
Aditya memberikan Naufal pada Cahya. "Bawa Naufal ke kamar Ibu saja bersama Kyra dan Kyros, kau juga beristirahat saja disana, aku akan menyusul Vino.. Marco dan Sony akan berjaga di depan, jangan keluar.." Ucap Aditya.
"Kau ajak Ariel, mungkin dengan bantuannya Vino dan dokter Arindah bisa segera di bebaskan, aku sangat yakin mereka tidak bersalah, kasihan Arindah, dia ketakutan sekali... Dan tadi Vino juga menyebut Jeany dan Edward, kau juga harus mengajak mereka untuk berjaga-jaga.."
"Baiklah.. Aku akan panggil mereka... Apa perlu juga ya aku menghubungi Vitto??? Tetapi aku merasa tidak enak sih.." Aditya mengusap kepala nya sambil tersenyum.
"Jika kau dan yang lain bisa mengatasi nya sepertinya tidak perlu memberitahu Vitto, dia juga pasti lelah seharian ini, biarkan dia menikmati masa pengantinnya..!"
Marco dan Sony, bodyguard Aditya keluar dari lift dan lekas menghampiri tuannya. Aditya pun memerintahkan mereka untuk berjaga di depan kamar mertua nya dan jangan mengijinkan siapapun masuk atau membuat keributan. Aditya juga menunjuk ke arah Reino yang masih berdiri di depannya. "Jangan sampai orang ini membuat keributan lagi, gara-gara dia, Vino dan Arindah tadi di bawa oleh polisi..!" Ucap Aditya.
"Iya Pak, kami tadi berpapasan dengan polisi dan ada adiknya pak Vitto bersama mereka..!" Marco menimpali.
"Ya... Aku tahu mereka di jebak, aku akan mengurusnya jadi berjaga lah di sekitar sini, Cahya juga sedang membawa anaknya dokter Arindah, jaga mereka baik-baik..!"
"Siap pak...!" Jawab Marco dan Sony bersamaan.
"Aku bawa Naufal ke kamar Ibu, kau hati-hati..." Cahya kemudian membawa Naufal ke kamar Ibunya di ikuti oleh Marco dan Sony di belakang.
Aditya menatap kepergian istrinya sampai istrinya masuk ke kamar mertua nya dan kedua bodyguard nya berjaga di depan kamar itu. Setelah Cahya masuk, Aditya beralih menatap Reino yang masih berdiri di depannya sambil tersenyum mengejek. "Kenapa masih disini??? Apa kau ingin di bogem oleh kedua bodyguard ku??? Sekali lagi ingatkan agar kau jangan macam-macam dan mengganggu Naufal, persetan kalau kau ayahnya, aku hanya menuruti janjiku pada Dokter Arindah agar memastikan Naufal aman darimu, pergilah... Dan buat saja laporanmu tentang Vino dan dokter Arindah, akan ku pastikan kedua temanku itu bebas secepatnya, karena aku tahu mereka tidak bersalah...!"
Reino akhirnya pergi meninggalkan Aditya dengan perasaan kesal dan sangat marah. Dia sudah gagal membawa Naufal, dan menyadari bahwa sepertinya Aditya bukanlah orang sembarangan karena lelaki itu bahkan memiliki bodyguard. Reino tidak mau mengambil resiko, jadi lebih baik dia pergi saja. Aditya berjalan menuju kamar Ariel yang kebetulan ada di ujung, tepat di depan kamarnya dan Cahya. Aditya mengetuk pintu kamar sahabatnya itu. "Iel.... Iel...!" Panggil Aditya pada Ariel. Dia memang punya panggilan khusus untuk sahabatnya itu yaitu iel. "Iel... Buka pintu nya.. Ini aku Adit...!"
Mendengar ketukan dan suara seseorang yang ada di luar. Ariel beranjak dari tempat tidurnya. Dia baru saja menidurkan Gienka, karena putrinya itu ingin tidur bersama nya. Ariel yang masih memakai kemeja dan belum mandi pun memilih untuk membuka pintu karena Aditya memanggilnya. "Eh Dit.. Ada apa??? Malam-malam kesini, kau tidak bersama Cahya???" Tanya Ariel.
"Sorry Iel... Aku membangunkanmu, sebenarnya baru saja terjadi masalah..!"
Ariel mengernyit. "Masalah??? Masalah apa??? Kau bertengkar dengan Cahya dan dia mengusirmu dari kamar???" Tanya Ariel sambil menahan tawa.
"Bukan brengseek...! Jangan bercanda, aku sedang serius.. "
Ariel tertawa melihat ekspresi kesal Aditya. "Hahahaha, lalu ada apa??? Bukannya beristirahat dan menikmati honeymoon bersama istrimu di hotelku, kau malah kesini.. Katakan ada masalah apa??"
"Baru saja Vino dan dokter Arindah dibawa oleh polisi, mereka mengira jika Vino dan Arindah melakukan hubungaan tanpa ada ikatan pernikahan..!"
Ariel terperanjat. "Apa...???"
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi kurasa ini salah paham saja, kita harus menolong Vino dan dokter Arindah...!"
"Bagaimana bisa itu terjadi???" Tanya Ariel.
"Aku tidak tahu Iel... Saat aku dan Cahya keluar dari kamar ibu, aku melihat Vino dan dokter Arindah di bawa oleh beberapa polisi, sekarang Cahya sedang menjaga anak dokter Arindah... Lebih baik kau ikut aku untuk membantu mereka, kurasa ini salah faham saja, karena tadi ada laki-laki yang katanya mantan suami dokter Arindah, dan Vino sempat cekcok dengannya, Edward juga melihatnya, jadi aku juga akan menghubungi Edward untuk bisa mengetahui masalah lebih jelasnya seperti apa..!"
"Gienka sedang tidur di kamarku, kau hubungi saja Edward, aku akan memanggil Elea agar dia membawa Gienka bersama nya..!" Ucap Ariel.
Aditya mengangguk, dan Ariel pun lekas berjalan menuju kamar Elea yang ternyata ada di ujung sebelah kiri. Aditya kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Edward untuk meminta lelaki itu agar keluar karena ada hal urgent.
Ariel mengetuk pintu kamar Elea dan Danist. Tak lama pintu di buka dari dalam. Ternyata Danist lah yang membuka pintu nya. "Ariel..??? Ada apa???" Tanya Danist dengan ekspresi datar.
"Aku harus pergi, ada urusan mendesak, jadi bisakah kau atau Elea mengambil Gienka di kamarku??? Dia sudah tidur.. Aku ada urusan penting dengan Aditya..!" Ucap Ariel.
Danist menoleh ke arah kanan dimana Aditya yang sedang berdiri dan sibuk menelepon di depan kamar Ariel. "Baiklah... Aku akan mengambil Gienka..!"
"Oke... Kau bisa mengambil Gienka sekarang...!"
__ADS_1
Dalam deringan ketiga panggilan Aditya di jawab oleh Edward, tak lama lelaki itu keluar dari kamarnya.
Edward membuka pintu dan melirik ke lorong hotel, Aditya melambaikan tangannya. Edward pun menghampiri Aditya. "Ada apa anda memanggil saya???" Tanya Edward.
"Aku minta maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu..!"
"Kebetulan saya belum tidur dan baru selesai mandi??? Kira-kira ada apa??"
"Apa tadi telah terjadi keributan disini antara Vino dan seorang laki-laki??" Tanya Aditya.
"Oh itu, benar, tadi Vino sempat ribut dengan seorang laki-laki, anda tahu darimana????"
"Sebenarnya terjadi masalah, lebih baik kau ikut denganku, jika bisa ajak juga Jeany, kita mengobrol di mobil..!"
Walaupun masih terlihat bingung, Edward pun memanggil Jeany di kamar perempuan itu, sementara Aditya dan Ariel akan menunggu mereka di lobi.
***
Sementara itu di tempat lain, Vitto dan Rana masuk ke villa dan bersiap beristirahat, setelah memastikan seluruh tamu nya kembali ke hotel. Mereka berdua lelah sekali dengan acara hari ini yang begitu padat. Bahkan Rana merasa kaki nya pegal karena seharian harus memakai heels yang cukup tinggi. Rana duduk di sofa yang ada di kamar pengantinnya dan Vitto, lalu melepaskan heels nya dan duduk bersandar pada punggung sofa. Menghela napasnya panjang.
"Lelah ya???" Tanya Vitto pada istrinya. Vitto melepaskan jas nya dan ikut duduk bersama Ra di sofa. Vitto juga melepaskan sepatu yang di pakainya.
"Bukan lelah tapi kaki ku pegal sekali rasa nya..." Jawab Rana.
"Kita rendam saja kaki kita di air hangat untuk mengurangi rasa pegal nya, aku rasa aku juga tidak akan bisa tidur dengan kaki yang sakit seperti ini...!"
"Kenapa kaki saja??? Lebih baik kita berendam saja... Biar sekalian pegal di seluruh badan hilang..!"
Vitto tersenyum dan mendekat ke Rana lalu memeluk perempuan yang sudah menjadi istrinya itu. Vitto mencium pipi Rana dengan gemas.
Vitto melepaskan pelukannya dan memandang Rana. "Apa??? Besok??? Bukan malam pertama dong...!" Protes Vitto, lalu tertawa menyadari jika Rana mengerjai nya, dan Rana juga ikut tertawa. Mereka tertawa sambil berpelukan. Kali ini sudah tidak ada lagi pembatas dan mereka bisa melakukan apapun. Rana tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya selain bersyukur dan bersyukur memiliki Vitto. Pertemuan tak terduga akhirnya bisa melabuhkan cinta mereka. Dan apa yang Rana cari selama ini ada di diri Vitto.
"Ponselmu berdering...!" Ucap Rana pada Vitto yang sedang memeluknya.
"Abaikan saja...! Mengganggu saja...! Tidak tahu apa jika ini malam pengantin kita...!"
"Takutnya penting..! Angkat dan lihat siapa yang menelepn..!"
"Aissshhhh.... " Gerutu Vitto kemudian berdiri dan mengambil ponselnya yang ada di meja. "Mario???" Vitto mengernyit mendapati bodyguard nya menghubunginya.
"Mario???" Tanya Rana.
"Iya.. Untuk apa dia menghubungiku??? Aku sudah menyuruhnya untuk beristirahat di hotel, kenapa dia malah menghubungi kita???" Gerutu Vitto lagi.
"Angkat... Mungkin penting..!"
Vitto mendengus kesal kepada body guard nya itu, dan akan memarahi nya nanti karena sudah mengganggu malam pertama nya dengan Rana. "Ada apa??? Kenapa kau menghubungiku??? Aku sudah menyuruhmu beristirahat di hotel..!"
"Maaf Pak Vitto sekali lagi maaf.. Bukan bermaksud untuk mengganggu, tetapi saya ingin melaporkan sesuatu kepada Anda tentang Pak Vino.. " Ucap Mario.
"Vino??? Kenapa lagi dengannya??? Apa dia menuju kesini???" Tanya Vitto.
"Bukan.. Tetapi tadi saya dan Tania yang sedang mengobrol di area parkir hotel, sempat melihat Pak Vino dan Bu Arindah masuk ke mobil polisi..."
__ADS_1
Vitto terperanjat. "Apa....????!!! Vino dan Arindah masuk ke mobil polisi???? Untuk apa???"
"Kami awalnya tidak tahu ada masalah apa, tetapi saya mencoba bertanya ke resepsionist dan mereka bilang ada penggrebekan setelah ada yang melaporkan jika ada seorang perempuan yang sudah menikah berada satu kamar dengan laki-laki lain, dan itu adalah Pak Vino dan bu Arindah..!"
"Apa....?????!!!! Bagaimana bisa???"
"Tidak tahu Pak, saya juga melihat bu Arindah menangis dan terlihat sangat ketakutan...!"
"Astaga.... Sebenarnya apa yang terjadi....??? Kau bawa mobil kesini, jemput aku sekarang juga dan kita ke kantor polisi..!" Titah Vitto dan Mario siap untuk menjemputnya di villa.
Rana menghampiri Vitto. "Kenapa??? Ada apa dengan Vino dan Arindah???" Tanya Rana panik.
"Mereka di bawa polisi, karena ada laporan jika mereka berada di satu kamar, aku tidak tahu pastinya, aku akan ke kantor polisi sekarang.."
"Aku ikut...!" Pintar Rana.
"Kau disini saja, Tania akan datang, kau istirahat saja, kau sangat lelah sekali kan?? Aku yang akan mengurus masalah ini..."
Rana mengangguk dan terpaksa menuruti permintaan suaminya untuk di villa saja. Dan Rana sangat khawatir sekali, dan tiba-tiba saja dia terpikirkan mengenai Naufal. "Naufal bagaimana??" Tanya Rana pada Vitto.
"Tidak tahu sayang, tetapi aku akan mencoba mencari tahu nanti, tenanglah..."
Vitto dan Rana bergegas keluar kamar dan menunggu Mario dan Tania sampai.
Beberapa menit kemudian, Mario dan Tania akhirnya sampai. Vitto dan Rana pun membuka pintu villa. Vitto langsung mengajak Mario untuk bergegas pergi ke kantor polisi, serta meminta Tania menjaga Rana disini. Rana langsung menanyakan perihal Naufal pada kedua bodyguard nya dan mereka mengatakan jika Naufal tidak bersama Arindah.
"Astaga... Lalu Naufal bersama siapa???" Rana panik.
"Hubungi Jeany, dan suruh dia ke kamar Arindah, mungkin Naufal di tinggal disana, minta Jeany menjaga Naufal...!" Ucap Vitto kemudian lelaki itu pergi bersama Mario.
Rana pun mengajak Tania masuk, dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Jeany.
***
Di mobil, Aditya pun memberitahu Edward dan Jeany jika Vino baru saja di bawa oleh polisi bersama dengan dokter Arindah. Polisi sempat mengatakan jika Vino berada di kamar bersama Arindah dan itu di laporkan oleh pria bernama Reino yang mengaku suami Arindah. Mendengar itu Jeany dan Edward tentu saja sangat terkejut. Edward kemudian menjelaskan jika tadi ada keributan dan bagaimana awalnya dia sendiri tidak tahu, hanya saja saat dia dan Jenay keluar dari lift, Arindah berlari ke kamarnya menggendong anaknya yang menangis dengan sangat keras. Dan Vino juga sempat menyuruhnya memanggil keamanan karena lelaki bernama Reino itu sudah bersikap buruk pada Arindah, akan tetapi tidak jadi karena lelaki itu memilih pergi. Dan setelah itu Vino berpamitan untuk pergi melihat kondisi anak Arindah, apakah masih menangis atau tidak. "Vino pergi meninggalkan kami dan kami melihatnya masuk ke kamar Arindah... "Tangisan Naufal begitu keras, dan aku juga merasa kasihan, entah apa yang sudah di lakukan lelaki itu, hingga menurutku arti wajar jika Vino marah sekali...!" Ujar Edward.
"Menurutmu berapa lama kejadian itu terjadi sampai saat ini???" Tanya Ariel.
"Kurang dari setengah jam yang lalu sepertinya... Vino masuk ke kamar Arindah, dan aku serta Jeany juga masuk ke kamar masing-masing.."
"Kau yakin Dit, lelaki itu bukan suami Arindah??? Maksudku jika lelaki itu benar suaminya, wajar saja dia melaporkannya pada polisi, dan apa yang bisa kita lakukan jika itu adalah kesalahan Arindah dan Vino..!" Tanya Ariel.
"Dari cerita Vitto, Arindah tidak memiliki suami, karena sudah bercerai... Aku rasa si Reino sengaja melakukan ini untuk menjebak Arindah atau apalah.. Lebih detailnya aku tidak tahu, Arindah adalah teman Vitto...! Aku rasa Vitto yang lebih banyak tahu..!" Jawab Aditya.
"Apa kau memberitahu Vitto mengenai masalah ini???" Tanya Ariel lagi.
Aditya menggeleng. "Aku sungkan dengan Vitto, ini malam pengantinnya, kupikir tidak baik juga mengganggu nya...!"
"Kau benar..!" Ariel menimpali.
"Apa aku harus menghubungi om Andri???" Tanya Jeany.
"Jangan dulu Jean, kita coba menyelesaikan ini dulu.. Oh iya Iel??? Sebenarnya feeling ku terhadap Reino ini sangat buruk, itulah kenapa aku yakin bahwa Arindah dan Vino tidak bersalah dan hanya berada di waktu yang salah saja... Ehhh menurutku kita bisa memanfaatkan CCTV di Koridor hotel mulai, sehingga kita bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya, mungkin kau bisa menghubungi pihak keamanan disana dan meminta mereka mengirim rekaman CCTV disana..?" Usul Aditya pada Ariel.
__ADS_1
"Ah iya, ada CCTV, setuju sekali kita lihat rekamannya..!" Edward menimpali.
Ariel mengangguk. "Oke.. Aku akan menghubungi staf ku yang ada di hotel untuk meminta rekaman CCTV nya...!"