
Vitto melirik Papanya sambil tersenyum. Dia tahu Papanya pasti mengkhawatirkan tentang ucapannya yang mengatakan tentang Jason, tetapi Vitto tahu jawaban apa yang akan diberikannya pada Vino. Dia sudah mempersiapkan jawaban itu sebelumnya.
"Aku baru kembali dari Bali, ada pekerjaan disana, dan tidak sengaja aku melihat si brengs*k itu.... Sangta kebetulan juga kan ketika aku kembali aku bertemu Mama di airport...!" Jawab Vitto berbohong.
"Shiiiiitttt.....! Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu...!" Sahut Vino kesal.
"Itulah kenapa aku harus membicarakan ini dengan kalian, aku rasa uang mereka sudah habis, itu sebabnya mereka kembali...!" Timpal Vitto lagi.
"Lalu apa dengan kembali, Mama pikir kita bisa menerimanya???" Pertanyaan Vino itu tidak perlu jawaban, karena sudah pasti jelas sekali bahwa dia, Vitto ataupun Papanya tidak akan menerima hal itu.
"Kita tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan, hanya saja ku pikir kita harus berhati-hati....!" Ucap Vitto.
Papa Vitto dan Vino hanya terdiam mendengarkan kedua putranya berbicara. Mendengar istrinya kembali adalah berita yabg cukup mengejutkannya, dan itu dia dengar sendiri dari Vitto. Kenapa dan untuk apa istrinya kembali, menjadi hal yang mengganggu pikirannya saat ini. Apakah Vita ingin meminta maaf kepadanya atau kepada Vitto dan Vino, ataukah alasannya kembali hanya karena uangnya habis seperti yang di katakan oleh Vitto mengingat Vita meminta Vitto agar mengijinkannya untuk tinggal dirumahnya. Seharusnya istrinya itu tidak perlu lagi kembali, karena itu hanya akan seperti menabur garam diatas luka. Luka yang harusnya sudah mengering itu seolah kembali terbuka dan terasa perih. Vitto dan Vino sudah menjalani kehiduan mereka dengan baik, berusaha melupakan kepahitan serta rasa malu yang pernah mereka dapatkan dulu. Mereka selama ini hidup dalam kedukaan dan kemarahan tetapi dia selalu mengajarkan agar kedua putranya itu tidak pernah membenci Ibunya sendiri. Meski begitu mereka berdua adalah manusia yang pasti memiliki rasa marah dan kekecewaan meskipun keduanya berusaha menutupinya hanya untuk melihatnya senang dan baik-baik saja.
Vitto dan Vino kembali saling berpandangan ketika mereka menemukan Papanya sedang diam dan tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Papa mereka pasti saat ini kembali teringat dengan semua kenangan buruk itu. Mamanya memang sangat keterlaluan, bahkan semalam juga tidak tampak adanya rasa penyesalan dihatinya. Mamanya bersikap seolah-olah tidak tahu apapun, padahal sudah jelas sekali bahwa luka yang ditinggalkannya sangat berbekas dan selamanya tidak akan pernah bisa di lupakan.
Vino memegang lengan Papanya. "Apa yang sedang Papa lamunkan???" Tanya Vino. "Jangan lagi mengingat apapun yang membuat Papa sakit, biarkan saja wanita itu melakukan apa yang diinginkannya, karena itu tidak akan merubah apapun dari kami berdua karena kami tahu Papa benar...!" Ujar Vino sambil tersenyum.
"Papa tahu...! Tetapi semarah apapun kalian, Papa hanya minta untuk jangan sampai kalian mengatakan hal buruk atau memaki Mama kalian, seburuk apapun keadaannya, dia tetap Ibu kalian...!"
"Pa...! Bukankah ini waktu yang tepat untuk Papa bisa menceraikannya????" Ujar Vitto.
Detik itu juga Vino dan Papanya menatap Vitto tajam. Vitto berbalik memandang Papa serta adiknya penuh dengan keyakinan. "Seharusnya Papa sudah melakukan itu sejak lama, tetapi kenapa Papa tidak pernah melakukannya? Apa lagi yang Papa tunggu, dia sudah menghancurkan kita semua, bahkan kita harus kehilangan Vania dengan cara yang tragis karena ulahnya? Lalu untuk apa Papa terus terikat dengan ular itu?"
"Vitto benar, tidak ada gunanya sama sekali mempertahankan itu, lagipula baik aku ataupun Vitto serta Papa sendiri juga tidak lagi membutuhkannya, bertahun-tahun kita hidup tanpa dia, dan kita baik-baik saja sampai sekarang" Ucap Vino dengan suara bergetar tetapi penuh tekat.
Vino mendekati Papanya dan duduk berjongkok di depannya lalu memegang kedua jemari Papanya. "Bukankah kemarin Papa memintaku untuk melepaskan Rana karena aku tidak membutuhkannya di hidupku dan agar dia bisa bebas tanpa ikatan dengan diriku, maka ku pikir Papa juga harus melakukannya pada Mama, Papa tidak membutuhkan dia lagi untuk hidup Papa karena Papa sudah punya Aku dan juga Vitto, aku akan mengurus segalanya, lagipula tidak akan butuh waktu lama karena sudah jelas Mama meninggalkan Papa selama bertahun-tahun"
Vitto langsung menyetujui ide dari Vino, dia bahkan akan bersama-sama dengan Vino mengurus segalanya tentang perceraian itu. Jika ijatan itu sudah berakhir maka tanggung jawab dan segalanya akan terlepas. Kalaupun Mama mereka nantinya mengalami kesulitan, sudah tidak ada lagi yang bisa dia korek dari keluarga ini. Tetapi jika dalam perceraian ini Mamanya ingin menuntut harta, Vino dan Vitto siap untuk melawannya dan menunjukkan bukti bahwa Mamanya justru telah membawa kabur uang serta berkas perusahaan lalu menjualnya dan menikmati uang itu sendirian tanpa ijin dari suami. Dan Vitto juga Vino bisa menuntut balik atas hal itu yang justru menjadi boomerang untuk Mamanya.
Vitto dan Vino secara bersamaan memohon kepada Papanya agar mau setuju dengan usulan mereka berdua untuk segera mendaftarkan perceraiannya. Jika Papanya setuju, Vino akan langsung menghubungi pengacara untuk mengurus semua itu serta mempersiapkan segalanya dengan baik.
__ADS_1
"Ayo Pa, katakan kalau Papa setuju???" Bujuk Vino lagi karena Papanya masih diam.
"Apa papa masih mencintai Mama yang sudah bersikap tidak adil kepada kita semua???" Tanya Vitto.
"Bukan begitu Vut, Papa hanya tidak mau menambah urusan dengan Mama kalian, itu saja...!"
"Justru ini akan mengakhiri semua urusan itu Pa" Sela Vino. "Hanya ini permintaan kami, Papa lupa ya? Jika aku selalu menuruti keinginan Papa dan tidak pernah membatah Papa, mungkin Vitto saja yang sering membantah Papa, aku tidak....!" Ucap Vino dengan santainya.
Mendengar itu, wajah Vitto yang tadinya serius dan memelas berubah menjadi bingung. Vitto mengernyit, dan bingung dengan maksud Vino yang tadi mangatakan jika dia sering membantah Papanya. Vitto merasa bahwa dia tidak pernah melakukan itu dan justru selalu menuruti keinginan Papanya.
"Apa tadi kau bilang??? Aku sering membantah Papa???? Kapan aku pernah membantahnya???" Tanya Vitto dengan nada memprotes.
"Kau memang melakukannya, kau membantah Papa dan tidak menurutinya ketika dia memintamu mengurus perusahaan, hanya aku anak Papa yang berbakti hahahaha" Vino tertawa mengejek Vitto.
Vitto langsung melempar bantal sofa ke kepala Vino dengan kesal. Karena bisa-bisanya Vino bercanda disaat seperti ini. Adiknya itu memang tidak ada otak. "Sialan....! Disaat tegang seperti ini kau malah bercanda....!!"
Vino tertawa terbahak-bahak tidak tahan dengan ekspresi kesal dari Vitto. Sementara Vitto terus mengumpatnya meluapkan kekesalannya. Kejadian itu ternyata membuat Papa mereka tersenyum. Ya, ini sudah lama tidak terjadi, melihat kedua putranya akur, membuat hatinya merasa berbunga-bunga. Meskioun selama ini mereka berdua sering berselisih oendapat dan sering beradu argument, tetapi mereka sebenarnya tetap salinv menyayangi satu sama lain. Dan Vino juga memiliki ketakutan kepada Vitto jika dia melakukan kesalahan, itu terbukti dari masalah Vino dan Rana. Dimana Vino berusaha keras menyembunyikan kejahatannya terhadap Rana dari Vitto karena takut kakaknya akan memarahinya.
Vitto dan Vino tersenyum bersamaan dan keduanya memeluk Papanya. "Keputusan yang bagus Pa, jangan khawatir setelah ini Vini akan menghubungi pak Handika pengacara kita...!" Ujar Vino.
Di tengah suasana bahagia itu, sekretaris Vino mengetuk pintu lalu memberi tahu Vino bahwa ini sudah jam untuk meeting dengan klien. Vino pun mengangguk lalu meminta Vito agar menemani Papanya sambil menunggunya kembali, karena dia tidak akan lama, laling lambat sebelum makan siang sudah selesai. Vitto pun menyanggupinya Dan ini adalah kesempatan bagus untuk mengobrol dengan Papanya mengenai Jason dan Angel, kemudian tentang kehamilan Rana
Tak lama setelah Vino keluar dari ruangannya. Vitto kembali duduk di sofa. "Well, Vino sudah tidak ada, dan Papa sudah berjanji akan mengatakan sesuatu tentang Jason..! Apa yang ingin Papa katakan tentang si brengs*k itu???" Tanya Vitto.
"Maafkan Papa sebelumnya Vit...! Papa tidak mengatakan ini kepadamu, tetapi pada akhirnya kau sudah melihatnya sendiri kemarin...!"
Vitto mengernyit heran. "Apa maksud Papa???" Tanya Vitto lagi.
"Jason dan Angel...!" Gumam Papa Vitto sambil tersenyum, yang justru semakin membuat Vitto heran sekaligus bingung.
"Mereka sebenarnya adalah pasangan kekasih, sejak dulu dan sampai detik ini...!" Lanjut Papa Vitto.
__ADS_1
Vitto terlonjak dan berseru. "Apa...???!!!"
"Ya, sebelum Angel berhubungan dengan Vino atau Jason berhubungan dengan Vanja, dia sudah berbungan dengan Jason, Papa tidak tahu pastinya seperti apa tetapi itulah kenyataannya..! Entah apa latar belakang keduanya hingga mereka bekerja sama menjebak kedua adikmu dalam pesona mereka masing-masing....!"
"Wait.... Wait... Wait....! Apa maksud Papa? Vitto masih belum mengerti....!" Tanya Vitto.
Papanya kemudian mulai menceritakan mengenai hasil investigasinya terhadap kematian Vania. Dan fakta itu sebenanrnya sudah dia ketahui bersamaan dengan fakta lain mengenai Jason sebenarnya. Setelah ditelusuri lebih jauh ternyata Jason dan Angel sudah mengenal lama sekali tetapi tepatnya kapan tidak ada yang tahu. Mereka berpacaran ketika berada di bangku sekolah menengah pertama. Dan ketika lulus mereka tidak lagi satu sekolah. Di sekolah menengah atas Angel bersahabat dengan Vania, dan suatu hari Vania bertemu dengan Jason, dan Vania menyukainya. Vania menceritakan pada Angel jika dia bertemu dengan laki-laki yang tampan dan dia menyukainya. Entah bagaimana Angek tahu mengenai hal itu dan mulai bekerja sama dengan Jason untuk menjebak Vania
Disaat bersamaan juga, Angel mengetahui sesuatu dari Vania, dimana Vania mengatakan bahwa kakanya yangg bernama Vino yang saat itu satu tingkat diatas mereka, menyukai Angel. Vania kemudian mencomblangkan Vino dan Angel hingga mereka menjadi kekasih sampai sekarang. Bagi Angel itu seperti gayung bersambut, akhirnya dia juga memanfaatkan itu untuk kesenangannya. Bahkan untuk meyakinkan Vino, Jason rela menyuruh Angel untuk memberikan mahkota serta tubuhnya pada Vino, menjadikan Vino laki-laki pertama yang menikmati tubuh Angel. Dengan itu menjerat Vino akan semain mudah dan tidak akan di curigai. Benar saja, pada akhirnya sampai saat ini Vino memang terjerat cinta Angel dan tidak bisa lelas dari perempuan itu.
"Dan apakah itu juga yang mereka lakukan pada Mama??? Menjeratnya dalam pesona Jason, hingga Mama menjadi tidak waras sampai saat ini???" Vitto kembali bertanya keoada Papanya.
"Ya bisa dibilang seperti itu....! Mamamu juga jatuh kedalam jebakan yang sengaja mereka buat... Mengenai Vania juga, sebenarnya Angel juga ikut andil mempengaruhi Vania untuk melakukan bunuh diri, Angel yang sengaja memasang bara api dihati Vania dan terus meniupnya sehingga Vania terbakar karena itu. Yang memberitahu keberadaan Mamamu dihotel bersama dengan Jason ketika itu adalah Angel, dan skenario itu sudah disiapkan dengan baik oleh mereka berdua, menjebak Mamamu dang memasang perangkap untuk Vania juga agar Vania datang dan memergoki mereka...!"
"Fu*k.......!!!!" Teriak Vitto.
"Mereka berdualah yang menimmati seluruh uang milik keluarga kita, mereka seperrmti remote yang menggerakkan seluruh anggota keluarga kita kecuaki kita berdua Vit...! Mereka sebenarnya sudah berusaha untuk menggerakkan kita juga hanya saja mereka tidak berhasil, karena kau dan Papa adalah tipikal orang yang keras dan susah hbtuk didekati, intinya kita berdua cerdas sehingga mereka berdua tidak bisa menjakaunya..!"
Vitto menggertakan giginya. Wajahna memerah penuh dengan kemarahan yang sudah memuncak. Rasanya dia ingin sekali menghajar Jason dan Angel. Mereka berdua benar-benar baj*ngan dan sudah kehilangan kewarasannya. Skenario yang merwka buat ternyata benar-benar berhasil dan menjatuhkan keluarganya. Jason dan Angel adalah penjahat, itu adalah kata yang pantas untuk keduanya.
"Tetapi kenapa Papa baru mengatakannya sekarang? Papa kenapa hobi sekali menyimpan hal sebesar itu..???" Geram Vitto dan dia terlihat frustasi.
"Papa sebenarnya ingin mencari cara untuk menangkap basah keduanya, seperti halnya niat kita untuk menunjukkan semua kebenarannya pada Vino...!"
"Ya tapi kan Papa bisa memberitahu Vitto, kenapa baru sekarang...!" Vitto mengacak-acak rambutnya dengan gusar.
"Papa tidak menyangka jika kau akan memergoki mereka sendiri sebelum Papa memberitahumu mengenai hal ini....! Dan menurut Papa, Mamamu tidak tahu mengenai Jason yang saat ini berada di Singapura bersama Angel....! Jason pasti sudah membohonginya....!" Gumam Papa Vitto.
"Biar saja, suatu hari dia akan dicampakkan begitu saja oleh si bajing*n itu... Ketika Papa bercerai dengannya dan dia juga mengetahui kebohongan Jason, Vitto yakin dia akan menangis seperti orang Gila...! Lalu aku, Vino dan Papa akan jadi oranv pertama yang akan menertawakan kemalangannya... Dia sudah tua tetapi lupa bahwa Karma itu selalu berjalan mengikuti tuannya, dan menunggu waktu yang tepat untuk menghancuekan tuannya dengan penyesalan...!"1
"Itu yang selama ini Papa tunggu...!" Papa Vitto menarik napasnya dalam-dalam. Kemudian kembaki menceritakan pada Vitto bahwa saat ini Jason dan Angel sudah membangun sebuah rumah yang entah berlokasi dimana, yang oasti itu diluar negeri. Mereka berdua membangun rumah itu dari uang yang selama ini mereka dapatkan dari Vino dan juga Mamanya. Ketika itu berhasil tentu Vino dan Mamanya akan langsung dicampakan oelh mereka.
__ADS_1
"Fu*k.....! Mereka benar-benar iblis berbentuk manusia....!" Geram Vitto.