
Vino sedang bermain dengan Naufal setelah mereka makan malam. Sedangkan Arindah sedang sibuk membereskan pakaian dan barang-barang miliknya yang tadi dia ambil di rumahnya. Sepulang dari kantor Vino, Arindah di antar ke rumahnya untuk mengambil beberapa barangnya dan langsung pulang ke rumah Vino, dan baru saja selesai makan malam.
Vino memandang ke arah ponselnya yang berbunyi di atas meja. Dia kemudian meminta Naufal agar mengambilkan ponselnya. Bocah itu berdiri dan berlari mengambilnya lalu memberikan pada Vino. Vino mengucapkan Terima kasih dan mengusap kepala Naufal.
Vino melihat jika kakaknya yang menghubungi nya
Dia meminta Naufal agar bermain sendiri karena dia akan berbicara di telepon. Vino berdiri dan berjalan menuju balkon kamarnya, lalu menjawab panggilan itu. "Ya Vit...!". Sapa nya pada Vitto.
" Kau dimana????" Tanya Vitto.
"Aku ada di rumah.. Kau sudah menerima foto-foto nya??? " Tanya Vino yang langsung mengarah ke kejadian hari ini.
"Ya.. Sorry aku baru membuka nya setelah mendapatkan jaringan internet di rumah Aditya.... Itu kejadian kapan Mama bertemu dengan Clara??? Dan bagaimana cerita nya... "
"Aku sudah mengatakan padamu jika tadi pagi Clara datang ke kantorku, dan pakaian yang di gunakan Clara juga sama dengan yang ada di foto itu saat bertemu Mama, aku tidak tahu mereka bertemu secara tidak sengaja, atau memang sudah ada janji untuk bertemu... Dan Clara terlihat akrab dengan Mama... "
"Siaaaalll.....!!!" Umpat Vitto.
"Aku khawatir sesuatu sedang mereka rencanakan... Palagi jika ini berhubungan dengan Mama, dan juga seperti nya Clara tidak peduli jika kau sudah menikah... "
__ADS_1
Apa kau sudah memberitahu Rana tentang Clara??" Tanya Vino.
"Belum..!" Jawab Vitto singkat.
"Belum??? Kenapa belum???" Tanya Vino.
"Vin, aku tidak ingin merusak honeymoon ku dengan Rana jika aku membahas hal ini... Aku baru berniat membahasnya nanti setelah kami kembali... Tidak salah kan??? Aku sudah memikirkan berbagai hal serta konsekuensi nya jika aku menceritakan hal itu pada Rana....! Kau pasti tahu hubunganku dengan Clara itu seperti apa, jika hanya sekedar mantan, mungkin Rana bisa menerima nya, tetapi yang ini jelas berbeda, Clara aku anggap seperti peIacurku, aku selalu membayarnya untuk ssetiap selesai berhubungan, dan sekarang Clara mencariku, Rana pasti berpikir bahwa mungkin saja aku bisa memanfaatkan Clara lagi nanti... " Vitto menarik napasnya dan menghela nya panjang. "Itulah yang aku pikirkan sejak tadi, menimbang berbahagia hal yang bisa saja terjadi... Dan rusaklah bulan madu ku jika Rana marah.. "
Vino terdiam sesaat. "Ya aku mengerti.... Memang membahas hal ini disaat kalian sedang berbulan madu tidaklah baik, tetapi sekembali nya kau dari sana, kau harus menceritakan semua nya pada Rana, dan tentu nya bersiaplah dengan konsekuensi nya, tetapi aku yakin jikalau Rana marah, itu tidak akan berlangsung lama... Hanya saja kau harus langsung mengatakannya, jangan sampai Clara beeulah... Apalagi Mama.. Kita tidak bisa mempercayai nya sama sekali...."
"Ya.... Dan aku akan coba cari cara, agar kita bisa mendapatkan informasi tentang Clara dan juga Mama, maksudku tentang pembicaraan mereka atau aktifitas mereka saat bertemu... Aku akan mencari orang untuk menyelidiki nya.... " Ujar Vitto.
"Tidak perlu, kau nikmati saja liburan mu, aku yang akan mengurusnya disini... Jadi kau bisa tenang, aku akan mengatasi semua nya... Kau menelepon ku seperti ini dimana??? Maksudku apa kau tidak khawatir Rana mendengarnya???" Tanya Vino.
"Oke... Enjoy... Aku juga ingin menemani Naufal tidur, dia seperti sudah mengantuk.. Enjoy... " Vino mengakhiri panggilannya dengan Vitto dan kembali masuk ke dalam rumah.
Naufal ternyata masih bermain sendirian tetapi dalam keadaan berbaring memegang mainan action figure nya. Vino menghampiri lagi anaknya itu dan mengajak untuk merapikan mainannya karena sudah waktu nya Naufal untuk tidur. Naufal mengangguk dan bersama dengan Vino, bocah itu memasukkan mainannya ke dalam sebuah keranjang. Setelah selesai, Vino mengangkat dan menggendongnya ke tempat tidur. Di atas meja juga sudah ada botol berisi susu yang tadi di buatkan oleh Arindah. Vino membaringkan nya di atas tempat tidur mengambilkan botol susu nya lalu menyusukan nya pada Naufal.
Tidak butuh waktu lama, Naufal langsung tertidur. Siang tadi Naufal tidur hanya sekitar satu jam lebih, dan biasanya jika tidur siang bisa sampai 2 jam setiap hari nya. Sehingga wajar saja jika Naufal langsung tidur. Vino memastikan bahwa Naufal benar-benar sudah pulas dengan menepuk pelan paha bocah itu.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, Naufal memang sudah pulas dan nyenyak sekali. Vino melihat jam di dinding, dia mengernyit karena Arindah tidak kunjung kembali ke kamar, dan masih berada di ruang ganti. Padahal hanya merapikan sedikit pakaian dan juga tm beberapa tas dan sepatu, tetapi kenapa begitu lama. Vino pun memilih beranjak dari tempat tidur, dan meletakkan bantal serta guling di sisi tubuh Naufal untuk memberi keamanan. Dia lalu berjalan menuju ruang ganti untuk memanggil istrinya.
Vino langsung masuk karena pintu tidak di kunci dan berapa terkejutnya dia ketika mendapati Arindah sedang berdiri di depan cermin mengenakan Iingerie tipis dan menerawang berwarna merah. Hingga seluruh Iekuk tubuh Arindah terlihat jelas, seolah Iingerie itu hanya sebuah kain yang sama sekali tidak berguna untuk menutupi badan. Dan bawahan Iingerie itu adalah G-striing, sehingga dari belakang Arindah benar-benar terlihat se×y sekali.
Dari cermin dia bisa melihat Vino masuk, Arindah langsung menoleh ke belakang dan menutup area dada nya dengan menyilangkan kedua lengannya. "Vino... . !!! Kenapa tidak mengetuk pintu dulu.. .. !" Arindah lekas meraih rompi jubah tidurnya yang tergeletak di kursi untuk menutup tubuhnya.
Vino melempar senyum dan menghampiri Arindah. "Kenapa di tutup???!? Bukankah kau memakai nya untuk menggoda suami mu??? ?" Vino mendekat dan memegang kedua bahu Arindah.
"Ahh tidak.. . . Aku hanya mencoba nya saja tadi.. ." Ucap Arindah terbata.
"Maksudmu untuk mencoba menggodaku.. . ???" Tanya Vino kemudian dia membuka jubah yang menutupi tubuh istrinya itu secara perlahan, dan melemparnya ke lantai. Arindah masih berusaha menutup diri nya tetapi Vino menahannya. "Begini saja, kau terlihat sangat se×y dan sangat menggoda ku... Kapan kau membeli ini??? Sebelum kita menikah???" Tanya Vino.
"Sebenarnya ini sudah lama sekali, tetapi aku tidak pernah memakainya, seorang teman memberikannya untuk hadiah pernikahanku dulu, tetapi aku sama sekali tidak pernah memakai nya, karena merasa aneh dan menurutku terlalu berlebihan... Aku masih menyimpannya, karena aku tahu ini haram ga nya mahal sekali... "
"Dan kau baru memakai nya untuk menggoda ku???"
"Tidak... Bukan seperti itu... Aku hanya mencoba apakah masih muat, karena berat badanku kan tidak sekurus dulu... "
Vino membalikkan badan Arindah, membelakangi nya, dan dia memeluknya dari belakang. "Hmmmm benarkah....??? Bagaimana jika aku menyuruhmu membeli banyak Iingerie seperti ini??? Kau mau melakukannya??? Karena kau terlihat sangat nakal dan begitu menggoda... Belilah yang banyak, besok aku akan memberimu kartu dan belanja lah apapun yang ingin kau beli termasuk yang seperti ini...! Lalu godalah aku setiap malam atau setiap ada waktu senggang..." Bisik Vino di telinga Arindah.
__ADS_1
"Vino....??? Kau ini... "
Vino mencium leher Arindah, dan tm kedua tangannya meremaas pay*dara Arindah dengan sangat lembut. Menekan dan membuatnya, membuat Arindah mengerrang karena nikmat. "Ohhhh...."