
Kondisi memang perlahan mulai mereda, tidak ada lagi kata-kata kasar dan umpatan yang di terima oleh Vitto ataupun Vino di media sosial mereka. Hanya saja wartawan masih mengejar mereka umberharap mendapatkan pernyataan mengenai masalah yang di hadapi oleh mereka kemarin, juga tentang fakta-fakta yang saat ini justru menyerang balik Vita. Tetapi masih sama, baik Vitto ataupun Vino, mereka akan memilih untuk tetap bungkam saja.
Vitto hari ini mulai kembali lagi untuk ke kantor, baginya sudah cukup waktu istirahatnya. Pekerjaan sudah menunggunya disana. Vitto juga mendapat kabar dari managernya bahwa beberapa brand meminta Vitto untuk menjadi brand ambasadornya. Vitto dalam waktu dekat akan menemui managernya itu dan melihat brand apa saja yang mulai masuk. Dan seperti janjinya saat kehebohan mengenai Mamanya muncul dan beberapa kontrak Vitto terpaksa di putus sepihak, Vitto tidak akan mau lagi untuk bekerja sama dengan mereka. Bukan karena sakit hati, melainkan Vitto enggan untuk bekerja sama lagi demgan orang-orang berpikiran dangkal seperti mereka yang tidak mau melihat keadaan yang sebenarnya dan hanya terpengaruh dengan berita di kuaran yang belum tentu kebenarannya. Beberapa dari brand itu akhirnya meminta maaf dan meminta Vitto agar kembali pada mereka, sayangnya Vitto menolak dan tetap dengan pendiriannya bahwa dia tidak akan mau lagi bekerja sama dengan mereka.
Vitto beranjak dari kursi kerjanya dan keluar dari ruangannya untuk menemui Vino dan Papanya. Melihat pintu terbuka dari dalam, Davica langsung berdiri dan menyapa Vitto. Sudah lebih dari seminggu dia tidak melihat laki-laki itu, setelah munculnya permasalahan keluarga mereka. Dan ketika permasalahan itu mereda, Vitto akhirnya kembali lagi. Masih sama, tetap seperti yang sebelum-sebelumnya, Vitto selalu tampal rupawan dan menawan. Perempuan yang melihatnya tentu tidak akan bisa melepaskan pandangannya, seperti yang di lakukan Davica.
"Selamat siang pak Vitto...!" Sapa Davica dengan ramah. "Apa ada yang bisa saya bantu??? Kenapa bapak tidak menghubungi saya saja jika ada sesuatu yang anda perlukan, saya akan menyiapkannya...!" Ucap Davica lagi.
Bukannya jawaban dari Vitto yang di dapatkan Davica, melainkan lelaki itu langsung pergi begitu saja meninggalkan dan mengabaikannya. Davica langsung mengernyit dan mencela sikap Vitto dalam hati. Niat baiknya justru di acuhkan begitu saja. Kesal, tentu saja kesal tetapi Davica harus bersabar, Vitto sepertinya masih marah kepadanya, tetapi itu pasti tidak akan bertahan lama, mengingat mereka akan bertemu setoap hari, dan akan ada moment Vitto meminta bantuan kepadanya nanti. Davica kembali duduk di kursi kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya.
Vitto mengetuk pintu ruangan Vino lalu dia masuk setelah mendapatkan ijin. Vitto duduk di depan meja Papanya. "Bagaimana dengan perusahaan Singapura itu??? Apa yang terjadi kemarin berdampak pada mereka, ku rasa mereka juga sudah mengetahui apa yang terjadi disini...!"
"Entahlah Vit, masih belum ada kabar apapun dari mereka, semoga saja itu tidak berpengaruh....!" Jawab Vino.
"Masih ada 2 minggu lagi, aku berharap usaha kita tidak sia-sia...!"
"Berdoa saja, semuanya pasti akan baik-baik saja, kondisi perusahaan kita juga perlahan semakin kondusif, dan saham mulai naik lagi...!" Sahut Papanya.
"I wish...!" Gumam Vitto.
Mereka bertiga kemudian membahas mengenai pekerjaan dan beberapa proyek yang sempat tertunda kemarin. Vitto terlihat serius ketika mendengarkan penjelasan dari Vino. Vitto sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan barunya dan juga mulai mengerti alurnya dari perusahaan. Meskipun dia kemarin tidak pergi ke kantor untuk beberapa hari, tetapi di rumah, Vitto tetap menjalankan tugasnya dengan baik, dengan tetap bekerja dari rumah.
Rana setiap hari selalu menemaninya bekerja, jika dia sedang serius maka Rana tidak akan mengganggunya atau bahkan akan memilih tidur di sofa. Jika pekerjaan tidak terlalu berat, Vitto akan memilih sambil mengobrol dengan Rana. Hubungan mereka semakin dekat setiap harinya dan Vitto selalu berusaha untuk bisa lebih dekat lagi dengan Rana agar perempuan itu juga segera bisa mengungkapkan perasaannya kepada Vitto.
"Vit...! Apa si brengs*k itu masih ada disan????" Tanya Vino tiba-tiba. "Apa anak buahmu masih mengawasi rumah yang di tempati oleh Mama???" Tanyanya lagi.
"Sepertinya masih, tetapi tetap tidak ada perubahan, dia tidak keluar sama sekali, tetapi tenang saja, anak buahku selalu stand by 24 jam, dan bergantian berjaga...! Mereka menempati rumah yang berada tepat di depan rumah yang ditinggali Mama..!" Jawab Vitto.
"Baguslah...!"
Ditengah obrolan itu, ponsel Vitto berdering. Vitto merogoh sakunya dan menemukan Rana menghubunginya. Vitto tersenyum ke arah Papanya dan Vino. "Aku akan kembal8 ke ruanganku!" Ucap Vitto.
"Kenapa tidak mengangkatnya disini saja???" Tanya Vino.
"Ini telepon dari managerku, sepertinya akan membahas mengenai proyek film baruku....! Permisi...!" Vitto memundurkan kursi, berdiri dan keluar dari ruangan Vino.
Vitto mengangkat panggilan Rana tepat setelah keluar dari ruangan Vino. Kemudian berjalan menuju ruangannya sendiri yang berada tidak jauh dari situ. "Ya.... Apa kau merindukanku???" Tanya Vitto sambil terkekeh.
"Kau ini... Tadi aku lupa memberitahumu jika hari ini Jeany sudah pulang dan sekarang sampai di rumahnya, apakah aku boleh pergi kesana??? Aku akan naik taksi bersama Tania dan Mario juga akan mengikuti kami di belakang? Boleh tidak aku pergi???"
__ADS_1
Vitto tersenyum sambil terus berjalan menuju ruangannya. "Iya, pergi saja, jangan lupa pakai yang seperti biasanya, nanti aku akan menjemputmu disana, aku masih ada pekerjaan sekarang, kau berhati-hati ya??? Aku mencintaimu...!" Ucap Vitto sambil tersenyum kemudian membuka pintu ruang kerjanya dan masuk begitu saja, tanpa memperhatikan Davica yang berdiri memberi hormat kepadanya.
Sementara itu Vino kaki ini membahas mengenai kelanjutan persiapan pernikahannya dengan Angel. Dia mengatakan pada Papanya bahwa itu akan dilanjutkan lagi setelah sempat tertunda setelah masalah yang kemarin. Vino juga akan mempersiapkan lamarannya pada Angel. Karena pernikahan tidak bisa di lakukan sebelum lamaran di lakukan. Papa Vini hanya mengangguk mendengarkan saja, dia diam-diam berharap agar rencana kerjasama nya dengan perusahaan Singapura itu segera di acc agar dia dan Vitto bisa segera mengeksekusi semua kebohongan Angel selama ini.
Rasanya sudah sangat lelah melihat seluruh permainan mereka, dan segala permasalahan yang ada hanya untung mendapatkan uang saja tanpa memikirkan persaan orang-orang seperti Vino. Konspirasi besar di lakukan hanya untuk hal itu. Sebenarnya ada rasa kasihan yang dirasakan oleh Papa Vino ketika dia harus merencanakan ini dengan Vitto, dimaana rencana mereka sangatlah sensitif dan jika Vino mengetahuinya pastilah akan sangat sedih, kecewa dan sakit sekali, tetapi hanya itulah hal yang bisa membuat Vino membuka matanya dan menyadari batapa tidak bermoralnya Angel sebenarnya.
****
"Perutmu sedikit membuncit...!" Gumam Jeany menggoda Rana.
"Kau ini malah mengejekku...."
Rana duduk di sebelah Jeany yang terbaring. Dia sudah sampai sekitar satu jam yang lalu. Jeany sudah terlihat lebih baik dan sudah bisa jalan meskipun pelan-pelan untuk terapi dan masih harus menggunakan kursi roda untuk seluruh aktifitas nya. Tetapi Jeany mengatakan bahwa semanya baik-baik saja dan butuh proses untuk bisa kembali seperti semula.
Jeany tadi juga menanyakan perihal apa yang akhir-akhir ini sedang di bicarakan oleh orang-orang mengenai Vitto dan Keluarganya. Jeany tahu bahwa Rana punya kedekatan yang baik dengan Vitto dan sedikit banyak pasti Rana tahu. Rana pun menjelaskan jika semuanya sudah membaik dan Vitto juga sudah memulai aktifitasnya lagi sekarang.
Mendengar itu Jeany merasa senang karena tahu bahwa Vitto adalah orang yang baik dan tidak mungkin melakukan hal itu, tetapi jika mengenai Vino, Jeany tidak bisa menjamin karena Vino pernah melakukan hal yang sama pada Rana. Bukan tidak mungkin jika Vino bisa saja melakukan itu pada Ibunya. Tetapi ternyata Rana menjelaskan jika Vino juga tidak melakukan hal itu pada Mamanya karena Vino bagaimanapun tetap menghargai Mamanya sebagai orang yang mengandungnya. Selain itu Vino juga terikat dengan janji kepada Papanya agar tidak berbuat sesuatu yang menjurus ke arah durhaka kepada Mamanya.
"Rana... Apa Vitto masih membantumu??? Kau masih tinggal di apartemennya??" Tanya Jeany.
"Tidak....! Aku tidak lagi tinggal di apartemen itu Jean, jadi sebenarnya sebelum kejadian kehebohan yang terjadi kemarin, Mama Vitto diam-diam membuntuti Vitto saat pulang, dan dia mengikutinya sampai apartemen, Vitto mengetahuinya lalu mengajakku lekas meninggalkan apartemen itu, takut jika Mamanya melakukan sesuatu dan mengetahui tentang aku, kami langsung pergi, dan kejadian yang heboh itu terjadi setelah kami pergi, Vitto datang kesana untuk mengemasi seluruh barang yang ada disana...!"
"Vitto menyewa rumah untuk aku tinggali sementara sambil menunggu rumah yang sengaja Vitto bangun untukku.. Dan Vitto juga terkadang menginap disana, karena suasananya mmang cukup nyaman dan tidak terlalu ramai...!"
Jeany melempar senyumnya. "Menginap disana??? Apa kalian???" Jeany mencoba menelisik sambil mengedipkan matanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan??? Apa kau pikir kami melakukan hal-hal di luar batas??? Sembarangan...! Kami punya kamar sendiri-sendiri...!" Ujar Rana dengan wajah jengkelnya yang terlihat lucu membuat Jeany yang melihatnya menjadi tertawa terbahak-bahak.
"Ya siapa tahu Na...!"
"Sembarangan...!"
"Well... Sekarang katakan padaku hubungan seperti apa yang sedang kalian jalani??? Aku pikir bukan lagi sekedar sahabat atau kakak Adik... Itu terlihat dari wajahmu, kau seperti menyembunyikan sesuatu dariku...! Katakan...!"
Rana tersenyum, kemudian menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, karena tidak pernah ada hal yang Rana sembunyikan dari Jeany. Rana mengatakan jika dia tidak tahu hubungan apa yang sebenarnya dia jalani dengan Vitto saaat ini, jika di bilang pacaran juga tidak karena dia belum mengatakan bahwa dia mencintai Vitto dan hanya Vitto saja yang sering melakukan itu padanya. Tetapi jika di katakan tidak pacaran juga ya tidak, karena apa yang mereka lakukan selama ini sudah seperti orang pacaran. Rana mengakui semua kebaikan yang sudah di lakukan Vitto padanya selama ini, ketulusan Vitto juga dia bisa melihatnya tetapi hatinya selalu memiliki keraguan dan ketakutan saat ingatannya tentang Vino muncul. Dan itu langsung merusak segalanya.
Apa yang sudah di lakukan Vino begitu membekas dan menyakiti nya, hingga membuat Rana selalu merasa takut hal itu akan terjadi lagi padanya suatu hari nanti. Trauma itu belum sepenuhnya hilang dari ingatan Rana meskipun perlahan dia sudah bisa sedikit-sedikit melupakannya. Saat ini dia hanya memberi kesempatan pada Vitto untuk melihat keseriusan lelaki itu padanya juga ketulusannya walaupun Rana tidak bisa memungkiri bahwa seluruh perhatian dan kebaikan Vitto itu adalah kebenaran dan benar-benar tulus.
"Na...! Semua butuh proses dan waktu, aku mengerti sekali apa yang kau rasakan, tetapi ingatlah satu hal, jangan sampai kau terus terkungkung dengan ketakutanmu itu, jangan sampai juga kau membiarkan hal ini berlarut-larut, orang juga butuh kepastian, apalagi Vitto, dia laki-laki tampan, seorang aktor kau pasti tahu bahwa dia mungkin di kelilingi oleh para perempuan dan dari mereka sedang mengejar cintanya juga, jika kau tidak lekas membuka hatimu, bisa saja Vitto akan menyerah dan lebih memilih orang lain..." Jeany memegang jemari Rana kemudian melanjutkan lagi ucapannya.
__ADS_1
"Aku sepemikiran denganmu jika Vitto memang tulus sekali dan sangat baik, berbeda dengan adiknya, jadi jangan terlalu lama membuatnya menunggu, bisa-bisa dia menyerah di tengah jalan dan meninggalkanmu...! Sangat sulit mendapatkan dan menemukan orang yang tulus mencintai kita,ebih baik kita memilih orang yang mencintai kita daripada memilih orang yang kita cinta... Pikirkan ini dengan baik..!" Ujar Jeany.
"Aku tahu Jean....!!" Gumam Rana.
"Jika kau tahu itu, kenapa kau hanya memberi Vitto kesempatan dan menyuruhnya untuk membuktikan ketulusannya??? Tetapi dirimu sendiri tidak mau mencoba membuka diri untuknya, itu akan percuma saja Rana.... Kau harus mengerti hal itu juga...!" Ucap Jeany.
"Cobalah untuk membuka diri, karena jika kau melakukan itu, aku sangat yakin segala jngatan tentang sikap buruk Vino yang masih tersimpan di ingatanmu itu akan lerlahan hilang di gantikan oleh rasa sayang yang Vitto berikan, juga kau akan fokus untuk menerima Vitto...! Lakukanlah itu...!" Ujar Jeany lagi.
Rana terdiam dan memikirkan setiap perkataan dari Jeany. Dan emmbenarkan semuanya. Jika dia hanya memerintah Vitto untuk menunjukkan keseriusannya tetapi Rana sendiri justru tidak melakukan apapun dan hanya terkungkung pada ketakutannya itu justru akan memperburuk keadaan dan dia juga tidak akan bisa move on. Ingatannya pasti akan terus berkutat pada kenangan buruk yang di tinggalkan oleh Vino. Itu tentu tidak boelh di biarkan berlarut-larut. Dia harus mulai belajar untuk menerima Vitto sepenuhnya.
Lamunan Rana terbuyarkan ketika ponselnya berdering. Dia melihatnya dan itu panggilan dari Vitto. Rana mengangkatnya dan senyumnya melebar mengatakan akan menunggunya. Kemudian panggilan itu di tutuup. Rana memberitahu Jeany jika Vitto sedang dalam perjalanan kesini.
"Na.... Kau melamun tadi apa yang kau pikirkan???" Tanya Jeany.
Rana menggeleng. "Aku hanya memikirkan setiap ucapanmu saja Jean...! Kau benar, sepertinya aku lah yang harusnya belajar untuk menerima Vitto dan melupakan segala kepedihan masa laluku.. Aku akan melakukan itu...!"
Senyum lebar Jeany menghiasi wajahnya. "Aku Berharap kau bisa benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang selama ini kau impikan dari Vitto...!" Ucap Jeany kemudian memeluk Rana. Tidak ada hal yang lebih membahagiaakan selain melihat sahabat yang di sayangi bahagia.
Sementara itu Vitto sedang dalam perjalanan untuk menjemput Rana yang ada di rumah Jeany sekaligus menjenguk Jeany juga. Vitto pulang sedikit lebih awal dari kantor dan sudah mendapat ijin Vino. Vitto tadi juga sudah menyuruh supirnya untuk membawa mobilnya yang satunya lagi dan mengantar mobil itu ke kantor dan mearkirnya di area parkir basement karena dia akan keluar kantor dengan mobil itu. Lalu mobilnya yabv dia gunakan pagi tadi akan di tukar dengan mobilnya yang satunya lagi, itu dia lakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkannya seperti di ikuti oleh orang.
"Iya Vin.... Ada apa????" Tanya Vitto di ujung telepon. Vino menghubunginya, entah adiknya itu menyuruhnya kembali ke kantor atau bagaimana karena Vitto baru saja keluar dari kantor sekitar 15 menit ang lalau dan sekarang Vino menghubunginya. Menyebalkan sekali.
"Kau sudah di jalan ya???" Tanya Vino.
"Ya...! Kenapa memangnya? Kau menyuruhku kembali lagi???"
"Ah tidak Vit, aku ingin memberitahumu kabar bagus, tadi pihak dari perusahaan Singapura itu menghubungi kita, mereka bilang mereka akan datang kesini untuk melihat kantor kita sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin kerjasama kita...!" Ujar Vino bersemangat.
"Apa...??? Kau serius???"
"Ya, mereka hanya ingin melihat perusahaan kita saja dan belum memutuskannya tetapi setelah melihatnya dan merasa cocok aku yakin mereka akan menerima kerja sama ini...!"
Senyum Vitto melebar. "Bagus... Dan kita jangan melewatkan kesempatan ini... Kita sambut mereka dengan baik dan kita beri mereka akomodasi yang terbaik juga... Biar aku yang mengurus itu semua.. Bagaimana???" Tanya Vitto.
"Ya... Aku serahkan hal itu padamu, cari hotel yang bagus, kau kan berteman dengan Ariel Harsya, dia pemilik hotel-hotel mewah disini, cari satu yang terbaik miliknya...!"
"Itu mudah sekali, kapan mereka akan datang???" Tanya Vitto.
"Pertengahan bulan depan, kita masih ada waktu untuk menyiapkan penyambutan..!" Vino kemudian menutup panggilannya.
__ADS_1
Sementara itu Vitto tidak kalah bahagianya karena inilah waktu yang sudah di tunggunya. Dan tentu saja persiapan penjebakan Angel dan pria tua itu akan dia mulai juga nantinya. Vitto yakin kali ini Angel tidak akan bisa lepas dari jebakannya setelah Jason sebelumnya sudah masuk dalam perangkapnya. "Angel... Kali ini ku pastikan seluruh permainanmu akan berakhir... Kau akan di campakkan oleh Vino....!" Gumam Vitto.