
Vitto mengeluarkan tas carrier nya dari dalam mobil. Sekarang dia sudah sampai di rumah Rana. Dia akan kembali beristorahat disini sebelum dini hari nanti dia pergi ke airport untuk perjalanannya ke luar kota. Rana masuk lebih dulu, sementara Vitto memanggil bodyguard nya yang ada di luar. Memberi mereka arahan sebelum dia pergi untuk satu minggu ke depan. Vitto melarang mereka membiarkan Rana keluar dari rumah apapun alasannya bisa, dan memastikan Rana harus selalu berada di dalam rumah. Jika Rana membutuhkan sesuatu, salah satu dari mereka yang harus pergi untuk mencari nya, dan itu berlaku untuk ke empat bodyguard itu yang akan bergantian 2X sehari dari pagi sampai sore, kemudian sore sampai pagi. Juga harus melihat siapa saja yang datang, orang lain tidak boleh masuk kecuali sahabat-sahabat Rana seperti Jeany, Cahya dan lainnya. Setelah memberi arahan kepada ke empat bodyguardnya, Vitto menyuruh dua dari mereka untuk pulang dan kembali besok pagi.
Vitto naik ke lantai tiga menuju kamar Rana karena perempuan itu tidak ada di lantai satu ataupun lantai dua dan pasti sudah ada disana untuk beristirahat. Vitto membuka pintu kamar Rana.
"Doooor.....!!!" Teriak Rana yang langsung membuat Vitto terkejut. Melihat ekspresi terkejut Vitto, Rana pun tertawa terbahak-bahak.
Vitto mengatur napasnya dan wajahnya terlihat kesal memandangi Rana karena perempuan itu menertawakan dirinya. "Astaga.... Kau ini... Mengejutkan saja...!"
"Hahaha lihatlah ekspresimu tadi lucu sekali, aku tidak pernah melihat sebelumnya....!"
"Dasar... Kau ini..." Vitto menarik hidung Rana dengan gemas.
Rana tertawa, kemudian dia melingkarkan kedua lengannya di leher Vitto, mendekatkan tubuuhnya dan mengecup bibir Vitto. Rana kembali tersenyum menatap wajah tampan Vitto, sedangkan lelaki itu memandang curiga kepada Rana yang tersenyum padanya tetapi senyumnya itu seperti memiliki makna yang begitu dalam. Rana juga mengangkat alisnya berkali-kali menggoda Vitto.
Dengan cepat Rana menarik Vitto, agar lebih dekat dengannya, kemudian memegang kedua rahang Vitto dan mulai mendekatkan wajahnya lalu kembali menciumnya.
Rana mencium lagi bibir Vitto yang terbuka dan menyelipkan lidahnya ke dalamnya. Liidah mereka bertautan, hangat dan basah. Bibir Rana mencium bibir Vitto tanpa ampun, mencecap setiap sisinya. Sambil berciuman, Rana mencoba memasukkan tangannya ke celana Vitto dan menyentuhkan jemarinya ke milik lelaki itu.
"Apa kau menginginkannya lagi???" Tanya Vitto dengan suara serak, tetapi Rana tidak menjawabnya dan terus menelusup masuk.
Rana kemudian merasakan kekerasan yang hangat di telapak tangannya, dengan lembut dia menariknya keluar.
Rana menggenggam milik lelaki itu dan Vitto langsung memejamkan matanya dan berteriak pelan, perasaan bahwa Vitto benar-benar mulai menikmati atas sentuhannya membuat Rana merasa senang.
Sambil terus berciuman jemari Rana bereksplorasi di milik Vitto, dan lelaki itu membiarkannya sebebas-bebasnya. Akhirnya, Rana melepaskan ciumannya lalu dia menatap tajam Vitto, matanya berkabut yang penuh keinginan. Rana tersenyum lalu menarik Vitto, dia mundur beberapa langkah kemudian duduk di atas tempat tidur, sedikit membungkukkan badannya tepat didepan milik Vitto, mulutnga terbuka dengan penuh kepemilikan ingin mencecap milik lelaki itu.
"Kau sudah mulai berani dan seperti nya ketagihan...!" Gumam Vitto kemudian mendorong kepala Rana secara perlahan sampai perempuan itu melahap seluruh miliknya dan Vitto mengerrang ketika miliknya memenuhi milik Rana.
__ADS_1
Rana menggerakkan kepalanya naik turun menikmati apa yang ada di dalam mulutnya. Mata Vitto terpejam merasakan sensasi luar biasa yang dilakukan Rana sambil terus meracau keenakan. Vitto kemudian mengumpulkan rambut Rana dan menggenggam dengan jemarinya lalu menarik dan mendorong kepala Rana agar mulut perempuan itu bisa mengullum miliknya lebih dalam lagi.
Ranaa mengangkat kepalanya lalu mendongak melihat Vitto sambil terbatuk-batuk dan kemudian tersenyum.
"Kau sepertinya sangat menikmatinya sayang, oke sekarang giliranku" Ucap Vitto serak lalu mengangkat Rana agar berdiri. Vitto kemudian mengangkat gaun Rana juga menurunkan kain suteera yang membungkus milik perempuan itu. Setelahnya, Vitto membaringkan Rana di tempat tidur, kemudian dia tengkurap dibawah Rana. perempuan itu menekuk kedua lututnya menandakan dia sudah sangat siap.
Vitto menciumi bibir Rana, turun ke leher, daada, menyeesap kedua gunduukkan kenyal milik Rana secara bergantian dan turun lagi ke perrut lalu ke milik Rana yang ada di antara kedua paaha perempuan itu. Vitto mulai menjelajah dengan lidahnya, membuat Rana melengkungkan punggungnya di atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Vittk menciuminya, memainkan liidahnga, dan menyiksanya dengan godaannya yang sangat ahli, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Seperti gelenyar aneh yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari lidah lelaki itu, dan menjadi semakin hangat ketika menyatu di pusat dirinya.
Rana terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya.
Sekali lagi Rana melengkungkan punggungnya lagi dan setengah berteriak merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan liidah Vitto di pusat dirinya, dengan hembusan nafas yang hangat. Hangat bertemu hangat dan Rana benar-benar mulai terbakar.
Pandangan Rana menggelap karena sensasi keniikmatan yang tak tertanggungkan, Rana juga tidak berhenti meracau.
Dan ketika Vitto masih bermain-main, Rana terbaring lemas, dan tak berdaya dengan nafas terengah-engah. Vitto menaikkan tuubuhnya menahannya dengan kedua lengannya lalu merangkak naik diatas tubuuh Rana lalu mengecup bibirnya. Daada bidangnya menggessek daada Rana dan Rana bisa merasakan milik Vitto yang keras menyentuh pahanya, mengerti apa yang paling diinginkannya. Vitto menempatkan dirinya dengan begitu tepat.
“Sayang, bersiaplah kita akan melakukannya lalu kaunakan sangat merindukanku selama aku pergi" Ucap Vitto dan merasakan tubuh Rana yang paanas, lembut, haalus, dan membungkusnya dengan rapat, mengg0danya untuk mencapai kepuasan yang tidak terhingga.
Ketika Vitto mulai bergerak, Rana sangat menikmatinya. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir membuat gila karena akhirnya menyerah dalam pusaran keniikmatan yang diberikan Vitto. Vitto menundukkan kepalanya, lalu mencium lagi bibir Rana dengan posesiif, saling bertautan menikmati satu sama lain, dan Vitto menghujjamkan dirinya dalam-dalam. Rana melingkarkan kedua kakinya dipunggung Vitto dan laki-laki itu bergerak dengan lembut, lama-lama menjadi sedikit lebih cepat dan sangat cepat.
Sampai kemudian, Vitto membawa Rana melewati pusaran gelombang semakin meningkat hingga guncangan ledakan menerjang Rana. Vitto mempercepat gerakannya tetapi tetap memastikan itu tidak membuat Rana kesakitan pada luka bekas operasi nya.
Hingga Vitto mengangkat tubuhnya dari Rana yang terengah-engah, kemudian Vitto mengerang, sesuatu yang hangat menyembuur keluar dan berceceran di perrut Rana. Vitto masih berkabut karena ledakan itu tetapi kemudian mata nya terbuka dan tersenyum penuh kepuasan memandangi Rana yang terbaring di bawahnya.
Vitto menggeser tubuhnya dan duduk bersandar di tempat tidur, Rana kemudian bangun dan mendekat kemudian memeluk Vitto. Mereka beristirahat sejenak, mengatur napas selama beberapa menit.
"Aku pikir kita memang benar-benar harus segera menikah.. Bukankah itu jauh akan lebih baik??" Ujar Vitto.
__ADS_1
Rana mendongak ke atas menatap wajah lelaki yang sangat di cintai nya itu. "Itulah kenapa aku meminta agar kita segera menikah..."
"Apa karena hal ini kau memintaku untuk segera menikah??" Tanya Vitto.
"Aku tidak ingin menjadi orang yang munafik, kurasa ini salah satu nya tetapi bukan jadi yang utama..! Alasan utama ku adalah aku tidak ingin ada sesuatu yang bisa menghancurkan hubungan kita, yang kedua adalah aku ingin memulai kehidupanku yang baru, mengabdikan diriku untuk mengurus suami dan anak-anak kita nanti, yang sebelumnya belum pernah aku rasakan, dan hal itu menjadi keinginan terbesarku selama ini..!" Gumam Rana.
"Kau akan mendapatkannya, aku berjanji... Tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi, dan aku akan selalu menjagamu, kita akan berbahagia..!" Vitto memperrat pelukannya pada Rana.
"Entah kenapa kali ini aku benar-benar yakin bahwa kau akan selalu menjaga ku dan membahagiakanku..."
"Kau jaga dirimu baik-baik selama aku pergi, jika kau tidak bisa menghubungiku atau aku tidak membalas pesanmu, kau kirimkan saja semua pesanmu ke ponselku, katakan segala yang kau ingin katakan, ketika aku mendapatkan sinyal, aku akan membaca nya dan akan membalasnya...! Dan jangan keluar dari rumah, jika butuh apa-apa panggil bodyguardmu, mereka yang akan mencarikan keperluanmu, aku tidak mau mengambil resiko apapun...! Oke???"
Rana menganggukkan kepala nya. Dia akan sangat merindukan Vitto selama laki-laki itu pergi nanti. Dia juga berpesan agar Vitto berhati-hati. Mereka kemudian berbaring dan tidur, sebelum nanti tengah malam Vitto akan mulai bersiap dan berangkat ke airport untuk menyelesaikan pekerjaannya.
*******
Keesokan hari nya......
Rana bangun kesiangan karena semalam dsetelah Vitto pergi, dia tidak bisa tertidur dan menjelang pagi dia baru bisa memejamkan mata nya. Sekarang ternyata sudah jam sepuluh. Rana bangun dan duduk di tempat tidur. Dia meraih ponselnya dan ada beberapa pesan yang di terima nya dari Vitto.Ternyata lelaki itu sudah mendarat dengan selamat dan saat ini sedang dalam perjalanan ke kota selanjutnya dengan mobil kemudian akan menuju penginapan sebelum memulai perjalanan selanjutnya. Rana tersenyum membaca pesan itu, dan tiba-tiba saja dia mulai merindukan Vitto. Rana membalas pesan Vitto.
Sementara itu, di kantor, Vino mondar-mandir di depan jendela ruangannya. Dia menatap layar ponselnya yang sedang menunjukkan kontak Rana. Dia meragu apakah harus menghubungi Rana sekarang atau tidak. Saat ini dia sedang berada di ruangannya sendirian karena Papa nya belum bisa masuk ke kantor, yang arti nya Vino punya kesempatan untuk mengobrol dengan Rana. Tetapi dia takut jika yang di ambilnya kemarin bukanlah nomor kontak Rana tetapi Rana yang lain karena kemarin dia mencari nomor itu di daftar kontak biasa dan tidak ada fotonya. Begitu juga setelah mendapatkannya, Vino mencoba menyimpannya kemudian melihat melalui aplikasi chatting, Rana terdaftar tetapi tidak ada foto profil disana menandakan bahwa Rana memprivate akun chattingnya dan hanya kontak yang terdaftar di ponselnya yang bisa melihat foto nya, sehingga Vino tidak bisa memastikannya, dan tidak ada info apapun juga yang tertera di profil Rana. Itu juga yang membuat Vino meragu sejak tadi apakah harus menghubungi nomor itu atau tidak.
Vini menarik napasnya kemudian menghela nya. "Oke, aku garus menghubunginya melalui panggilan video dan setelah itu aku bisa memastikannya..!" Gumam Vino.
Sementara itu setelah membalas pesan Vitto, Rana meletakkan ponselnya di meja dan dia sangat lapar sekali, tetapi sebelum itu dia harus mandi baru kemudian sarapan. Baru beberapa langkah menuju kamar mandi, ponselnya berdering, dan dengan cepat tanpa melihat siapa yang menghubunginya Rana mengangkatnya karena mengira itu adalah panggilan dari Vitto. Dan sekilas Rana tau itu panggilan video bukan panggilan biasa dari layar ponsel yang menunjukkan kamera nya aktif.
"Hai sayang.....!" Sapa Rana langsung tanpa basa-basi dan senyum sumringahnya terlihat di wajah manisnya.
__ADS_1