
Vitto menatap datar orang yang ada di depannya. Sementara orang itu langsung memeluknya dengan erat. Vitto mematung dan tidak membalas pelukan itu. Hingga beberapa detik kemudian pelukan itu lepas dan dia memegang wajah Vitto dan mencium pipi Vitto.
"Vitto sayang.... Sudah Mama duga bahwa itu pasti dirimu, sejak tadi dari sana mama memperhatikanmu, Mama meragu untuk mendekatimu tetapi dari caramu berjalan dan dari postur tubuhmu Mama yakin itu dirimu....! Kau semakin tampan saja, bagaimana kabarmu???"
Vitto hanya diam, menatap muak ke arah wanita yang ada di depannya itu. Itu adalah Mamanya yang sudah bertahun-tahun sudah meninggalkannya. Pergi dengan laki-laki lain membawa triliunan uang serta aset perusahaan. Meninggalkan banyak kedukaan serta kesakitan untuk keluarganya. Bahkan Mamanya juga ternyata jadi penyebab dari kematian Vania. Vitto sudah menganggapnya tiada sejak saat itu. Wanita yang seharusnya menjadi surganya itu ternyata sudah tidak pantas lagi untuk dipanggilnya dengan sebutan Ibu ataupun Mama. Karena seorang ibu yang baik adalah ibu yang menyayangi anaknya serta suaminya, bukan ibu yang meninggalkan keluarganya untuk kabur dengan laki-laki lain. Bahkan ibu yang tega menghancurkan kehidupan putrinya sendiri. Itu sama sekali tidak bisa di maafkan.
Vitto mengangkat maskernya lagi ke mulutnya, dia berbalik badan dan mendorong troli yang berisi kopernya. Mengabaikan Mamanya begitu saja. Tidak mau menyerah, Mama Vitto mengejar putranya yang tidak peduli kepadanya. Dia menyadari bahwa sepertinya putranya itu masih marah terhadapnya. Seperti niatnya untuk kembali dan datang kesini adalah merebut hati kedua putranya yaitu Vitto dan Vino, maka dia harus bisa bersikap baik dan penuh penyesalan atas kesalahannya kemarin.
"Vitto.....!!!! Vit..... Vitto.....!!! Tunggu...! Kenapa kau mengabaikan Mama....!" Teriak Mama Vitto sambil setengah berlari mengejar Vitto tetapi Vitto mengabaikannya. Setelah sampai di dekat Vitto, dia meraih tangan Vitto dan menariknya. Langkah Vitto pun terhenti, dan Vitto melihat beberapa orang memandang ke arahnya.
Vitto mendengus kesal. "Jangan mainkan dramamu disini, ini airport, jika kau ingin bicara, bicara diluar saja....!" Geram Vitto.
"Kau juga jangan mengabaikan Mama begitu saja dong? Oke kita bicara di luar, atau bagaimana kalau kita makan malam di restoran..???" Mama Vitto pun melingkarkan lengannya di lengan Vitto yang sedang mendorong troli.
Vitto tetap bersikap dingin tetapi membiarkannya. "Aku tidak ada waktu, dan aku juga sudah makan malam sebelun take off...! Aku lelah dan ingin langsung pulang....!" Ucap Vitto dengan suara dingin.
"Kalau begitu Mama ikut pulang denganmu ya??? Mama bingung tidak tahu harus tinggal dimana? Mama pernah melihatmu sedang mengajak wartawan berkeliling di rumahmu, sangat bagus dan Mama tahu itu bukan rumah yang dulu kita tinggali, artinya kau pasti sudah memiliki rumah sendiri, kau artis terkenal...!"
Vitto tidak mengatakan apapun lagi atau menanggapi ucapan sang Mama dan dia tetap berjalan menuju pintu kedatangan. Sampailah dia disana dan langsung memanggil Mario, bodyguard Rana. Vitto menyuruh Mario membawa kopernya ke bagasi mobil. Vitto melepaskan pegangan mamanya pada lengannya lalu melenggang pergi dan menjauh. Mama Vitto kembali mengejar putranya itu sambil menarik koper miliknya.
"Vitto... Mama menginap di rumahmu ya??? Mama bingung harus tinggal dimana....!"
Langkah Vitto terhenti di samping pintu mobilnya dan dia menoleh ke belakang. "Rumahku bukan hotel yang bisa sembarangan di gunakan menginap oleh sembarang orang...! Kalau kau butuh tempat menginap, cari saja hotel!" Ucap Vitto.
Dia kemudian memanggil Mario yang sudah selesai memasukkan koper ke bagasi. Mario mendekat dan Vitto tampak berbisik sesuatu kepada Mario, tak lama setelah itu, Vitto membuka pintu mobilnya. Tidak sepenuhnya terbuka karena Vitto harus menghindarkan Rana dari siapapun. Hanya terbuka sedikit dan Vitto memiringkan badannya saat masuk ke dalam mobil kemudian langsung menutup pintunya.
Melihat Vitto masuk mobil, sang Mama langsung bergegas ingin menyusulnya, sayangnya Mario si bodyguard Rana itu langsung menghalangi Mama Vitto untuk menyusul Vitto masuk ke dalam mobil. "Maaf bu, anda tidak bisa masuk...!" Ucap Mario.
__ADS_1
"Berani sekali kau, aku mamanya Vitto...!" Teriaknya kesal dan Mario hanya membalasnya dengan senyuman.
Sedetik kemudian, mobil Vitto pun meninggalkan area bandara. Sementara Mama Vitto yang kesal langsung memaki Mario dan memarahinya. Tetapi Mario hanya diam kemudian meninggalkan Mama Vitto begitu saja untuk mengambil motornya.
Rana menatap bingung ke arah Vitto yang ada disampingnya. Rana tidak tahu siapa wanita itu dan saat ini wajah Vitto terlihat kesal seperti sedang menahan amarahnya. "Vit... Siapa dia? Apa dia penggemarmu dan mengganggumu sehingga kau terlihat kesal???" Tanya Rana.
"Tidak apa-apa Ran, dia hanya wanita gila....!" Gumamnya kesal.
"Oh....! Ya sudah jangan terlalu dipikirkan...!" Timpal Rana, dia tidak mau merusak mood Vitto, karena lelaki itu terlihat kesal dan pasti lelah sekali.
Vitto menatap lurus ke depan. Permasalahan Angel dan Jason belum selesai dan dia belum mendapatkan jawabannya sekarang dia justru dihadapkan dengan kedatangan Mamanya lagi. Tetapi Vitto kembali berpikir bahwa mungkin ini ada hubungannya dengan Jason yang dilihatnya kemarin. Jason ada di Singapura sementara Mamanya ada disini. Tetapi mereka tidak bersama, dan justru Jason bersama dengan Angel. Vitto sangat bingung dengan apa yang terjadi. Masalah ini semakin rumit saja. Orang-orang yang sangat dibencinya itu justru muncul lagi membuat kemarahan yang sudah tersimpan dalam-dalam akhirnya muncul lagi.
Vitto menoleh ke sebelahnya dimana Rana duduk disana dalam diam. Ada perasaan bersalah dihati Vitto pada Rana yyang tadi bertanya padanya tetapi malah dia jawab dengan ketus. "Rana...! MMaaf atas sikapku tadi... Aku hanya sedikit kesal karena aku lelah...!" Gumam Vitto.
Rana menoleh, tersenyum memaklumi. "Tidak apa... Aku tahu kau sedang lelah....! Sampai di apartemen kau langsing istirahat saja....!"
Vitto memiliki firasat buruk akan kedatangan Mamanya kesini setelah sekian tahun. Mamanya datang pasti untuk sebuah alasan. Luka yang sudah ditinggalkan Mamanya belum sepenuhnya sembuh tetapi Mamanya justru kembali lagi, seolah kembali untuk mengorek luka lama yang ingin sekali Vitto lupakan. Vitto takut Mamanya datang untuk membuat masalah baru dan amtakut itu akan mempengaruhi kesehatan Papanya lagi, mengingat saat ini Papanya sendiri masih dalam tahap penyembuhan meskipun sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. Papanya sudah terlalu banyak menahan luka akibat perbuatan Mamanya, dan bukannya ingin menjadi anak yang durhaka terhadap ibu, Vitto hanya ingin meluapkan segala kemarahannya selama ini dan membuat ibunya mau menyadari kesalahannya.
"Rana...! Aku akan menghubungi Vino sekarang, jadi untuk beberapa saat aku minta kau jangan bicara...!" Ucao Vitto.
Rana mengernyit, penasaran juga kenapa tiba-tiba Vitto ingin menghubungi Vino. Tetapi Rana langsung mengangguk menuruti keinginan Vitto untuk tidak berbicara.
Di tempat lain, Vino baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah memakai baju tidur. Dia bersiap untuk tidur setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan bersama dengan Papanya. Vino melempar tubuhnya dan menarik selimutnya untuk tidur. Baru memejamkan mata beberapa menit, ponselnya berdering dan itu dari Vitto. Vino malas untuk mengangkatnya tetapi dia tetap mengangkatnya.
"Hallo Vit... Ada apa kau malam-malam menelepon???" Tanya Vino ketus.
"Sorry aku menghubungimu di jam-jam seperti ini, tapi ada hal penting yang ingin aku katakan padamu, dan aku harap kau bisa bersiap setelah ini...!"
__ADS_1
"Kau bicara apa??? Katakan ada apa???" Gerutu Vino.
"Aku baru saja bertemu dengan Mama....!"
Vino langsung bangun. "Apa...???? Kau bertemu dengannya??? Dimana???" Serunya terkejut.
"Aku tidak bisa menceritakannya sekarang, besok aku akan ke rumah dan akan aku ceritakan... Hanya saja aku punya forasat buruk kalau dia bisa saja berulah lagi, jadi aku minta mau dan Papa berhati-hati, aku takut dia pulang ke rumah dan membuat kekacauan, simpan segalanya dengan baik, jangan sampai kita kecolongan untuk kedua kalinya...."
"Baiklah aku mengerti... Besok datanglah ke rumah, aku akan menunggumu...!"
Vitto menutup teleponnya dan dia mendapati Rana menatapnya. Vitto melempar senyumnya.
"Jadi tadi itu Mamamu???" Tanya Rana.
"Ya...!"
"Pantas saja kau bete sekali... Jadi karena itu....! Mamamu cantik, eh dia seperti Vino ya wajahnya?, kalau kau jelas sekali wajahmu mirip Papamu...." Ujar Rana.
"Iya, Vino seperti dia, dan mereka berdua sama-sama menyebalkan....!!!"
Rana terkekeh. "Kau ini...! Lalu apa tadi maksudmu menyuruh Vino menyimpan segalanya? Apa yang harus disimpan dan dihindarkan dari Mama kalian??" Tanya Rana lagi.
"Segalanya, seperti uang dan surat-surat penting, aku tidak mau Mama berhasil mencuri surat-surat penting itu...!"
"Hmmmmm begitu ya... Tapi kenapa kau langsung suudzon seperti itu? Bisa saja Mamamu kembali karena sudah menyadari kesalahannya, mengingat kemarin kita melihat Jason bersama dnegan Angel, bukankah semua kemungkinan bisa terjadi? Orang juga bisa berubah kan??? Kenapa kau tidak mencoba bersikap baik???"
"Kau memang tidak dan belum tahu bagaimana sikap dan sifat Mama, dia seperti Vino yang penuh dengan drama dan juga pandai bersilat lidah... Aku sama sekali tidak bisa mempercayainya begitu saja...!" Ucap Vitto kesal.
__ADS_1
Ditengah obrolan itu, ponselnm Vitto berdering dan itu dari Mario. Vitto mengangkatnya dan diam untuk beberapa saat hingga kemudian wajahnya berubah menjadi kesal lagi. Rana menoleh ke arah Vitto, dan dia tidak tahu apa lagi yang sedang terjadi hingga Vitto terlihat kesal dan narah seperti itu.