
"Kau belum menceritakan tentang apa yang terjadi tadi malam???" Rana menagih janji pada Vitto. Saat ini mereka sedang menikmati sarapan di bale yang ada di bagian belakang villa setelah mereka selesai mandi, berganti pakaian. Mereka tadi menyelesaikan beberapa kali percintaan mereka di kamar dan juga di kamar mandi. Baru setelah itu keluar dan Rana menyiapkan sarapan.
Vitto menyuapkan buah anggur ke dalam mulutnya dan melempar senyum ke istrinya. "Iya... Seperti yang aku bilang tadi bahwa Vino dan Arindah sudah kembali ke hotel tadi malam, mereka sudah di bebaskan dan tidak terbukti melakukan hal yang tidak senonoh di dalam kamar hotel itu, dan fakta nya bahwa Reino juga bukan suami Arindah lagi..."
"Syukurlah...!" Rana menghela napas nya dengan lega.
"Kau sepertinya senang sekali??? Senang karena Arindah di bebaskan atau karena Vino juga di bebaskan??? Kau mengkhawatirkan Vino ya???" Tanya Vitto.
"Dihhh... Kau ini, aku tentu mengkhawatirkan kedua nya, bagaimanapun jika seseorang tidak bersalah dan di tuduh melakukn kesalahan, tentu kita harus membelanya...!" Rana menjawab sedikit jengkel dengan pertanyaan Vitto.
Vitto tertawa. "Just kid sayang...! Benar katamu jika mereka tidak bersalah kita tetap harus membela nya, walaupun aku juga jengkel sekali dengan sikap Vino, tetapi entah kenapa aku memiliki feeling jika di masalah tau malam dia tidak bersalah, dan aku juga merasa bertanggung jawab terhadap adikku itu, aku juga berharap dia bisa mendaptakn pelajaran yang berharga atas masalah itu...!"
"Lalu sebenarnya kenapa kejadian itu terjadi??? Siapa Reino dan kenapa tega berbuat seperti itu pada dokter Arindah dan Vino???" Tanya Rana.
"Mantan suami Arindah, ayah dari Naufal.. Aku sempat bertanya pada Vino tentang kejadian sebenarnya, dan Vino mengatakan jika sepulang dari sini, dia dan Arindah hendak naik ke ke kamar mereka, saat akan masuk lift yang ada di lobi, mereka berpapasan dengan Reino, si Reino mengejar Arindah tetapi Arindah cuek dan tidak memperdulikan nya, hanya saja Reino tidak Terima dan terus mengejar Arindah dan Vino sampai di lorong kamar mereka berdua, terjadi keributan karena Reino merebut Naufal yang tertidur di gendongan Vino sampai Naufal menangis karena terkejut..."
"Merebut Naufal???" Tanya Rana lagi.
Vitto mengangguk. "Ya, Reino merebut Naufal dan hal itu membuat emosi Vino memuncak, Vino mengusir Reino, lalu Reino pergi, Vino menyusul Arindah yang membawa Naufal ke kamar, untuk memastikan apakah Naufal masih menangis atau tidak, dan beberapa saat kemudian Reino datang membawa polisi, membuat laporan palsu dengan mengatakan jika Arindah istrinya dan sedang berselingkuh dengan Vino..!"
"Jahat sekali??"
"Reino memaksa Arindah untuk kembali dan rujuk dengannya, tapi Arindah menolak dan mungkin si Reino kesalaka dia coba menjebak Arindah...!" Vitto menimpali lagi.
"Kasihan dokter Arindah...! Dia pasti ketakutan sekali..!?"
"Kau benar dia sangat ketakutan, tetapi merasa lega karena dia akhirnya bisa di bebaskan, dan itu juga di bantu oleh teman-teman yang lain, Aditya, Ariel, Jeany dan Edward membantu Arindah dan Vino, Ariel bahkan menunjukkan rekaman CCTV di hotel juga pada polisi, sedangkan Cahya menjaga Naufal di hotel..!"
"Syukurlah kita punya teman-teman yang baik seperti mereka... Cepat habiskan sarapanmu, aku ingin jalan-jalan di pantai..."
Vitto mengangguk dan menghabiskan oatmeal berries buatan Rana. Vitto ingin menghabiskan waktu nya dengan Rana untuk bersenang-senang disini sebelum lusa mereka berangkat honeymoon ke Maldives. Vitto sudah membooking villa di Maldives atas persetujuan Rana juga. Vitto sempat memberi beberapa pilihan dan akhirnya Rana memilih salah satu yang menurutnya bagus dan cantik.
Sementara itu di hotel, Vino dan yang lainnya turun untuk sarapan sebelum siang nanti mereka check out dan kembali pulang. Vino duduk bersama keluarga Aditya dan juga Randy. Seperti janjinya semalam, Aditya pun membantu Vino untuk berbicara dengan Randy mengenai keinginan Vino yang ingin mengirim bodyguard untuk memastikan kemanan Arindah dan anaknya. Vino sejak tadi melempar pandangannya ke berbagai sudut mencari Arindah akan tetapi dia tidak mendagri perempuan itu turun untuk sarapan bersama yang lainnya. Arindah mungkin masih tidur karena masalah semalam yang sudah menguras emosi nya.
__ADS_1
"Jadi kau menginginkan yang bagaimana Vin???" Tanya Randy.
"Sebenarnya tidak terlalu istimewa Ran, aku ingin bodyguard yang bisa menjaga Naufal dan Arindah... Naufal biasanya di urus oleh orang tua Arindah, dan aku ingin nanti bodyguard berjaga di rumah mereka, kurasa satu saja cukup, dan ada juga satu yang bisa mengikuti Arindah kemana dia pergi, tapi perempuan, supaya lebih nyaman..!" Jawab Vino.
"Oke, aku bisa mengaturnya..!" Sahut Randy.
"Tapi Vin??? Apa kau sudah membahas ini dengan Arindah??? Maksudku apa dia setuju dengan niatmu??? Takutnya dia tidak mau..!" Ujar Aditya.
Vino menggeleng. "Sebenarnya belum...!" Gumam Vino.
"Kalau begitu benar kata Aditya, lebih baik kau bicara dulu dengan Arindah, persetujuannya juga sangat penting... Jangan sampai dia justru merasa tidak nyaman.." Ucap Randy.
.
Vino menganggukkan kepala nya. "Baiklah... Nanti aku akan coba bicara dengannya... Dan nanti aku akan memberitahu mu Ran jika dia setuju atau tidak..!"
Setelah sarapan, Vino kembali ke kamarnya dan benar, sepertinya Arindah tidak turun untuk sarapan. Vino pun merasa khawatir dan dia memilih untuk mengetuk kamar Arindah. Tak lama pintu itu di buka, Arindah tersenyum melihat kedatangan Vino.
"Eh Vin...!?"
"Ah tidak.. Aku tidak turun, Naufal sedikit rewel tadi, jadi aku memesan sarapan dan di antar kesini dan baru saja habis, aku pikir tadi kau petugas yang akan mengambil piring kotor"
"Baguslah kalau kau sudah sarapan, eh bagaimana kalau kita ajak Naufal ke restoran yang kemarin yang ada di tepi pantai, dia pasti senang bisa makan es krim.. Aku juga ingin berbicara denganmu...!"
"Berbicara denganku???"
"Ya... Jika kau tidak keberatan...! Bagaimana???"
Arindah diam untuk beberapa saat kemudian tersenyum dan mengangguk, dia akan mengajak Naufal. "Baiklah... Tetapi Naufal baru selesai mandi, aku belum memakaikan baju, kau bisa tunggu disana, aku akan turun menyusulmu bersama Naufal..." Ujar Arindah.
"Baiklah...!! Aku akan menunggu di bawah..!" Vino pun meninggalkan kamar Arindah dan kembali turun untuk ke restoran yang ada di dekat pantai yang masih berada di lingkup hotel ini.
★★★★
__ADS_1
Setelah puas ber jalan-jalan menyusuri pantai, Rana dan Vitto memilih untuk duduk di tepi pantai menikmati pemandangan gulungan ombak di depan mereka. Matahari belum terlalu tinggi dan sinar matahari di jama segini masih sangat baik untuk kesehatan. Rana menyandarkan kepala nya di dada Vitto.
"Apa hanya gara-gara merebut Naufal dari Vino dan Naufal di rebut lagi oleh dokter Arindah dan di ajak ke kamar, hal itu membuat Reino marah dan berani melakukan itu, menfitnah dokter Arindah dan Vino???" Tanya Rana.
"Sebenarnya kalau dari sudut pandang ku bukan hal itu saja yang menyulut emosi Reino, lebih tepatnya emosi Vino yang tersulut, karena Naufal menangis dengan sangat keras... Tetapi jika kau bertanya tentang apa hal yang membuat Reino berani menyerang Arindah dan Vino adalah karena Arindah mengatakan sesuatu yang membuat Reino marah..!"
"Mengatakan sesuatu apa???" Tanya Rana lagi.
"Arindah ingin membuat Reino bungkam dan tidak lagi mengejarnya dengan memanfaatkan Vino..!"
Rana melepaskan pelukannya pada Vitto. Terlihat bingung. "Memanfaatkan Vino??? Maksudnya???"
Vitto tersenyum menatap lurus ke depan. "Arindah kesal pada Reino yang memaksa nya untuk rujuk dan ide konyol muncul di benak Arindah setelah menyadari ada Vino di sampingnya yang sedang menggendong Naufal.. Jadi Arindah mengeluarkan celetukan dengan mengatakan pada Reino jika Vino adalah calon suaminya dan calon ayah tiri dari Naufal, karena itulah Reino tidak Terima dan berani memfitnah mereka berdua..!"
"Apa..??? Dokter Arindah mengatakan itu??? Hahahha kalau begitu pantas saja si Reino marah...!"
"Ya, aku rasa karena hal itu dia marah... Tapi apa kau tahu sayang kalau dulu saat masih sekolah, Arindah itu pernah naksir berat dengan Vino"
Rana terlonjak. "Hah??? Serius???" Tanya Rana.
"Iya, tetapi Vino mengabaikannya dan justru memilih si kampreet Angel... Akhirnya Arindah patah hati dan sangat kecewa karena perasaannya tidak terbalas..!"
"Lalu Vino tahu???" Tanya Rana lagi.
Vitto menggelengkan kepala. "Tidak... Bahkan mungkin sampai saat ini Vino juga tidak tahu.. Arindah sedih dan dulu memintaku agar tidak memberitahu siapa-siapa tentang perasaannya pada Vino..!"
"Kasihan sekali...!!" Gumam Rana dan dia kembali memeluk Vitto. "Eh.... Bagaimana kalau kau men comblangin mereka saja...!" Celetuk Rana tiba-tiba.
"Mencomblangi???"
Rana melepaskan lagi pelukannya pada Vitto, dan tersenyum lebar menatap lelaki itu. "Iya dong... Dokter Arindah kan single, Vino juga, jadi siapa tahu dengan hal itu mereka bisa saling melupakan masa lalu nya... Dan tugasmu adalah menyatukan mereka..!"
Vitto mengernyit. "Menyatukan mereka???"
__ADS_1
Rana tersenyum lebar mengangguk-anggukkan kepala nya. "Iya sayang... Kau harus lakukan sesuatu agar mereka semakin dekat dan nanti nya bisa bersama... Vino juga butuh melupakan Angel dan juga diriku, supaya dia juga tidak merecoki kita.. Aku pikir dia dan dokter Arindah sangat cocok...?"