Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 41


__ADS_3

Rana menarik tangannya dan berlari ke kamar mandi dan menyiram tangannya dengan air mengalir. Rana menangis menahan kesakitan dan rasa perih yang dirasakannya. Rana melihat ke tangannya dan jelas sekali disana tangannya memerah dan meninggalkan bekas setrika.


Rana menangis dan merintih kesakitan, tetapi berbeda dengan Vino yang justru tawanya menggema di kamar itu. Rana terus menyiram tangannya dengan air dan mengibaskannya serta meniupnya untuk menghilangkan rasa sakit dan perihnya.


Vino, lelaki yang sangat dicintainya justru memperlakukannya dengan sangat kejam sekali. Seolah kasih sayang dan perhatian yang diberikan Vino kemarin itu menjadi langsung sirna begitu saja. Dan sekarang Rana sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, dia sudah terjebak disini, serta tidak tahu dia saat ini sedang berada dimana. Rumah ini seperti penjara. Rana terus merintih dan juga menangis neratapi nasibnya. Ini masa pengantin baru yang harusnya dihiasi dengan kebahagaan justru berubah menjadi penderitaan.


Ditengah tangisan Rana, Vino yang sejak tadi tertawa kini menghampirinya. "Bagaimana? Apa kau menyukai hadiah dariku???" Tanya Vino dengan gampangnya.


Rana tidak menjawab dan hanya menatap Vino dengan tatapan nanar menahan kesakitannya. Rana masih tidak menyangka bahwa laki-laki yang ada di depannya itu yang selalu dia banggakan selama ini karena kebaikannya justru sekarang berubah bagaikan seorang iblis yang sangat menakutkan. Seringai dan tawa kepuasan Vino melihat penderitaannya, membuat Rana menjadi sangat terluka. Dalam waktu sehari, Vino sudah meninggalkan kesakitan dihati dan fisiknya. Dan Rana sangat tahu bahwa luka bekas setrika ini pasti butuh waktu lama untuk sembuh. Rana juga tidak tahu apakah ada kotak obat yang bisa dia temukan disini untuk membantunya mengurangi rasa sakit ini. Rana takut infeksi, tetapi dia juga tidak mau melawan dan berdebat dengan Vino karena bisa saja Vino melakukan hal yang lebih buruk lagi dari ini.


Vino terkekeh. "Aku sudah katakan padamu jangan pernah melawanku, ini duniamu sekarang, dan jangan pikir aku akan menceraikanmu, tidak akan pernah! Diam dan nikmati saja rumah tangga ini, jangan sekali-kali juga kau mencoba meminta bantuan orang lain untuk menyelamatkanmu, karena kau dan juga orang itu pasti tidak akan selamat dariku....!" Geram Vino dengan tatapan penuh ancaman kepada Rana yang masih terisak.


Hingga akahirnya Vino sudah mendapatkan kabar bahwa pemasangan cctv dikamar Rana sudah selesai. Vino keluar dari kamarnya dan kembali mengunci rana untuk menemui petugas yang memasang cctv itu, sebelum nanti dia membawa Rana kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Setelah kepergian Vino, Rana mencoba menahan rasa sakitnya. Tangannya melepuh itu sudah jelas sekali, dan Rana tidak bisa membayangkan besok rasa sakitnya pasti akan lebih parah lagi dari ini. Rana memutar bola matanya mencoba menemukan kotak obat yang ada disana supaya bisa mengurangi rasa sakitnya dan juga menghindari infeksi.


Rana menoleh ke belakang memastikan Vino tidak masuk, dan mulai membuka satu persatu laci yang ada di kamar itu untuk menemukan kotak P3K.


Dan akhirnya Rana menemukannya di laci sebelah tempat tidur. Rana tersenyum dan mengucap syukur. Dia kemudian membukannya dan mencari salep untuk luka bakarnya juga cairan antiseptik. Bergegas Rana menutup kotak P3K itu dan memasukkan salep dan antiseptik itu ke dalam kantung dress nya, kantungnya cukup lebar dan muat untuk keduanya. Rana kemudian kembali lagi ke dalam kamar mandi agar Vino tidak curiga jika dia mengambil salep dan antiseptik.


Setelah petugas yang memasang Cctv pergi, Vino pun kembali lagi ke kamarnya untum menemui Rana. Saat masuk dia melihat pintu kamar mandi terbuka dan Rana masih berada disana, dan masih terdengar suaranya merintih karena kesakitan.


"Ayo sekarang kembali lagi ke kamarmu... Jangan kotori kamarku ini dengan airmatamu...!" Ucap Vino sambil kembali menarik pergelangan tangan Rana dengan kasar.


Vino terus menyeret Rana sampai dikamar itu lalu mendorong Rana masuk dengan kasar hingga Rana hampir terjatuh lagi.


"Kamar ini sudah aku pasang camera, jadi jangan coba-coba untuk melakukan hal yang membuatku marah, karena kau akan terus diawasi selama 24jam, dan berhati-hatilah ketika mengganti pakaian karena bisa saja mereka mengambil rkamanmu lewat cctv itu... Hahaha"

__ADS_1


Mendengar itu Rana langsung mengernyit dan mencari letak cctv nya. Benar saja, Rana langsung menemukan 2 cctv yang berada di kamar ini. Ternyata Vino mengajaknya pergi itu adalah karena dia ingin memasang cctv disini. Rana kembali frustasi karena selain di kunci di dalam kamar ini, seluruh aktifitasnya juga akan menjadi terbatasi dan dia harus berhati-hati. Rana merasa penderitaannya akan terus bertambah setiap harinya dan dia tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa, karena pasti orang-orang yang ada disini tidak akan pernah mau menolongnya.


"Ingat pesanku ini baik-baik... Jika tidak....??? Aku pasti akan memberikanmu pelajaran yang lebih buruk dari apa yang sudah kau terima hari ini....!" Vino mengancam lagi.


Rana tidak merespon dan hanya sekilas saja melirik ke arah Vino. Lelaki itupun kembali menutup pintu tralis besi menguncinya juga tidak lupa menutup pintu kayu.


Rana tidak peduli lagi dengan ancaman Vino meskipun sebenarnya dia takut, sekarang yang harus dilakukannya adalah segera mengobati lukanya. Tetapi Rana harus berhati-hati karena disini sekarang sudah dipasang cctv.


Rana melangkah pelan menuju kamar mandi, dan tidak lupa di dalam sana dia memeriksa dengan baik setiap sudutnya takut jika Vino juga meletakkan camera di dalam sana.


Rana memeriksa dengan detail dari atas sampai bawah, kanan dan kiri bahkan dia juga memeriksa di belakang bathtub, kloset hingga lemari penyimpan peralatan mandi, keran air dan shower juga. Semua tidak lepas dari pemeriksaan Rana. Dia harus memastikan aman.


Tetapi ternyata memang tidak ada sesuatu yang mencurigakan di dalam kamar mandi. Rana kemudian duduk di kloset dan mengeluarkan cairan antiseptik dan salep dari kantong dressnya. Rana membersihkan lukanya dan mengoleskan salep sedikit demi sedikit di luka bakarnya Rana mendesis karena ada rasa perih yang terasa ketika dia mengolekan salep itu. Rana berharap ini bisa mengurangi rasa sakit dan menyembuhkan lukanya dengan cepat.

__ADS_1


Setelah selesai mengobati lukanya, Rana masih duduk dan mendongak menatap langit-langit kamar mandi itu. Tadi di kamar Vino dia tidak melihat ada tralis besi seperti yang ada di kamar ini. Dan Rana mulai menyadari bahwa sepertinya kamar ini sengaja di desain seperti ini. Rana terus berpikir bagaimana dia akan keluar dari rumah ini jika keadaannya seperti ini dan sama sekali tidak ada ruang untuk bisa kabur dari tempat ini.


"Aku harus segera menemukan cara untuk pergi dari tempat ini.... Oh God... Please help me....!!" Gumam Rana dengan sedih.


__ADS_2