
"Rana..." Gumam Vino pelan sambil tersenyum.
Sementara itu, Rana akhirnya terfokus kepada layar ponselnya, senyum sumringah yang tadi menghiasi wajahnya berubah seketika ketika bukan wajah Vitto yang di dapati nya melainkan wajah Vino. "Vino...!" Tanpa pikir panjang Rana langsung menutup panggilan video itu.
Melihat Rana mematikan panggilan darinya, Vino mencoba menghubungi Rana kembali.
Sementara itu, Rana masih mencoba menelaah apa yang baru saja terjadi. Vino menghubungi nya. Itulah hal oertama yang ada di pikirannya. Rana kemudian mencoba melihat layar ponselnya untuk memastikannya lagi. Ternyata setelah dia lihat itu bukanlah panggilan dari Vitto akan tetapi panggilan dari sebuah nomor baru yang tidak terdaftar di kontaknya.
Bersamaan dengan itu, ternyata nomor itu kembali menghubungi Rana lagi. Rana meletakkan ponselnya di tempat tidur dan mengabaikan panggilan itu, dia tidak boleh mengangkatnya. Dan Rana bingung bagaimana bisa Vino mendapatkan nomor kontaknya. Rana berjalan pelan menuju kamar mandi, masih mengabaikan bunyi deringan dari ponsel nya.
Vino terus mencoba menghubungi Rana tetapi tidak ada satupun panggilannya di angkat oleh perempuan itu. Vino pun berhenti dan memilih untuk mengirimi pesan kepada Rana agar mau mengangkat panggilan nya karena dia ingin berbicara sesuatu dengan perempuan itu. Dari kata-kata nya, Vino mencoba memelas kepada Rana agar bisa di ijinkan untuk berbicara sebentar saja. Vino berharap itu bisa membuat Rana luluh dan mau mengabulkan keinginannya.
Sudah lebih dari tiga puluh menit Vino menunggu balasan Rana tetapi chat nya itu tidak di balas, jangankan di balas, di baca pun tidak. Dan dia juga tadi berusaha lagi menghubungi Rana, sayangnya panggilannya juga tidak di angkat. Berkali-kali Vino mengecek ponselnya di sela-sela mengerjakan pekerjaannya. Sayangnya hasilnya nihil karenaRana masih belum membalas pesannya.
Sedangkan Rana terlihat lebih segar setelah keluar dari kamar mandi. Dia sudah mandi, dan sangat lapar tetapi dia harus mengeringkan rambutnya lebih dulu dan mengganti pakaian sebelum turun ke ruang makan. Rana duduk di depan meja riasnya, sibuk dengan hair dryer yang di pegangnya. Tetapi kemudian dia melirik ke arah ponselnya yang tergeletak, lampu notifikasi ponsel itu tampak berkedip menandakan ada pesan masuk atau notifikasi panggilan. Rana berdiri dan mengambil ponselnya, mencoba mengecek apakah itu panggilan dari Vitto ataukah Vino. Ternyata itu adalah panggilan dari Vino, karena Vitto masih bum membalas pesannya atau telepon, Rana mengasumsikan jika Vitto mungkin saja masih beristirahat.
Rana tidak mau sesuatu terjadi atau ada masalah dengan Vino, dia memilih untuk memblokir kontak Vino itu agar tidak lagi menghubungi nya. Selain memblokir via aplikasi chatting, Rana juga memblokirnya melalui ponselnya. Baru setelah itu dia membuka chatting dari Vino dan membaca nya.
Seperti dugaannya, Vino meminta kepadanya agar dia mau mengangkat panggilan lelaki itu. Rana kemudian menghapus chat itu dan meletakkan lagi ponselnya, berharap Vitto segera menghubunginya karena sudah sangat merindukan lelaki itu.
Rana turun dari kamarnya setelah dia bersiap. Dia menyapa pelayan yang di kirim oleh Vitto tadi pagi untuk membantu nya. Pelayan ternyata sudah sejak tadi menyiapkan sarapan tetapi Rana tidak juga turun tetapi dia tidak berani membangunkannya. Rana meminta maaf karena semalam dia tidak bisa tidur setelah Vitto pergi jadi dia terlambat bangun. Rana duduk dan menikmati sarapan menjelang jam makan siang.
Saat menikmati makanannya, ponsel Rana kembali berdering. Kali ini bukan nomor baru tetapi nama Vitto tertera disana. Senyum Rana kembali mengembang, dia merasa bahagia sekali. Bergegas dia mengangkatnya dan langsung di hadaokan dengan wajah tampan Vitto.
"Hai sayang... Apa kau sedang makan siang??? Kau seperti ada di ruang makan?" Tanya Vitto.
__ADS_1
Rana tersenyum dan mengarahkan kamera ponselnya ke makanan yang ada di depannya, menunjukkan makanan yang saat ini sedang di konsumsi nya. "Sarapan sekaligus makan siang... Aku baru bangun jadi aku baru turun untuk sarapan...!'' Ujar Rana.
"Baru bangun??? Tumben???"
"Setelah kau berangkat ke airport, aku tidak bisa kembali tidur sampai pagi... Dan aku tidur pagi tadi itulah kenapa baru bangun...!"
"Astaga.. Kau ini... Ya sudah kau jangan banyak beraktifitas dan istirahat saja, bagaimana keadaanmu??? Kau baik-baik saja kan???"
Rana tersenyum dan menganggukkan kepala nya. Dia memutuskan untuk tidak memberitahu Vitto jika tadi Vino menghubunginya. Rana tidak ingin Vitto khawatir yang justru membuat lelaki itu tidak fokus terhadap pekerjaannya. Vitto sudah sempat menunda pekerjaaannya beberapa waktu yang lalu akibat dirinya sakit dan Vitto memilih menjaga nya. Sekarang Rana akan memilih untuk tidak menceritakan mengenai Vino yang menghubungi nya, tetapi akan menceritakan ketika Vitto pulang saja.
"Aku baik... Kapan kau akan memulai perjalananmu???" Tanya Rana.
"Jam satu sayang, itulah kenapa aku menghubungimu sekarang karena setelah itu jaringan akan sulit di dapat dan aku tidak bisa lagi menghubungimu sayang...!"
Vitto tertawa. "Kau sepertinya sudah mulai bucin denganku... Hahahaha... Baiklah aku akan selesaikan pekerjaanku, kembali pulang dan akan langsung melepaskan rinduku kepadamu.. Kau jaga diri baik-baik disana, dan jangan keluar rumah, jika ada apa-apa, laporkan pada Mario atau Tania, dan kirimkan apapun yang ingin kau katakan padaku meskipun aku tidak akan langsung membaca atau membalasnya...!"
"Iya bawel... Aku sangat mencintaimu...!" Ucap Rana.
"Aku juga sangat mencintaimu....!" Ungkap Vitto.
•••••°°°••••
Sampai dengan sore hari, Vino masih menunggu balasan dari Rana. Dia beberapa kali mengirim pesan tetapi tetap tidak di balas, mencoba menghubungi juga tidak aktif. Vino tiba-tiba memikirkan sesuatu yang mungkin saja sudah di lakukan oleh Rana, yaitu memblokir kontaknya, itu sebabnya Rana tidak membalas pesannya juga tidak aktif ketika di hubungi.
Vino tidak kehilangan akal, dia harus menggunakan nomor ponsel lain untuk menghubungi Rana. Setelah itu dia mungkin bisa berbicara dengan Rana.
__ADS_1
Vino membuka laci di meja kerja nya dan mengambil ponsel cadangan yang dia miliki, kemudian mengetik ulang nomor ponsel Rana untuk menghubungi perempuan itu. Vino kemudian berusaha menghubungi Rana lagi.
Rana sedang menikmati sore dengan duduk di tepian kolam renang sambil membaca buku dan menikmati camilan. Dia mengayunkan kedua kaki nya di air dan teralihkan ketika ponselnya berbunyi. Rana melihat siapa yang menghubungi nya dan tidak ada nama nya disana, dari nomor baru lagi. Tidak mau mengambil resiko dan entah kenapa feelingnya mengatakan bahwa itu pasti lah Vino.
Tahu bahwa Vino adalah orang yang tidak mudah menyerah, Rana memiliki feeling buruk. Jika dia memblokir nomor ini, tentu Vino akan menggunakan nomor lain lagi. Dia memang harus melakukan sesuatu agar Vino tidak terus mengganggu nya, apalagi saat ini Vitto tidak berada disini.
Rana berdiri dan dia berjalan menuju garasi kemudian memanggil Mario dari dalam, menyuruh bodyguard nya itu masuk karena dia ingin berbicara sesuatu. Mario membuka pintu garasi dan masuk menemui Rana di ruangan keluarga.
Rana mempersilahkan lelaki bertubuh kekar itu untuk duduk. "Duduklah... Aku ingin berbicara sesuatu padamu dan meminta bantuanmu...!" Ujar Rana pada Mario.
"Bantuan??? Bantuan apa nona??" Tanya Mario.
"Aku ingin memberitahu sesuatu tetapi jangan dulu kau katakan ini pada Vitto, aku tidak mau pekerjaannya disana jadi terganggu, bisakah kau keluar dan membeli sim card baru untukku..???"
Mario mengernyit. "Simcard baru?? Untuk apa??"
"Sejak pagi, Vino terus menghubungiku, aku tidak tahu dia mendapatkan nomor ponselku dari mana, aku sudah memblock nomornya tetapi dia tidak mau menyerah dan menghubungiku dengan nomor lain, jika aku memblock lagi dia pasti akan menggunakan nomor lain lagi, kau pasti tahu dia tidak mudah menyerah, aku khawatir dia juga bisa melacak nomor ponselku untuk mengetahui tempat tinggalku, jadi aku pikir aku harus mengganti nomor ponselku dengan yang baru...!" Ujar Rana.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Vitto??? Apa yang nanti akan anda katakan jika dia bertanya mengenai alasan anda mengganti nomor ponsel baru??"
"Entahlah aku akan memikirkannya nanti, yang jelas untuk ini kita harus memberitahu Vitto setelah dia pulang saja, untuk sementara aku akan berusaha cari alasan lain jika dia menghubungiku atau aku menghubunginya dengan nomor baru..!"
Mario mengangguk. "Baiklah nona Rana, saya akan membeli simcard baru untuk anda... Tetapi tolong saya pinjam ponsel anda, saya akan mengecoh tuan Vino dengan lokasi lain..!"
"Ambil ini...!" Rana menyodorkan ponselnya dan memberikannya pada Mario. Rana mengerti maksud dari Mario mengenai mengecoh. Yaitu Mario akan membawa ponselnya ke lokasi lain dan membuka blokir nomor Vino dan akan membalas pesan Vino berpura-pura tidak sengaja. Yang artinya ketika Vino berusaha melacak nomor itu, lokasi yang akan di temukan oleh Vino adalah tempat lain, bukan lokasi rumah ini. Dan setelah membalas pesan itu, Mario akan mengganti simcard itu dengan yang baru. Ini hanya untuk berjaga-jaga karena berbagai kemungkinan bisa terjadi. Mario memuji langkah Rana yang langsung sigap untuk membaca situasi yang mungkin akan terjadi. Rana pasti khawatir Vino akan berulah apalagi tahu Vitto sekarang tidak berada disini.
__ADS_1