Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 67


__ADS_3

Vitto akhirnya datang membawa barang belanjaan untuk membuat kue bersama dengan Rana. Dengan semangat empat lima, Vitto membongkar barang belanjaannya sedangkan Rana terlihat mengecek satu persatu takut ada yang terlewat. Tetapi ternyata semua lengkap. Masih berada di kursi roda, Rana membimbing Vitto dengan baik untuk mencampurkan adonan satu persatu dan Vitto mengikutinya dengan sangat baik.


Vitto tampak berkeringat dan sesekali lelaki itu mengusap leringat di dahinya dengan lengan kaosnya. Wajahnya juga belepotan dengan tepung tetapi dia terlihat santai saja.


Setelah adonan siap, Rana meminta Vitto memasukkan ke loyang lalu ke oven. Selanjutnya tinggal menunggu matang lalu menghiasnya.


"Pertama kalinya aku bikin kue, dan itu melelahkan sekali, aku pikir sesimpel masak biasa ternyata ribet juga karna presentasi dari setiap bahannya harus ditimbang dan disesuaikan.... Haha..." Gumam Vitto diselingi gelak tawa.


Rana tersenyum. "Kau pasti akan terbiasa nanti...!"


"Semoga hasilnya bagus dan bisa di makan, hehehe...! Oh iya btw ceritakan perihal Bakerymu dan kegiatanmu ketika disana? Aku penasaran...!" Tanya Vitto.


"Tidak ada yang istimewa, Bakery milikku hanya Bakery kecil di ujung jalan, dan kegiatanku hanya membuat kue, semuanya aku buat sendiri, aku memiliki beberapa karyawan tetapi mereka hanya sekedar membantuku, dan untuk urusan pembuatan semua dariku sendiri, tetapi sekarang aku jadi terpikirkan mereka, aku menghilang begitu saja bahkan aku juga tidak tahu bagaimana keadaan bakeryku yang sudah hangus terbakar" Rana menundukkan kepanya sedih.


Vitto menjadi sedih juga dan dia merasa bersalah sudah membahas tentang Bakery milik Rana. Peremluan itu juga pasti sedih sekali mengingat tempat usahanya dan tempat dimana dia bergantung untuk kelangsungan hidupnya kini hanya tinggal kenangan saja. Adiknya sudah menghancurkan kehidupan dan mimpi seseorang dengan sangat buruk sekali. Yang Vitto harapkan adalah Vino segera bisa menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada Rana.


"Sorry Rana, aku jadi membuatmu sedih lagi dengan teringat itu...!" Gumam Vitto.


Rana tersenyum. "Aku tidak sedih, hanya terkenang saja, aku ikhlas sudah kehilangan banyak hal, hanya berharap Tihan bersedia membuatku bangkit, memberiku kelancaran memulai segalanya....!"


"Kau pasti bisa Ran....!" Vitto menepuk bahu Rana memberinya semangat. "Kau sekarang fokus pada kesehatanmu, dan cari kesibukan di dalam sini, lalu bersabarlah sampai keadaan terlihat lebih baik.... Aku tidak ingin kau jatuh ke lubang yang sama...!"


Rana tersenyum, menganggukkan kepalanya. Dia bisa melihat ketulusan Vitto, lelaki itu begitu baik kepadanya. Dan dia sendiri sebenarnya merasa tidak enak karena Vitto sudah banyak membantunya. Jika keadaan sudah membaik Rana tidak bisa harus tinggal disini terus dan tidak bisa selalu merepotkan Vitto. Dia harus pergi dan mungkin akan menemui Jeany untuk menanyakan pekerjaan serta meminta maaf.

__ADS_1


Ikhlas, itulah yang saat ini coba Rana lakukan. Menikahi Vino adalah keputusannya sendiri, dan dia harus menjalani apa yang jadi konsekuensinya sekarang, mengingat dulu dia sudah diingatkan oleh Jeany tetapi mengabaikan peringatan sahabatnya itu tentang kebenaran siapa Vino. Jadi tidak ada yang bisa dia lakukan selain ikhlas sudah banyak kehilangan hal dalam hidupnya.


Selain mengikhlaskan apa yang sudah dilakukan Vino kepadanya, Rana juga harus melupakan perlahan rasa cintanya untuk Vino karena lelaki itu tidak pernah mencintainya. Rana masih mengingat betul kejadian beberapa waktu yang lalu bagaimana Vino melec*hkannya, sakit itu masih dia rasakan. Menerima dan bertahan dari siksaan Vino mungkin bisa dia lakukan tetapi mengenai hal satu itu Rana masih belum bisa menerima. Konyol memang karena dia istri Vino, tetapi itu dilakukan dalam keadaan pemaksaan, bukan saling menyetujui satu sama lain.


"Rana.....!!!" Panggil Vitto.


Tetapi Rana memandang kosong ke depan dan tidak memperhatikan panggilannya. "Rana...!" Vitto menepuk lundak Rana.


Sontak Rana terlonjak. "Eh iya, ada apa????" Tanya Rana.


Vitto mendengus. "Kenapa kau melamun? Apa yang kau pikirkan???"


Rana menggeleng. "Tidak ada.....!"


"Aku suka membaca, apapun itu, novel, karya sastra, buku-buku bisnis, semuanya pokoknya, jika ada waktu luang meskipun sebentar aku akan tetap menyempatkan untuk membaca...!"


"Benarkah????" Senyum Vitto melebar, dia tidak percaya jika Rana suka membaca buku. Rana menganggukkan kepalanya.


"Disini aku memiliki sudut baca, disana ada sedikit buku koleksiku, kau bisa membacanya, dan aku akan membeli beberpa buku untukmu lagi, dan kau pasti tidak akan boring...!"


"Berhentilah mengkhawatirkanku, aku sendiri sudah bisa menyadari keadaanku saat ini, jangan semakin membuatku merasa tidak enak.... Kau sudah banyak membantuku....!"


Ting......

__ADS_1


Bunyi alarm oven membuat Vitto dan Rana tersenyum. Vitto bergegas berdiri sementara Rana mencoba memutar kursi rodanya dan menyusul Vitto. Kue sudah matang dan senyum keduanya mengembang karena bau yang dihasilkan sangatlah menggoda. Vitto perlahan mencoba mengeluarkan kue itu dari loyang, dan dia mengambil pisau untung segera memotongnya tetapi Rana dengan cepat menghentikannya karena kue itu harus dihias lebih dulu agar lebih lezat untuk di nikmati. Vitto akhirnya tidak jadi memotong dan menyerahkan tugas mendekor kepada Rana.


Karena meja dapur terlalu tinggi dan Rana sedikit kesulitan, Vitto pun mengajak Rana ke meja makan saja, lalu membawa kue serta pelengkap lainnya untuk mendekor. Vitto duduk dan memandangi Rana yang tampak serius melapisi kue itu dengan cream. Vitto tersenyum mengagumi kecantikan Rana. Perempuan itu terlihat lebih manis ketika sedang memasang wajah serius dan sibuk dengan apa yang dilakukannya.


Ditengah lamunannya itu, Vitto terbuyarkan oleh bunyi ponselnya. Rana juga berhenti dan menatap Vitto yang tersenyum ke arahnya kemudian lelaki itu mengucap permisi untuk mengangkat telepon, sementara Rana melanjutkan lagi kegiatannya.


Vitto menuju ruang tamu dan mengangkat telepon itu dengan wajah kesal karena tahu siapa yang sedang menghubunginya. Dia sebenarnya enggan untuk mengangkatnya karena sudah menyerahkan semuanya ke managernya tetapi Vitto tahu bahwa mungkin saja mereka ingin mengajakanya bernegosisasi ulang.


"Ya...! Ada apa??? Bicaralah dengan cepat karena aku sedang sibuk....!!!" Ujar Vitto dengan suara ketus.


Vitto kemudian diam dan tampak mendengarkan dengan seksama orang yang berbicara dengannya di ujung telepon. Dan benar saja orang itu mengajak Vitto kembali bernegosiasi ulang dan mau kembali untuk melanjutkan syuting, orang itu juga meminta maaf atas apa yang terjadi.


"Kau meminta maaf untuk kesalahan sebesar itu, aku sudah bekerja secara profesional dan baik, aku berusaha untuk menghargai kalian, karena aku tahu banyak sekali penggemarku yang ingin segera menonton film ini, tetapi kalian justru seenaknya mempermainkanku dan menerima sesuatu dari adikku hanya karena alasan sepele yaitu dia ingin mengusirku secara halus dari villa keluarga kami, dan kalian mendukungnya hanya untuk keuntungan kalian....! Kalian tidak bisa menghargai waktuku, disaat aku harus beristirahat sebelum memulai kesibukanku, kalian justru merusak waktu istirahatku dan menerima penawaran konyol adikku....!" Geram Vitto dengan suara keras, bercampur marah dan kekecewaan.


Rana yang ada di ruang makan dan sibuk menghias kue pun mengangkat kepalanya dan memandangi Vitto yang berdiri di depan jendela dan sedang marah-marah. Rana tidak menyangka jika Vino sampai harus melakukan itu u tuk mengusir Vitto, padahal rumah itu adalah milik bersama, dan itu terjadi hanya karena Vino takut bahwa Vitto akan merusak renacananya.


"Untuk apa aku harus menemui kalian?? Itu hanya akan menghabiskan waktuku saja, aku tidak akan kembali lagi untuk melanjutkan film ini nikmati saja hadiah dari adikku itu, dan aku juga akan mengembalikan semua yang sudah kalian berikan padaku beserta ganti rugi ku sebesar 20% karena aku melanggar kontrak dengan kalian....! Aku lebih baik kehilangan sedikit uangku daripda aku harus melanjutkan bekerja dengan orang seperti kalian yang tidak bisa menghargai orang lain....!" Vitto kemudian menutup teleponnya dan memukul tembok sebagai ungkapan kekesalannya. Orang-orang itu sudah mempermainkannya padahal dia sudah berusaha seprofesional mungkin. Ini baru terjadi dan alasannya sangat konyol. Ingin sekali dia juga memaki Vino, tetapi dia harus menahannya lebih dulu, mungkin beberapa hari ke depan dia akan mendatangi adiknya itu mengenai hal ini, dan dia akan berpura-pura tidak tahu tentang apa yang terjadi antara Vino dan Rana.


Creamnya sudah habis dan Rana melirik ke berbagai arah untuk mencari sisa Creamnya. Ternyata itu berada di atas meja dapur dan letaknya cukup tinggi.Dia ingin meminta bantuan Vitto tetapi lelaki itu terlihat sedang tidak baik jadi Rana tidak inginengganggunya. Dia pun perlahan memutar kursi rodanya dan menuju meja dapur untuk mengambil cream itu. Sayangnya ketika sampai disana, Rana tidak bisa meraihnya, dia harus berdiri untuk mengambilnya. Rana pun memegang kuat kedua sisi kursi rodanya dan berusaha berdiri. Ternyata kakinya tidak kuat menahan beban tubuhnya, dan kersi roda itu mundur terdorong oleh tangan Rana.


"Aarrrrggghhh.....!" Rana berteriak karena dia tidak bisa menjaga kesekmbangannya dan tubuhnya jatuh ke belakang.


Rana memejamkan matanya dan bersiap untuk kesakitan tetapi tiba-tiba saja lengan kuat menahannya dan Rana tidak jadi terjatuh. Rana membuka matanya dan bertatapan dengan mata Vitto yang dalam. Spontanitas Rana mengagumi ketampanan lelaki itu, Vitto semakin luar biasa ketika dilihat lebih dekat. Vitto juga tidak melepaskan tatapannya kepada Rana. Dan mereka berdua saling memandangi satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2