
"Untunglah tadi kau datang tepat waktu dan menyelamatkanku dari Reino... " Gumam Arindah saat dia sudah bersama Vino dan mobil dalam perjalanan pulang.
"Bukan tepat waktu, tetapi aku sudah tahu jika dia ada disana dan menunggumu... Itulah kenapa aku memintamu agar kau menunggu di dalam saja sampai aku menghubungimu dan memintamu keluar... "
"Kau sudah tahu??? Jadi kau sudah sampai sejak tadi???"
Vino menoleh dan melempar senyum. "Bukan sejak tadi, tetapi aku sudah mengirim orang untuk mengikuti Reino kemanapun dia pergi... Dan orang itu memberitahuku saat aku dalam perjalanan, bilang jika Reino ada di rumah sakit tempatmu bekerja... Untuk apa dia kesana jika bukan menemui mu.. Saat aku sampai, aku memintamu keluar untuk memancing nya, dugaanku benar bahwa dia benar-benar menemui mu... "
"Kau menyuruh orang untuk mengikuti Reino???? Kenapa???" Tanya Arindah.
"Salah satu nya adalah tadi, aku bisa memantau nya dan bisa bergerak cepat ketika dia akan melakukan sesuatu... Aku juga ingin tahu strategi apa saja yang ingin dia lakukan untuk persidangan nanti, sehingga kita bisa bersiap selangkah lebih maju darinya.... Ini bukan tentang kelicikan, tetapi strategi cerdas untuk bisa menghancurkan pondasi lawan..."
"Astaga... Apa sampai harus seperti itu???? Apa tidak buang-buang uang saja... Kau bisa menggunakan uang itu untuk hal yang lebih bermanfaat seperti membantu mereka-mereka yang membutuhkan, di banding harus melakukan hal seperti ini, aku juga sudah ada bodyguard kan??? Ini berlebihan menurutku... "
Vino menggenggam jemari Arindah. "Tidak sayang.... Tidak ada yang berlebihan, aku harus semaksimal mungkin melakukan sesuatu untuk keamanan keluarga ku, dan jangan khawatir, uang untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan ada bagiannya sendiri, sejak kecil aku sudah di ajarkan Papa untuk menyisihkan apa yang kita punya untuk mereka yang membutuhkan, jadi tidak ada yang mubazir.. Ini salah satu bukti usaha yang bisa aku lakukan untukmu dan Naufal... " Ujar Vino kemudian mencium jemari Arindah.
"Kau memang tidak tanggung-tanggung setiap melakukan apapun.... Akupun tidak sanggup menghentikan atau menahanmu... " Gumam Arindah yang kemudian mengundang tawa Vino.
****
Sampai di rumah, Vino langsung mengajak Arindah untuk makan malam. Dan Papa Vino juga sudah menunggu mereka untuk makan malam bersama. Karena Arindah juga sudah mandi di rumah sakit dan berganti pakaian, sehingga ketika sampai di rumah dia tidak harus bersih-bersih lebih dulu.
"Seharusnya, Papa makan lebih dulu saja... Kalau menunggu ku pasti lama sekali... " Ucap Arindah pada Papa Vino, sekaligus menuangkan minuman untuk Papa mertua nya itu.
"Makan sendiri tentu suasana nya akan berbeda, lagipula tidak masalah menunggumu, hanya terlambat sekitar setengah sampai satu jam saja... Bagaimana pekerjaanmu??? Semua lancar???" Tanya Papa Vino.
"Alhamdulillah Pa... Semua lancar.. "
"Syukurlah jika seperti itu... "
"Malam ini kita tidur di kamar Vitto, tembok kamar kita di jebol untuk di buat pintu, dan aku takut berdebu, jadi kita sementara tidur dikamar Vitto saja.. Tidak apa-apa kan sayang???" Tanya Vino.
Arindah tersenyum, mengangguk lalu duduk. "Ya... Tidak apa-apa... Dan berapa hari kau menargetkan kamarnya jadi???" Tanya Arindah.
"Mereka akan usahakan selesai dalam tiga sampai lima hari untuk kamar Naufal, tetapi kita harus sedikit menunggu untuk pemasangan pintu nya, tetapi kalau pintu sebenarnya tidak terlalu masalah juga... Sambil menunggu kita bisa menempati kamarnya lagi.... Dan karena nanti ada proses menghias dan melukis di temboknya, itu yang membuat sedikit agak lama.., tapi tidak masalah menurutku... " Vino mengambil ponselnya di saku.
"Ya wajar kalau begitu... " Gumam Arindah.
"Ya, kita lihat saja berapa hari akan selesai... " Ucap Vino sambil mengecek ponselnya. Papa Vino mulai menyantap makan malamnya, sementara Arindah menyuapi Naufal.
Vinoengecek ponselnya. ada beberapa pesan masuk, termasuk dari kontak orang bayarannya. Di bukalah pesan itu oleh Vino.
...** Pak, saya merekam video ini sesaat setelah Anda dan istri Anda meninggalkan rumah sakit.. Saya tidak tahu ini berguna atau tidak, tetapi Reino menyebutkan nama Anda dengan senyum penuh kemenangan... **...
Begitulah pesan yang di kirim oleh anak buahnya. Penasaran, Vino pun memainkan video yang baru saja di kirim beberapa waktu yang lalu.
‡‡
Reino terlihat terperangah. Dia seperti bingung siapa orang yang menghubungi nya, dan dia tersenyum. "Kau Angel???" Tanya nya. Lalu diam sesaat seperti mendengarkan orang yang menelepon.
"Oke baiklah besok aku akan menemui mu di rutan.. " Ucap Reino sambil menyebutkan rutan yang di huni oleh orang yang menghubunginya, kemudian telepon itu di tutup.
__ADS_1
Reino tersenyum penuh kemenangan. "Habislah kau Vino.... Kau bilang kau bisa lebih dari tiga langkah dariku, tetapi aku justru bisa beberapa langkah lebih darimu.... Sekarang aku bisa memanfaatkan Angel untuk memberimu pelajaran.. Aku berhasil mempengaruhi nya, dan dia akan membantuku sekarang... Reino selalu bisa memanfaatkan keadaan yang orang lain anggap tidak mungkin... tunggu saja tanggal mainnya... " Ucap Reino sambil senyum-senyum penuh kemenangan, dia kemudian masuk ke mobilnya dan meninggalkan area parkir.
‡‡‡
Vino meletakkan ponselnya dengan wajah memerah menahan kemarahannya. Dari video itu, dia langsung mengerti bahwa sepertinya Angel yang akan di temui oleh Reino. Angel siapa lagi jika bukan Angel mantan kekasihnya, mengingat rutan yang tadi di sebut juga adalah rutan tempat dimana Angel saat ini di tahan. Tetapi Vino -arus melakukan sesuatu dan penyelidikan lebih dalam lagi, apakah itu Angel mantan kekasihnya atau Angel yang lain.
Vino menoleh ke arah istri dan juga Papa nya, dan ternyata mereka juga menatap nya. Vino tahu bahwa mereka berdua mendengar apa yang tadi di putar olehnya, terlihat dari ekpresi kedua nya yang coba bertanya apa yang tadi mereka dengar. Vino melemparkan senyum pada Papa nya juga pada Arindah.
"Itu apa Vino??? Dan siapa yang berbicara???" tanya Papa nya.
"Suara Reino...?????? Apa maksudnya??? Dan itu tadi apa????"
Vino memberikan ponselnya pada Arindah. Meminta istrinya agar melihat video itu. Arindah pun menonton nya. "Itu mantan suami Arindah Pa, aku meminta orang untuk mengikuti nya, karena aku ingin mencuri dan mengetahui informasi apa saja yang akan dia lakukan dalam menghadapi sidang nanti, tetapi justru hal mengejutkan ini muncul... " Ucap Vino.
Arindah memberikan ponsel Vino pada Papa mertua nya. "Dia menyebut nama Angel, apa kau berpikir bahwa itu adalah Angel yang itu???" Tanya Arindah, Vino pun mengangguk. "Tapi itu tidak mungkin, nama Angel banyak, dan dia juga pasti tidak mengenal Angel... Mungkin yang di maksud bukan Angel itu dan juga bukan Vino dirimu... " Arindah mencoba membantah.
"Rutan yang tadi di katakan adalah rutan yang sama tempat dimana Angel sekarang berada... Dan dia menyebut namaku beberapa saat setelah tadi kita bertemu dengannya, aku rasa mungkin saja ini kebetulan atau memang dia benar-benar ingin bertemu Angel dan merencanakan sesuatu..."
"Itu berarti butuh pembuktian lagi... Kita jangan dulu suudzon.. " Timpal Arindah.
"Ya, pasti nya kita tidak boleh suudzon sayang, aku juga bukan tipe orang yang gegabah, aku pasti akan memastikan dulu, tepatnya besok.... Dimana dia akan datang dan Angel siapa yang ingin dia temui..." Ujar Vino.
"Lalu jika seandainya itu memang Angel mantan mu??? Memang apa yang akan dia lakukan Vin???" Tanya Papa nya.
Vino menggeleng. "Aku tidak tahu Pa, tetapi aku harus tetap mencari tahu siapa yang akan dia temui besok... Aku hanya khawatir sesuatu sedang dia rencanakan, entah untuk tujuan apa, sangat nyata aku melihat kemarahannya tentang pernikahanku dan Arindah... Inilah kenapa aku harus melakukan ini, mengikuti orang-orang yang sekira nya mereka tidak bisa kita percaya begitu saja... "
"Jika memang Angel yang itu yang dia temui, bagaimana dia bisa mengenalnya???" Tanya Arindah.
****
Di tempat lain...
Vitto dan Rana sedang duduk di atas padang rerumputan di tepi sungai dengan air mengalir berwarna biru. Warna air itu, selaras dengan warna jaket jeans yang mereka berdua pakai. Kedua nya sengaja memilih teman blue jeans untuk jalan-jalan. Apalagi yang di lakukan orang berbulan madu dan liburan selain bersenang-senang menikmati berbagai pemandangan hingga hal seru dan menarik di tempat yang mereka kunjungi.
Bersenang-senang, dan melupakan sejenak kesibukan berbagai pekerjaan, dan jalan-jalan adalah hal yang paling ampuh yang Vitto lakukan. Apalagi jalan-jalan itu di tempat dengan pemandangan alam yang luar biasa cantiknya.
Vitto juga merasa senang sekali melihat kebahagiaan Rana yang senyumnya tidak pernah hilang sejak berada disini. Rana seperti menikmati setiap detiknya dengan mengagumi suasana alam yang asri dan bersih. Sejauh mata memandang hanya keindahan alam yang di lihat. Menjelajahi setiap ada tempat yang menarik. Dan masih banyak tempat yang harus mereka kunjungi dalam waktu beberapa hari ke depan. Karena tentu saat ini belum merasa puas.
__ADS_1
"Kau sepertinya terlihat tidak ingin pulang.. " Gumam Vitto sambil memeluk Rana.
"Hahaha untuk sekarang tentu tidak mau... Kita baru tiga hari.. Hehehehe"
"Kau ingin tidak aku membeli rumah disini seperti Aditya??? Sehingga kita bisa berkunjung setiap tahunnya, liburan disini dan melupakan hiruk pikuk kesibukan kita di Jakarta...."
Raja mendongak dan tersenyum menatap Vitto. "Boleh saja... Hahahahaha Tinggal disini juga tidak masalah... Hahaha"
"Tinggal disini??? Lalu bagaimana pekerjaan kita disana... Hahahaha.... "
"Mungkinkah Tahun depan kita sudah bisa memiliki anak??? Lalu jika usia nya sudah cukup, kita mengajaknya datang kesini.. "
"Bisa saja.... Dua tahun lagi kita bisa mengajaknya datang kesini... Berbicara soal anak, kau memangnya sudah siap???" Tanya Vitto.
"Tentu saja, apa yang di inginkan orang yang sudah menikah selain anak, tetapi aku tidak bisa memaksakan kehendakku untuk saat ini, karena aku harus memikirkan kesehatanku dengan baik, sampai nanti dokter mengatakan bahwa rahimku sudah siap lagi... "
"Ya... Aku juga tidak ingin egois, demi kesehatan dan keselamatanmu aku juga harus menahan diri untuk tidak terlalu membebanimu soal anak... Karena kita pasti akan memiliki nya nanti.... Kita harus sabar sedikit... " Vitto mempererat pelukannya dan mendaratkan kecupan manis di kening Rana. Mereka memilih untuk duduk dan menikmati semilir angin yang menerpa mereka.
***
Selesai makan malam, Arindah menemani Naufal bermain, sedangkan Vino sibuk dengan ponselnya. Tetapi sebenarnya Vino sedang memikirkan sesuatu. Bagaimana besok dia bisa mendapatkan informasi mengenai apa yang akan di lakukan Reino di rutan. Di tempat seperti itu, tentu tidak bisa sembarangan masuk, kecuali ada keperluan. Lalu bagaimana dia bisa mendapatkan informasi itu, bagaimana juga anak buahnya bisa masuk jika tidak memiliki keperluan.
"Ayo.... Berpikir. .... " Gumam Vino. "Ah ya mungkin Vitto bisa membantuku...." Vino langsung mencari kontak Vitto dan menghubungi kakaknya.
Dalam beberapa kali deringan, panggilan itupun di angkat oleh Vitto. "Hai Vin....!!!" Sapa Vitto.
"Hai Vit.... Kau tidak sedang sibuk kan???? Atau aku mengganggumu??? Jika iya, besok saja aku akan menghubungimu... " Ucap Vino.
"Ah tidak... Aku sedang duduk-duduk saja di tepi sungai dengan Rana... Kenapa??? Apa ada masalah di rumah???" Tanya Vitto.
"Tidak ada apa-apa... Aku hanya ingin meminta saranmu saja... Aku butuh bantuanmu.. "
. "Saran??? Saran tentang apa????"
Vino pun menceritakan semua nya kepada Vitto, perihal gugatan Reino pada Arindah hingga bagaimana dia bersikap dengan mengirim beberapa orang untuk mengawasi Reino, hingga kejadi sore tadi di rumah sakit, serta rekaman yang di kirim oleh anak buahnya mengenai rencana Reino ke rutan dan ingin bertemu Angel. Rutan yang sama dengan rutan yang di tempati oleh Angel saat ini. "Aku sangat ingin memastikan, Angel siapa yang ingin di temui si brengseek itu, tetapi aku bingung bagaimana caranya masuk kesana tanpa tujuan yang pasti... Aku butuh saranmu, mungkin kau punya usul...???" Tanya Vino pada kakaknya.
Vitto terdiam untuk beberapa saat, dia sedang berpikir sesuatu. "begini saja, coba kau hubungi orang-orang yang bekerja dengan kita, maksudku anak buah kita, tanya pada mereka apakah ada di antara mereka yang memiliki kenalan yang saat ini ada di rutan itu, ya terutama penghuni perempuan, jika ada, minta orang itu untuk bekerja sama denganmu dengan mengirimnya ke rutan menemui kenalannya yang ada disana... Dari situ mungkin kau bisa sedikit menggali informasi, ya walaupun menurutku sebenarnya cukup sulit Vin... Kalaupun semisal tidak ada, ya setidaknya cukup cari info Angel siapa yang di temui, Angel nenek lampir itu. atau Angel yang lain... Jika benar nenek lampir itu, mungkin nanti kita bisa cari cara yang lain untuk mengorek informasi apa yang sedang mereka bicarakan... " Ujar Vitto.
"Setidaknya malam ini masih ada waktu untuk mencari mereka yang punya kenalan di rutan itu... Tetapi jika tidak ada ya mau bagaimana lagi, kau hanya harus mencari tahu saja siapa Angel yang ingin dia temui, cukup itu, dan setelahnya kau bisa bersiap dengan berbagai kemungkinan... " Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Ya... Sepertinya aku harus mencoba ide mu itu, aku nanti akan menghubungi mereka... Oke, thanks untuk sarannya, lanjutkan lagi liburanmu, sorry aku mengganggu nya, salah untuk Rana... Disini sudah malam, aku juga sudah mengantuk, byeee... " Vino mengakhiri panggilannya dan dia akan mencoba menghubungi anak buahnya untuk mencari orang yang punya kenalan tahanan di rutan itu agar bisa berpura-pura menjenguknya, berbarengan dengan si Reino besok.