
Vitto dan Rana akhirnya sampai di rumah. Lelah dan puas sekali menghabiskan hari ini. Mereka sudah makan malam juga dan di antar oleh Roland pulang. Besok masih ada jadwal lagi untuk mengunjungi tempat lain yang tidak kalah luar biasanya dengan hari ini. Mereka berdua akan istirahat, memulihkan tenaga untuk besok.
Vitto duduk di kursi makan dan Rana mengambil minum di kulkas. Mereka akan duduk sebentar baru setelah itu pergi mandi dan beristirahat.
"Roland bilang, saat ke Grindelwald kita harus mencoba hiking di salah satu tempat disana, aku sangat tertarik, dan aku belum pernah mencoba hiking bersama denganmu, kau sangat menyukai hiking dan mendaki, dan aku ingin melakukannya denganmu... " Ujar Rana seraya menyodorkan minuman ke suaminya.
"Kau yakin kuat????"
"Mau menyepelekan ku... Tentu saja kuat, aku dulu anak Pramuka... Hahaha... Kalaupun aku tidak kuat, kan ada kau yang bisa menggendong ku... Kau ahli sekali dalam mendaki gunung, bahkan kau sudah menaklukkan everest, jadi jika hanya hiking saja ku pikir itu hal yang sangat mudah untukmu..."
Vitto tersenyum. "Hahahaha jika hanya menggendong ku aku rasa itu hal yang mudah... Sedikit lebih berat daripada tas carrier ku.. Hehehe...."
"Kau harus sering-sering mengajakku naik gunung sebelum nanti kita memutuskan untuk memiliki bayi... Membayangkan naik gunung bersama mu, pasti menyenangkan... "
"Oke....!!! Aku akan membawamu... Kita akan mulai dari Grindelwald...!!" Ujar Vitto. "Kemarilah....!!!" Titah Vitto pada Rana. Perempuan itu berdiri dan menghampiri Vitto yang ada di sebelahnya. Rana duduk di atas paha Vitto, dan lelaki itu memeluknya. "Katakan padaku sekali lagi??? Apa yang membuatmu akhirnya yakin dan menerima ajakanku untuk menikah???? Dan apa yang membuatmu mencintaiku???" Tanya Vitto.
"Kenapa kau bertanya seperti itu lagi???"
"Aku hanya ingin bertanya saja, dan ingin semakin tahu isi hatimu... Tentu kau pasti tahu bagaimana aku dulu, banyak sekali perempuan yang dekat denganku dan aku sering mematahkan hati mereka, apa kau tidak takut???"
__ADS_1
Rana tersenyum dan menegang kedua pipi Vitto. "Jika aku takut, sejak awal aku pasti akan menolaknya.... Menerima cintamu, ajakanmu untuk menikah adalah keputusan yang sangat besar dan butuh berhari-hari untuk memantapkan hati serta memohon petunjuk dari Tuhan, sampai akhirnya aku benar-benar ter yakinkan untuk memilihmu menjadi suami ku... Jika kau saja bisa menerima segala kekuranganku dan juga semua masalalu ku, lalu mengapa aku juga tidak menerima hal yang sama darimu???"
"Meskipun seandainya masalalu itu begitu buruk dan juga memalukan???" Tanya Vitto.
"Dalam prinsip hidupku ketika aku memutuskan menerima seseorang untuk jadi bagian hidupku, aku tidak akan mengaktifkan atau mengingatkan orang itu dari masalalu nya, aku hanya akan mengajaknya membangun masa depan yang baik dan indah..." Ujar Rana.
Perempuan itu mengecup kening suami nya dan kembali tersenyum. "Baik buruknya masalalu seseorang adalah sebuah perjalanan hidupnya, dan Tuhan sudah mengatur semua yang terjadi pada hamba nya.. Jika masalalu itu buruk, maka harus di tutup dan jangan di buka lagi untuk di ulang, harus diambil hikmahnya dan belajar menjadi lebih baik lagi ke depannya... Tetapi jika baik, harus di pertahankan dan juga lebih di perbaiki lagi, sehingga akan semakin baik... Tidak baik jika kita menghakimi seseorang dari masalalu nya, karena kita tidak bisa melihat sejauh apa dia berjuang untuk menjadi lebih baik... Yang berhak menilai hanyalah Tuhan, menerima dan mendukungnya untuk saat ini adalah sesuatu yang baik untuknya yang bisa kita lakukan.." Lanjutnya lagi.
Vitto tersenyum. Dia sengaja menanyakan mengenai masalalu adalah ingin tahun jawaban Rana terhadap penilaian masalalu seseorang. Tentu Vitto ingin ketika dia menceritakan tentang Clara pada Rana, Vitto bisa sedikit mengerti sikap apa yang akan di ambil oleh Rana nantinya.
"Kenapa??? Apa kau ingin menyampaikan sesuatu padaku tentang masalalu mu sehingga kau bertanya seperti itu lagi untuk kesekian kali nya??? Kau ingin menyampaikan apa??? Katakan saja...!" Pinta Rana.
Rana memasang wajah datar sambil menatap Vitto. "Bohong....!!!"
Vitto mencoba tersenyum. "Tidak sayang... Aku tidak bohong.. Aku tadi bertanya saja... " Jawab Vitto gelagapan.
"Benarkah?? Awas saja jika di kemudian hari aku mendapati sesuatu tentang masalalu mu dan kau tidak mengatakan padaku sekarang padahal aku sudah meminta mu mengatakannya"
"Hehe tidak... Tenang saja....!! Aku senang sekali mendengar bagaimana kau menilai seseorang dari masa lalu nya... Karena jarang sekali ada orang yang bersikap demikian... Mereka kebanyakan menghakimi tanpa mau melihat hal baik lainnya dari orang itu.."
__ADS_1
"Orang punya hak untuk mengatakan apapun yang mereka yakini, kalau kita berdebat dengan mereka hanya akan menghabiskan tenaga saja dan menambah dosa.... Meskipun kita tahu bahwa orang-orang yang seperti itu biasanya adalah mereka yang merasa dirinya bukan pendosa besar, padahal hati mereka sangat gelap dan mengerikan lebih dari kita.. Pilihan terbaiknya hanyalah diam, dan membiarkan Tuhan serta waktu yang bekerja...
Vitto terdiam. Dia bingung apakah harus memberitahu Rana sekarang atau nanti saja ketika pulang. Dia sejak kemarin terus saja memikirkan Clara yang muncul lagi setelah sekian lama, dan firasatnya serta firasat Vino juga mengatakan bahwa sesuatu pasti sedang di rencanakan oleh Clara. Dan jika memberitahu Rana sekarang, mungkin Rana bisa bersiap dengan berbagai kemungkinan yang terjadi, tetapi masalahnya adalah Vitto takut mood Rana akan menjadi buruk dan tidak menikmati bulan madu mereka saat ini.
Rana menjentikan jari nya di depan wajah Vitto yang sepertinya sedang melamun. " Hei....!!! Kok diam??? Apa yang sedang kau pikirkan???" Tanya Rana dan Vitto menggelengkan kepala nya tanpa menjawab.
Melihat sikap aneh Vitto, Rana pun menaruh kecurigaan bahwa sepertinya ada sesuatu yang coba Vitto simpan darinya. Entah hal apa yang mengganjal lelaki itu. "Kau aneh sekali???? Kenapa???? Ada apa??? Coba katakan??? Apa yang mengganjal???"
Vitto kembali menggelengkan kepala nya. Ragu dan takut.
"Kesalahan apa yang kau lakukan di masalalu?.. Apa kau menyakiti seseorang??? Atau ada sesuatu yang pernah kau lakukan dan itu apakah itu sebuah dosa besar???" Tanya Rana coba menelisik.
*Kau sudah berjanji bahwa tidak akan menyembunyikan apapun dariku, jadi katakan saja... " Pinta Rana.
Vitto menatap Rana meragu. "Tidak ada apa-apa... Badanku lengket, kita mandi sekarang... " Vitto mengangkat bahu Rana agar perempuan itu berdiri. Setelah Rana berdiri, Vitto hendak pergi meninggalkan istrinya itu, menghindari pertanyaan Rana karena dia belum siap menyampaikannya. Vitto berjalan dan hendak masuk ke dalam kamar.
"Baiklah jika kau ingin menyimpannya sendiri... Lakukan saja sesukamu... Aku tidak peduli... " Ucap Rana setengah berteriak. Ada rasa kesal di hatinya lihat sikap Vitto. Rana juga berjalan masuk ke dalam kamar dengan langkah cepat.
Rana mendahului Vitto masuk ke dalam kamar. Rana membuka lemari dan mengambil pakaian dari dalam lemari. Rana mengambil pakaian tidurnya juga handuk lalu berbalik badan dan pergi keluar kamar meninggalkan Vitto yang berdiri mematung di samping tempat tidur. "Sayang...!!! Kau mau kemana..??? Kamar mandi nya kan ada disini..!!??" Tanya Vitto tetapi Rana tidak menjawabnya dan pergi keluar kamar begitu saja.
__ADS_1