Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 139


__ADS_3

Cahya dan Rana turun bersama dengan Kyros, Kyra dan Gienka. Cahya dan Rana pun ke ruang tamu dan membiarkan ketiga bocah itu berlarian serta bermain. "Apa kira-kira kita menganggu obrolan kalian???" Tanya Cahya yang kemudian duduk di samping Aditya, sedangkan Rana duduk di sisi lain.


"Sama sekali tidak, kebetulan kau dan Rana kesini, ada hal yang ingin Vitto katakan....!" Ucap Aditya yang diikuti oleh pandangan semua orang ke Vitto yang duduk di sebelah Ariel dan Papa Aditya.


Vitto memandang ke arah Rana sambil tersenyum, sedangkan Rana justru menegluarkan keringat dingin di keningnya dan cukup tegang takut sesuatu yang buruk terjadi. Tiba-tiba kekhawatiran Rana muncul begitu saja. Entah apa yang akan dikatakan oleh Vitto, itu seperti terlihat serius.


"Rana...! Aku sudah mendapatkan tempat tinggal sementara untukmu tetapi rumah itu baru akan selesai sekitar 3hari, dan aku tidak bisa sembarangan menempatkanmu selama 3 hari ke depan sebelum menempati rumah itu, jadi ku pikir lebih baik kau tinggal disini dulu..!" Ujar Vitto.


Rana melirik ke arah semua orang bergantian. "Disini???" Tanya Rana dan Vitto menganggukkan kepalanya.


"Vitto, berapa kali lagi kita harus merepotkan Aditya??? Kita kembali saja ke apartemen sambil menunggu rumah yang kau maksud itu siap, aku tidak akan kemana-mana, lagi pula ada 3 body guard yang akan menjagaku...!"


"Rana...! Kenapa kau berbicara seperti itu, tidak ada sama sekali yang merasa di repotkan, kau akan aman disini, Cahya juga akan senang bisa punya teman mengobrol selain Mama, benarkan sayang???" Aditya menoleh ke arah istrinya.


Cahya tersenyum sumringah dan menyambut baik usulan itu. Dia akan sangat senang jika Rana mau tinggal disini selama beberapa hari. Harinya pasti akan lebih menyenangkan, mengingat terkadang Mama mertuanya juga sering keluar rumah untuk kegiatan sosialnya sehingga terkadang Cahya merasa kesepian tidak memiliki teman mengobrol dan hanya bermain dengan kedua anaknya saja.


"Iya Rana, kau tinggal disini saja, ada banyak kamar tamu disini, kau juga sudah janji padaku akan mengajariku membuat aneka kue, jadi kau harus menepatinya.... Kita bisa mengobrol banyak hal.... Aku terkadang kesepian jika Mama pergi, dan anak-anak tidur siang, tinggal disini saja, tidak apa-apa...!"


Rana terlihat bingung, dan dia memandang ke Vitto lagi. Laki-laki itu hanya menatapnya datar tetapi tatapan itu memiliki maksud dan keinginan yang tidak terbantahkan. "Aku takut merepotkan kalian???" Ucap Rana lagi.


"Merepotkan??? Tidak sama sekali Rana....! Sudahlah kau tinggal disini saja.. Oke???"


Rana meragu tetapi melihat ekspresi bahagia Cahya yang penuh harap, Rana pun akhirnya menyetujuinya. Dia mau tinggal disini untuk beberapa hari sebelum rumah sementaranya siap di huni. Cahya semakin sumringah dan mengucapkan terima kasih pada Rana karena mau tinggal disini. Cahya kemudian menyuruh ART nya untuk menyiapkam kamar tamu yang akan digunakan oleh Rana.


****


Vita sedang bersantai sambil merokok di area belakang rumah yang di sewanya sambil meminum wine. Dia sangat senang sekali akhirnya bisa menemukan tempat tinggal Vitto meskipun bukan rumah utama dari putra pertamanya itu. Setidaknya suatu saat dia bisa datang kesana dan menemui Vitto meskipun pasti akan ada penolakan tetapi tidak masalah. Vitto boleh kesal dan marah saat ini kepadanya tetapi suatu saat paasti akan melunak juga. Apartemen itu cukup mewah, ya tentu saja Vitto tidakk akan main-main dalam memilih tempat tinggal yang nyaman, selera Vitto cukup tinggi.


Mengenai perceraiannya, Vita tidak tahu harus berbuat apa, akan sangat percuma jika kondisinya seperti ini, kedua putranya sudah di pengaruhi oleh suaminya. Yang bisa dilakukannya sekarang adalah menuntut harta gono-gini. Juga nanti akan meminta kepada Vitto dan Vino uang balasan membesarkan mereka.


Ponsel Vita berdering dan kontak Jason muncul disana. Senyum sumringah muncul diwajah Vita, kebetulan sekali dia sedang merindukan lelaki itu. "Hallo sayang....!" Sapa Vita dengan bahagia.


"Hai.... Sedang apa kau sekarang???" Tanya Jason.

__ADS_1


"Aku sedang bersantai dan sedang merindukanmu juga.....! Kondisi sedang kacau sekali sekarang dan aku gelisah karena merindukanmu, hanya kau yang bisa menghiburku....!"


"Aku juga sama, aku sangat merindukanmu.... Ku pikir tidak ada salahnya aku menemuimu disana dan kita bisa melepas rindu lagi....!"


Vita terperanjat. "Menemuiku??? Disini???"


"Iya dong, sekarang aku sedang di Singapura, dan besok aku akan kesana, berikan alamatmu dan aku akan datang menemuimu untuk melepaskan rindu kita.... Aku sangat tersiksa kau tahu, kita selalu melakukannya setiap hari dulu dan sekrang kita terpisah, kau bisa bayangkan betapa aku ingin meledak di dalammu....!" Ujar Jason mencoba menghoda Vita.


"Kau ada di Singapura??? Kenapa tidak memberitahuku...!?"


"Aku ingin memberimu kejutan.... Aku sangat merindukanmu..."


"Aku akan menjemputmu besok di bandara....!" Ucap Vita.


"Tidak perlu.... Aku tidak ingin memperkeruh keadaan yang ada saat ini, jadi berikan alamatmu dan besok aku akan langsung kesana....!"


"Oke baiklah....! Tapi kau harus bermain denganku lebih dulu....!" Vita mengedipkan matanya dan Jason sudah tahu maksud darinya. Vita berdiri dari kursi santainya dan mematikan rokoknya kemudian bergegas pergi ke kamarnya.


★★★★


Vitto memasuki halaman rumahnya, dan ddia mengernyit mendapati mobil Vino terparkir disana. Artinya adiknya itu menunggunya. Vitto menggerutu dengan kesal, Vino sepertinya tidak mau menyerah untuk mengganggunya. Vitto menghela napasnya panjang, untungnya ide nya untuk pulang tidak sia-sia. Jika dia tidak pulang, Vino pasti curiga dan akan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan yang menelisik.


Vitto turun dari mobilnya dan mengetuk pintu. Art nya tergopoh membuka pintu.


"Vino ada disini ya Bi???" Tanya Vitto.


"Iya Den, ada di kamar tamu, tuan besar juga tadi diantar kesini...!"


"Papa juga???"


"Iya... Sepertinya sudah tidur....!"


"Ya sudah.... Tapi Bibi tidak memberi tahu Vino tentang Rana kan???" Tanya Vitto dengan suara pelan.

__ADS_1


Artnya langsung menggeleng. "Tidak Den....! Tenang saja...!"


"Oke baguslah, tutup dan kunci pintunya, lalu beristirahatlah....!"


Vitto pun berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat, ini sudah jam 10 lebih, dan dia tidak ingin mengganggu Papanya juga Vino yang sudah tidur. Mungkin Vino sengaja mengajak Papanya kesini untuk menghindari kedatangan Mamanya lagi di rumah mereka. Vitto mencoba memakluminya, dan memuji Vino yang berpikir cepat.


Vitto melempar tubuhnya di atas tempat tidur. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Rana. Baru beberapa jam berpisah, Vitto sudah sangat merindukan perempuan itu, dan berharap Rana belum tidur. Panggilan video itu langsung diangkat oleh Rana, ternyata perempuan itu belum tidur.


"Haii... Aku sudah sampai di rumah....!" Sapa Vitto.


"Syukurlah....!" Rana tersenyum.


"Kau belum tidur?? Apa yang kau lakukan???" Tanya Vitto.


"Iya, aku belum mengantuk, aku sedang menonton televisi....!"


"Jangan tidur terlalu malam, ingat kau tinggal di rumah orang, tidak enak jika kau bangun kesiangan... Haha" Vitto tertawa meledek Rana.


"Iya kau benar...! Aku akan mencoba tidur...!"


"Ya sudah, aku akan menemanimu" Gumam Vitto.


Rana mematikan televisinya dan dia beranjak kemudian berbaring dibtempat tidur. Menyandarkan ponselnya di meja yang ada disamping tempat tidur, membiarkan panggilan video dari Vitto tetap menyala. Dan Rana mulai memejamkan matanya. Vitto masih berada di panggilan Video itu sampai memastikan Rana benar-benar tertidur lelap baru kemudian akan mematikannya.


★★★★★


Keesokan harinya, Vino terbangun dan dia menyadari bahwa dia tidak sedang berada di kamarnya, melainkan ada di rumah Kakaknya. Semalam dia tidur begitu saja karena Vitto tidak kunjung pulang. Kakaknya itu memang sangat menyebalkan dan sikap suka-sukanya masih saja dipertahankan hingga saat ini. Pulang ke rumah seenaknya bahkan terkadang juga tidak pulang, entah apa yang dilakukan oleh kakaknya itu ketika di luar. Vino beranjak dari tempat tidur, dia harus mandi setelah itu keluar dan sarapan bersama Papanya. Entah Vitto sudah pulang atau belum, dia tidak tahu karena semalam sudah tertidur lebih dulu.


Vino melangkah menuju kamar mandi, dia melirik ke segala sudut dan tidak menemukan handuk. Vino kembali ke kamar, membuka lemari untuk mencari handuk. Lemari itu ternyata kosong, Vino berganti membuka laci besar yang ada di bawah lemari. Senyumnya melebar karena disana ternyata handuknya tersimpan. Vino menarik handuk yang terlipat di dalam laci itu, dan tiba-tiba saja sesuatu berwarna putoh juga ikut keluar dan jatuh dilantai. Vino membungkuk mengambilnya.


"Dress??" Gumam Vino bingung seraya mengernyit.


"Ini dress siapa??? Kenapa ada baju perempuan disini??? Milik siapa? Siapa perempuan yang pernah menginap disini??" Vino bertanya-tanya sendiri sambil mengusap kepalanya, bingung dan bertanya-tanya kenapa ada gaun perempuan di kamar ini, padahal Vitto hanya tinggal sendirian, dan tidak mungkin juga ini milik Art, mengingat Art di rumah ini juga sudah paruh baya.

__ADS_1


__ADS_2