Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 106


__ADS_3

Setelah Jason berhubungan dengan Vania, ada satu kesempatan dimana Vania mengajak Jason bertemu dengan Mamanya. Tidak disangka ternyata pertemuan itu juga menghasilkan sesuatu yang diluar dugaan karena Mama Vania diam-diam mencuri nomor kontak Jason dan selalu menghubungi Jason. Tentu saja hal itu Jason ceritakan ke Mama tirinya yaitu Mama Angel, dan ide itu langsung muncul lagi diotaknya dan meminta Jason untuk meladeni Mama Vania dan menjeratnya juga karena itu bisa jadi alasan untuk semakin menghancurkan keluarga itu.


Sekali lagi, itu berhasil dan Vania akhirnya mengetahui perselingkuhan Mamanya dan Jason. Vania mengikuti arahan Angel untuk bunuh diri, dan itu benar-benar dilakukan Vania. Meskioun tidak langsung meninggal, tetapi Vania mengalami penderitaan yang luar biasa setelah kecelakaan itu. Sempat ada ketakutan Vania akan sembuh, tetapi pada akhirnya Vania meninggal dunia.


Malam setelah Vania meninggal, Jason, Angel dan Mamanya melakukan pesta dan mabuk bersama merayakan keberhasilan mereka. Tetapi tidak sampai disitu saja, Jason kembali berulah dengan rencananya selanjutnya yaitu membuat Mama Vania kabur bersamanya membawa uang serta mencuri surat berharga perusahaan dan menjualnya. Setelah berhasil, dia mengajak Vita Mama dari Vania kabur ke luar negeri, menghabiskan semua itu dan bersenang-senang setiap harinya. Sementara keluarga Prakarsa yaitu Vino, Vitto dan Papanya sedang mengalami goncangan hebat akibat ulah dari Vita. Selama hampir 2 Tahun lerusahaan mereka hampir kolabs tetapi untungnya dengan kejeniusan yang dimiliki Vino, bisa membuat Perusahaan itu bangkit dan saat ini sudah kembali seperti sedia kala bahkan lebih pesat dari sebelumnya.


Meski berhasil menguasai Mama dari Vino dan Vitto, serta menghancurkan masa depan Vania kemudian hampir menghancurkan perusahaan mereka. Bagi Mama Angel itu belum cukup, dia meminta Angel selalu berhati-hati dan memanfaatkan Vino dengan baik, sebagai ladang uang untuk mereka. Sampai saat ini itu berhasil dan tidak tercium sama sekali oleh Vino ataupun Kakak dan Papanya. Angel masih bisa melenggang bebas untuk menguasai Vino. Menjatuhkan lelaki itu lebih dalam lagi pada pesonanya. Vino memang cerdas dan luar biasa mengenai pekerjaannya tetapi Vino bodoh dan buta oleh cintanya pada Angel hingga sangat mudah dibohongi oleh Angel.


Vino merasa marah sekali dan dendamnya begitu besar pada Supir taksi itu dan ingin balas dendam. Saat itu Vino mengatakan segalanya pada Angel, dan tentu saja Angel memanfaatkan lagi kesempatan itu dengan langsung menyetujui serta mendukung Vino melakukan itu, meskipun tahu bahwa kecelakaan itu adalah kesalahan dari Vania sendiri. Supir taksi itu tidak sepenuhnya bersalah. Sayangnya keluarga supir taksi itu hanya meninggalkan Rana. Tidak ada pilihan lain, Vino akhirnya merencanakan dengan baik balas dendamnya bersama Angel dan menjebak Rana. Ketika itu sudah berjalan, Angel menceritakan lagi segalanya kepada Jason dan juga Mamanya. Mereka bertiga menertawakan kekonyolan yang dilakukan Vino pada Rana. Itu mereka jadikan sebagai hiburan. Rana yang tidak tahu apapun justru jadi korban dari ketololan Vino.


Dan sampai saat ini, Mama Angel ternyata masih terus menuangkan idenya untuk kedua anaknya itu apa saja yang harus mereka lakukan selanjutnya. Hanya saja saat ini dia memilih tinggal di luar negeri berpisah dari Angel dan juga Jason. Itu dilakukannya untuk menghindari kecurigaan dari keluarga Prakarsa. Sejak awal segala informasi mengenai siapa orangtua Angel sangatlah tertutup dan selama itu pula Angel selalu mengatakan bahwa dia sudah tidak memiliki siapapun.


★★★★★


Vitto menyandarkan punggungnya di sofa. Melirik ke arah Papanya. "Papa...!" Panggilnya dengan suara pelan.


"Ada apa Vit???"


"Ada sesuatu yang ingin Vitto katakan lagi pada Papa mengenai Vino dan juga Rana....!"


"Vino dan Rana??? Ada apa lagi? Apa Vino masih berniat buruk pada Rana???" Tanya Papanya.


Vitto menggeleng. "Papa jangan katakan ini pada Vino, itu permintaan Rana padaku kemarin...! Rana sekarang sedang hamil Pa....!"


"Hamil...???? Bukankah dia tidak berhubungan dengan Vino??? Atau jangan-jangan kau yang melakukan itu dengannya???"


Vitto mengernyit. "Astaga Papa....! Memangnya aku sebrengsek itu....!"


"Lalu bagaimana Rana bisa hamil???"


"Vino memang brengs*k...!" Ujar Vitto kesal.


Kemudian dia mulai mengatakan segalanya bahwa Rana telah menerima perlakuan buruk dari Vino. Vino memaksa Rana untuk melakukan hal itu padahal Rana menolak karena Vino seperti kehilangan akalnya saat melakukan itu. Yang mengartikan bahwa Vino sudah memperk*sa Rana. Dan sebenarnya itu adalah alasan dari Rana kenapa dia pada akhirnya nekat untuk kabur dari Vino. Rana merasa sangat direndahkan dan tidak dihargai oleh Vino. Dia benar-benar kesakitan sekali atas perlakuan kasar Vino kepadanya.


Dan saat di Singapura kemarin, Rana mengalami mual dan muntah hingga akhirnya dokter mengatakan jika RRana hamil. Rana sendiri terkejut mengetahui hal itu, tidak menyangka jika itu akan membuatnya hamil. Dan Vitto sudah meminta Rana agar memberitahu hal ini serta meminta pertanggung jawaban dari Vino tetapi Rana menolaknya karena dia tidak ingin lagi berurusan dengan Vino. Bagi Rana sangat tidak ada gunanya sama sekali melakukan hal itu, karena Vino tidak pernah mengharapkan dirinya. Rana takut jika bayi itu sudah lahir Vino akan merebut darinya. Jadi Rana tidak ingin Vino tahu tentang kehamilannya, dan dia akan merawat dan membesarkan sendiri anaknya karena anak itu saat ini adalah keluarga yang dimilikinya.


"Hmmm.... Ya, Papa mengerti apa yang ditakutkan oleh Rana, meskipun mungkin kecil sekali hal itu terjadi, kita hargai saja keinginannya....! Tapi pasti kau sendiri tahu kesulitan apa yang akan dialami oleh Rana selama kehamilannya itu...!"


"Ya, Vitto sebenarnya juga mengkhawatirkan psikisnya Pa, tetapi kita juga tidak bisa memaksa Rana...!" Ujar Vitto.


"Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memastikan kenyamanan Rana dan juga bayinya, kita tidak boleh membiarkannya mengalami kesulitan dimasa kehamilannya, carilah asisten rumah tangga untuk membantunya...!"


"Sebenarnya Vitto ingin membeli apartemen baru untuk Rana, yang lengkap fasilitasnya dan ada kolam renangnya" Vitto tersenyum kemudian melanjutkan lagi. "Rana ingin belajar berenang, dan yang Vitto tahu itu juga bagus untuk ibu hamil, dia tidak meminta apartemen yang dia mau hanya belajar berenang saja, tapi menurut Vitto tidak ada salahnya kita memberi itu kepadanya sebagai ganti rumahnya yang disewakan oleh Vino, bagaimana menurut Papa???" Tanya Vitto meminta pertimbangan dari Papanya.

__ADS_1


"Itu bagus, berikan saja, Rana butuh kenyamanan dimasa seperti ini, carilah tempat yang bagus, selain nyaman juga pastikan aman dari Vino, karena Rana tidak boleh stres atau tertekan...! Tapi apa kau sudah punya pandangan kira-kira dimana kau ingin mencari apartemen itu? Masih di kawasan itu atau lainnya???"


"Bagaimana kalau tidak apartemen, tapi rumah, kurasa itu lebih bagus, dan aku juga akan meletakkan security, asisten rumah tangga serta para bodyguard itu...!


Papa Vitto tersenyum mengangguk. Rumah memang akan terasa lebih baik. Lebih bisa bergerak bebas dan Rana pasti tidak akan merasa bosan. Dia kemudian menyarankan agar Vitto mencari rumah yang bagus, tidak pelu besar tetapi memiliki halaman luas sehingga Rana mungkin bisa memanfaatkannya untuk membuat taman, baik di depan atau di belakang, serta samping rumah.


"Baiklah Pa aku akan coba mencari yang seperti itu, sepertinya aku tahu siapa yang bisa membantuku mencarinya, Aditya dia pernah bercerita padaku bahwa dia memiliki teman yang memiliki bisnis real estate ternama, dan sahabatnya itu memiliki banyak perumahan, mungkin aku akan menghubungi Aditya dan berkenalan langsung dengan temannya itu...!"


"Itu bagus, lajukan saja... Papa akan membayarnya nanti, kau jangan khawatir, yang terpenting Rana nyaman dan aman... Urus semuanya dengan baik...!"


Di depan ruangan kerja Vino, Mamanya sudah berdiri disana dan disambut oleh sekretaris Vino. "Pagi Bu... Ada yang bisa saya bantu???" Sapanya ramah.


"Ini ruangan putraku aku ingin masuk dan bertemu dengannya???" Ucap Mama Vino ketus.


Karena sekretaris Vino baru sekitar 3 tahun bekerja disini sehingga belum tahu atau mengenal Mama Vino. "Maaf bu, ibu bisa menunggu disini, pak Vino sedang meeting...!"


"Menunggu disini??? Aku Mamanya, kau tidak sopan sekali, aku akan masuk dan menunggu di dalam....!"


"Tapi Pak Vino tidak ada di dalam, saya harus mendapat ijinnya lebih dulu jika ada orang yang ingin masuk ke ruangannya....!"


"Kau ini.... Aku ini Mamanya, kenapa harus meminta ijinnya...!"


Mama Vino merasa kesal sekali dengan sikap dari sekretaris Vino itu. Dia tidak menghiraukan larangan dari perempuan muda di depannya itu dan memaksa masuk ke ruangan kerja Vino. Sekretaris Vino pun bergegas mencegahnya sayangnya Mama Vino sudah masuk ke ruangan itu.


Betapa terkejutnya dia ketika masuk, karena lansung mendapati ada suami serta putra pertamanya Vitto yang ada di ruangan itu. Vitto yang sedang asyik mengobrok dengan Papanya juga tidak kalah terkejutnya melihat Vita masuk ke ruangan itu. Sementara sekretaris Vino juga ikut masuk dan mengatakan bahwa wanita itu memaksa masuk padahal dia sudah melarangnya. Papa Vitto pun langsung menyuruh sekretaris itu keluar dan membiarkan istrinya masuk. Sekretaris Vino pun mengucap permisi dan keluar dari ruangan itu.


Vita melempar senyumnya pada Vitto dan suaminya. "Kalian ada disini???" Tanyanya dengan suara terbata.


"Tentu saja kami ada disini, ini ruangan kerja Adik dan Papaku, ada apa kau kesini? Bukankah tadi sudah ada yang melarangmu untuk masuk tanpa seijin dari pemilik ruangan ini???


"Mama hanya ingin bertemu dengan Vino, sudah lama kan, Mama sangat merindukannya...!"


"Vino tidak ada....!" Jawab Vitto ketus lagi. "Bagaimana brondong Mama sekarang??? Apa masih kuat meladeni wanita tua seperti Mama??? Atau mungkin dia sudah meninggalkan Mama dan mencari perempuan yang seumuran dengan dia???"


Wajah Mama Vitto berubah memerah. "Vitto....!!! Jaga ucapanmu itu, kau tidak sopan sekali pada Mama....!" Serunya jengkel.


"Vitto bertanya baik-baik, darimana tidak sopannya sih???"


Sang Mama terdiam. Tetapi dengan cepat dia mengingat sesuatu, bahwa dia kembali kesini adalah karena dia ingin mendapatkan simpati dari kedua putranya. Maka dalam situasi seperti ini dia tidak boleh berdebat atau mencari masalah baru yang justru akan membawanya semakin dibenci oleh Vitto dan Vino. Dia harus berakting penuh penyesalan atas segala kesalahnnya dulu. Meskipun kehadiran suaminya disini sama sekalu tidak di duga tetapi tetap tidak ada pilihan lain selain bersikap baik kepada mereka.


"Sudahlah, Mama datang bukan untuk membuat keributan denganmu atau Vino, Mama hanya datang karena Mama merindukan Vino, kemarin kita sudah bertemu tapi sikapmu dingin sekali kepada Mama...!"


Mama Vitto itu kemudian melangkah pelan menghampiri Vitto yang duduk di sofa yang sedang menatapnya dengan dingin. Sedangkan Papa Vitto memilih untuk diam dan memperhatikan saja apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Mama Vitto kemudian duduk di samping Vitto. Sementara Vitto membuang muka dan memunggungi Mamanya enggan menatap sang Mama. Karena Mamanya pasti akan mulai beraksi dengan dramanya seperti semalam.

__ADS_1


Mama Vitto mulai memegang pundak Putranya itu tetapi Vitto tetap tidak peduli atau sekedar menoleh kearahnya pun tidak sama sekali. "Vitto sayang....!" Panggilnya dengan suara lembut. Vitto masih tidak bergeming.


"Mama tahu kalau kau marag sekali dengan Mama, Mama memang bersalah padamu dan adikmu juga pada Papamu, Mama menyesal Vit....!" Ucapnya merendah kemudian pandangannya beralih ke suaminya yang duduk di kursi roda.


"Mama sekarang sudah menyadari kesalahan Mama dan benar-benar menyesal sek....." Belum selesai berbicara, pintu ruangan itu dibuka dari luar.


"Pa...Vit.... Aku sudah selesai mee...ting....!" Vino muncul dari luar dan mulutnya ternganga ketika melihat ada Mamanya yang duduk bersama kakak serta Papanya.


Vino bisa melihat jelas ekspresi dari kakaknya yang tampak dingin dan membelakangi Mamanya. "Kenapa dia bisa ada disini Vit? Kenapa kau membiarkannya masuk?" Tanya Vino kesal.


"Dia sendiri yang memaksa masuk, padahal sekretarismu sudah melarangnya, tetapi kau pasti tahu betapa angkuh dan pemaksanya orang ini....!" Jawab Vitto.


Vino berjalan menuju meja kerjanya dan meletakkan berkasnya disana. Sementara tak lama setelah itu sebuah ketukan pintu mengalihkan mereka, sekretaris Vino masuk membawa nampan berisi 3 cangkir dengan uap yang mengepul. Itu sudah pasti teh hangat yang sedang dibawa oleh sekretaris Vino, dan perempuan itu melatakkannya di meja, mempersilahkan agar bisa diminum.oleh orang-orang yang ada di ruangan itu. Vino mengernyit karena pantas saja tadi dia tidak melihat sekretarisnya itu ada di mejanya, ternyata sekretarisnya ke pantry membuat minuman.


Setelah sekretaris Vino keluar, Vino pun menuju sofa tempat Vitto dan Mamanya duduk disana. Vino memasukkan kedua jemarinya ke saku celananya dan mamandang jijik Mamanya. "Lain kali jaga attitude mu ketika ingin masuk ke ruangan orang lain, minta ijinnya lebih dulu, jika dia mengijinkan kau baru boleh masuk...! Sudah semakin tua bukannya sadar diri, malah semakin menjadi-jadi....!" Ujar Vino.


Mamanya pun tersenyum kemudian berdiri dan mendekati Vino. "Maaf jika kau tidak suka dengan cara Mama, sebenarnya tadi Mama pikir karena ini ruangan putra Mama jadi Mama tidak perlu ijin dari siapapun untuk menemuimu...! Mama tidak akan mengulanginya lagi...! Maaf ya sayang???"


"Kau memang tidak akan mengulanginya lagi, karena sebelum kau bisa masuk ke kantor ini, security di luar yang akan mengusirmu lebih dulu....!"


"Sama seperti yang Mama katakan pada Vitto tadi, bahwa Mama datang kesini untuk meminta maaf kepada kalian bertiga, Mama sangat menyesal sekali dengan semua perbuatan Mama yang sangat menyakiti kalian....! Tolong maafkan Mama!??" Ekspresi Vita berubah menjadi sedih dan mewek sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan Vino.


"Tolong maafkan Mama, semua yang terjadi kemarin memang adalah kesalahan Mama, dan Mama sudah meninggalkan Jason, Mama sangat bodoh sudah memilihnya daripada memilih kalian, Mama ingin kembali bersama kalian lagi, dan bahagia seperti dulu... Mama sudah tua, dan ingin menghabiskan waktu mama bersama kalian, kalian mau memaafkan Mama kan???"


"Tidak.......!!!!!" Jawab Vino dan Vitto bersamaan.


Vitto bangkit dari tempat duduknya dengan penuh kemarahan dan mendekat ke sang Mama. "Kau pikir kau siapa...???!!! Kau pikir kami bodoh!!!?? Sehingga kau akan membodohi kami lagi seperti dulu....! Kami bukan boneka yang bisa kau mainkan, dan hentikan drama konyolmu ini, sudah cukup....!" Seru Vitto.


"Bawalah semua rasa bersalahmu yang sudah tidak ada gunanya lagi untuk kami....! Kenapa kau harus kembali lagi kesini? Kami sudah hidup bahagia tanpa pernah sekalipun mengingatmu, kami sudah menganggapmu tiada, kesalahnmu pada kami sudah tidak lagi bisa terhitung lagi, teganya kau mengkhianati keluargamu sendiri......! Kau melenggang pergi begitu saja dengan si brengs*k itu kemudian membawa seluruh hasil kerja keras Papa tanpa rasa bersalah....! Meninggalkan jutaan penderitaan yang harus dihadapinya selama bertahun-tahun...!" Kali ini Vino yang berteriak mengungkapkan kekesalannya pada Mamanya.


Vitto berdiri di samping Vino dan matanya melotot menaap tajam ke arah mamanya. "Lihat dia......!!!!" Teriak Vitto sambil menunjuk ke arah Papanya yang duduk diatas kursi roda dan hanya diam saja sejak tadi.


"Lihat baik-baik wajahnya, sudah berapa banyak luka yang kau tinggalkan pada laki-laki yang begitu tulus dan baik sepertinya? Kau sudah mengambil hasil kerja kerasnya selama puluhan tahun, kau menghancurkan hidupnya, kau meninggalkannya, kau membiarkannya melewati banyak penderitaan sendirian, bertahun-tahun luka itu disimpannya sendiri, dia sakit selama bertahun-tahun dan tubuhnya lemah sekali tetapi dia selalu berusaha tegar karena dia harus bertahan untuk kedua putranya yang menjadi harapan terakhir untuk mendapatkan kebahagiaannya lagi setelah kau menghancurkan semua yang dia miliki.....! Dan sekarang kau datang lagi mengatakan menyesal setelah bertahun-tahun, apa kau pikir penyesalanmu itu akan mengembalikan semua yang sudah hilang.... Tidak akan pernah...!" Vitto berucap sambil menangis, dan isakannya begitu memilukan. Seorang laki-laki berusia 29 tahun itu akhirnya kembali menangis terisak kesekian kalinya untuk mengungkapkan kemarahannya yang sudah di pendamnya selama bertahun-tahun.


Betapa hancurnya hati Vitto selama ini. Seorang anak laki-laki yang berjuang bersama adiknya untuk mengembalikan keadaan keluarganya yang hancur karena perbuatan ibunya sendiri. Berusaha membuat ayahnya kembali bahagia dan agar segera sembuh dari sakitnya. Setiap mengingat semua kekacauan itu, diam-diam Vitto selalu menangis meratapi nasib keluarganya yang begitu buruk. Segala kebahagiaan yang dulu ada hilang hanya dalam hitungan detik, dan hanya dipenuhi oleh kesakitan. Meskipun sellau mencoba tegar dan kuat, tetapi Vitto tetaplah manusia biasa yang memiliki perasaan, dan ketika dia merasa lelah dan teringat segala kesakitan yang ditinggalkan sang Mama, Vitto selalu menangis.


Sementara Vino lebih pandai menyimpan perasaannya dengan bersikap dingin dan acuh, walaupun dia juga sangat sakit hati dengan sikap Mamanya yang pergi begitu saja dengan laki-laki lain. Vino menyimpan seluruh kesakitannya dalam bentuk kemarahan yang di tahan. Dia tidak pernah menangis. Sikap dingin yang selama ini ditunjukkannya itu lebih kepada untuk meluapkan kemarahannya yang ditahannya.


Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mengungkapkan kemarahan atau kekecewaan yang ada di hatinya. Vino dan Vitto memang saling bertolak belakang, tetapi mereka tetap menjaga komitmen mereka untuk selalu bersama Papanya dan membuat Papanya bahagia dengan cara mereka masing-masing.


"Kami tidak akan menerima seorang pengkhianat untuk kembali dalam keluarga kami yang sudah bahagia tanpa dia...! Lagipula aku juga tidak akan pernah bisa memaafkan orang yang sudah menjadi penyebab dari meninggalnya adikku....!" Timpal Vino kemudian.


"Penyebab meninggalnya Vania???? Vania meninggal karena kecelakaan dan Mama tidak ada hubungannya dengan itu... Jadi apa maksudmu berbicara itu Vino??? Mama sudah mengakui kesalahan Mama yang dulu, kalau kau tidak mau menerima permintaan maaf Mama itu tidak apa, Mama mengerti kalian masih butuh waktu untuk itu, tetapi jangan kau tambah lagi dengan menuduh Mama yang jadi penyebab meninggalnya adikmu....!"

__ADS_1


Vino mengangkat tanganya dan menutup wajah Mamanya dengan telapak tangannya, meminta agar sang Mama berhenti berkelit lagi. "Cukup Ma....! Jangan kau pikir kami bertiga bodoh, kami sudah tahu semua kebenarannya, siapa itu Jason dan aoa hubungannya dengan Vania, lalu bagaimana bisa Vania nekat melakukan hal mengerikan itu, semuanya adalah karena ulah Mama.........!!!! Bisa-bisanya Mama melakukan hal sekeji itu kepada putri Mama sendiri, Mama mengkhianatinya, apa mama lupa Mama yang bertaruh nyawa melahirkannya tetapi mama jugalah yang membuatnya mengakhiri hidupnya.... Ibu macam apa dirimu itu.....!" Teriak Vino, dan wajahnya memerah penuh kemarahan. Kali ini mata Vino mulai berkaca-kaca dan akhirnya airmata Vino jatuh juga, setiap mengingat Vania hatinya sangat pedih sekali.


"Bertahun-tahun aku menyimpan dendamku untuk orang yang tidak salah atas kematian adikku, tetapi kebenaran itu akhirnya aku ketahui juga.... Aku melakukan kesalahan besar dengan menghukumnya, itu akan selamanya menjadi penyesalan terbesarku, dan ternyata ibuku sendiri yang menjadi otak dari penyebab kematian Vania, ciiihhh...!" Vino meludah dan membuang muka, merasa jijik menatap Mamanya. "Kau melupakan tanggung jawabmu sebagai seorang Ibu untuk anak-anaknya dan juga melupakan tugasmu sebagai seorang istri, kau tidak akan bisa seperti saat ini jika bukan Papa yang mengangkatmu, menjadikanmu istrinya, memberimu hak memakai nama besarnya, tetapi kau memang tidak tahu diri, rakus, tamak dan pengkhianat...." Ujar Vino.


__ADS_2