum begitu?"
"Hah tidak, bukan apa - apa."
"Yaa apapun itu yang jelas kamu tidak usah terlalu berterima kasih padaku, lagi pula aku melakukan itu semua atas kemauanku sendiri.-
-Selain itu aku juga sudah berjanji padamu, jadi aku harap kau tidak merasa berutang budi padaku, mengerti?"
"....Baiklah, jika kamu berkata begitu, aku mengerti."
"Bagus, kalau begitu bisa tidak kau lepaskan aku sekarang, semua orang sedang melihat kita."
Sara yang baru sadar sedang memelukku di ruang kelas, wajahnya lansung memerah dan buru - buru melepaskanku lalu menjauh sedikit dariku.
"Le~Leon maafkan aku,... Aku......."
"Tidak apa - apa Sara, tidak usah di pikirkan. Yang lebih penting sebaiknya kita kembali ke tempat duduk kita masing - masing karena sebentar lagi waktunya masuk."
"Ka~Kau benar."
Sara buru - buru meninggalkan ku dengan wajah yang masih malu dan kembali ke bangkunya.
Sementara itu aku mencoba pergi ke bangku ku juga sambil mengabaikan setiap bisikan yang ku dengar dari para murid yang sedang membicarakan soal Sara yang memelukku barusan.
Di antara mereka ada yang mengirah kalau Sara menyukaiku dan ada juga yang menganggap kalau kami ini sedang pacaran.
Yaa apapun itu, yang jelas aku tidak terlalu mempedulikan hal itu dan lansung pergi ke tempat dudukku.
Aku duduk dengan tenang sambil melihat ke luar jendela dan memandang langit biru yang terbentang di atas awan.
__ADS_1
(Sungguh hari yang sangat melelahkan, pipiku juga masih sedikit sakit.-
-Yaa meski begitu setidaknya aku telah menyelesaikan beberapa masalah.)
Setelah aku reinkarnasi di tubuh ini, aku telah melalui banyak hal, mulai dari mengurusi anak - anak berandalan itu, Melawan Selena, Menyelesaikan masalah Linda sampai urusanku dengan Firdaus yang sepertinya masih belum selesai.
Yaa meskipun masih ada 2 masalah lagi yang harus ku urusi seperti si Hacker itu. Tapi karena aku sudah tau lokasi tempat ia tinggal jadi aku bisa urus ia kapan saja.
Yang harus ku lakukan saat ini adalah fokus pada pertemuan itu, karena jika rencanaku salah sedikit saja maka mereka semua(KSP) akan dalam bahaya.
Apa lagi orang - orang itu sepertinya juga sudah mengetaui keberadaanku.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah sebuah tiang listrik, dimana terdapat burung gagak di sana.
Meskipun jaraknya sangat jauh namun aku bisa lihat mata gagak itu mengarah terus ke tempatku, seolah - olah ia sedang mengawasiku.
Lalu di saat gagak itu menyadari aku sedang menatapnya, gagak itu buru - buru terbang tinggi ke atas langit dan menjauh dari tempat itu.
"Fufufu."
[Ada apa Master, anda ketawa begitu?]
"Hmm! Bukan apa - apa, aku hanya berpikir bahwa semuanya makin menarik."
PIX mencoba mengintip ke arah wajahku, dimana ia memperhatikan aku seringai. Meskipun ia tidak tau alasannya namun ia tau bahwa aku pasti sedang merencanakan sesuatu.
[Entah kenapa aku mempunyai firasat buruk.]
_____________________________________
_________________________________
Setelah kelas masuk, beberapa menit kemudian akhirnya guru yang akan mengajar kami datang.
"Semuanya sepertinya guru sudah datang." ucap salah satu Murid.
Dalam sekejap semua murid lansung duduk dengan tenang, namun di saat guru itu berjalan masuk ke dalam kelas semua murid sontak merasa gembira sebab yang mengajar kami kali ini bukan pengganti Bu Linda yang sebelum - sebelumnya, melainkan itu adalah Bu Linda sendiri.
Semua murid merasa sangat senang, tanpa kecuali Sara dan kelima Gadis yang ikut dengan kami kemarin.
(Yaa sebetulnya aku sedikit khawatir ia datang ke sekolah hari ini, bagaimanapun juga suaminya baru saja meninggal kemarin. Namun melihat ia senyum begitu, sepertinya ia baik - baik saja.)
Aku perhatikan ekspresi Bu Linda dimana ia terlihat sangat ceria, berbeda dengan sebelum - sebelumnya dimana ia sering kali memaksakan dirinya untuk tersenyum seolah mencoba menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya.
Apa lagi kali ini ia juga tidak memakai makeup untuk menutupi kelopak matanya yang hitam yang sering ia lakukan dulu.
Meskipun tidak memakai makeup, namun ia tetap saja masih terlihat sangat cantik.
"Sudah kuduga, tanpa makeup sekalipun wanita ini tetap cantik."
Gumanku. PIX yang dengar itu seolah setujuh denganku dan menggangguk.
[Um, anda benar.]
__ADS_1