
"Bagaimana bisa aku membuka hati??? Aku masih belum siap untuk itu Vit???" Ucap Vino.
"Kalau memang seperti itu, ya lebih baik kau tidak perlu menikahi Arindah....! It's so simple..."
"Kenapa kau berkata seperti itu???" Tanya Vino.
"Jangan lagi mengikat seorang dalam sebuah pernikahan jika kau tidak mau berkomitmen untuk membahagiakannya... Cukup Rana saja, jangan yang lainnya, belajarlah dari masa lalu, kau sudah dewasa, dan ini bukan waktu nya untuk nermain-main.. Kau mengajak Arindah berumah tangga tapi kau sendiri menutup hati, mata dan pikiranmu, itu sama saja kau menyiksa seseorang karena kau belum bisa menerima nya... Konyol sekali..."
"Jadi menurutmu aku harus sudah mulai membuka hati untuk Arindah???"
"Ya tentu saja kau harus melakukannya..! Kau ingin menikahi nya, yang artinya kau ingin membahagiakannya, kau harus menerima nya... Lagipula Arindah juga tidak terlalu buruk, dia sangat baik, cerdas dan penyabar, sangat cocok denganmu yang keras kepala dan egois, dia bisa melengkapi mu... Ingat dan cam kan baik-baik setiap ucapan dan nasehatku tadi... Kuburan dalam-dalam ingatanmu serta kenanganmu bersama Angel, dan mulai buka lembaran baru, aku yakin kau akan merasa bahagia nanti nya... Sudah dulu, aku lapar dan aku harus menemani Rana, kau beristirahatlah serta pikirkan baik-baik ucapanku tadi..." Vitto kemudian menutup panggilan Vino.
Vino meletakkan ponsel nya di atas meja. Dia menyandarkan kepala nya di punggung kursi putar nya. Menghela napasnya, dan mendongak menatap langit-langit kamarnya. Vino mencoba memikirkan semua yang tadi di katakan oleh Vitto. Dan membenarkan segala nya.
Membuka hati?????
Itulah yang tadi dikatakan oleh Vitto. Hal utama yang harus di lakukannya ketika ingin menikahi seseorang. Mungkin ada benar nya apa yang dia katakan pada Arindah sebelumnya bahwa dia ingin mengenal lebih dekat lagi dengan Arindah. Dan tidak ada salah nya juga melakukan itu. Vitto juga mengatakan bahwa Arindah memang tidaklah buruk, dan pribadi Arindah selalu baik, penyabar dan juga cerdas. "Mungkin benar... Aku harus melakukan semua yang dikatakan Vitto tadi, membuka hati??? Ya, aku harus mulai melakukannya juga, melupakan semua tentang Angel dan mengejar kebahagiaanku.. akan tetapi masalahnya sekarang ada pada Arindah, dia akan menerimaku atau tidak...
??" Gumam Vino.
****
__ADS_1
"Menurutmu apa Vino akan mendengarkan nasehatmu tadi???" Tanya Rana sambil menuang Champagne di gelas dan menyodorkan nya pada suaminya.
Vitto menyesal Champagne dan tersenyum menatap Rana. "Aku berharap seperti itu, Vino mau mendengarkanku untuk saat ini, karena ini demi kebaikannya... Entah kenapa aku begitu yakin jika Vino dan Arindah bersama, ada banyak hal yang akan terjadi.."
"Banyak hal yang akan terjadi??? Maksudmu???" Tanya Rana heran.
"Ya banyak hal akan terjadi, bisa jadi Vino akan banyak merubah sikapnya ketika dia sudah memiliki tanggung jawab menjadi seorang suami... Dan mungkin sikap keras kepala dan egoisnya juga perlahan bisa dia hilangkan... I don't know, but aku memiliki keyakinan bahwa suatu saat akan ada seseorang yang bisa merubah atau menghilangkan kelakuan hati nya, karena saat ini Vino sudah terbebas dari belenggu dan pengaruh buruk Angel..." Vitto menatap lurus ke arah laut yang di hiasi dengan langit jingga yang indah.
"Perempuan tidak waras itu sudah mencuci otak dan kebaikan adikku selama ini sehingga merubah nya menjadi pribadi yang keras kepala dan menyebalkan... Padahal dulu Vino adalah orang yang sangat baik, ramah dan murah hati, Angel sudah menjadikannya begitu buruk hingga Vino kehilangan hati nurani nya... Hingga kau juga jadi korban mereka berdua..." Lanjutnya lagi.
Rana tersenyum dan duduk mendekat ke arah Vitto, memeluk lelaki itu. "Badai selalu datang untuk menghancurkan banyak hal yang di lalui nya, tetapi selalu ada pelangi yang datang setelahnya... Mungkin jika aku tidak di sakiti oleh Vino dan Angel, aku tidak akan bisa bertemu denganmu dan bahagia bersama mu seperti ini... Terkadang aku selalu bersyukur atas apa yang pernah menimpa ku karena setelah aku melewati segala kesulitan itu, Tuhan mengirimkan ku seseorang yang luar biasa sepertimu.. Dengan segala kekurangan yang aku miliki, kau membuka tanganmu untuk menerimaku.. Thanks...!" Ucap Rana sambil memeluk Vitto.
"Thanks?????? For what???" Tanya Vitto.
Vitto membalas pelukan istrinya. "I love you too.... Terima kasih kau juga sudah memberi warna untuk hidupku.. Aku juga berharap Vino bisa mengejar kebahagiaannya juga seperti kita, sehingga dia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi... Seburuk apapun dia, tetapi dia tetap adikku dan sudah tugasku untuk mengingatkannya dan juga mendukungnya untuk hal yang baik... Semoga dia memikirkan nasehatku, menjalankannya dan Arindah juga menerima ajakannya untuk menikah, sehingga mereka berdua bisa terlepas dari masalalu masing-masing dan memulai perjalanan yang baru."
"Amin.....!!!" Rana semakin erat memeluk Vitto dan mereka menikmati pemandangan matahari terbenam.
★★★★
Keesokan harinya.......
__ADS_1
Mobil Arindah berhenti di depan sebuah rumah yang begitu mewah, besar dan di tutupi oleh tembok dan pagar yang cukup tinggi. Arindah yakin bahwa ini memang alamat yang di berikan oleh Cahya tadi malam, dan tidak salah lagi, ini adalah rumah keluarga Sahasya yang terkenal dengan bisnis nya itu. Bodyguard Arindah menekan klakson dan tak lama pagar di buka oleh seorang security. Mereka mengatakan tujuan mereka datang kesini untuk menemui Cahya. Sayangnya security itu tidak langsung mengijinkan mereka masuk karena harus mengkonfirmasi dulu pada Cahya apakah benar mereka adalah tamu nya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya mobil Arindah di ijinkan untuk masuk ke halaman rumah Cahya dan Aditya. Semalam Arindah menghubungi Cahya dan ingin bertemu, dan Cahya pun meminta Arindah agar datang ke rumahnya sekaligus mengajak Naufal agar bisa bermain dengan Kyra dan Kyros. Bodyguard Arindah turun dan membuka pintu mobil agar Arindah dan Naufal keluar. Kedua nya pun langsung berjalan menuju pintu dan langsung di sambut oleh Cahya.
"Hai... Dok... Senang sekali anda bisa datang kesini..." Cahya menyapa Arindah dan memeluknya serta cipika-cipiki. Cahya juga mencium kening Naufal, mempersilahkan kedua nya untuk masuk.
"Anak-anak ada di belakang, bagaimana kalau kita mengobrol disana dan Naufal juga bisa bermain dengan Kyros dan Kyra..."
Arindah mengangguk, dia memang butuh mengobrol empat mata dengan Cahya. Sambil berjalan menuju ke belakang, Cahya meminta agar Art nya membuatkan minuman untuk tamu nya dan juga susu serta camilan untuk anak-anak.
"Sepertinya rumah anda sepi.. Apa semua sendang pergi???" Tanya Arindah.
"Iya... Rumah sedang sepi, hanya ada aku dan anak-anak.. Aditya sedang ada di kantor, dan mertuaku juga sedang pergi...!"
"Pantas saja...!"
Cahya tersenyum dan mempersilahkan Arindah duduk di sebuah kursi kayu yang ada di tepi kolam renang. Cahya memanggil Kyra dan Kyros yang sedang asyik bermain di playground yang ada di sisi kanan taman belakang rumahnya. Kyros dan Kyra langsung berlari ke arah Cahya dan mereka berteriak ketika melihat ada Naufal. "Naufal......!!!" Teriak kedua nya.
"Kau disini? Ayo bermain disana...!" Kyros menggandeng tangan Naufal dan mengajak nya pergi ke playground untuk bermain bersama.
Cahya dan Arindah hanya melempar senyumnya melihat keceriaan anak-anak itu.
__ADS_1
Arindah menatap Cahya. Meragu untuk menanyakan beberapa hal pada perempuan cantik yang ada di depannya itu. Tetapi Arindah juga butuh saran dari Cahya. Arindah bingung, haruskah dia tetap bertanya tentang hal yang sedikit sensitif pada Cahya atau tidak, Arindah takut Cahya akan tersinggung.