Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 269


__ADS_3

"Hai Vin...!" Sapa Arindah kemudian mendudukkan Naufal di kursi kosong sebelah Vino.


"Eh... Duduklah...!" Vino meletakkan ponselnya di meja, melempar senyum ketika Arindah datang, dan dia mentoel pipi Naufal. "Hai jagoan uncle, apa kau ingin makan es krim???" Tanya Vino.


"Ya... Cokelat.." Jawab Naufal polos.


"Oh kau sekarang meminta yang cokelat... Oke... Uncle akan memberimu es krim cokelat, kau tunggu sebentar ya???" Vino kemudian memanggil pelayanan dan memesan es krim cokelat yang di minta oleh Naufal. "Kau mau ini???" Tanya Vino lagi menyodorkan piring berisi aneka buah di depan Naufal.


Bocah itu diam menatap piring itu. "Watermelon..!" Jawabnya lagi dengan polos.


Vino tersenyum dan menusuk semangka dengan menggunakan garpu lalu menyiapkan buah itu pada Naufal.


"Vin... Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan padaku???" Tanya Arindah.


Vino memberikan garpu kepada Naufal agar anak itu bisa memakan buah nya sendiri.


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan dan aku butuh persetujuan mu..! Aku harap kau tidak tersinggung karena aku hanya ingin membantumu dan berjaga-jaga.."


"Iya... Tapi apa???" Tanya Arindah lagi.


"Aku merasa bahwa ancaman Reino itu tidak main-main, aku bisa melihat bahwa dia masih belum ingin menyerah untuk membuatmu mau kembali lagi dengannya, dan jika kau tidak mau melakukan itu, dia akan beralih pada Naufal... Aku mengkhawatirkan itu darinya, dan aku tidak yakin kau mampu terus bertahan dengan sikapnya, itulah kenapa aku berpikir bahwa aku ingin memberimu penjagaan berupa bodyguard.." Ucap Vino.


"Bodyguard?????"

__ADS_1


"Ya... Aku ingin kau memiliki keamanan untukmu sendiri dan juga Naufal...! Itu jika kau tidak keberatan..!"


Arindah menggelengkan kepala nya. "Tidak Vin... Itu sangat tidak perlu sama sekali... Aku bisa menjaga Naufal dengan baik, ada orang tua ku juga yang membantu ku... Ide mu terlalu berlebihan... Lagipula Reino hanya mengancam dan dia tidak akan berani merebut Naufal dariku, selama ini aku yang merawat Naufal, bahkan uang bulanan untuk Naufal pun sampai saat ini dia tidak pernah memberikannya, dan hanya sesekali dia bertemu Naufal, tetapi dia tidak pernah memberikan apapun, bahkan untuk sekedar mainan saja tidak pernah... Jadi dia tidak akan bisa merebut Naufal dariku...!"


Vino terdiam menatap Arindah. Seperti dugaannya bahwa Arindah pasti akan menolak. Walaupun sebenarnya ada kekhawatiran di hati Vino.


"Vin, maaf sekali... Tetapi aku pikir itu berlebihan jadi tidak perlu ada yang seperti itu, aku dan Naufal akan baik-baik saja.. Aku berterima kasih karena kau sudah peduli, tetapi itu sama sekali tidak perlu..!" Ucap Arindah.


Vino melempar senyum. "Baiklah jika kau tidak mau.. Aku tidak memaksa, aku hanya khawatir saja, dan sebenarnya jika kau mau, aku akan menanggung seluruh gaji dari bodyguard itu sampai keadaan aman...!"


"Sekali lagi terima kasih, tetapi itu aku rasa tidak di perlukan."


Vino tersenyum lagi. "Baiklah jika kau belum membutuhkannya, aku menghargai nya... Tetapi please jika terjadi sesuatu lagi karena ulah dari Reino, kau harus mengatakannya padaku, seperti janji ku bahwa aku akan memastikan keamanan mu dan Naufal baik-baik saja...! Jangan sungkan Ndah... Kau seorang perempuan, kau butuh perlindungan jika Reino mengancammu lagi, dan aku siap, kau temanku, aku ingin kau baik-baik saja begitu juga dengan Naufal...!"


"Thanks Vin... Tetapi aku akan pastikan kami baik-baik saja..."


"Aku dan Rana dalam perjalanan ke hotel, kau ikut penerbangan siang nanti kan??? Bisa kita bertemu sebentar???" Tanya Vitto.


"Bicara apa???" Tanya Vino kesal.


"Apa saja... Juga soal semalam... Kita brunch di resto yang ada di hotel yang dekat pantai itu??? Bagaimana???"


"Aku sedang ada disini brengseekk... Aku bersama Arindah.. Lagipula apa kau tidak memiliki kegiatan lain??? Villa itu sangat indah, lalu kenapa kau ingin kesini??" Gerutu Vino.

__ADS_1


"Aiisssshhh... Aku bilang aku ingin brunch... Memangnya tidak boleh ya???? Tunggu disana, aku sebentar lagi sampai..." Vitto menutup panggilannya.


Saat di pantai dan Rana mengusulkan sesuatu tentang Vino dan Arindah, hal itu membuat Vitto tidak ingin menunggu lama-lama sehingga dia ingin memulainya dari sekarang. Dan kebetulan sekali saat ini Vino bersama dengan Arindah.


"Bagaimana???" Tanya Rana.


"Vino dan Arindah kebetulan sedang bersama...!"


"Benarkah??? Wah kalau begitu ini waktu yang tepat..!" Ujar Rana.


"Kau benar-benar tidak apa-apa bertemu dengan Vino???" Tanya Vitto.


"Ada kau bersamaku, dan saat ini aku sudah menjadi istrimu, Vino tidak akan bisa lagi memaksa..!"


Vitto terkekeh. "Seharusnya aku menikahimu sejak dulu, sehingga aku tidak perlu menyembunyikan mu selama ini hahaha"


"Dihhh... Kau ini.. Dasar...!" Rana memeluk Vitto. Perasaannya bahagia dan entah kenapa sudah tidak ada lagi perasaan takut dan khawatir bertemu dengan Vino. Seolah statusnya saat ini sebagai istri Vitto, memiliki keistimewaan sendiri. "Oh iya, aku lupa... Apa Papa tahu tentang masalah yang tadi malam???"


Vitto menggeleng. "Aku rasa tidak tahu, dan A Vino juga tidak memberitahu nya, kalaupun Papa tahu pasti dia sudah bertanya kepada ku...!"


Sementara itu di restoran, Vino tampak akrab sekali dengan Naufal, sesekali Vino mengajak bocah itu mengobrol dan menyuapi es krim. Vino juga mengobrol dengan Arindah, memberitahu perempuan itu jika Vitto dan Rana akan datang. Arindah terkejut kenapa Vitto dan Rana datang ke hotel ini dan bukannya menikmati masa bulan madu mereka di villa yang sangat cantik itu.


"Entahlah... Mereka memang sangat menyebalkan... Mengganggu saja...! Kenapa tidak memesan makanan saja, malah datang kesini" Gerutu Vino.

__ADS_1


"Ya mungkin mereka datang memang untuk jalan-jalan di sekitar sini dan pasti kelaparan karena kesibukan mereka sebagai suami istri, hahaha"


Ekspresi Vino terlihat datar menyadari ucapan Arindah yang membahas mengenai kesibukan Rana dan Vitto di villa. Membayangkan hal itu saja membuat Vino muak, karena dia sudah gagal mengajak Rana kembali lagi bersama nya dan lebih memilih untuk menikah dengan Vitto. Sakit hati an kecewa masih di rasakan oleh Vino akan tetapi saat ini sudah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Tetapi mulai saat ini, dia harus belajar menerima keadaan, bahwa Rana sudah menjadi milik Vitto. Setelah melihat permasalahan yang saat ini di hadapi Arindah, Vino mencoba mengerti bahwa apa yang di rasakan oleh Arindah juga pasti di rasakan oleh Rana. Vino merasakan juga bahwa Reino adalah cerminan dirinya yang selama ini selalu berusaha memaksakan kehendaknya pada Rana agar kembali. Tetapi Rana tidak mau, begitu juga dengan Arindah yang tidak mau kembali pada Reino. Arindah yang risih dan ketakutan ketika Reino mengancamnya. Hal itu membuat Vino saat ini mencoba memahami dan menghargai keputusan yang di buat oleh Rana.


__ADS_2