
Rana mengambil ponsel nya dan menghubungi Tania yang ada di bawah, agar pergi untuk membeli pelampung anak-anak agar bisa di gunakan oleh Naufal. Mengingat kolam renang yang ada di fungsikan untuk orang dewasa dan cukup dalam sehingga Naufal harus memakai pelampung. Dan ada toko mainan yang tidak jauh dari perumahan ini, hanya butuh waktu sekitar 5 sampai 10 menit saja sampai disana.
Arindah sudah selesai berganti pakaian, dan Naufal juga hanya memakai celana. Mereka kemudian turun ke pantai satu dimana disana ada kolam renang. Bersamaan dengan itu, Asisten rumah tangga dari rumah Vitto juga ada disini karena permintaan Vitto. Dia membawa nampan berisi minuman untuk di berikan kepada Vino.
Seperti janji nya, Rana mengeluarkan flamingo karet yang bisa mengambang di air dan bisa di naiki. Arindah masuk ke kolam renang lebih dulu. menganggap balon flamingo itu, sementara Rana membantu Naufal menaiki nya. Sambil menunggu pelampung nya datang.
"Bagaimana hubunganmu dengan Arindah???? Aku lihat kau tampak berbinar sekali... " Ucap Vitto.
Vino mengambil gelas berisi jus dan meminum nya. Dia melempar senyum pada kakak nya. "Jika kau sudah tahu dari wajahku, kenapa kau harus menanyakan itu???" Tanya Vino balik.
"Aku hanya butuh pengakuan dari mulutmu saja...!"
Vino tersenyum masam. "Bukan pengakuan yang sebenarnya kau inginkan tetapi kau ingin mengejekku saja kan??? Bang saat kau memang... "
"Aku hanya senang kau sudah banyak tertawa seperti dulu saat kita masih kecil, sebelum kau terkontaminasi dengan Angel... Tidak lagi jaim... Arindah sudah membuatmu berubah seperti ini itu adalah hal yang bagus..."
"Setiap hari dia selalu membuatku jatuh cinta, kelembutan dan caranya berbicara serta menyayangi ku itulah yang membuatku menjadi semakin gila setiap harinya dan semakin mencintai nya... Ini seperti sebuah kebahagiaan yang selama ini aku tunggu.. Ada ketulusan yang dia miliki, dan aku memang tidak pernah mendapatkannya dari Angel sebelumnya.. Aku hanya di butakan oleh cintaku hingga aku tidak bisa melihat apakah ada ketulusan yang dia miliki untukku, tetapi ternyata tidak ada setelah aku menyadari nya sekarang.. Justru Arindah yang memiliki nya.. " Ujar Vino dengan perasaan yang penuh dengan kebahagiaan.
Vitto tersenyum dan mengarahkan pandangannya ke arah kolam renang dimana Arindah dan Rana sedang bermain dengan Naufal. Mereka terlihat bahagia dan juga kompak. Tidak ada kecanggungan satu sama lain. Kedua perempuan yang memiliki sisi positif dan membawa kebahagiaan untuk pasangan mereka. Vitto sebenarnya tidak menyangka jika Arindah benar-benar menjadi istri adiknya lalu dengan waktu yang relatif singkat, Arindah membawa begitu banyak perubahan di diri Vino yang selama ini sudah hilang.
"Tuhan selalu mengirimkan orang yang salah lebih dulu kepada kita sebelum mengirimkan orang yang tepat... Ya, supaya kita bisa belajar dari yang salah untuk menemukan yang benar... Aku yakin kau sudah banyak belajar dari itu dan memperbaiki hidupmu sekarang!"
Vino mengangguk. "Itu juga pasti berlaku pada Rana, dia juga bertemu dengan orang yang salah lebih dulu yaitu aku dan pada akhirnya bertemu denganmu yang membuatnya menemukan kebahagiaan sesungguhnya yang sudah jadi impiannya sejak lama... Kau membawa kebahagiaan untuknya, aku tidak pernah mendapati Rana tersenyum dan tertawa lepas sebelum ini, tetapi kau berhasil membuatnya seperti itu... Dia pasti sangat beruntung mendapatkanmu.."
__ADS_1
"Aku yang beruntung memiliki nya, dia berhati lembut, sangat mudah memaafkan seseorang lalu mendoakan orang itu supaya menjadi lebih baik lagi agar tidak melakukan kesalahan yang sama.. Dia sangat bahagia ketika pada akhirnya kau menemukan orang yang tepat seperti Arindah, karena kau benar-benar berubah menjadi orang yang lebih baik lagi, bertanggung jawab terhadap istrimu.. Dia sudah memaafkan semua itu, dan berharap kita semua menjalani hubungan persaudaraan yang baik dan saling mendukung."
"Aku terkadang merasa malu saja bertemu dengan Rana, malu mengingat betapa buruknya aku dulu memperlakukannya hingga menimbulkan trauma yang mendalam..."
"Itu memang benar, tetapi itu bagian dari perjalanan kehidupan kalian, yang terpenting kau tidak lagi melakukan kesalahan yang sama dan benar-benar merubah dirimu.... Aku rasa Rana juga tidak akan membahas itu lagi.."
"Aku sangat berharap dia suatu saat nanti mau memaafkanku... " Gumam Vino sambil menundukkan kepala nya.
★★★★
Beberapa Jam kemudian...
Selesai berenang, Arindah sudah memandikan Naufal dan dia juga sudah berganti pakaian. Dia mengajak Naufal untuk turun ke lantai dua dimana ternyata Rana sudah menunggu disana. Rana tampak sedang sibuk di dapur. Arindah menghampiri nya. Di meja ternyata ada beberapa kotak kue dengan bentuk menggemaskan. Dan ternyata itu kue dari bakery milik Rana. Sengaja Rana memesan beberoa kotak untuk dia berikan kepada Naufal.
Naufal tersenyum dan langsung mengambil satu saat Rana menyodorkan box kue itu.
"Lucu sekali..." Puji Arindah.
Rana tersenyum "kau coba juga dong.... Dan kau belum pernah datang ke Bakery ku??? Nanti kau harus mengajak Naufal kesana, aku yakin dia kan menyukai kue-kue disana, apalagi yang bentuknya imut seperti ini... Datanglah.. " Ucap Rana.
__ADS_1
"Ya, aku sangat ingin datang sekali.. "
"Harus... Nanti hubungi Aku kalau kalian ingin datang.. "
Naufal sudah menghabiskan satu kue, tetapi mungkin karena rasanya sangat enak, bocah itu mengambil satu lagi hingga akhirnya kotak berisi sembilan kue itu habis oleh Naufal sendiri. "Naufal sayang??? Kenapa di habiskan??? Mama baru mengambil satu??? " Protes Arindah.
"Enak... " Jawab Naufal singkat dan hal itu membuat Arindah dan Rana tertawa. Anak kecil sangat jujur, polos dan menggemaskan.
"Habiskan saja tidak apa-apa, aunty masih punya banyak, dan nanti saat pulang, Aunty akan memberikannya lagi sehingga bisa Naufal makan untuk besok... " Ucap Rana.
"Ya... Mau.. " Celetuknya lagi.
Naufal yang polos, tampan, menggemaskan dan sangat lucu. Arindah pasti merasa bahagia sekali memiliki anak seperti Naufal. Kebahagiaan orang tua pastilah terletak pada kehadiran anak-anak nya. Rana berharap nanti dia dan Vitto juga bisa memiliki anak yang lucu seperti Naufal. Dan Naufal juga akan menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya nanti. Karena Arindah dan Vino juga pasti menginginkan Naufal memiliki adik beberapa tahun ke depan. Rana mengusap kepala Naufal dengan lembut, gemas hingga dia mencium pipi bocah itu.
"Rana...!!" Panggil Arindah.
"Ya???" Jawabnya.
"Kalau ada waktu, kau nanti bisa datang lagi ke rumah sakit menemui ku... Aku akan memeriksa kondisi rahim mu, apakah sudah benar-benar membaik dan apakah sudah siap.. Kau pasti ingin segera hamil kan??? Atau kau masih ingin bersenang-senang menikmati waktumu dengan Vitto dulu??? Kita nanti bisa konsultasi kan ber sama-sama..." Ujar Arindah.
Rana tersenyum. "Aku dan Vitto tidak sabar menantikan itu, jika sebelumnya tidak ada masalah tentu kami pasti akan langsung melakukan program hamil, tetapi kami harus menahan diri untuk itu, dan menunggu sampai rahim mu benar-benar siap, jadi untuk apa menunggu lebih lama lagi, jika dokter mengatakan semua nya sudah baik... Aku pasti akan datang menemuimu di rumah sakit segera..." Ucap Rana.
Arindah tersenyum lebar. "Baguslah aku akan menunggu kalian... Aku tahu kalian pasti sedang menantikan kabar baik itu..."
__ADS_1