
Arindah keluar dari ruangannya dan bodyguard nya mengikutinya di belakang. Mereka berjalan melewati koridor hingga sampai di lobi. Arindah pun tetap berjalan untuk keluar. Ketika sudah berada di depan, Arindah berdiri dan menunggu suami nya.
"Dokter Arindah......!!!" Panggil seseorang.
Arindah menengok ke sumber suara, dimana dari suara itu, Arindah sudah tahu siapa pemiliknya. Tidak lain tidak bukan adalah Reino. Arindah mengernyit dan membuang muka, berharap suami nya segera datang. Arindah sangat malas harus bertemu dengan Reino.
"Kita menunggu Vino di pintu masuk saja... " Ucap Arindah pada bodyguard nya.
"Siap bu.. "
Di sudut lain, Vino menggendong Naufal dan meminta bocah itu agar diam saja dan tidak bersuara saat melihat Mama nya. Naufal pun mengangguk da Vino menggendong Naufal menghadap ke belakang. Vino berjalan menghampiri Arindah. Dia tahu jika saat ini Reino akan berbicara dengan istrinya. Sejak tadi ddia diam di dalam mobil dan mengawasi Reino yang berdiri mondar-mandir di depan rumah sakit. Vino yakin lelaki itu sedang menunggu Arindah keluar, Vino pun akan mencoba mendekat untuk mendengarkan apa yang ingin Reino katakan pada Arindah.
Periksi nya benar, saat dia meminta Arindah keluar, dan Reino benar-benar memanggil Arindah. Vino pun langsung keluar diam-diam dan akan mendekati Reino.
Arindah dan bodyguard nya hendak pergi meninggalkan Reino, akan tetapi dengan cepat lelaki itu menahan pergelangan tangan Arindah. Membuat langkah Arindah terhenti. Arindah menatap sinis ke arah Reino. "Ada apa lagi??? Aku ingin pulang...." Ucap Arindah dengan ketus.
Dari jauh Vino berjalan pelan sambil tersenyum. Arindah dan bodyguard nya melihat dia berjalan mendekat tetapi Vino bergegas memberi isyarat kedua nya agar tetap diam dan tidak memanggil atau ke arahnya.
"Tunggu dulu, aku ingin bicara denganmu... " Seru Reino.
"Bicara apa lagi????" Tanya Arindah.
__ADS_1
Reino terkekeh seolah ingin mengejek Arindah. "Kau pasti sudah menerima surat dari pengadilan kan??? Atau jangan-jangan orang tua mu tidak memberikannya kepadamu... "
"Aku tidak peduli dengan surat itu, Naufal adalah putraku, dan dia akan terus bersamaku, kau tidak akan mendapatkan nya selama aku masih hidup... "
"Benarkah????" Reino justru tertawa mengejek Arindah. "Kali ini aku akan dapatkan apa yang aku mau, Naufal akan bersamaku dan kau tidak akan bisa merebutnya nanti... Kau tidak akan bisa melawan ku.... "
"Kita lihat saja....!!! Meskipun dunia menolak, Naufal akan tetap bersamaku.... Selama ini kau tidak pernah peduli padanya, jadi jangan terlalu percaya diri untuk bisa membawa nya pergi dariku... "
"Oh ya????" Reino mendekati Arindah,menang kedua bahu Arindah dan menatapnya mengejek. "Mari kita lihat nanti, aku sudah menyewa pengacara nomor wahid disini, dan dia yang akan membantuku melawanmu.... Dia yang akan membantuku mendapatkan Naufal, lalu kau akan menangis darah di depanku karena Naufal akan jatuh ke tanganku.... Bahkan suami mu itu juga tidak akan bisa berbuat apa-apa... Dan itulah balasannya karena kau menolak untuk kembali denganku... Aku akan membuat hidupmu hancur secara perlahan... "
"Apa iya......??????" Ucap Vino mengejek dan muncul dari belakang Reino, dan Reino menengok ke belakang. "Wooohooooo..... Kau siapa memangnya sampai berani untuk menghancurkan kehidupan istriku??? Apa kau asistennya Tuhan??? Tapi yang Aku tahu, Tuhan tidak memiliki asisten, kalaupun ada itu bukan asisten tapi malaikat..." Vino mmberikan Naufal pada bodyguard Arindah dan menyuruhnya untuk mengajak bocah itu ke mobil lebih dulu. Vino berdiri tepat di depan Reino dan Arindah sehingga tubuh Vino menjadi penghalang bagi Arindah.
"Apa kau pikir istriku takut dengan ancaman mu???? Selama nya kau tidak akan bisa memisahkan seorang ibu dari anaknya, apalagi dia yang selama ini berjuang sendiri untuk membesarkannya... Persetan dengan siapa kau akan melawan istriku di persidangan, mau pengacara yang paling handal di negara ini ataupun di dunia ini, aku dan istriku tidak akan pernah takut sama sekali... Fakta bahwa kau adalah seorang ayah yang tidak bertanggung jawab selama ini adalah kunci untuk istriku memenangkan hal ini, dan kau tidak hanya sedang bertarung dengan istriku, tetapi kau juga bertarung denganku... Dan aku adalah orang yang paling benci dengan manusia sepertimu, tidak berguna, licik dan juga toIoI.... Aku akan selalu berada di depan istriku dan Naufal, untuk melindungi mereka.. Tidak akan ku biarkan siapapun mengganggu ketenangan mereka... Ingat itu baik-baik.. "
"Kau jangan mencoba menjadi pahlawan kesiangan... Kau tidak ada hubungan apapun dengan Naufal, jadi lebih baik diam saja... " Ucap Reino menantang Vino.
"Aku adalah suami Arindah, aku punya tanggung jawab menjaga nya, dan dia juga memiliki anak, sehingga jika aku memilih ibu nya tentu aku juga harus memilih anaknya... sangat tidak ada untungnya jika aku harus melawan orang yang iri dengki seperti dirimu... Alasan konyolmu menggunakan hak asuh Naufal hanya karena Arindah menikah denganku, Itu sama sekali tidak masuk akal... mengadi-ngadi... Hahaha..." Vino menoleh ke belakang. "Ayo sayang, kita pulang, sudah malam, kau pasti lapar, dan Papa juga menunggu kita di rumah.... Jangan hiraukan tong kosong nyaring bunyinya yang ada di belakangmu ini, hanya akan menghabiskan waktu kita saja... "
Vino berbalik badan, dan memeluk Arindah mengajak nya untuk pergi meninggalkan Reino. Mereka berjalan menuju area parkir tempat dimana mobil Vino berada. Reino berdiri dengan wajah masam, menahan kemarahan. "Hei Vino brengseeekkk....!!!" Teriak nya, tetapi Vino dan Arindah tidak merespon dan terus berjalan meninggalkannya.
Kesal di abaikan, Reino pun berlari mengejar dan menghadang mereka berdua. Langkah Arindah dan Vino pun terhenti. "Kau memang brengseeekkk.... Kau pikir dengan kekayaan yang kau punya kau bisa mudah mengatur segala nya dengan uangmu, akan ku pastikan uangmu tidak akan berguna... " Ucap Reino.
__ADS_1
Vino tersenyum masam. "Untuk sebuah hal yang fakta nya sudah jelas, aku tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun, karena kenyataannya kau sama sekali tidak memiliki hak apapun atas Naufal, dan aku yakin, istriku akan mendapatkan keadilan karena selama ini dia lah yang sudah membesarkan Naufal sendirian, kau hanya cecunguk yang egois dan ingin menang sendiri, tetapi kau tidak sadar bahwa cecunguk tidak akan bisa melawan singa..."
"Jangan bangga dengan siapa yang akan membantumu, mereka tidak akan bisa sepenuhnya membantumu, karena istriku akan membawa bukti jika kau selama ini tidak pernah memenuhi tugas dan tanggung jawabmu dengan baik... Alasan istriku tidak mau kembali denganmu adalah karena kau egois, tidak bisaengerti orang lain dan hanya mengejar nafsu mu saja tanpaempedulikan hal lainnya yang lebih penting... Jangan coba mengancamku atau istriku... Kau terlalu bodoh untuk seorang Vino Prakarsa, karena ingatlah aku selalu tiga langkah di depanmu... Kecerdasanku di atas rata-rata, menggilasmu bukan perkara yang sulit... Ingat baik-baik, aku bukan satu langka di depanmu tetapi aku bisa tiga atau empat langkah di depanmu... " Ucap Vino dan dia menyingkirkan Reino yang menghalangi jalannya. Vino dan Arindah pun kembung berjalan menuju mobil mereka.
"Breeengsseeekkkk..... Kau pikir kau siapa.....!!!" Gerutu Reino dengan kesal.
Terlihat Vino dan Arindah masuk ke dalam mobil, lalu perlahan mobil itu meninggalkan area parkir. Reino masih berdiri dengan muka kesal merah padam. Dia merasa geram sekali kenapa tujuannya untuk mengancam Arindah justru berbalik kepada dirinya sendiri. Ternyata Vino menjemput Arindah dan itu merusak segala nya. Lelaki itu selalu saja bersikap sok dan selalu berusaha jadi pelindung Arindah. Tetapi Reino tidak bisa membiarkan persidangan nanti membuatnya kalah. Bagaimana pun dia harus mendapatkan Naufal, agar hidup Arindah hancur. Urusan akan dia bagaimanakan nanti Naufal itu akan dia pikirkan nanti, setidaknya Naufal harus berada bersama nya dan Arindah tidak akan bisa berbuat apapun lagi nanti nya.
Reino berjalan menuju mobilnya yang juga ada di area parkir. Dia mempercepat langkahnya. Saat sudah berada di samping mobilnya dan hendak masuk, ponselnya berdering. Ketika di lihat, ada sebuah nomor tetapi tidak ada dalam kontaknya. Reino mengangkatnya. "Iya... Ini siapa???" Tanya nya dengan sedikit ketus karena masih terbawa kemarahan akibat Vino.
"Hallo.... Besok aku butuh selimut dan juga sandal, jadi antarkan kesini...!" Ucap si penelepon itu.
Reino terperangah. Dia bingung siapa orang ini yang tiba-tiba meminta selimut dan sandal, tetapi kemudian dia teringat bahwa suara si penelepon seperti suara Angel. Reino tersenyum. "Kau Angel???" Tanya nya.
"Iya...." Jawab Angel.
"Oke baiklah besok aku akan menemui mu di rutan.. " Ucap Reino sambil menyebutkan rutan yang di huni oleh Angel, kemudian telepon itu di tutup oleh Angel.
Reino tersenyum penuh kemenangan. "Habislah kau Vino.... Kau bilang kau bisa lebih dari tiga langkah dariku, tetapi aku justru bisa beberapa langkah lebih darimu.... Sekarang aku bisa memanfaatkan Angel untuk memberimu pelajaran.. Aku berhasil mempengaruhi nya, dan dia akan membantuku sekarang... Reino selalu bisa memanfaatkan keadaan yang orang lain anggap tidak mungkin... tunggu saja tanggal mainnya... " Ucap Reino sambil senyum-senyum penuh kemenangan, dia kemudian masuk ke mobilnya dan meninggalkan area parkir.
Tanpa di duga, ternyata mobil yang terparkir di sebelah mobil Reino adalah mobil milik anak buah Vino. Dan tadi dia diam-diam sempat merekam Reino yang sedang mengangkat telepon. Dia menurunkan sedikit kaca pintu sehingga bisa mendengar dengan jelas suara di luar tetapi di dalam mobil melalui kaca film di pintu, tangannya memegang ponsel dan merekam Reino. Senyumnya mengembang karena tidak sia-sia dia merekam karena ternyata Reino seperti sedang merencanakan sesuatu dengan seseorang. "Aku akan mengirim rekaman itu pada bos Vino... Dia harus tahu.." Gumam nya dan langsung mencari kontak Vino dan mengirimkan rekaman video yang tadi di ambilnya.
__ADS_1