
"Jadi kau menikahi Arindah???" Karena yang aku tahu Rana menikah dengan Vitto??" Tanya Angel dengan suara terbata.
"Aku menikah dengan siapapun, lalu apa urusanmu???" Vino bertanya balik dengan suara yang terdengar ketus. Arindah dan Rana juga masih berdiri di tempat yang sama.
"Bukankah Arindah sudah menikah??? Dan dia juga sudah memiliki anak??? Kenapa kau mau dengannya???"
Vino tersenyum. "Jika dia istri orang lain tentu aku tidak akan menikahi nya, dan jika aku menikahi nya tentu dia adalah seorang yang single... Ketika aku memutuskan sesuatu tentu dengan sebanyak-banyaknya pertimbangan, menjadikannya istri tentu saja aku akan menerima segala kekurangan yang ada di dirinya dan segala kelebihannya termasuk anaknya... Aku tidak pernah mempermasalahkan masalalu seseorang jika aku sudah yakin dengannya..."
"Kau pasti hanya memanfaatkannya untuk balas dendam denganku kan???? Iya kan??? Dan kau tidaklah benar-benar mencintai nya??? Hatimu hanya untukku saja kan...??"
Vino terkekeh. "Aku bukan lagi Vino yang dulu, aku sudah banyak belajar dari masalalu ku bersama mu.. Aku di butakan oleh cintamu hingga aku selalu menutup mata, telinga serta hatiku.. Hingga aku tidak menyadari bahwa di luar sana banyak hal yang menyenangkan melebihi bersamamu... Ada banyak cinta di sekitarmu, dan aku tidak pernah menyadarinya karena di pikiranku hanya dirimu saja padahal fakta nya kau hanya mempermainkanku... Aku tidak mengerti iblis apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam dirimu..."
"Tetapi kau masih mencintaiku kan???" Tanya Angel lagi.
"Tidak lagi... Dan tidak akan pernah aku mengulang kesalahan yang sama... Aku sudah memiliki istri dan aku akan menghormati nya dengan baik, serta menyayangi dan menjaga nya.... Dan saat ini hatiku hanya untuk istriku saja, begitu juga dengan perasaan dan cintaku... Dan untuk dirimu??? Segala perasaan itu sudah mati... Kau hanyalah perempuan penipu berhati iblis... Membusuk lah di penjara, dan aku akan merasa sangat puas...!!!" Vino kemudian bernalik badan dan meminta Arindah serta Rana segera keluar dari ruang sidang dan menuju ruang tunggu saksi untuk nanti makan siang. Kemudian Vino juga meninggalkan Angel dan bergegas keluar sidang melalui pintu lain berbeda dengan Arindah dan Rana.
"Vino....!!! Tunggu....!" Angel hendak mengejar Vino tetapi di hentikan oleh petugas dari pengadilan dan di ajak keluar untuk menuju ruangan khusus tahanan karena waktu yang di berikan untuk Angel sudah habis.
Angel merasa kesal sekaligus marah, Vino terlihat sama sekali tidak peduli kepada nya. Dan sejak tadi Angel juga coba melihat mata Vino untuk menemukan kelembutan dan sikap penuh kasih dari lelaki itu padanya tetapi lagi-lagi dia tidak menemukannya. Sepertinya Vino benar-benar marah kepadanya dan tidak mau memaafkannya. Angel merasa tidak lagi memiliki harapan pada lelaki itu.
Sementara itu, Arindah berjalan beriringan dengan Rana. Arindah sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan masih terngiang oleh ucapan Angel yang mengatakan jika Vino hanyalah memanfaatkannya saja untuk membuat Angel merasa cemburu. Arindah mulai bertanya-tanya apakah benar apa yang di ucapkan oleh Angel tadi, dan Vino mungkin juga masih mencintai Angel mengingat mereka sudah bersama-sama selama bertahun-tahun. Entah kenapa dia merasa takut dengan hal itu.
"Arindah....!" Panggil Rana sambil menyentuh lengan Arindah membuat perempuan itu terlonjak.
"Eh apa....???" Tanya Arindah.
__ADS_1
"Kau yang kenapa???? Kenapa melamun??? Apa yang sedang kau pikirkan???" Tanya balik Rana.
"Aku tidak memikirkan apapun... " Jawab Arindah berbohong.
"Jika tidak memikirkan apapun kenapa kau melamun??? Seperti sibuk dengan pikiranmu sendiri.... Kau memikirkan ucapan Angel ya??? Jujur saja..."
Arindah menoleh dan melempar senyum pada Rana. "Entahlah... Mungkin iya.... Aku hanya berpikir apa iya Vino benar-benar sudah melupakan Angel...?? Karena mereka sudah bersama selama bertahun-tahun dan juga mungkin Vino masih mencintai nya... Bagaimana jika itu benar adanya???"
"Kenapa kau begitu memikirkannya??? Angel adalah orang yang pandai memanipulasi, dan kau bisa dengar sendiri tadi bagaimana Vino membanggakan mulai di depan Angel.."
"Entahlah.... Aku hanya takut saja... "
"Intinya jangan pernah kau terlalu memikirkan ucapan Angel.. Dan coba kau bahas masalah ini dengan Vino, karena aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, karena aku sendiri tidak tahu bagaimana Vino..."
Dan sampailah mereka di depan ruang tunggu untuk saksi. Vino ternyata sudah menunggu Rana dan Arindah. Vino kemudian mengajak kedua nya masuk. Makanan yang di pesan Rana memang sudah datang. Mereka makan siang bersama sebelum nanti giliran Vitto dan Papa nya yang di panggil masuk. Di ruangan itu juga ada Vita, akan tetapi sejak tadi Vitto enggan untuk mengajak Mama nya berbicara dan hanya mengabaikannya. Rana memberikan sekotak makan siang pada ibu mertua nya, tadi dia sengaja memesan lebih agar bisa di berikan pada Vita. Sebelum mengantar, Vitto memberitahu istrinya agar lekas duduk bersama nya dan tidak lama-lama mengobrol dengan Vita. Rana mengangguk dan memberikan makanan itu pada ibu mertua nya.
Malam harinya.....
Vitto dan Rana dalam perjalanan pulang. Mereka tadi menyempatkan makan malam di rumah Vino sekaligus membahas persidangan siang hingga sore hari. Sehingga mereka berdua memutuskan untuk pulang sekarang. Rana sejak tadi terus memperhatikan sikap Arindah yang berubah sejak persidangan dan merasa khawatir. Rana tahu apa yang membuat Arindah bersikap seperti itu, yaitu perkataan Angel pada Vino di persidangan. Rana sendiri merasa bingung harus mengatakan apa pada Arindah, karena dia dulu diperlakukan buruk oleh Vino. Dan mengenai sikap Vino sekarang, Rana juga tidak tahu apa itu benar-benar tulus dan baik, atau bagaimana. Sehingga Rana tidak bisa memastikan.
"Sayang.... Kok bengong????" Vitto menyentuh paha Rana membuat Rana sedikit terlonjak.
"Eh kenapa?!!" Tanya Rana.
"Kenapa sejak tadi diam??? Apa yang sedang kau pikirkan???"
__ADS_1
"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu, ini tentang Arindah..."
"Arindah??? Kenapa dengannya??? Dia mengatakan sesuatu padamu???" Tanya Vitto lagi.
Rana kemudian menceritakan mengenai apa yang terjadi di ruang sidang setelah sidang berakhir. Pertemuan Vino, Anggep dan Arindah serta semua ucapan Angel pada Vino, Rana ceritakan. Dan sejak itu, Arindah banyak diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Setelah mencoba bertanya, Rana mendapatkan jawabannya dimana Arindah merasa khawatir terhadap Vino, takut Vino masih mencintai Angel, dan takut di permainkan serta hanya di jadikan pelampiasan saja oleh Vino. Serta sikap Vino yang berubah sangat romantis pada Arindah di depan Angel, seolah di sengaja, hal itu yang membuat Arindah merasa di manfaatkan.
"Menurutku wajar saja jika Arindah ketakutan, ucapan Angel cukup mempengaruhi nya, apalagi di akhir persidangan, di depan banyak orang termasuk hakim, Angel mengatakan bahwa dia masih mencintai Vino dan dia juga merasa bahwa Vino juga masih mencintai nya... Lalu sikap Vino terhadap Arindah yang berubah romantis di depan Angel, seolah-olah Vino sengaja melakukannya untuk membuat Angel cemburu..." Ujar Rana.
"Memang si Angel itu tidak punya otak.... Sudah hilang kewarasannya... Dia tidak punya malu, bisa-bisa nya mengatakan itu di depan banyak orang dengan penuh percaya diri.... Dia pikir Vino bodoh..."
"Lalu menurutmu apakah Vino benar-benar ingin memanfaatkan Arindah saja???"
Vitto melempar senyum. "Tidak sayang.... Vino tidak mempermainkan atau memanfaatkan Arindah... Dia menikahi Arindah karena dia ingin menolong Arindah dan ingin memulai hidup yang baru... Dan mengenai hal itu, Aku akan coba bicara dengan Vino besok... Supaya dia bisa mengajak Arindah berdiskusi dan menyelesaikan masalah itu berdua..."
"Ya... Itu ide bagus... " Gumam Rana.
Disisi lain.....
Arindah baru saja menidurkan Naufal. Dia terlihat melamun dan tidak bisa berhenti memikirkan yang terjadi siang tadi. Ucapan Angel membuat Arindah benar-benar terpengaruh terlebih lagi mengenai Vino hanya memanfaatkannya. Seharian ini dia merasa tidak mood untuk melakukan apapun dan merasa malas untuk bertemu dan berbicara dengan Vino.
Hingga tiba-tiba saja ada gerakan pintu terbuka, membuat Arindah langsung menarik selimut dan memejamkan mata untuk pura-pura tidur. Arindah enggan untuk mengobrol atau bisa jadi nanti Vino mengajaknya untuk bercinta, karena saat ini dia sedang tidak ingin melakukan apapun. Ada perasaan jengkel, kesal dan juga marah yang di rasakan oleh Arindah saat ini.
Benar saja, Vino masuk ke dalam kamar. Mendapati Naufal sudah terlelap begitu juga dengan Arindah. Vino baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebentar di ruang kerja nya sehingga baru menyusul Arindah di kamar. Vino berjalan mendekat ke arah Arindah, dia sedang menginginkannya. Vino benar-benar ketagihan dengan percintaannya bersama Arindah. Naufal sudah tidur sehingga ini waktu yang tepat untuk berhubungan dengan Arindah.
Vino duduk di sebelah Arindah yang sedang tidur. "Arindah...!" Panggilnya dengan suara pelan sambil sedikit menggoyang kan lengan Arindah. Sayangnya Arindah tidak bergerak atau membuka matanya. Beberapa kali Vino melakukannya lagi tetapi hasilnya nihil, dan memilih menyerah, menyadari jika sepertinya Arindah sudah sangat lelap tidurnya. Mungkin Arindah lelah seharian ini. Vino akhirnya memilih pindah ke sisi lain dan naik ke tempat tidur untuk beristirahat. Spertinya malam ini dia harus menahan diri dan tidak memakai Arindah.
__ADS_1
Vino berbaring, menarik selimut dan memejamkan mata nya lalu tidur. Tidak di sadari Vino bahwa ternyata Arindah tidak tidur dan hanya memejamkan matanya saja. Arindah berpikir bahwa dia masih butuh waktu untuk menenangkan dirinya dan menjaga jarak untuk sementara waktu dengan Vino.