BOCAH MAU DI LAWAN

BOCAH MAU DI LAWAN
PEMBICARAAN TENTANG SEKOLAHKU


__ADS_3

setelah kejadian (benjolan ku) itu, sudah beberapa hari aku tinggal di rumah ini, dan sampai saat ini aku masih terus memakai identitas bocah ini, yang bernama Leon.


dan saat ini, di pagi hari, aku sedang makan bersama dengan kedua orang tuaku dan juga Kak Siska.


"oh, iya!!"


ketika kami semua sedang asik makan, tiba - tiba ibuku berhenti makan dan perlahan mengalihkan pandangannya ke arahku.


"Leon!...ibu dengar dari Siska kemarin, apa benar kalau kamu ingin masuk sekolah??"


saat aku mendengarnya, aku baru ingat kalau kemarin malam, aku memberitua Kak Siska kalo aku ingin masuk Sekolah secepat mungkin, karena aku sangat bosan jika tinggal terus di rumah ini.


tapi karena dia masih khawatir dengan kondisiku yang belum sembuh 100%, makanya dia ingin memberitau ibuku terlebih dahulu.


"yah, itu memang benar, aku memang ingin cepat masuk sekolah."


"begitu..tapi, kenapa kamu ingin masuk sekolah secepat ini. bukankah kamu masih belum sembuh sepenuhnya??"


"tidak,..sebetulnya, aku sudah baik - baik saja. alasan aku ingin cepat masuk sekolah, itu karena aku sangat bosan jika tinggal terus di rumah!?"


"begitu..."


saat aku memperhatikan wajah ibuku, dia sepertinya sedang terlihat kesusahan sambil memikirkan sesuatu,


"ada apa bu??"


"ti- tidak, bukan apa - apa,...hanya saja, sebetulnya kami sedang ingin memindahkanmu kesekolah lain!"


"sekolah lain...emang kenapa??"


ketika aku bertanya balik, ibuku sepertinya lansung kelihatan panik, dan susah untuk memberitauku.


"ya- yah, kamu tau, sekolahmu itu,..saat kamu pulang..."


(tempat dimana ketika aku sedang di bully yah!?)


saat aku mengatakan apa yang ingin ia katakan di pikiranku, dia sepertinya terlihat sangat kesulitan untuk memberitauku apa alasan dia mau memindahkanku ke sekolah lain.


meskipun aku sudah tau alasan dia. namun untuk saat ini, aku berpura - pura saja, seperti orang yang belum mengetaui apapun.


dan saat ayah melihat ibuku seperti itu dari samping, tiba - tiba dia lansung berhenti makan dan perlahan mengalihkan pandangannya ke arahku.


"Leon, alasan kami ingin memindahkanmu ke sekolah lain. itu karena, jalan dimana saat kamu pulang sekolah, sebetulnya tempat dimana anak nakal sering sekali nongkrong. jadi, itulah kenapa kami ingin memindahkanmu kesekolah lain!!"


saat ayah sedang berbicara, aku lansung menjawab apa yang ingin ia katakan.


"begitu, apa karena kalian khawatir, jika anak nakal itu bisa saja menggangguku suatu saat nanti kan??"


"yah!?"


jadi begitu. apa yang di katakan mereka berdua memang benar, karena untuk menghindari anaknya dari pembullyan lagi, lebih baik jika lansung memindahkannya ke sekolah lain dari pada sekolahnya yang sekarang.


karena, bukan tidak mungkin kalau suatu saat, Bocah ini bisa saja kena pembullyan lagi.


namun, itu hanya jika kita membicarakan tentang Bocah (Leon) ini.


sekarang semuanya sudah berubah. karena, anak yang mereka tau atau dia lihat saat ini bukanlah anak mereka, melainkan orang lain yang sedang menyamar menjadi anak mereka.


meskipun suatu saat anak mereka kena pembullian, namun mereka tidak perlu khawatir. karena saat ini, di tubuh anaknya sedang bersembunyi seekor singa yang berpura - pura jadi kucing, jadi mereka tidak perlu khawatir sama sekali.


saat aku memikirkan itu, aku mulai menatap ibu dan ayah dengan tatapan serius.


"aku sudah mengerti dengan ke khawatiran kalian, namun kalian tidak perlu khawatir. karena aku bisa berjanji pada kalian, kalau anak nakal itu tidak bisa membullyku lagi!?"

__ADS_1


"...."


"...."


"...."


saat aku mengatakan itu dengan nada yang sangat serius. untuk sementara waktu mereka berdua tidak mengatakan apapun.


begitupun dengan Kak Siska, yang dari tadi hanya mendengarkan pembincaraan kami dari sampingku.


sekarang dia menatapku juga.


tak lama kemudian, kesunyian itu di lepaskan oleh ayah saat dia menghembuskan nafas.


"haaaa..."


"sayang??"


setelah itu, ayah lansung mengalihkan pandanganya ke arah ibuku.


"bagaimana kalo untuk saat ini, kita terima saja apa yang di katakan Leon?!"


"a- apa kamu yakin sayang??"


"yah."


ayahku perlahan mengalihkan pandangannya ke arahku lagi.


"jujur, aku masih ingin Leon Pindah sekolah lain, tapi, karena Leon seyakin itu mengatakannya. makanya untuk saat ini kita terima saja dulu!?"


"...jika kamu mengatakan itu....baiklah!?"


"Terima kasih!?"


meskipun mereka berdua bukanlah orang tuaku, namun aku senang karena mereka masih membiarkanku bersekolah di sekolahku yang sekarang.


di mana aku bisa menemukan para bajingan yang sudah membully Bocah ini.


karena, satu - satunya alasan aku ingin pergi ke sekolah, hanya untuk membalaskan perbuatan mereka terhadap bocah ini dan juga Kakaknya.


saat aku memikirkan itu, ayahku mulai berbicara lagi.


"tapi, kamu harus berjanji, kalau suatu saat anak nakal itu mengganggumu, kamu harus memberitau kami dan terima dengan apa yang kami berdua katakan tadi, dan lansung pindah dari sekolahmu, mengerti??"


"yah, aku mengerti!?"


lagi pula, alasan aku ingin pergi sekolah bukan untuk belajar, melainkan hanya untuk mencari para bajingan itu, supaya aku bisa memukulnya sepuas mungkin agar mereka tidak bisa menunjukkan lagi wajahnya di depan publik.


(siap - siap sajalah kalian bajingan, saat aku melihat kalian, aku bersumpah akan menghancurkan tubuh kalian!!)


ketika aku memikirkan itu, tampa sadar aku mulai tertawa, tampa di sadari kedua orang tuaku bahkan Kak Siska yang berada di sampingku sekalipun.


____________________


______________


setelah itu, di malam hari, ketika Kak Siska yang sedang berada di ruang tamu sedang menonton sinetron, dia melihatku sedang mau berjalan ingin keluar dari rumah.


"Leon, kamu mau pergi kemana malam - malam gini??"


"aku, aku cuma mau pergi ke super market untuk beli beberapa cemilan!?"


"hmm, kalau begitu, bisa tidak kamu belikan aku juga Es krim Sendotan??"

__ADS_1


"tidak masalah, tapi, rasa apa yang Kak Siska mau??"


saat aku menanyakan itu, Kak Siska sepertinya terlihat kebingungan untuk memili rasa apa yang ia mau.


"hmm..rasa apa yah, yang bagus...hmm??"


karena ia sepertinya terlihat kebingungan untuk memilih rasa apa yang ia mau, aku memcoba untuk membantunya.


"bagaimana kalo rasa coklat??"


"itu bisa merusak gigiku."


"kalo strawberry??"


"terlalu manis."


"bagaimana kalo rasa jeruk??"


"aku tidak suka kalau eskrim rasa jeruk??"


saat dia mengatakan itu, dia terlihat sedang cemberut sambil melihat ke arah lain.


(gadis ini apa sih maunya!?)


ketika aku memikirkan itu, aku kesal dan perlahan mulai berjalan ke arah pintu.


"Kalo tidak ada yang Kak Siska mau, aku pergi dulu?!"


dan ketika Kak Siska sadar kalau aku sudah mau meninggalkan rumah, dia lansung memanggilku.


"hah, Leon tu- tunggu dulu, aku belum memili rasa apa yang aku mau?!"


"kalo begitu cepatlah"


ketika aku mengatakan itu, dia sepertinya masih terlihat kebingungan untuk memilih rasa apa yang ia mau.


"hmm..tunggu dula yah, aku masih pikir..hmm...rasa apa yah, yang bagus...hmm??"


aku lansung terlihat sangat kesal, saat tau kalo dia belum memikirkan apa yang ia mau.


( sialan, apa gadis ini sedang mempermainkanku??)


saat aku memikirkan itu dengan sangat kesal, aku dengan cepat buru - buru meninggalkan rumah.


"haaa, kalo Kak Siska tidak mau memilih apapun, aku pergi saja!!"


dan ketika aku mulai membuka pintu, suara Kak Siska terdengar dari belakangku.


"Hah. Le- Leon tunggu dulu,..a- aku, aku mau rasa Strawberry saja?!"


dan saat aku mendengar suara Kak Siska di belakangku, aku lansung menutup pintu.


Knock


saat aku sudah berada di luar rumah, aku berjalan untuk mengambil sepedaku.


karena tempat aku tinggal agak jauh jaraknya dari super market, jadi ketika aku mau pergi ke super market, aku biasanya menggunakan sepeda.


setelah aku sudah sampai, dimana sepedaku berada, aku lansung menaikinya, sambil memikirkan apa yang Kak Siska katakan tadi.


(rasa strawberry yah, kalo itu yang kau mau, kenapa tidak bilang dari tadi. sepertinya, gadis ini benar - benar sedang mempermainkanku.)


saat aku memikirkan itu sambil masih terlihat sangat kesal, aku lansung mendayung sepedaku dan dengan cepat pergi meninggalkan rumah.

__ADS_1


__ADS_2