
"Lihatlah mereka benar-benar bisa langsung bersahabat..." Ujar Cahya sambil menunjuk ke arah Kyros, Kyra dan Naufal yang begitu bahagia bermain perosotan.
Arindah mengangguk dan tersenyum. "Anda benar.... Eh sebenarnya kedatangan saya kesini untuk menanyakan sesuatu, jika anda tidak keberatan..." Ucap Arindah.
Cahya menoleh. "Bisakah kita tidak terlalu formal???? Sepertinya kita harus jadi teman, jadi panggil saja nama, atau kamu, aku atau kau, aku rasa itu terdengar lebih nyaman... Bagaimana???" Tanya Cahya dan Arindah mengangguk. "Kalau begitu, apa yang ingin kau tanyakan padaku???"
"Sebenarnya aku merasa tidak enak, takut menyinggung mu.."
"Kenapa aku harus tersinggung??? Tanyakan saja..."
"Ini mengenai pernikahanmu dengan Aditya...!"
Cahya mengernyit. "Pernikahanku??? Kenapa???" Tanya Cahya, dan tiba-tiba dia merasa ketakutan dengan apa yang ingin di katakan oleh Arindah.
"Sekali lagi aku minta maaf, jika kau nanti merasa tersinggung dengan pertanyaanku, kau katakan saja aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya.."
"Katakan saja???" Pinta Cahya.
Arindah melempar senyumnya lagi. "Aku pernah dengar jika dulu kau menikah dengan Aditya hanya dalam waktu yang cepat, dan di karenakan suatu hal yang membuat kalian harus menikah, kau juga saat itu baru beberapa kali bertemu Aditya dan pernikahan kalian di laksanakan hanya sekitar 2 mingguan??? Apa itu benar???" Tanya Arindah.
Tiba-tiba Cahya menghele napasnya panjang, seolah ada kelegaan setelah mendengar pertanyaan Arindah. "Ah ya Tuhan.... Ku pikir apa..??? Ternyata kau ingin menanyakan hal itu..."
"Kau tidak suka ya dengan pertanyaanku??? Sorry sorry, kalau begitu tidak usah di jawab..."
Cahya tersenyum. "Tidak... Tidak.... Aku akan menjawab pertanyaanku. tadi aku pikir kau akan mengatakan sesuatu tentang suamiku, hahaha aku pikir kau mungkin melihat suamiku dengan wanita lain atau bagaimana, jujur aku tadi deg-degan... Hahaha tapi ternyata kau hanya bertanya tentang hal itu..."
"Apa...???!!" Seru Arindah yang cukup terkejut dengan ucapan Cahya, tetapi kemudian Arindah ikut tertawa. "Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu???" Tanya Arindah.
__ADS_1
Cahya kembali tertawa. "Tidak tahu... Karena dari ucapanmu tadi yang membuatku jadi berpikir ke mana-mana... Hahaha... Tetapi sebelum aku menjawabnya??? Aku akan bertanya sesuatu padamu??? Aku yakin ada sesuatu yang terjadi sampai kau harus bertanya seperti itu padaku. jika kau hanya sekedar ingin tahu saja, tidak mungkin kau akan datang kesini dan bertanya langsung padaku.. Pasti ada sesuatu yang mengganjal yang membuatmu sampai harus mengajakku bertemu... Apa yang terjadi??? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu??? Apa ini ada hubungannya dengan masalah yang di hotel itu??" Tanya Cahya yang tiba-tiba teringat masalah Arindah dan Vino di hotel beberapa waktu yang lalu.
Arindah tersenyum dan menunduk. Bingung harus memulai darimana. Tiba-tiba Art Cahya datang membawa nampan berisi minuman dan juga camilan. Cahya menyuruh membawa susu cokelat dan camilan itu ke tempat anak-anak bermain. Sementara minuman untuknya dan Arindah di letakkan disini saja.
Cahya melihat ekspresi Arindah yang tertunduk, Cahya merasa khawatir. "Apa Reino berulah lagi??? Dan membuatmu harus menikah dengannya atau menikah dengan Vino karena kejadian kemarin???" Tanya Cahya menilisik.
"Aku tidak tahu harus memulai cerita nya bagaimana, Vino mengajakku untuk menikah beberapa hari yang lalu, saat itu Reino datang ke rumah dan berulah dimana disana juga ada Vino yang datang bertamu.... Terjadi perdebatan hingga akhirnya Vino mengatakan hal yang membuatku terkejut yaitu dia akan menikah denganku dia minggu lagi di depan Reino dan akan mengantarkan undangan pada Reino sehingga Reino bisa datang ke pernikahan kami... Vino mengatakan itu karena dia ingin menghindarkan ku dari gangguannya Reino.."
"Jadi Vino ingin menghindarkan mu dari Reino??" Tanya Cahya dan Arindah menganggukkan kepala nya. "Lalu apa jawabanmu tentang ajakan Vino itu???"
"Aku bingung dan belum menjawabnya, meskipun aku mengerti maksud Vino baik untuk menolongku... Aku dan dia memang sudah mengenal cukup lama dimana dia teman SMA ku, akan tetapi setelah kami lulus kami tidak pernah lagi bertemu dan baru di acara pernikahan Vitto kami bertemu lagi sekian lama... Tetapi tentu tidak bisa semudah itu untukku menerima ajakan yang tidak main-main, ini pernikahan, bukan permainan... Dan ini langsung berhubungan dengan janji di hadapan Tuhan.."
Cahya mengangguk. "Ya... Aku sangat mengerti tentang ketakutanmu serta keraguanmu, karena aku juga pernah ada di posisimu... Hanya saja kau sedikit banyak sudah tahu dan mengenal Vino. sementara aku dan Aditya dulu sama sekali tidak saling mengenal sebelumnya dan pertemuan kami terjadi juga hanya beberapa kali..."
"Itulah kenapa aku datang dan ingin bertemu denganmu, karena aku butuh pendapat dan pandanganmu terhadap masalah seperti ini, mengingat kau dulu pernah berada dalam posisi yang sulit seperti ku..." Ujar Arindah. "Apa yang dulu membuatmu mengatakan iya untuk menikah dengan Aditya padahal kau baru mengenalnya? Pergulatan bathin seperti apa yang kau rasakan???" Tanya Arindah.
"Kau menerima Aditya dan menikahi nya tanpa rasa cinta???" Tanya Arindah lagi.
Cahya tersenyum. "Tentu saja iya, bahkan setelah menikah aku belum mencintai nya.."
"Lalu bagaimana cara nya akhirnya kau bisa mencintainya???"
"Panjang dan cukup lucu... Aku akan memberitahu mu tetapi please jangan katakan ini pada siapapun dan aku harap kau bisa mengambil hikmah dari ceritaku ini..." Ujar Cahya yang kemudian dia teruskan bercerita kepada Arindah tentang kisahnya dan juga Aditya.
Cahya memulai nya sebelum pernikahan nya dimana sebelum dia mengatakan mau menikah dengan Aditya, lelaki itu lebih dulu mengucap janji bahwa dia tidak akan memaksakan kehendaknya dan juga akan menghormati Cahya. Aditya bahkan memilih tidur di sofa untuk membuat Cahya merasa nyaman. Setelah menikah, Aditya menepati semua janji nya itu dengan baik. Dengan penuh kesabaran Aditya menunggu sampai Cahya benar-benar mau menerima nya sebagai suami yang sesungguhnya tanpa pernah mengeluh. Kebaikan, ketulusan, perhatian dan kesabaran yang di tunjukkan Aditya pada akhirnya membuat Cahya menyerah dan mengakui bahwa Aditya adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Serta yang paling penting adalah bagaimana Aditya menaruh rasa hormat yang begitu besar pada keluarga Cahya yaitu ibu dan adik Cahya. Aditya sangat mencintai dan menyayangi mereka layaknya terhadap orang tua dan adiknya sendiri. Aditya datang sebagai penyelamat dan pelindung keluarga Cahya yang beberapa kali sempat mengalami musibah. Dan hal yang membuat Cahya terkejut adalah bahwa ternyata Aditya sudah lama menaruh hati pada Cahya bahkan sebelum mereka bertemu, dimana Aditya tidak sengaja melihat foto Cahya dan Chika di ponsel adiknya yaitu Adri yang ternyata kekasih dari Chika. Saat itulah Aditya mulai menaruh hati dan ingin bertemu langsung dengan Cahya. Mengartikan bahwa Aditya sudah jatuh cinta pada Cahya jauh sebelum pertemuan pertama mereka terjadi.
"Hal itu yang membuat aku pada akhirnya menyadari bahwa dia adalah laki-laki yang tepat untuk bersamaku... Dan aku mencoba untuk menempatkan diriku dengan baik sebagai istrinya, memenuhi tanggung jawabku meskipun aku belum mencintai nya, tetapi sekali lagi dia memberiku waktu untuk mencintai nya..." Ujar Cahya.
__ADS_1
"Kau menerima nya dan memenuhi tanggung jawab mu sebagai istri tapi kau belum mencintai nya??? Maksudnya bagaimana???" Tanya Arindah lagi.
Cahya tersenyum. "Aku tidak mau mendapatkan dosa besar karena tidak menjalankan tugasku untuk memenuhi kebutuhan bathin suami ku, jadi aku berusaha memenuhi nya dengan baik meskipun aku belum mencintai nya, cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu Ndah, dan baik aku ataupun Aditya kami mencoba memahami satu sama lain, hingga akhirnya aku mengatakan bahwa aku pada akhirnya mencintai nya...! Dia sangat bahagia saat itu, dan akhirnya kami bisa saling mencintai satu sama lain, cinta itu bukannya berkurang tetapi semakin hari semakin bertambah... Kami selalu jatuh cinta setiap detiknya.."
"Artinya Aditya sudah memiliki cinta untukmu sebelum pertemuan kalian berdua???" Tanya Arindah dan Cahya mengangguk.
Arindah kemudian tersenyum. Dan dia bercerita kepada Cahya bahwa saat sekolah dulu, dia pernah menyukai Vino sayangnya Vino saya itu lebih memilih gadis lain. Arindah patah hati tetapi cinta nya pada Vino tidak hilang, dan dia terus berharap suatu saat Vino akan menjadi miliknya. Tetapi keinginan Arindah tidak pernah terwujud karena hubungan Vino dan perempuan itu bertahan selama bertahun-tahun. Arindah menyadari bahwa keinginannya tidak akan pernah terwujud sehingga membuatnya menyerah lalu mulai membuka hati untuk mencintai orang lain. Jadilah dia berhubungan dengan Reino dan menikah.
"Dan cintamu untuk Vino akhirnya benar-benar lenyap setelah menikah dengan Reino???" Tanya Cahya.
"Ya sebenarnya tidak sepenuhnya lenyap tetapi masih tersisa sedikit.... Aku berusaha mencoba menjadi istri yang baik untuk Reino dan melupakan Vino...! Dan sekarang justru seperti ini??? Perasaanku padanya sudah hilang dan dia justru datang dan memberiku pilihan yang sulit..."
"Bagus dong.... Kau bisa mulai menumbuhkan perasaanmu lagi padanya... Lalu kenapa kau seperti meragu??? Perasaan cinta itu bisa kau tumbuhkan lagi kan???"
"Kalau aku bisa mencintai nya lagi, tetapi bagaimana dengannya??? Aku tidak yakin jika dia mau mencintaiku??? Rana dulu sangat mencintai nya saja di abaikan olehnya..."
"Dulu berbeda cerita, karena dia memiliki perempuan lain yang masih dia cintai, sekarang kan sudah tidak???"
"Lalu bagaimana jika dalam pernikahan itu cintaku bertepuk sebelah tangan lagi seperti dulu??? Bukankah akan lebih menyakitkan lagi???"
"Caranya hanya satu, yaitu kau yang harus berusaha untuk membuatnya jatuh cinta padamu.. Seperti hal nya dulu Aditya berusaha keras untuk membuatku jatuh cinta padanya... Ada banyak hal yang bisa kau lakukan.. Biasanya laki-laki itu akan mudah untuk di hipnotis oleh sikap lembut seorang perempuan, beda dengan kita para perempuan yang terkadang rasa gengsi nya besar sehingga sulit untuk di bujuk... Tapi laki-laki berbeda kan??? Kau harus sabar dan memberi nya perhatian lebih, melakukan tanggung jawabmu sebagian istrinya dengan baik...Aku yakin kau akan membuatnya cepat untuk bisa mencintaimu, mengingat Vino sudah tidak lagi dengan Angel, dan aku sangat yakin dia juga tidak akan mau kembali dengan Angel karena dia sudah di tipu habis-habisan..."
"Apa kau yakin jika aku melakukan itu, Vino bisa mencintai ku???"
Cahya tersenyum. Menggenggam jemari Arindah. "Tidak ada salahnya mencoba, Tuhan sudah mempertemukanmu lagi dengan Vino sekian lama, yang artinya ada sesuatu yang ingin Tuhan rencanakan, membuat skenario baru untuk kisah cinta kalian... Meluluhkan hati laki-laki sangatlah mudah, aku yakin Vino akan mencintaimu nanti... Pikirkanlah dengan baik dan ambil lah keputusan atas nama Tuhan dan juga kebaikan... Vino juga terlihat sangat menyayangi Naufal, begitu juga sebaliknya, Naufal terlihat nyaman bersama nya..." Ujar Cahya dengan penuh keyakinan dan berharap kebahagiaan nya serta kisah cinta nya bersama Aditya bisa jadi inspirasi untuk Arindah dan Vino.
★★★★★
__ADS_1